Pages

Jumat, 06 Maret 2015

Sahabat part 1(inilah kisahku)





Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, izinkan saya untuk berbagi kisah indah persahabatan saya bersama sang bidadari Allah yang sengaja hinggap dalam kehidupan singkat saya. Ini hanyalah kisah yang sederhana, ya... kisah yang biasa saja dengan paket persahabatan karena Allah, namun pastikan bahwa ada sesuatu yang berbeda dari kisah ini untuk tidak hanya sekedar cerita persahabatan yang biasa kita ketahui kadarnya.
Kata persahabatan tidak akan pernah lepas dari silatul wajhi, silatul batni dan silaturahmi bahkan ada yang silatul parji. Ikatan kuat ukhuwah Islamiyah yang mendarah daging dan mengalir dalam tubuh kami selalu menjadikan kami berhubungan baik dalam bersosialisasi dan bergaul menurut kadar-Nya. Ya, aku pikir awalnya yang namanya sahabat itu adalah orang yang selalu bersama kita. Orang yang selalu satu tujuan dan pemikiran dengan melangkah bersama sambil bergandengan tangan untuk mencapai mimpi bersama. Tapi tidak, tidak! Banyak sekali arti yang terurai yang ada di pikiranku, aku pun hampir tidak bisa menjelaskannya karena kebingunganku ini. Dia tidak hanya sekedar hinggap didalam rangkaian daun daur hidupku yang fana, dia merupakan salah satu cahaya yang sengaja Allah turunkan dari langit untukku yang serba tidak tahu tentang arti wanita yang sebenarnya. Bagaimana indahnya wanita hidup didalam Islam? Betapa Allah mencintai wanita-wanita yang shalihah dan memuliakannya? Apa janji Allah yang akan diberikan kepada para wanita penghulu para bidadari?...
Semuanya ada didalam Al-Qur’an yang mulia, dari Allah Yang Maha Mulia. Ternyata banyak sekali kesalahpahaman yang terjadi seputar dunia wanita dan kewanitaannya. Dan sahabatku ini telah mengantarku pada tangga-tangga pintu istana bidadari, yang didalamnya terdapat para wanita shalilah yang beriman dan beramal shalih dalam kecintaannya kepada Allah Swt..
Sebenarnya bagaimana jalan hidup yang kita lakukan setiap harinya? Apakah itu selaras dengan pedoman hidup kita (Al-Qur’an) dan As-sunah? Bagaimana seharusnya wanita menerima dan mengamalkan kewajiban dan haknya? Dikatakan bahwa agama Islam adalah agama mayoritas di negeri tercinta ini! Dikisahkan bagaimana para waliyullah dan para ulama berkelana meninggalkan kampung halaman dengan tujuan mulia mereka menyebarkan rahmatan lil’alamin. Islam mengangkat manusia dari kejahatan tirani. Islam mengangkat manusia dari diskriminasi dan kebodohan. Islam datang dengan damai dan penuh toleransi.
Di sepanjang jalan banyak wanita baik itu gadis ataupun ibu dan nenek berpakaian selendang dada dan kain samping panjang sampai betis. Terlihatlah mana emas dan mana perak. Dan bahkan telah jelas pula mana yang berikat gelang karet. Mereka para wanita dibawah kaki suami dan anut pada para rajanya. Merekalah para srikandi dan inang para insan mulia. Penuh dengan kesederhanaan dan kesabaran, mereka menjalani hidupnya ribuan tahun tanpa ada kata “Saya ingin, atau saya tidak mau ini...” dan masih banyak lagi kata yang tak terungkap dibalik apiknya peradaban Hindu-Budha.
Datanglah cahaya dari sebelah timur tengah, sebuah cahaya dan kalam Ilahi yang berlaku bagi semua hamba-Nya. Allah tidak hendak membedakan atau mengakhirkan negeri kita! Bahkan secara tidak langsung, beliaulah sang anak dari cucu Rasulullah Saw., Syaikh Abdul Qadir Jailani yang menjadi guru besar para waliyullah negeri kita. Wanita dikembalikan pada fitrahnya, dan pada tempatnya dalam Islam. Apakah benar dirugikan? Apakah para wanita dirampas hak kebebasannya untuk mengaktualisasikan dirinya? Lalu adanya kesetaraan dalam menuntut ilmu, bekerja dan berkarya dengan bakat yang dimiliki oleh masing-masing? Bagaimana Allah menetapkan adanya haid bagi wanita, hijab,  menikah, mengandung, melahirkan... menyusui dan menjadi seorang ibu? Sebenarnya apa ibrah dan hikmah yang terkandung didalamnya?
Maha  suci Allah yang telah menciptakan kami para wanita dengan semua  yang kami miliki secara lahir dan bathin. Maha tinggi Allah yang mana telah mengistimewakan kami para wanita dalam segala apa yang mampu kami lakukan. Maha besar Allah atas limpahan anugerah dan karunia-Nya. Disertai kemurahan dan lintangan ampunan-Nya bagi siapapun hamba-Nya yang ingin kembali pada-Nya. Wanita terbuat dari tulang rusuk pria, dia tidak diciptakan dari kepala untuk memimpin pria dan merasa diatas pria, bukan dari kakinya untuk dilangkahi dan diinjak, ia terbuat dari sisinya untuk menjadi dekat dengan dia, dari bawah lengannya untuk dilindungi oleh dia , dekat hatinya untuk dicintai olehnya ...
Menyesal tak pernah di awal. Selalu saja hadirnya belakangan, setelah terjadi barulah sadar! Ku menyesal... menyesalku bukan yang pertama. Ini selalu terjadi dihidupku. Jatuh bangun telah jadi makananku, ku menyesal. Biar ku pendam kisahku... tak usah yang lain tahu! Karena semua takan dapat menolong. Perlu waktu lama... Ingin ku gapai hariku, dengan senyum untuk yang baru. Yang ini ku harap jadi kisahku... tanpa rasa sesal... telah menyesal.
Itu adalah catatan kecil hatiku. Mungkin bisa juga dikatakan sebagai keputusanku. Namun ada seseorang yang mengamanatkan bahwa aku harus menceritakan kepada semua orang apa yang berhak didengar oleh orang lain. Tapi apakah itu diartikan dengan kisahku? Mungkin tidak... aku hanya ingin mengangkat sebuah kisah persahabatan yang dibalut dengan beribu rasa dan menguji persahabatanmu dengan sahabatmu sekarang! Dan perlahan banyak pula yang perlu dibenahi dalam akhlak terhadap sesama. Namun sebelum lebih jauh lagi ke arah sana akan lebih baiknya kita membentuk akhlak terhadap diri sendiri. Dan aku adalah salah satu dari seorang muslimah yang kacang lupa kulitnya! Silahkan nilailah pribadiku dalam kisah ini. Namun setelah itu jadikan kisah ini sebagai salah satu barometer untuk mengukur pribadi kita semua.
Dunia ini begitu singkat bukan? Hari-hari berlalu sedemikian cepatnya. Dan kita telah lalai dengan semua tugas kita di bumi dengan semua permainan dan senda gurau dari setan yang berbentuk jin maupun manusia. Belum lagi pasukan iblis dan dajjal. Namun bagi sebagian orang melihat semua perbuatan munkar seakan indah dan tidak berstatus salah dan dosa. Kapitalisme, konsumerisme dan banyak paham lainnya yang berasal dari teori dan kekuasaan mereka yang dimulai dari bidang yang mereka kuasai. Mulai mengubah tatanan dan penampilan dunia dengan pandangan mereka. Menghancurkan sebuah negara pada zaman sekarang tidak dengan adanya penjajahan dan berbagai kejahatan fisik dan moral yang ada pada perang dunia ke-2.
Sekarang dengan menggunakan siasat kejahatan politik, para anak buah dajjal menjalankan misinya. Mereka cukup dengan mengubah atau menghancurkan karakter
Inilah kisahku yang sangat sederhana dan cukup dramatis! Aku adalah salah satu hamba Allah yang mendapat hidayah dan inayah-Nya. Hidupku sangatlah singkat sahabat! Semakin lama dalam waktu di bumi ini, umur dan kekuatanku semakin berkurang. Namun tanggung jawabku bertambah... ya Allah panggil aku ketika aku telah memenuhi tanggung jawabku. Mata ini menangis karena bersyukur atas semua nikmat serta rasa khauf akan datangnya azab-Mu.
Wanita adalah makhluk Tuhan yang hebat. Dalam dirinya terdapat berbagai potensi dan kekuatan yang tak kalah hebatnya. Tak heran,  jika Rasulullah saw., sempat menyebut wanita sebagai tiang suatu negara! “Jika baik wanitanya, maka baik pula negara itu. Namun jika rusak wanitanya, maka rusak pulalah negara itu.” (HR. Tirmidzi). Para pujangga pun pernah mengatakan, “Wanita adalah keajaiban kedelapan setelah tujuh keajaiban dunia ”.
Dan masih banyak lagi dalil aqli dan naqli tentang wanita yang begitu dijunjung tinggi oleh Islam.
Seuntai pesan tuk kaum Hawa. Tahukah kalian betapa berbahayanya dirimu? Tiap jengkal dan lekuk tubuhmu adalah racun yang begitu sempurna! Yah sempurna untuk membabat habis keimanan para Adam. Hawa, tahukah kau betapa berharganya dirimu? Hingga Allah meletakkan surga yang agung dibawah telapak kakimu. Hingga dikatakan hancurnya sebuah negara, karena kehancuranmu. Hingga Rasul menyebutmu tiga kali lebih pantas dihormati dari pada Adam. Maka, jadikan dirimu tuk layak dihargai! Tapi tahukah betapa sakit hatiku? Ketika aku mendapatkan dijalan-jalan , kau umbar auratmu dengan bangga. Ketika tiap lekuk tubuhmu begitu mudahnya dinikmati... mereka laki-laki yang tak halal bagimu.
Ketika kau dengan bebasnya tertawa dengan bermanja, pada laki-laki yang liar seolah ingin menerkammu. Oh hawa! Ingatlah bahwa sebagian besar penghuni neraka adalah wanita. Tak inginkah kau dihormati dan dihargai mereka? Karena kehormatan dan kecerdasanmu? Ketahuilah wanita, kau indah dengan sifat malumu... kau mulia karena akhlak dan kehormatanmu. Sukakah kau jika mereka menyukaimu karena betapa cantiknya kamu? Karena betapa ramping tubuhmu? Atau karena kulitmu yang putih mulus? Merasa berhargakah kita ketika tak ada lagi yang tersembunyi darimu? Lalu bagaimana kau mampu mengharapkan laki-laki yang mendampingimu kelak... adalah laki-laki yang mulia? Yang menjaga kehormatannya? Masihkah kita berharap mendapatkan yang terbaik sementara diri berlumur dosa? Sementara harga diri tercabik dan ternoda...
Tapi jangan takut saudariku! Rabb kita, Allah Maha Pengampun. Tak ada kata terlambat, selama jiwa masih didalam raga. Percayalah...! Walau dosa membumbung tinggi, ampunan-Nya melangit luas. Kembalilah pada fitrahmu, kau indah karena sifat malumu. Jaga dirimu saudariku, kau terlalu berharga!
Aku selalu menyiapkan kata “Aku belum siap!” saat aku dulu disudutkan dengan perintah berhijab! Walau aku tahu kalau aku salah, namun diri ini berusaha mencari alasan untuk mempertahankan harga diriku. Sekali pun aku berhijab, itu hanya sebuah kelangsungan atau hanya kebiasaan saat aku bersekolah. Dan setelahnya, aku melepas hijabku. Yang cukup aku tahu hanya berjilbab ketika di sekolah. Dan aku pikir aku cukup baik karena tidak berpakaian seperti dulu lagi. Aku tahu Islam hanya dari kebudayaan saja, tanpa aku tahu langsung apa dan kenapa. Aku tahu tanpa teori, aku hanya melakukannya sementara, lalu melepaskannya. Padahal aku sekarang memaknai hijab ini bukan hanya sesuatu yang dipakai lalu dilepas. Bahkan berhijab pun mengajarkan aku untuk senantiasa menghijab (menutup atau menghalangi) aku dari perbuatan maksiat. Maksiat bukan hanya berzina yang sering aku dengar! Maksiat adalah segala perbuatan yang munkar, yang dilarang oleh Allah Swt.. Aku selalu malu ketika melihat ada seorang muslimah yang begitu sempurna-Nya dalam berhijab. Disinilah muncul fastabiqul khairat!
Bila aku ingat kembali, saat aku berkata belum siap untuk berhijab... alasanku sangatlah subyektif dan egois. Aku hanya mempertimbangkan tanggapan orang dan penampilanku nanti setelahnya. Tanpa aku berpikir bahwa aku terlalu sombong untuk mengetahui kapan ajalku menjemput! Mungkin saja besok, nanti atau beberapa menit lagi? Bagaimana jika Allah memanggilku saat aku tengah asyik berbuat maksiat? Apa yang harus aku jawab bila Allah bertanya kepadaku, apa yang selama ini aku perbuat di dunia? Dan belum siap untuk berhijab karena apa lagi? Apa kita ingin semakin lama dosa kita menumpuk? Bukankah itu terlalu egois bahkan bisa dikatakan durhaka! Kita sudah mengetahui bahwa perintah berhijab itu adalah perintah langsung dari Allah dan hukumnya wajib, namun kita mendustakannya. Kita memilih membuat aturan sendiri dalam hidup. Kita akan lebih ngeri lagi jika tahu apa hukuman bagi orang yang durhaka terhadap Tuhannya dan mendustakan ayat-ayat-Nya. Semuanya ada didalam Al-Qur’anul Karim, kalam Allah.
Hatiku serasa mati. Aku tahu bahwa kematian adalah pasti, namun aku menjalani hariku tanpa diniatkan untuk beribadah kepada Allah. Aku tidak menyiapkan bekal untuk di kehidupan yang kekal dan abadi. Bila aku pikirkan, pada usiaku sekarang apa saja yang telah aku lakukan? Dan apakah hanya ini saja yang bisa aku lakukan setiap harinya,  pasti sangat menyesalnya aku bila nanti telah merasakan manisnya iman! Bahwa selama hidupku yang tengah diberikan alasan dan landasan yang kuat untuk beribadah kepada Allah dan sebagai khalifah di bumi di sia-siakan untuk terus mengejar dunia. Tanpa kita sadari bahwa masa muda yang disebut masa terindah digunakan untuk memuaskan keinginan kita menjalani kehidupan remaja yang dikatakan “sekali seumur hidup”. Justru karena sekali seumur hidup, kita harus memberikan yang terbaik, memberikan yang terbaik dalam setiap hal. Apa yang telah kita berikan untuk Allah?. Benar pula dalam segala sesuatu hal menyangkut Allah pasti abadi, kekal, bahagia, indah dan sempurna. Dalam persahabatan pun begitu, bila diniatkan karena Allah maka hubungan ini tidak akan putus hanya karena kematian karena dia menolong kita di dunia untuk bertemu lagi di surga-Nya yang kekal dan takan terpisahkan lagi...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar