Alhamdulillah kami
semua lulus dengan nilai yang baik. Dan tentunya memuaskan bila telah berusaha
semaksimal mungkin untuk mencapainya! Dan salah satu kebahagiaanku adalah,
Haura juga lulus dengan nilai yang tinggi. Alhamdulillah Allah mengabulkan doa
kami semuanya. Haura dapat belajar dengan bauk dan dapat mengingat semua materi
ujian dengan baik. Aku tidak tahu, seberapa lama lagi ia akan menjadi seorang
Haura. Kami semua bersorak dan bersujud syukur atas kelulusan ini. Khususnya
aku, akan melanjutkan kuliah disini di Bandung. Dan Haura, dikarenakan
kesehatannya belum terlalu membaik maka Haura memilih untuk tidak kuliah tahun
ini. Awalnya... dulu kami berdua pernah mempunyai keinginan yang sama untuk
melanjutkan kuliah bersama di tempat yang sama. Namun... kini kami jadi jarang
bertemu. Aku yang semakin hari semakin sibuk dengan setumpuk tugas dari kampus.
Jujur, aku sangat merindukan Haura. Walaupun kami biasa berkomunikasi lewat
handphone, namun tetap saja aku ingin langsung bertemu dengannya.Ya Allah jaga
dia untuk hamba!
Kata umi, sekarang Haura
sedang mengonsumsi obat pereda nyeri dari dokter. Ayah dan ibunya selalu sabar
dan telaten memberikan obat untuk Haura. Bahkan mereka sering berebutan untuk
memberi obat kepada Haura dan menyuapinya. Ya Allah sungguh indah cinta mereka
untuk Haura. Saat malam itu bu Sarah melihat suaminya sedang di dapur membuat
obat untuk Haura.
Bu Sarah : “Ayah, kenapa ayah tidak memanggil
bunda? Sudahlah berikan itu pada bunda, ayah pergilah istirahat saja.”
Pak Ahmad : “Sudah! Biar ayah saja yang melakukannya. Bunda,
bunda seharusnya istirahat sekarang. Dari tadi pagi bunda terus bekerja dan
merawat Haura”.
Bu Sarah : “Bunda tidak
melakukan apa-apa, sehingga tidak perlu istirahat sekarang. Berikan saja itu
pada bunda!”
Pak Ahmad : “Aku juga ingin melakukan sesuatu yang harus
dilakukan oleh seorang ayah! Setidaknya dengan mempersiapkan obat ini,
memberiku perasaan bahwa aku masih bisa membantunya”.
Haura menatap dinding langit
diatasnya. Dia masih teringat kata-kata dokter “penyakitnya sangat fatal”. Lalu
ayahnya mempersiapkan dengan baik obat herbal itu. Dan terus menatap kamar
Haura. Lalu ayahnya masuk ke dalam kamar, dan terlihatlah Haura yang tengah
tertidur. Beliau meletakkan obatnya dan segera duduk disampingnya. Haura
terbangun dan tersenyum pada ayahnya.
Pak Ahmad : “Haura, bangunlah! Ini waktunya kamu minum obat.
Obatnya masih panas, jadi setelah ini dingin... (dengan mengambil mangkuk
berisi obat dan melihat wajah beliau di air itu)”
Beliau melarutkan air itu
dengan jari kelingkingnya. Dan menunduk sembari menyiapkan obat untuk Haura.
Pak Ahmad : “Haura. Ada begitu banyak hal yang ayah perlu minta
maaf padamu. Sekarang ayah hanya ingat hal-hal yang ayah sesali... yang ayah
telah lakukan padamu. Jika saja ayah tahu lebih awal, ayah akan membiarkanmu
untuk melakukan apapun yang ingin kamu lakukan! Itu semua karena ayah merasa
bahwa kita akan memiliki begitu banyak waktu yang tersisa. Ayah benar-benar
bodoh...”
Haura : “Ayah...
Ayah. Cepat beri Haura itu, obatnya. Setelah Haura meminum obat itu, Rara tidak
ingin jatuh sakit lagi!” pintanya dengan derai air mata yang terjatuh.
Ayahnya pun mengangkat tubuh Haura dan disandarkannya di
pangkuan ayahnya.
Dan perlahan ayahnya
mengambil obat yang ada di mangkuk. Lalu meminumkannya dengan lembut. Tangan
beliau bergetar dan berucap bismillah...
Pak Ahmad : “Obatnya
sedikit pahit, kan?”
Haura : “Iya ayah, ini sangat pahit.”
Ayahnya memeluknya dengan
wajah yang sangat takut kehilangan. Beliau bersedih dan gelisah.
Pak Ahmad : “Haura-ku tersayang! Ayah akan memelukmu
sampai kau tertidur.”
Haura : “Iya, karena pelukan ayah mengingatkan
Haura pada ibu...”
Pak Ahmad : “Kalau begitu,
tidurlah dengan lelap dalam pelukan ayah!”
Ketika ayahnya merengkuh
Haura, ayahnya memegang tasbih yang ada ditangan Haura.
Haura : “Haura ingin tidur dengan ini ditangan
Haura. Tolong biarkan Haura menyimpannya.”
Pak Ahmad : “Haura...!”
Haura : “Ayah,
Haura mengantuk. Haura ingin tidur...”
Haura begitu erat memegang
tasbih putih itu. Ayahnya meneteskan air mata sayang terhadap bidadari
kecilnya. Tangan Haura terlepas dari dekapan sang ayah. Ayahnya begitu terkejut
dan berpikiran yang negatif. Namun ketika mendengarkan hembusan nafasnya,
beliau berucap syukur dan tenang. Ibunya pun datang dan merapikan tempat
tidurnya dan memeluknya. Ayah ibunya saling mendoakan bidadari cantiknya.
Kisah tentang pohon apel.
Alkisah
ada sebuah pohon apel. Yang sangat mencintai seorang anak perempuan. Setiap
hari si bocah berlarian mendatangi pohon tersebut. Dia merangkai daunnya dan
dikenakan sebagai mahkota. Kadang anak itu memanjat dan bermain ayunan diantara
dahan-dahan pohon. Saat lapar, dia juga makan buah apelnya. Setelah letih
bermain, si bocah pun tertidur di keteduhan bayangan si pohon. Si bocah sangat
mencintai pohon ini dan pohon pun demikian pula.
Waktu
cepat berlalu, si bocah pun tumbuh menjadi dewasa. Pohon merasa kesepian tanpa
keriangan si bocah itu. Suatu hari, si bocah yang telah dewasa datang kembali
dibawah pohon. “Hai anak muda! Silahkan naik ke badanku seperti dulu,” kata
pohon dengan riang. “Makanlah buahku dan mari kita bermain lagi!” lanjutnya. Si
bocah mejawab, “Aku bukan anak kecil lagi, aku tidak akan memanjat pohon dan
bermain seperti dulu lagi. Aku ingin membeli mainan, aku perlu uang pohon!
Bisakah kau memberiku uang?”. “Maaf!” kata pohon, “Aku tidak punya uang nak,
ambillah buah apel dan daunku, juallah ke pasar! Kau akan mendapatkan uang,
bergembiralah”. Si bocah bersemangat segera memanjat dan memetik apel-apel di
pohon, lalu membawanya pergi.
Lama
sekali setelah itu, si bocah tidak datang lagi. Pohon merasa sedih ddan sepi.
Hingga suatu hari, si bocah datang kembali. Pohon merasa sangat bergembira
hingga bergetar! “Ayo nak! Naiklah ke badanku, dan bermainlah seperti dulu”. “Aku
sangat sibuk. Aku tidak sempat bermain memanjat pohon” kata si bocah. “Aku
ingin sebuah rumah untuk menghangatkan diri. Bisakah kamu memberi?” tanya si
bocah berharap. Pohon pun menjawab, “Aku tidak punya rumah, hutan adalah
rumahku! Tapi kamu bisa membelah hutan dan memotong dahan-dahanku untuk membuat
rumah”. Si bocah segera menebang dahan di pohon dan membawanya pergi.
Namun
lama setelah itu, si bocah tidak datang lagi. Saat si bocah datang lagi, saking
gembiranya pohon tidak mampu berkata banyak, “Ayo nak, bermainlah!”. “Aku sudah
tua!” bocah yang telah berumur itu melanjutkan, “Aku ingin sebuah perahu yang
bisa membawaku pergi. Bisakah kau memberiku sebuah perahu?”. “Tebanglah aku! Dan
buatlah sebuah perahu, pergilah berlayar dengan gembira” kata si pohon. Si
bocah tua pun menebang pohon kayu dan membawanya pergi. Setelah sekian lama si
bocah tua pun kembali datang. Pohon berkata, “Maaf nak! Tidak ada apapun yang
bisa aku berikan padamu lagi”. Si bocah tua menjawab, “Aku pun sudah tua, yang
aku butuhkan tidak banyak lagi, aku hanya ingin tempat yang tenang untuk
beristirahat karena aku sangat letih!”. “Tepat sekali! Aku sisa pohon yang
sudah tua, sangat tepat untuk kamu gunakan untuk duduk. Mari nak,
beristirahatlah di badanku!”. Si bocah tua pun dengan badan terbungkuk
meletakkan diri diatas pohon untuk beristirahat.
Sahabat,
pohon ini sama dengan ayah dan ibu kita! Saat mereka kesepian sendirian, saat
mereka membutuhkan kita, dimanakah kita anak-anaknya berada? Semua telah
diberikan kepada kita. Namun berapa banyak waktu yang kita sisihkan untuk
mereka? Berapa banyak perhatian yang telah kita berikan kepada mereka? Suatu
hari kelak, kita pun akan menjadi pohon itu. Semoga kita pun bisa menjadi
sebuah pohon yang berbahagia.
Cerita
ini aku sampaikan kepada Haura. Aku selalu membiasakan diri untuk bercerita
kepadanya. Sebenarnya cerita ini aku ketahui dari dia. Dia yang menceritakan
kisah pohon apel ini. Namun cerita ini merupakan salah satu daftar yang ia
lupakan. Kala aku membacakan cerita ini, air matanya berkaca-kaca dan menutup
matanya dalam-dalam. Setelah itu, dia banyak bertanya tentang aku. Seolah kita
sedang berkenalan dan bertukar posisi. Dulu dia yang selalu jadi guruku,
memberi tahu semua yang dia ketahui secara haq. Dan sekarang dia yang selalu
bertanya padaku, aku sekarang jadi tahu bagaimana dia sulu begitu bersabar dan
tulus untuk membantuku. Sekarang aku harus sabar ketika dia berhijab dengan
tidak rapi, makan dan minum tanpa berdoa, dan... selalu mengajarkannya kembali
tentang shalat.
Aku
ingin lebih mengerti lagi apa itu penyakita Alzheimer. Ada beberapa artikel
yang membahasnya sampai dengan akibat dari penyakit ini. Gejala-gejala Demensia Alzheimer sendiri
meliputi gejala yang ringan sampai berat. Sepuluh tanda-tanda adanya Demensia
Alzheimer adalah :
- Gangguan memori yang memengaruhi keterampilan pekerjaan, seperti; lupa meletakkan kunci mobil, mengambil baki uang, lupa nomor telepon atau kardus obat yang biasa dimakan, lupa mencampurkan gula dalam minuman, garam dalam masakan atau cara-cara mengaduk air,
- Kesulitan melakukan tugas yang biasa dilakukan, seperti; tidak mampu melakukan perkara asas seperti menguruskan diri sendiri.
- Kesulitan bicara dan berbahasa
- Disorientasi waktu, tempat dan orang, seperti; keliru dengan keadaan sekitar rumah, tidak tahu membeli barang ke kedai, tidak mengenali rekan-rekan atau anggota keluarga terdekat.
- Kesulitan mengambil keputusan yang tepat
- Kesulitan berpikir abstrak, seperti; orang yang sakit juga mendengar suara atau bisikan halus dan melihat bayangan menakutkan.
- Salah meletakkan barang
- Perubahan mood dan perilaku, seperti; menjadi agresif, cepat marah dan kehilangan minat untuk berinteraksi atau hobi yang pernah diminatinya.
- Perubahan kepribadian, seperti; seperti menjerit, terpekik dan mengikut perawat ke mana saja walaupun ke WC.
- Hilangnya minat dan inisiatif[27]
Orang yang sakit juga
kadangkala akan berjalan ke sana sini tanpa sebab dan pola tidur mereka juga
berubah. Orang yang sakit akan lebih banyak tidur pada waktu siang dan
terbangun pada waktu malam.
Secara umum, orang
sakit yang didiagnosis mengidap penyakit ini meninggal dunia akibat radang
paru-paru atau pneumonia. Ini disebabkan, pada waktu itu orang yang sakit tidak
dapat melakukan sembarang aktivitas lain.
Ya Allah, lindungilah sahabat hamba dari segala kemungkinan
buruk yang akan menimpanya ya Allah...! Ya Allah, tidak ada yang tidak mungkin bagi Engkau ya
Tuhanku, hamba berdoa dan memohonkepada Engkau ya Allah, hamba mohon
sembuhkanlah sahabat hamba, kembalikanlah semua ingatannya dan jadikanlah dia
sebagai Haura yang Qanithaat. Ampunkanlah semua kesalahannya ya Allah,
jadikan ujian yang Engkau turunkan sebagai jembatan untuk menghapus semua
kesalahannya bagai daun gugur tertebak angin. Ya Allah, angkatlah derajatnya...
dan angkatlah segala macam penyakitnya, amin ya rabbal ‘alamin.
Pada hari minggu
ini, aku mengajak Haura ke pasar. Niatnya ingin membeli pakaian muslimah dan
membeli bahan batik untuk dibuat gamis. Ketika di sudut pasar, Haura berjalan
sendiri dan menuju pada kerumunan. Ternyata ada sebuah pertunjukkan monyet.
Haura terus tertuntun untuk melihatnya. Aku heran, padahal dulu dia sangat
pobia sama monyet. Dan sekarang... dia ingin melihat pertunjukkannya dan
sekarang berada di bagian terdepan penonton? Hmmm, masyaallah!
Ana : “Apa pertunjukkan ini sangat menarik buat
kamu?”
Haura : “Iya! Ini sangat menarik...”
Aku terus menatap wajahnya yang
begitu antusias menyaksikannya. Dia begitu bahagia dan menyukai monyet itu.
Lalu dia menatapku ceria dan bertanya.
Haura : “Apa kamu sekarang sudah bertemu dengan wanita itu, apa
kamu sudah menemukannya sekarang?”
Ana : “Aku tidak bisa bertemu dengannya...”
Haura : “Kenapa kamu tidak bisa bertemu dengannya?” dengan
wajahnya yang penuh tanya.
Ana : “Karena dia sudah melupakan aku dan
menjadi orang lain!!”
Haura : “Kenapa?”
Ana : “(Dengan tatapan
kosong dan suara yang lemas) Semuanya salahku. Walaupun aku sudah memutuskan
untuk melindunginnya, tetapi aku gagal! Banyak hal ingin aku katakan padanya.
Tetapi aku tidak bisa menyampaikannya. Karena itu, hingga saat ini... aku tidak
bisa melupakannya. Untuk itu... jika kamu bertemu dengan wanita yang wajahnya
begitu mirip sama kamu, tolong kamu sampaikan kepadanya...”
Haura : “Apa yang ingin kamu
sampaikan?”
Ana : “Katakan padanya bahwa aku sangat...
benar-benar menyayanginya!”
Wajahnya tegang dan bibirnya
bergetar kala aku berkata padanya. Aku tidak tahu apakah dia adalahHaura atau
orang lain. Tapi jauh didalam hatinya, pasti dia tahu bahwa wanita yang aku
maksud adalah dia. Beberapa hari ini, dia sering penasaran dengan wanita yang
aku rahasiakan namanya. Aku ceritakan bahwa wanita ini sangat baik, cantik,
cerdas dan dia adalah sahabatku. Dia terus bertanya bagaimana sikapnya dan
penampilannya. Lucu sekali bukan? Dia bertanya tentang dirinya sendiri. Dia
juga terus memotivasiku agar sabar menunggu dia dan memaafkannya.
Selesai
mengantarnya pulang, aku menunggunya sampai ke depan pintu. Haura aku senang
karena bisa bersama kamu hari ini. Walau pertemuan kita singkat, namun hatiku
lega bisa mengungkapkan perasaan ini padamu. Haura, mulai hari ini aku tidak
bisa bertemu dengan kamu lagi. Aku harus ke Jakarta, karena ada kegiatan dari
kampus untuk beberapa minggu disana. Aku tak bisa selalu ada disisimu lagi
sayang! Maafkan aku, tapi aku yakin kamu akan baik saja. Entah mengapa malam ini,
aku sangat sedih. Apa karena aku akan jarang bertemu dengan Haura ya? Dalam
kesedihan ini, memoriku mundur dan mengingat saat-saat aku dan Haura bersama.
Saat kami benar-benar saling mengenal dan menyayangi.
Begitu cahaya redup
karena awan, hujan yang bertebaran di jendelaku
Seperti kenangan
menyedihkan didalam hatiku
Mengacaukan
hatiku...
Tersesat dalam
kerinduan yang semakin hari semakin kuat
Mungkinkah ada cara
untuk mengembalikan waktu?
Meskipun jiwa kita
hanya bisa melakukannya sekali saja
Meskipun itu untuk
yang terakhir kalinya
Itu sudah cukup
bagiku!
Sinar yang datang
memudarkan awan
Air hujan yang
berjatuhan diluar jendelaku
Ingatan yang
mendingin adalah seperti suara air hujan
Menangkap hatiku,
menolak untuk pergi
Terjerumus
kerinduan yang semakin dalam
Seiring waktu...
Dapatkah aku
berkelana kembali kewaktu itu
Jika kau memelukku
saat seperti dulu
Maka aku akan
menjadi lebih baik
Ku telusuri jalan
yang basah dan berhujan
Danmelihat kembali
kenangan-kenangan kita
Hujan samar-samar
itu mengingatkanku padamu
Dan kau memenuhi
air mataku...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar