Pages

Jumat, 06 Maret 2015

sahabat part 9 (akulah ingatanmu)


Alhamdulillah kami semua lulus dengan nilai yang baik. Dan tentunya memuaskan bila telah berusaha semaksimal mungkin untuk mencapainya! Dan salah satu kebahagiaanku adalah, Haura juga lulus dengan nilai yang tinggi. Alhamdulillah Allah mengabulkan doa kami semuanya. Haura dapat belajar dengan bauk dan dapat mengingat semua materi ujian dengan baik. Aku tidak tahu, seberapa lama lagi ia akan menjadi seorang Haura. Kami semua bersorak dan bersujud syukur atas kelulusan ini. Khususnya aku, akan melanjutkan kuliah disini di Bandung. Dan Haura, dikarenakan kesehatannya belum terlalu membaik maka Haura memilih untuk tidak kuliah tahun ini. Awalnya... dulu kami berdua pernah mempunyai keinginan yang sama untuk melanjutkan kuliah bersama di tempat yang sama. Namun... kini kami jadi jarang bertemu. Aku yang semakin hari semakin sibuk dengan setumpuk tugas dari kampus. Jujur, aku sangat merindukan Haura. Walaupun kami biasa berkomunikasi lewat handphone, namun tetap saja aku ingin langsung bertemu dengannya.Ya Allah jaga dia untuk hamba!
Kata umi, sekarang Haura sedang mengonsumsi obat pereda nyeri dari dokter. Ayah dan ibunya selalu sabar dan telaten memberikan obat untuk Haura. Bahkan mereka sering berebutan untuk memberi obat kepada Haura dan menyuapinya. Ya Allah sungguh indah cinta mereka untuk Haura. Saat malam itu bu Sarah melihat suaminya sedang di dapur membuat obat untuk Haura.
Bu Sarah        : “Ayah, kenapa ayah tidak memanggil bunda? Sudahlah berikan itu pada bunda, ayah pergilah istirahat saja.”
Pak Ahmad : “Sudah! Biar ayah saja yang melakukannya. Bunda, bunda seharusnya istirahat sekarang. Dari tadi pagi bunda terus bekerja dan merawat Haura”.
Bu Sarah    : “Bunda tidak melakukan apa-apa, sehingga tidak perlu istirahat sekarang. Berikan saja itu pada bunda!”
Pak Ahmad : “Aku juga ingin melakukan sesuatu yang harus dilakukan oleh seorang ayah! Setidaknya dengan mempersiapkan obat ini, memberiku perasaan bahwa aku masih bisa membantunya”.
Haura menatap dinding langit diatasnya. Dia masih teringat kata-kata dokter “penyakitnya sangat fatal”. Lalu ayahnya mempersiapkan dengan baik obat herbal itu. Dan terus menatap kamar Haura. Lalu ayahnya masuk ke dalam kamar, dan terlihatlah Haura yang tengah tertidur. Beliau meletakkan obatnya dan segera duduk disampingnya. Haura terbangun dan tersenyum pada ayahnya.
Pak Ahmad : “Haura, bangunlah! Ini waktunya kamu minum obat. Obatnya masih panas, jadi setelah ini dingin... (dengan mengambil mangkuk berisi obat dan melihat wajah beliau di air itu)”
Beliau melarutkan air itu dengan jari kelingkingnya. Dan menunduk sembari menyiapkan obat untuk Haura.
Pak Ahmad : “Haura. Ada begitu banyak hal yang ayah perlu minta maaf padamu. Sekarang ayah hanya ingat hal-hal yang ayah sesali... yang ayah telah lakukan padamu. Jika saja ayah tahu lebih awal, ayah akan membiarkanmu untuk melakukan apapun yang ingin kamu lakukan! Itu semua karena ayah merasa bahwa kita akan memiliki begitu banyak waktu yang tersisa. Ayah benar-benar bodoh...”
Haura          : “Ayah... Ayah. Cepat beri Haura itu, obatnya. Setelah Haura meminum obat itu, Rara tidak ingin jatuh sakit lagi!” pintanya dengan derai air mata yang terjatuh.
Ayahnya pun mengangkat tubuh Haura dan disandarkannya di pangkuan ayahnya.
Dan perlahan ayahnya mengambil obat yang ada di mangkuk. Lalu meminumkannya dengan lembut. Tangan beliau bergetar dan berucap bismillah...
Pak Ahmad : “Obatnya sedikit pahit, kan?”
Haura          : “Iya ayah, ini sangat pahit.”
Ayahnya memeluknya dengan wajah yang sangat takut kehilangan. Beliau bersedih dan gelisah.
Pak Ahmad  : “Haura-ku tersayang! Ayah akan memelukmu sampai kau tertidur.”
Haura          : “Iya, karena pelukan ayah mengingatkan Haura pada ibu...”
Pak Ahmad : “Kalau begitu, tidurlah dengan lelap dalam pelukan ayah!”
Ketika ayahnya merengkuh Haura, ayahnya memegang tasbih yang ada ditangan Haura.
Haura           : “Haura ingin tidur dengan ini ditangan Haura. Tolong biarkan Haura menyimpannya.”
Pak Ahmad : “Haura...!”
Haura          : “Ayah, Haura mengantuk. Haura ingin tidur...”
Haura begitu erat memegang tasbih putih itu. Ayahnya meneteskan air mata sayang terhadap bidadari kecilnya. Tangan Haura terlepas dari dekapan sang ayah. Ayahnya begitu terkejut dan berpikiran yang negatif. Namun ketika mendengarkan hembusan nafasnya, beliau berucap syukur dan tenang. Ibunya pun datang dan merapikan tempat tidurnya dan memeluknya. Ayah ibunya saling mendoakan bidadari cantiknya.


Kisah tentang pohon apel.
Alkisah ada sebuah pohon apel. Yang sangat mencintai seorang anak perempuan. Setiap hari si bocah berlarian mendatangi pohon tersebut. Dia merangkai daunnya dan dikenakan sebagai mahkota. Kadang anak itu memanjat dan bermain ayunan diantara dahan-dahan pohon. Saat lapar, dia juga makan buah apelnya. Setelah letih bermain, si bocah pun tertidur di keteduhan bayangan si pohon. Si bocah sangat mencintai pohon ini dan pohon pun demikian pula.
Waktu cepat berlalu, si bocah pun tumbuh menjadi dewasa. Pohon merasa kesepian tanpa keriangan si bocah itu. Suatu hari, si bocah yang telah dewasa datang kembali dibawah pohon. “Hai anak muda! Silahkan naik ke badanku seperti dulu,” kata pohon dengan riang. “Makanlah buahku dan mari kita bermain lagi!” lanjutnya. Si bocah mejawab, “Aku bukan anak kecil lagi, aku tidak akan memanjat pohon dan bermain seperti dulu lagi. Aku ingin membeli mainan, aku perlu uang pohon! Bisakah kau memberiku uang?”. “Maaf!” kata pohon, “Aku tidak punya uang nak, ambillah buah apel dan daunku, juallah ke pasar! Kau akan mendapatkan uang, bergembiralah”. Si bocah bersemangat segera memanjat dan memetik apel-apel di pohon, lalu membawanya pergi.
Lama sekali setelah itu, si bocah tidak datang lagi. Pohon merasa sedih ddan sepi. Hingga suatu hari, si bocah datang kembali. Pohon merasa sangat bergembira hingga bergetar! “Ayo nak! Naiklah ke badanku, dan bermainlah seperti dulu”. “Aku sangat sibuk. Aku tidak sempat bermain memanjat pohon” kata si bocah. “Aku ingin sebuah rumah untuk menghangatkan diri. Bisakah kamu memberi?” tanya si bocah berharap. Pohon pun menjawab, “Aku tidak punya rumah, hutan adalah rumahku! Tapi kamu bisa membelah hutan dan memotong dahan-dahanku untuk membuat rumah”. Si bocah segera menebang dahan di pohon dan membawanya pergi.
Namun lama setelah itu, si bocah tidak datang lagi. Saat si bocah datang lagi, saking gembiranya pohon tidak mampu berkata banyak, “Ayo nak, bermainlah!”. “Aku sudah tua!” bocah yang telah berumur itu melanjutkan, “Aku ingin sebuah perahu yang bisa membawaku pergi. Bisakah kau memberiku sebuah perahu?”. “Tebanglah aku! Dan buatlah sebuah perahu, pergilah berlayar dengan gembira” kata si pohon. Si bocah tua pun menebang pohon kayu dan membawanya pergi. Setelah sekian lama si bocah tua pun kembali datang. Pohon berkata, “Maaf nak! Tidak ada apapun yang bisa aku berikan padamu lagi”. Si bocah tua menjawab, “Aku pun sudah tua, yang aku butuhkan tidak banyak lagi, aku hanya ingin tempat yang tenang untuk beristirahat karena aku sangat letih!”. “Tepat sekali! Aku sisa pohon yang sudah tua, sangat tepat untuk kamu gunakan untuk duduk. Mari nak, beristirahatlah di badanku!”. Si bocah tua pun dengan badan terbungkuk meletakkan diri diatas pohon untuk beristirahat.
Sahabat, pohon ini sama dengan ayah dan ibu kita! Saat mereka kesepian sendirian, saat mereka membutuhkan kita, dimanakah kita anak-anaknya berada? Semua telah diberikan kepada kita. Namun berapa banyak waktu yang kita sisihkan untuk mereka? Berapa banyak perhatian yang telah kita berikan kepada mereka? Suatu hari kelak, kita pun akan menjadi pohon itu. Semoga kita pun bisa menjadi sebuah pohon yang berbahagia.
Cerita ini aku sampaikan kepada Haura. Aku selalu membiasakan diri untuk bercerita kepadanya. Sebenarnya cerita ini aku ketahui dari dia. Dia yang menceritakan kisah pohon apel ini. Namun cerita ini merupakan salah satu daftar yang ia lupakan. Kala aku membacakan cerita ini, air matanya berkaca-kaca dan menutup matanya dalam-dalam. Setelah itu, dia banyak bertanya tentang aku. Seolah kita sedang berkenalan dan bertukar posisi. Dulu dia yang selalu jadi guruku, memberi tahu semua yang dia ketahui secara haq. Dan sekarang dia yang selalu bertanya padaku, aku sekarang jadi tahu bagaimana dia sulu begitu bersabar dan tulus untuk membantuku. Sekarang aku harus sabar ketika dia berhijab dengan tidak rapi, makan dan minum tanpa berdoa, dan... selalu mengajarkannya kembali tentang shalat.
Aku ingin lebih mengerti lagi apa itu penyakita Alzheimer. Ada beberapa artikel yang membahasnya sampai dengan akibat dari penyakit ini. Gejala-gejala Demensia Alzheimer sendiri meliputi gejala yang ringan sampai berat. Sepuluh tanda-tanda adanya Demensia Alzheimer adalah :
  • Gangguan memori yang memengaruhi keterampilan pekerjaan, seperti; lupa meletakkan kunci mobil, mengambil baki uang, lupa nomor telepon atau kardus obat yang biasa dimakan, lupa mencampurkan gula dalam minuman, garam dalam masakan atau cara-cara mengaduk air,
  • Kesulitan melakukan tugas yang biasa dilakukan, seperti; tidak mampu melakukan perkara asas seperti menguruskan diri sendiri.
  • Kesulitan bicara dan berbahasa
  • Disorientasi waktu, tempat dan orang, seperti; keliru dengan keadaan sekitar rumah, tidak tahu membeli barang ke kedai, tidak mengenali rekan-rekan atau anggota keluarga terdekat.
  • Kesulitan mengambil keputusan yang tepat
  • Kesulitan berpikir abstrak, seperti; orang yang sakit juga mendengar suara atau bisikan halus dan melihat bayangan menakutkan.
  • Salah meletakkan barang
  • Perubahan mood dan perilaku, seperti; menjadi agresif, cepat marah dan kehilangan minat untuk berinteraksi atau hobi yang pernah diminatinya.
  • Perubahan kepribadian, seperti; seperti menjerit, terpekik dan mengikut perawat ke mana saja walaupun ke WC.
  • Hilangnya minat dan inisiatif[27]
Orang yang sakit juga kadangkala akan berjalan ke sana sini tanpa sebab dan pola tidur mereka juga berubah. Orang yang sakit akan lebih banyak tidur pada waktu siang dan terbangun pada waktu malam.
Secara umum, orang sakit yang didiagnosis mengidap penyakit ini meninggal dunia akibat radang paru-paru atau pneumonia. Ini disebabkan, pada waktu itu orang yang sakit tidak dapat melakukan sembarang aktivitas lain.
Ya Allah, lindungilah sahabat hamba dari segala kemungkinan buruk yang akan menimpanya ya Allah...! Ya Allah, tidak  ada yang tidak mungkin bagi Engkau ya Tuhanku, hamba berdoa dan memohonkepada Engkau ya Allah, hamba mohon sembuhkanlah sahabat hamba, kembalikanlah semua ingatannya dan jadikanlah dia sebagai Haura yang Qanithaat. Ampunkanlah semua kesalahannya ya Allah, jadikan ujian yang Engkau turunkan sebagai jembatan untuk menghapus semua kesalahannya bagai daun gugur tertebak angin. Ya Allah, angkatlah derajatnya... dan angkatlah segala macam penyakitnya, amin ya rabbal ‘alamin.
Pada hari minggu ini, aku mengajak Haura ke pasar. Niatnya ingin membeli pakaian muslimah dan membeli bahan batik untuk dibuat gamis. Ketika di sudut pasar, Haura berjalan sendiri dan menuju pada kerumunan. Ternyata ada sebuah pertunjukkan monyet. Haura terus tertuntun untuk melihatnya. Aku heran, padahal dulu dia sangat pobia sama monyet. Dan sekarang... dia ingin melihat pertunjukkannya dan sekarang berada di bagian terdepan penonton? Hmmm, masyaallah!
Ana    : “Apa pertunjukkan ini sangat menarik buat kamu?”
Haura : “Iya! Ini sangat menarik...”
Aku terus menatap wajahnya yang begitu antusias menyaksikannya. Dia begitu bahagia dan menyukai monyet itu. Lalu dia menatapku ceria dan bertanya.
Haura : “Apa kamu sekarang sudah bertemu dengan wanita itu, apa kamu sudah menemukannya sekarang?”
Ana    : “Aku tidak bisa bertemu dengannya...”
Haura : “Kenapa kamu tidak bisa bertemu dengannya?” dengan wajahnya yang penuh tanya.
Ana    : “Karena dia sudah melupakan aku dan menjadi orang lain!!”
Haura : “Kenapa?”
Ana   : “(Dengan tatapan kosong dan suara yang lemas) Semuanya salahku. Walaupun aku sudah memutuskan untuk melindunginnya, tetapi aku gagal! Banyak hal ingin aku katakan padanya. Tetapi aku tidak bisa menyampaikannya. Karena itu, hingga saat ini... aku tidak bisa melupakannya. Untuk itu... jika kamu bertemu dengan wanita yang wajahnya begitu mirip sama kamu, tolong kamu sampaikan kepadanya...”
Haura : “Apa yang ingin kamu sampaikan?”
Ana    : “Katakan padanya bahwa aku sangat... benar-benar menyayanginya!”
Wajahnya tegang dan bibirnya bergetar kala aku berkata padanya. Aku tidak tahu apakah dia adalahHaura atau orang lain. Tapi jauh didalam hatinya, pasti dia tahu bahwa wanita yang aku maksud adalah dia. Beberapa hari ini, dia sering penasaran dengan wanita yang aku rahasiakan namanya. Aku ceritakan bahwa wanita ini sangat baik, cantik, cerdas dan dia adalah sahabatku. Dia terus bertanya bagaimana sikapnya dan penampilannya. Lucu sekali bukan? Dia bertanya tentang dirinya sendiri. Dia juga terus memotivasiku agar sabar menunggu dia dan memaafkannya.
Selesai mengantarnya pulang, aku menunggunya sampai ke depan pintu. Haura aku senang karena bisa bersama kamu hari ini. Walau pertemuan kita singkat, namun hatiku lega bisa mengungkapkan perasaan ini padamu. Haura, mulai hari ini aku tidak bisa bertemu dengan kamu lagi. Aku harus ke Jakarta, karena ada kegiatan dari kampus untuk beberapa minggu disana. Aku tak bisa selalu ada disisimu lagi sayang! Maafkan aku, tapi aku yakin kamu akan baik saja. Entah mengapa malam ini, aku sangat sedih. Apa karena aku akan jarang bertemu dengan Haura ya? Dalam kesedihan ini, memoriku mundur dan mengingat saat-saat aku dan Haura bersama. Saat kami benar-benar saling mengenal dan menyayangi.
Begitu cahaya redup karena awan, hujan yang bertebaran di jendelaku
Seperti kenangan menyedihkan didalam hatiku
Mengacaukan hatiku...
Tersesat dalam kerinduan yang semakin hari semakin kuat
Mungkinkah ada cara untuk mengembalikan waktu?
Meskipun jiwa kita hanya bisa melakukannya sekali saja
Meskipun itu untuk yang terakhir kalinya
Itu sudah cukup bagiku!
Sinar yang datang memudarkan awan
Air hujan yang berjatuhan diluar jendelaku
Ingatan yang mendingin adalah seperti suara air hujan
Menangkap hatiku, menolak untuk pergi
Terjerumus kerinduan yang semakin dalam
Seiring waktu...
Dapatkah aku berkelana kembali kewaktu itu
Jika kau memelukku saat seperti dulu
Maka aku akan menjadi lebih baik
Ku telusuri jalan yang basah dan berhujan
Danmelihat kembali kenangan-kenangan kita
Hujan samar-samar itu mengingatkanku padamu
Dan kau memenuhi air mataku...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar