Dengan menyebut
nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, izinkan saya untuk berbagi
kisah indah persahabatan saya bersama sang bidadari Allah yang sengaja hinggap dalam
kehidupan singkat saya. Ini hanyalah kisah yang sederhana, ya... kisah yang
biasa saja dengan paket persahabatan karena Allah, namun pastikan bahwa ada
sesuatu yang berbeda dari kisah ini untuk tidak hanya sekedar cerita
persahabatan yang biasa kita ketahui kadarnya.
Kata persahabatan tidak akan pernah
lepas dari silatul wajhi, silatul batni dan silaturahmi bahkan ada yang silatul
parji. Ikatan kuat ukhuwah Islamiyah yang mendarah daging dan mengalir dalam
tubuh kami selalu menjadikan kami berhubungan baik dalam bersosialisasi dan
bergaul menurut kadar-Nya. Ya, aku pikir awalnya yang namanya sahabat itu
adalah orang yang selalu bersama kita. Orang yang selalu satu tujuan dan
pemikiran dengan melangkah bersama sambil bergandengan tangan untuk mencapai
mimpi bersama. Tapi tidak, tidak! Banyak sekali arti yang terurai yang ada di
pikiranku, aku pun hampir tidak bisa menjelaskannya karena kebingunganku ini.
Dia tidak hanya sekedar hinggap didalam rangkaian daun daur hidupku yang fana,
dia merupakan salah satu cahaya yang sengaja Allah turunkan dari langit untukku
yang serba tidak tahu tentang arti wanita yang sebenarnya. Bagaimana indahnya
wanita hidup didalam Islam? Betapa Allah mencintai wanita-wanita yang shalihah
dan memuliakannya? Apa janji Allah yang akan diberikan kepada para wanita
penghulu para bidadari?...
Semuanya ada didalam Al-Qur’an yang
mulia, dari Allah Yang Maha Mulia. Ternyata banyak sekali kesalahpahaman yang
terjadi seputar dunia wanita dan kewanitaannya. Dan sahabatku ini telah mengantarku
pada tangga-tangga pintu istana bidadari, yang didalamnya terdapat para wanita
shalilah yang beriman dan beramal shalih dalam kecintaannya kepada Allah Swt..
Sebenarnya
bagaimana jalan hidup yang kita lakukan setiap harinya? Apakah itu selaras
dengan pedoman hidup kita (Al-Qur’an) dan As-sunah? Bagaimana seharusnya wanita
menerima dan mengamalkan kewajiban dan haknya? Dikatakan bahwa agama Islam
adalah agama mayoritas di negeri tercinta ini! Dikisahkan bagaimana para
waliyullah dan para ulama berkelana meninggalkan kampung halaman dengan tujuan
mulia mereka menyebarkan rahmatan lil’alamin. Islam mengangkat manusia dari kejahatan
tirani. Islam mengangkat manusia dari diskriminasi dan kebodohan. Islam datang
dengan damai dan penuh toleransi.
Di sepanjang jalan
banyak wanita baik itu gadis ataupun ibu dan nenek berpakaian selendang dada
dan kain samping panjang sampai betis. Terlihatlah mana emas dan mana perak.
Dan bahkan telah jelas pula mana yang berikat gelang karet. Mereka para wanita
dibawah kaki suami dan anut pada para rajanya. Merekalah para srikandi dan
inang para insan mulia. Penuh dengan kesederhanaan dan kesabaran, mereka
menjalani hidupnya ribuan tahun tanpa ada kata “Saya ingin, atau saya tidak mau
ini...” dan masih banyak lagi kata yang tak terungkap dibalik apiknya peradaban
Hindu-Budha.
Datanglah cahaya
dari sebelah timur tengah, sebuah cahaya dan kalam Ilahi yang berlaku bagi
semua hamba-Nya. Allah tidak hendak membedakan atau mengakhirkan negeri kita!
Bahkan secara tidak langsung, beliaulah sang anak dari cucu Rasulullah Saw.,
Syaikh Abdul Qadir Jailani yang menjadi guru besar para waliyullah negeri kita.
Wanita dikembalikan pada fitrahnya, dan pada tempatnya dalam Islam. Apakah
benar dirugikan? Apakah para wanita dirampas hak kebebasannya untuk
mengaktualisasikan dirinya? Lalu adanya kesetaraan dalam menuntut ilmu, bekerja
dan berkarya dengan bakat yang dimiliki oleh masing-masing? Bagaimana Allah
menetapkan adanya haid bagi wanita, hijab,
menikah, mengandung, melahirkan... menyusui dan menjadi seorang ibu?
Sebenarnya apa ibrah dan hikmah yang terkandung didalamnya?
Maha suci Allah yang telah menciptakan kami para
wanita dengan semua yang kami miliki
secara lahir dan bathin. Maha tinggi Allah yang mana telah mengistimewakan kami
para wanita dalam segala apa yang mampu kami lakukan. Maha besar Allah atas
limpahan anugerah dan karunia-Nya. Disertai kemurahan dan lintangan ampunan-Nya
bagi siapapun hamba-Nya yang ingin kembali pada-Nya. Wanita
terbuat dari tulang rusuk pria, dia tidak diciptakan
dari kepala untuk memimpin pria
dan merasa diatas pria, bukan dari
kakinya untuk dilangkahi
dan diinjak, ia terbuat dari
sisinya untuk menjadi dekat dengan
dia, dari bawah lengannya
untuk dilindungi oleh dia , dekat hatinya untuk dicintai olehnya ...
Menyesal
tak pernah di awal. Selalu saja hadirnya belakangan, setelah terjadi barulah
sadar! Ku menyesal... menyesalku bukan yang pertama. Ini selalu terjadi
dihidupku. Jatuh bangun telah jadi makananku, ku menyesal. Biar ku pendam
kisahku... tak usah yang lain tahu! Karena semua takan dapat menolong. Perlu
waktu lama... Ingin ku gapai hariku, dengan senyum untuk yang baru. Yang ini ku
harap jadi kisahku... tanpa rasa sesal... telah menyesal.
Itu
adalah catatan kecil hatiku. Mungkin bisa juga dikatakan sebagai keputusanku.
Namun ada seseorang yang mengamanatkan bahwa aku harus menceritakan kepada
semua orang apa yang berhak didengar oleh orang lain. Tapi apakah itu diartikan
dengan kisahku? Mungkin tidak... aku hanya ingin mengangkat sebuah kisah
persahabatan yang dibalut dengan beribu rasa dan menguji persahabatanmu dengan
sahabatmu sekarang! Dan perlahan banyak pula yang perlu dibenahi dalam akhlak
terhadap sesama. Namun sebelum lebih jauh lagi ke arah sana akan lebih baiknya
kita membentuk akhlak terhadap diri sendiri. Dan aku adalah salah satu dari
seorang muslimah yang kacang lupa kulitnya! Silahkan nilailah pribadiku dalam
kisah ini. Namun setelah itu jadikan kisah ini sebagai salah satu barometer
untuk mengukur pribadi kita semua.
Dunia
ini begitu singkat bukan? Hari-hari berlalu sedemikian cepatnya. Dan kita telah
lalai dengan semua tugas kita di bumi dengan semua permainan dan senda gurau
dari setan yang berbentuk jin maupun manusia. Belum lagi pasukan iblis dan
dajjal. Namun bagi sebagian orang melihat semua perbuatan munkar seakan indah
dan tidak berstatus salah dan dosa. Kapitalisme, konsumerisme dan banyak paham
lainnya yang berasal dari teori dan kekuasaan mereka yang dimulai dari bidang
yang mereka kuasai. Mulai mengubah tatanan dan penampilan dunia dengan
pandangan mereka. Menghancurkan sebuah negara pada zaman sekarang tidak dengan
adanya penjajahan dan berbagai kejahatan fisik dan moral yang ada pada perang
dunia ke-2.
Sekarang
dengan menggunakan siasat kejahatan politik, para anak buah dajjal menjalankan
misinya. Mereka cukup dengan mengubah atau menghancurkan karakter
Inilah
kisahku yang sangat sederhana dan cukup dramatis! Aku adalah salah satu hamba
Allah yang mendapat hidayah dan inayah-Nya. Hidupku sangatlah singkat sahabat!
Semakin lama dalam waktu di bumi ini, umur dan kekuatanku semakin berkurang.
Namun tanggung jawabku bertambah... ya Allah panggil aku ketika aku telah
memenuhi tanggung jawabku. Mata ini menangis karena bersyukur atas semua nikmat
serta rasa khauf akan datangnya azab-Mu.
Wanita
adalah makhluk Tuhan yang hebat. Dalam dirinya terdapat berbagai potensi dan
kekuatan yang tak kalah hebatnya. Tak heran,
jika Rasulullah saw., sempat menyebut wanita sebagai tiang suatu negara!
“Jika baik wanitanya, maka baik pula negara itu. Namun jika rusak wanitanya,
maka rusak pulalah negara itu.” (HR. Tirmidzi). Para pujangga pun pernah
mengatakan, “Wanita adalah keajaiban kedelapan setelah tujuh keajaiban dunia
”.
Dan masih banyak lagi dalil
aqli dan naqli tentang wanita yang begitu dijunjung tinggi oleh Islam.
Seuntai pesan tuk
kaum Hawa. Tahukah kalian betapa berbahayanya dirimu? Tiap jengkal dan lekuk
tubuhmu adalah racun yang begitu sempurna! Yah sempurna untuk membabat habis
keimanan para Adam. Hawa, tahukah kau betapa berharganya dirimu? Hingga Allah
meletakkan surga yang agung dibawah telapak kakimu. Hingga dikatakan hancurnya
sebuah negara, karena kehancuranmu. Hingga Rasul menyebutmu tiga kali lebih
pantas dihormati dari pada Adam. Maka, jadikan dirimu tuk layak dihargai! Tapi
tahukah betapa sakit hatiku? Ketika aku mendapatkan dijalan-jalan , kau umbar
auratmu dengan bangga. Ketika tiap lekuk tubuhmu begitu mudahnya dinikmati...
mereka laki-laki yang tak halal bagimu.
Ketika kau dengan
bebasnya tertawa dengan bermanja, pada laki-laki yang liar seolah ingin
menerkammu. Oh hawa! Ingatlah bahwa sebagian besar penghuni neraka adalah
wanita. Tak inginkah kau dihormati dan dihargai mereka? Karena kehormatan dan
kecerdasanmu? Ketahuilah wanita, kau indah dengan sifat malumu... kau mulia
karena akhlak dan kehormatanmu. Sukakah kau jika mereka menyukaimu karena
betapa cantiknya kamu? Karena betapa ramping tubuhmu? Atau karena kulitmu yang
putih mulus? Merasa berhargakah kita ketika tak ada lagi yang tersembunyi
darimu? Lalu bagaimana kau mampu mengharapkan laki-laki yang mendampingimu
kelak... adalah laki-laki yang mulia? Yang menjaga kehormatannya? Masihkah kita
berharap mendapatkan yang terbaik sementara diri berlumur dosa? Sementara harga
diri tercabik dan ternoda...
Tapi jangan takut
saudariku! Rabb kita, Allah Maha Pengampun. Tak ada kata terlambat, selama jiwa
masih didalam raga. Percayalah...! Walau dosa membumbung tinggi, ampunan-Nya
melangit luas. Kembalilah pada fitrahmu, kau indah karena sifat malumu. Jaga
dirimu saudariku, kau terlalu berharga!
Aku selalu menyiapkan kata
“Aku belum siap!” saat aku dulu disudutkan dengan perintah berhijab! Walau aku
tahu kalau aku salah, namun diri ini berusaha mencari alasan untuk
mempertahankan harga diriku. Sekali pun aku berhijab, itu hanya sebuah
kelangsungan atau hanya kebiasaan saat aku bersekolah. Dan setelahnya, aku
melepas hijabku. Yang cukup aku tahu hanya berjilbab ketika di sekolah. Dan aku
pikir aku cukup baik karena tidak berpakaian seperti dulu lagi. Aku tahu Islam
hanya dari kebudayaan saja, tanpa aku tahu langsung apa dan kenapa. Aku tahu
tanpa teori, aku hanya melakukannya sementara, lalu melepaskannya. Padahal aku
sekarang memaknai hijab ini bukan hanya sesuatu yang dipakai lalu dilepas.
Bahkan berhijab pun mengajarkan aku untuk senantiasa menghijab (menutup atau
menghalangi) aku dari perbuatan maksiat. Maksiat bukan hanya berzina yang
sering aku dengar! Maksiat adalah segala perbuatan yang munkar, yang dilarang
oleh Allah Swt.. Aku selalu malu ketika melihat ada seorang muslimah yang
begitu sempurna-Nya dalam berhijab. Disinilah muncul fastabiqul khairat!
Bila aku ingat kembali,
saat aku berkata belum siap untuk berhijab... alasanku sangatlah subyektif dan
egois. Aku hanya mempertimbangkan tanggapan orang dan penampilanku nanti
setelahnya. Tanpa aku berpikir bahwa aku terlalu sombong untuk mengetahui kapan
ajalku menjemput! Mungkin saja besok, nanti atau beberapa menit lagi? Bagaimana
jika Allah memanggilku saat aku tengah asyik berbuat maksiat? Apa yang harus
aku jawab bila Allah bertanya kepadaku, apa yang selama ini aku perbuat di dunia?
Dan belum siap untuk berhijab karena apa lagi? Apa kita ingin semakin lama dosa
kita menumpuk? Bukankah itu terlalu egois bahkan bisa dikatakan durhaka! Kita
sudah mengetahui bahwa perintah berhijab itu adalah perintah langsung dari
Allah dan hukumnya wajib, namun kita mendustakannya. Kita memilih membuat
aturan sendiri dalam hidup. Kita akan lebih ngeri lagi jika tahu apa hukuman
bagi orang yang durhaka terhadap Tuhannya dan mendustakan ayat-ayat-Nya.
Semuanya ada didalam Al-Qur’anul Karim, kalam Allah.
Hatiku serasa mati. Aku
tahu bahwa kematian adalah pasti, namun aku menjalani hariku tanpa diniatkan
untuk beribadah kepada Allah. Aku tidak menyiapkan bekal untuk di kehidupan
yang kekal dan abadi. Bila aku pikirkan, pada usiaku sekarang apa saja yang
telah aku lakukan? Dan apakah hanya ini saja yang bisa aku lakukan setiap
harinya, pasti sangat menyesalnya aku
bila nanti telah merasakan manisnya iman! Bahwa selama hidupku yang tengah
diberikan alasan dan landasan yang kuat untuk beribadah kepada Allah dan
sebagai khalifah di bumi di sia-siakan untuk terus mengejar dunia. Tanpa kita
sadari bahwa masa muda yang disebut masa terindah digunakan untuk memuaskan
keinginan kita menjalani kehidupan remaja yang dikatakan “sekali seumur hidup”.
Justru karena sekali seumur hidup, kita harus memberikan yang terbaik,
memberikan yang terbaik dalam setiap hal. Apa yang telah kita berikan untuk
Allah?. Benar pula dalam segala sesuatu hal menyangkut Allah pasti abadi,
kekal, bahagia, indah dan sempurna. Dalam persahabatan pun begitu, bila
diniatkan karena Allah maka hubungan ini tidak akan putus hanya karena kematian
karena dia menolong kita di dunia untuk bertemu lagi di surga-Nya yang kekal
dan takan terpisahkan lagi...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar