Tersenyumlah... hati yang bersedih!
Saat kita menempuhi
anak duri dunia, derita sekali sekala mencuit hati. Hati remuk menangis tiada
henti... kesedihan terus-menerus bersemadi didalam hati! Ketika itu sabar pun
sudah tidak bisa dikenali lagi. Dalamterharu, air mata tertumpah juga. Wahai
hamba Ilahi! Begitulah kehidupan di dunia. Kita tidak akan sesekali dapat
menyangka apa yang Allah aturkan untuk kita. Ada kalanya kita tersangat gembira,
ada kalanya kita tersangat kecewa. Namun, jangan risau sahabat! ALLAH ITU TUHAN
KITA! Tuhan Yang Maha Luas Kasih Sayang-Nya. Percayalah!!! Allah tidak akan
menduga hamba-Nya, kecuali untuk melihat hamba-Nya.
Tersenyum disana...
tertawa disana! Berbahagia disana... insyaallah di surga-Nya. Yang mengalir
dibawahnya sungai-sungai yang mendamaikan jiwa. Oh indahnya! Di dalam hati
manusia ada kekusutan dan tidak akan terurai kecuali menerima kehendak Allah
Swt.. Wahai hamba Allah, jangan bersedih! Karena kita telah melalui kesedihan
itu kemarin dan ia sama sekali tidak memberi sebarang manfaat pun pada
keesokkan harinya... Kesedihan demi kesedihan akan membuat kita semakin
terpuruk dalam keputusasaan dan dunia yang luas dirasakan sempit dan tiada
berguna lagi.
Padahal, dunia
inilah kesempatan untuk kita mendekatkan diri kepada Allah untuk kita raih
surga-Nya yang tersangat indah dan terbebas dari pada rasa kesedihan. Gara-gara
kesedihan, air yang manis terasa pahit! Makanan yang lezat terasa hambar. Bunga
mawar yang mekar mewangi kembali layu. Ingatlah!!! Tangisan terindah itu ketika
butiran-butiran air mata hangat dipipi lantaran terasa diri kita begitu kerdil
disisi Allah... dan betapa berdosanya diri kita disisi Allah.
Wahai hamba Allah!
Lihatlah disekelilingmu dan teguhkan pendirianmu! Sepanjang hidup dan usiamu
jangan pernah berputus asa. Senyuman yang kau berikan dan air mata yang kau
titiskan, simpan... jadikan tauladan! Segala yang kau pandang dan kau dengar simpan
buat pedoman! Hai sahabat, berpikir positif ya! Kita tidak tahu apapun, tapi
Allah mengetahui segalanya. Jangan bersedih karena Allah selalu bersama
kita...!
Kata motivasi ini
yang dapat membuat aku bangkit dari keterpurukanku. Sebagai seorang anak yang
berlatar belakang yatim piatu sungguh membuatku sedih dan hilang arah dulu.
Memang semua kebutuhanku terpenuhi, namun aku hidup bukan hanya sekedar jasadku
semata. Aku punya jiwa, aku punya hati. Semenjakaku mengenal dunia ini, aku
tidak mengeal siapa mam dan papaku! Aku terbiasa sendiri, sepi dan sedih!
Perkembangan mentalku kurang tumbuh dengan baik bila dibandingkan dengan
teman-teman yang lainnya yang mendapatkan kasih sayang penuh dari orang tuanya.
Aku merasa menjadi orang paling menderita di dunia.
Sampai aku teringat
suatu hari yang takan pernah aku lupakan! Saat aku di SMP, pernah ada
diselenggarakan sebuah lomba melukis di kota. Semua temanku yang satu sanggar
mengikutinya. Semua orang tuanya mendukung dan berniat untuk meminta surat izin
kepada kepala sekolah untuk mengikutinya. Aku melihat jelas senyuman dari
teman-temanku yang begitu bahagianya saat orang tua mereka menjemput di gerbang
pintu sanggar. Namun berbeda ceritanya dengan Belinda. Orang tuanya tidak
mengizinkannya untuk mengikuti lomba ini, orang tuanya berkata dengan jelas
bahwa “Kamu ini kan pintarnya berdandan sayang! Jadi mana mungkin kamu ikut
lomba ini? Sudahlah! Kamu tidak usah mengikuti lomba ini...” dengan tertawa.
Hal itu membuat Belinda kesal karena semua orang disana memperhatikannya.
“Astaga! Apa yang mama katakan! Sungguh itu tidak lucu tapi menyebalkan!”. Mama
Belinda juga kesal karena Belinda sudah melawan mamanya. Aku berusaha mengingatkannya,
namun dia malah pergi.
Aku pulang sendiri
dan berjalan lemas di sepanjang perjalanan menuju rumah. Aku melihat di sebuah
spanduk iklan, ada seorang anak yang makan bersama kedua orang tuanya. Sampai
aku melihat di taman kota, banyak orang tua yang bermain dengan anak-anaknya.
Lalu mereka menggendong anaknya yang tengah ketiduran. Aku pun melanjutkan
perjalananku dan ketika sampai didepan pintu rumah, aku terdiam. Tanganku sudah
memegang gagang pintu dan tinggal
membukanya. Entah dari mana aku mempunyai pikiran seperti ini, aku berpikir
akan ada mama papa di rumah. Aku begitu bersemangat membuka pintu dan berkata
“Assalamu’alaikum, aku pulang!”. Saat aku melihatnya, rumah tampak sepi dan suram.
Senyumku menjadi kesedihan dalam satu detik! Oh iya... bukannya setiap hariku
selama empat belas tahun ini tidak ada mama dan papa di rumah? Aku berjalan
menuju kamarku dengan menunduk, dan saat ku buka pintu kamar, sungguh kotor dan
berantakannya kamarku ini, aku hanya
bersedih.
Hingga tibalah saat
makan malam. Malam ini kak Nisa pulang sore jadi malam ini aku bisa bertemu
dengan kak Nisa. Saat kak Nisa duduk, aku memulai pembicaraan...
Marsha : “Kak....”
Kak Nisa : “Iya? Ada apa Sha? Apa
ada sesuatu yang ingin kamu tanyakan?”
Marsha : “Kak... mengenai itu, bisakah kakak membuat
surat rekomendasi untuk mengikuti lomba melukis kepada kepala sekolah?”
Kak Nisa : “Apa???”
Marsha : “Semua teman
Marsha bilang jika ayah ibunya membuat surat rekomendasi bagi mereka, jadi
Marsha ingin kakak...”
Kak Nisa : “Tidak, kakak tidak bisa!!!”
Marsha : “Kenapa?”
Kak Nisa : “Kakak sudah tahu mengenai lomba itu. Kakak tidak
mengizinkan karena lomba itu mengganggu pelajaran kamu. Bukankah beberapa hari
lagi kamu UTS? Memang kakak akui kelebihan kamu dalam bidang melukis. Namun, sekolah
harus kamu prioritaskan! Walaupun kamu
adik kakak, tetap kakak tidak bisa memberikan kamu perlakuan istimewa! Kakak
juga dulu sangat menyukai berenang, namun saat itu semua tidak mendukung
sekolah, maka kakak harus melepaskannya. Kakak harus mendapatkan nilai bagus
dan prestasi yang baik. Agar mendapatkan pekerjaan yang terbaik dan itu semua untuk kamu...”
Marsha : “Iya lalu
kakak tidak ada di rumah, kakak berubah menjadi boneka! Boneka itu tidak bisa mengatakan selamat datang!
Terkadang aku berpikir bahwa aku ini bukan adik kakak. Akan lebih menyenangkan
jika kakak ada di rumah dan selalu mengucapkan selamat datang jika aku pulang.
Kakak, apakah aku...”
Kak Nisa : “Hentikan omong kosong kamu itu! Kenapa kamu
bertingkah aneh hari ini?”
Marsha : “Entahlah...”
Lalu bibi datang menyajikan makanankesukaan kami, sayur sop
dicampur bakso.
Namun alangkah menyebalkannya saat
aku melihat didalam sayur sop tidak memakai bakso.
Marsha : “Bibi, kenapa
sayur sopnya tidak memakai bakso?”
Bibi : “Oh maaf
non, tadi di pasar langganannya bibi habis! Kan non katanya lebih baik tidak
memakai bakso daripada bakso selain dari sana...”
Marsha : “Ya sudah aku
gak mau makan!”
Kak Nisa : “Kenapa kamu jadi kasar? Kenapa juga sekarang kamu
jadi pemilih?”
Bibi : “Sudah
jangan bertengkar non...! Maafkan bibi”
Marsha : “Aku tidak
suka dengan sop ini!” lalu aku berlari meninggalkan meja makan.
Ka Nisa : “Hei tunggu
Marsha!”
Bibi : “Bibi
tidak tahu non... kalau non Marsha sangat tidak menyukainya”
Kak Nisa : “Sebenarnya
ini tentang sop bi, bibi jangan khawatir. Marsha selalu suka kok dengan sayur
buatan bibi.”
Kakak memang tidak bisa mengerti
keinginan orang! Jangan samakan aku dong sama kakak dulu. Apa aku memang harus
senasib sama kakak?! Kalau dipikir-pikir, memang kapan ya kakak bisa mengerti
keinginan aku? Ternyata aku salah berharap sama kakak! Padahal aku mempunyai
mimpi dalam bidang melukis ini. Aku terus marah-marah didalam hati. Aku sangat
kecewa sama kakak, kenapa kakak tidak pernah membiarkan aku hidup dengan apa
yang aku pilih, sekali saja..!
Sekarang aku akan ke
sekolah mengahadiri acara qurban di sekolah. Sebagai panitia kegiatan qurban di
sekolah, aku harus tiba lebih pagi dari pada biasanya. Entah mengapa walaupun
sudah beberapa tahun dari ingatan itu, hari ini aku teringat kembali. Daripada
biasanya ketika berjalan, aku lebih ingat untuk selalu berdzkir. Selain doa
untuk berkendara, setelahnya aku membaca tasbih dan istigfar. Saat di tikungan
tajam dan berliku, tiba-tiba ada sebuah mobil
yang ngebut dengan kecepatan tinggi. Mobil itu mengambil bagian jalanku,
aku tak bisa berbuat banyak mungkin karena kaget dan mobil itu segera
menabrakku dari depan. “Allohu akbar!”, hanya kata itu yang aku ingat
setelahnya. Semua orang berkerumun dan segera membawaku ke rumah sakit. Darah
yang keluar dari kepalaku mengalir segar di jalanan. Ternyata orang yang
mengemudikan mobil itu tengah mabuk. Dan dia harus mempertanggung jawabkan atas
perbuatannya. Kabar pun segera sampai pada sahabat-sahabatku di sekolah.
Terutama umi yang kala itu tengah mengajar. Umi sampai hampir pingsan mendengar
kabar tentang kecelakaanku. Beberapa dari sahabatku ada yang menangis dan ingin
segera menjengukku ke rumah sakit. Akhirnya ada umi, Haura, kak Nisa, dan
temanku yang lainnya. Mereka begitu cemas dan terus menitipkan doa untukku
dalam setiap tetes air matanya. Dalam keadaan kritis, Allah menggenggam ruh ku
dengan kekuasaan-Nya. Dan selalu menjagaku dengan sepenuhnya dalam setiap
nafasku.
Aku berjalan menyusuri
jalan berliku, di tengah keramaian banyak orang, aku merasa sepi dan sunyi.
Setiap sudut jalan selalu ada cerita dan tawa guarau mereka. Entah apa yang
mereka bicarakan sampai mereka tertawa seperti itu. Saat aku melewati rumah
Belinda, tanpa sengaja aku mendengar perdebatan panas dia dengan mamanya.
Ibu Nina : “Apa karena kamu sedang dalam masa remaja? Kenapa
kamu selalu menentang?”
Belinda : “Berhentilah
mama untuk terus ikut campur dalam segala hal! Aku bukan anak-anak lagi!”
sambil melangkah pergi. Dia juga melihat potonya dengan kedua orang tuanya.
Ibu Nina : “Mau kemana?
Mama belum selesai bicara.”
Belinda : “Ini hidupku, jadi jangan ikut campur ma.”
Sambil membuka pintu.
Ibu Nina : “Belinda!!!”
Saat itu pun dia keluar
dari rumah dan melihatku. Dia tampak kaget dan langkahnya terhenti. Dalam
perjalanan kami pun dia terus kesal dengan ekspresi wajahnya. Ya sangat jelas
terlihat oleh siapa pun. Akhirnya kami berhenti di sebuah ayunan tempat kami
dulu suka bermain. Dan kami duduk pada ayunan itu.
Marsha : “Bel, mama kamu
akan mencarimu! Apa kamu pikir akan baik-baik aja kalau ada disini?”
Belinda : “Biarkan mama sendirian! Mama selalu ikut campur dalam
setiap apa yang aku lakukan! Dan mama tidak akan puas sampai semuanya berjalan
sesuai rencananya.”
Aku hanya terus menatapnya
dengan rasa kesal! Tapi dia berkata itu karena rasa kesalnya juga...
Belinda : “Begitu juga dengan papa. Bagaimana perasaan mereka
jika berada diposisiku?! Papa melakukan semua yang mama katakan. Dan akibatnya,
kakak menjadi korban dari mereka! Aku tidak mau seperti kakak yang tertekan dan
tidak mampu menjalani hidupnya dengan bebas.”
Bibirku begitu gereget mendengar semua perkataannya. Bagaimana
bisa dia berbicara seperti itu pada orang tuanya? Bagaimana pun juga dia harus
tetap menjaga kata-katanya!
Marsha : “Hei...”
Belinda : “Aku harap aku
bisa menghormati orang tuaku seperti yang lainnya! Aku malu memanggil mereka
orang tua!!!”
Tanganku bergetar dan sudah tak tahan lagi mendengar
perkataannya!
Marsha : “Belinda,
perkataanmu sangat kasar sekali!”
Belinda : “Apa? Jadi kamu
ada dipihak orang tuaku?”
Marsha : “Apa maksud kamu
dengan ada dipihak mereka? Aku cuma...”
Belinda : “Ahhh! Kamu
tidak tahu Marsha apa yang aku rasakan sekarang karena kamu tidak pernah mengalaminya!
Jika Ica ada disini, mungkin dia akan lebih mengerti aku...”
Tanpa dia sadari, dia telah
membuat hatiku terluka. Sangat terluka! Aku tahu, aku mungkin bukanlah sahabat
yang baik untuknya! Karena aku tidak tahu dan mengerti bagaimana rasanya
dimarahi oleh orang tua. Bagaimana rasanya diceramahi orang tua dan mendapat
perhatian dari mereka. Bagaimana cerita tentang mama yang suka bawel, cerewet
atau ayah yang kera, tegas dan lainnya. Ya aku tahu itu semua. Baru saja, aku
memikirkannya, dan baru saja hatiku serasa dipukul sekuat-kuatnya sampai aku
tersungkur. Air mataku pun terjatuh di tanah dan meninggalkan bekas yang cukup
dalam untuk dilihat. Apa aku harus mengalami dulu jika aku ingin menasihatinya?
Belinda : “Mar... sha? A,
aku... tidak bermaksud untuk menyakiti kamu Sha! Aku minta maaf jika aku sudah
menyakiti kamu, maaf!”
Aku tak tahu... aku hanya
ingin berlari dan sendirian. Kaki pun melangkah cepat dan meninggalkan Belinda.
Air mataku semakin deras seiring langkahku yang semakin cepat. Langkahku
terhenti saat aku melihat ada sebuah kerumunan banyak orang. Aku melihat kesana
dan ternyata ada sebah kecelakaan mobil dengan mobil. Saat aku lihat lebih
dekat lagi, ternyata yang menjadi korban adalah orang tuanya Belinda! Dan mama
dan papanya Belinda meninggal di tempat. Setelah mendengar kesaksian dari orang
disana, mobil orang tua Belinda ditabrak oleh mobil truk yang supirnya tengah
mengantuk. Aku langsung menghubungi Belinda dan ingin memberi tahukannya namun
handphonenya tidak aktif. Lalu setelah selesai dimandikan dan dishalatkan, maka
kami menunggu Belinda pulang. Setelah aku berbicara dengan Ica, ternyata
sebelumnya orang tuanya Belinda datang ke rumahnya. Mereka mencari tahu
informasi keberadaan dimana Belinda sekarang. Handphonenya mati, tidak bisa
dihubungi. Orang tuanya begitu khawatir dan sedih karena Belinda sampai malam
belum pulang juga.
Dan sampai akhirnya Belinda
pulang dengan langkah yang terseret. Dia bingung kenapa rumahnya dipenuhi oleh
banyak orang?Aku pun langsung menyambutnya dan memeluknya. Kami pun langsung
memberi tahunya, dia yang tak percaya langsung masuk ke dalam rumah. Terlihat banyak orang yang berkumpul
mengelilingi mama papanya yang tertidur dengan ditutupi samping dan wajahnya
dengan kelambu. Dia shock dan histeris! Dia lari dan memanggil mama dan
papanya! Dia memeluk keduanya. Segera guru agama kami menenangkannya. Akhirnya
dalam beberapa menit, kami ikut mengantar ke pamakaman. Kami semua dengan
khidmat melaksanakan penguburan ini. Mata Belinda yang sayup dan merah begitu
lelahnya menangis dan beristigfar. Aku
pun membayangkan dulu bagaimana mama dan papa seperti ini.
Sampai tiba aku kembali ke
rumahnya Belinda yag semakin lama semakin sepi dengan tamu yang ingin
berkunjung dan mengucapkan rasa duka dan berkabungnya. Terlihat dia menelusuri
kamar mama dan papanya.
Belinda : “Aku sangat
berdosa...”
Marsha : “Sudah Bel, setiap orang pasti pernah melakukan
kesalahan! Yang terpenting kamu harus bangkit dan mendoakan mama papa kamu.”
Belinda : “Jadi rasanya
seperti ini ya bila tidak ada mama dan papa?! Sekarang aku tahu bagaimana
rasanya jika ada diposisi kamu... mungkin aku akan rela dan senang jika mama
papa masih memarahiku dan menasehatiku sekarang! Terserah mereka mau apa...
yang terpenting mereka ada disini...” dengan tangisnya yang memenuhi dekapan
tanganku.
Marsha : “Ya Allah Bel,
kamu harus rela. Kita harus yakin bahwa orang tua kita disana mendapatkan
tempat yang lebih baik dari pada disini. Allah leih mencintai mereka... Mereka
tidak pernah pergi! Mereka ada disini, di hati dan ingatan kita. Jadi jangan
bilang kalau mereka tidak ada disini!”
Belinda : “Marsha...?!”
Marsha : “Kita pasti akan
bertemu dengan mereka kembali, di surga-Nya Allah... amiin!”
Belinda : “Iya amiin....
namun rasa menyesalku terhadap mereka begitu kuat! Kamu tahu kan, sebelumnya
aku sudah menyusahkan dan menyakiti mereka dengan kata-kataku. Aku belum pernah
membuat mereka bangga terhadapku, aku hanya meminta dan meminta tanpa
memberikan apa yang mereka mau. Aku cuman bisanya nangis dan marah dengan mama
dan papa.”
Marsha : “Iya aku tahu...
tapi hanya doa kamu yang akan sampai kepada mereka sekarang! Jadi jadikan ini
sebagai pembelajaran buat kita!”
Saat aku kembali ke rumah
dan akan membuka pintu, terdengar suara bapa-bapa dan seorang ibu-ibu, kak Nisa
dan bibi. Mereka semua nampaknya sedang makan malam bersama! Mereka bersenda
gurau bersama. Tanganku ingin segera membuka pintu. Saat melangkah memasuki
rumah, terlihat rumah begitu terlihat cerah dari biasanya. Dan saat aku
melangkah dan melihat ke ruang makan, aku lihat ada mama dan papa sedang makan
malam bersama kak Nisa dan bibi yang tengah mengantarkan makanan dari dapur.
Aku tak percaya dengan apa yang tengah aku lihat ini, bagaimana mungkin? Mereka
semuanya melihatku dan tersenyum.
Mama : “Selamat datang sayang! Ayo kita makan!”
dengan memelukku erat.
Papa : “Ayo duduk
disini dekat papa, papa sangat rindu sama kamu!”
Marsha : “Apa ini
sungguhan? Atau ini mimpi? Ini, ini nyata?!”
Kak Nisa : “Apa maksud
kamu dek? Harusnya kamu senang, karena mama papa baru pulang dari luar kota!”
Mama : “Kamu kemana saja sayang, kenapa jam segini
baru pulang?”
Papa : “Papa kira
kamu tersesat dan lupa jalan pulang, ya? Papa minta maaf ya karena tidak bisa
menjemput kamu hari ini...”
Marsha : “(Deraian air mata dipipi dan memeluk mama
papa) Aku...”
Mama : “Ada apa
dengan kamu, ini bukanlah pertemuan keluarga yan terpisah lama...”
Marsha : “Di selama
ini, maksudku aku minta maaf ma, pa...!”
Papa : “Mama kamu
tidak cerewet! Dia melakukan itu karena sayang padamu, untuk itu dengarkanlah
apa kata ibumu!”
Aku tak percaya ini! Namun
aku juga sangat bahagia dengan ini. Ini seolah mimpi, namun terasa oleh panca
inderaku! Ya Allah, apa pun ini... biarkanlah seperti ini ya Allah! Hamba mohon
jangan berubah. Mama menyuapiku dengan lembut. Papa selalu memegang kepaalaku
dan mengusapnya. Papa selalu menyanjungku! Aku begitu sangat bahagia! Aku pun
sampai susah tidur, aku takut saat aku membuka mataku besok, mama dan papa
pergi. Namun rasa kantuk ini pun segera datang setelah beberapa lama aku
memikirkan ini semua terjadi, bagaimana bisa? Tapi rasa bahagiaku lebih dominan
dari pada rasa kagetku.
Hari ini selesai sekolah
aku berjalan dan berjalan. Lama kelamaan aku memikirkan mama dan papa. Aku
tidak sabar ingin segera sampai di rumah dan bertemu dengan mereka! Dan saat
aku membuka pintu, tanganku terhenti... apa kemarin aku hanya mimpi? Ada mama
dan papa dirumah? Dan saat aku masuk ke rumah, ternyata ada pesta kejutan
untukku. Aku tidak ingat hari ini aku ulang tahun. Dengan kue ulang tahun yang
besar, mama dan papa memberiku kado yang sangat spesial. Namun dalam suasana
yang indah ini, aku mendengar seorang ibu diluar rumahsedang menangis. Entah
mengapa aku tertuntun ke arahnya dan terus mencari siapa yang tengah menangis itu?
Saat aku ada di halaman rumah, ternyata ada seorang ibu memakai gaun putih
berjilbab sedang menangis. Aku rasa aku mengenalinya... hatiku sangat sakit
melihat dia bersedih seperti itu! Dia itu adalah... umi? Ya dia umi.... itu
umi! Aku langsung menghampirinya dan memeluknya.
Marsha : “Umi... umi kenapa
menangis?”
Umi : “Karena kamu akan melupakan dan
meninggalkan umi...”
Marsha : “Tidak umi,
Marsha, Marsha? Aku ini... aku adalah Ana kan umi?”
Umi : “Kamu Ana sayang... Ana-nya umi!”
Marsha : “Sebenarnya apa yang tengah terjadi
sekarang? Kita ada dimana umi?”
Umi : “Kamu dalam masa koma sayang, kita sedang
berada di alam bawah sadar kamu!”
Lalu mama dan papa muncul
dan memanggilku menuju mereka! Mereka juga sangat takut untuk kehilangan aku.
Begitu pun dengan umi! Aku sunguh bingung, aku diantara keduanya, mama dan papa
yang memanggilku Marsha dan umiyang memanggilku Ana. Lalu aku mengucap kata
Allah dihatiku, seketika itu pun terlihat bayangan saat mama, papa dan aku
kecelakaan yang merenggut nyawa mam dan papa. Mobil kami terbalik, dan mama
papa terjepit mobil dan tidak bisa keluar, mama berusaha mengeluarkan aku
dengan tangannya dan melemparkanaku sejauh mungkin. Karena mama tahu mobil itu
akan segera meledak.
Mama : “Terimakasih atas segala yang telah papa lakukan untukku
sejauh ini. Selama ini aku berpura-pura gila hanya untuk memisahkan Marsha
dengan ibu kandungnya! Mama ingin memiliki papa seutuhnya, mama ternyata tidak
bisa membaginya walau pada sahabat mama. Maafkan mama. Pa, janga memasang
ekspresi wajahseperti itu. Mama sangat bahagia karena telah dicintai oleh papa.
Jika kita mampu bertahan hidup, mama pikir kita akan hidup bahagia. Mama sangat
gembira walau hanya membayangkannya saja!”
Papa : “Mama ini
bicara apa. Sudahlah biarlah berlalu. Kita harus segera keluar dari sini.
Lihat! Disana Marsha senidiran...”
Setelah beberapa kali mama
dan papa bangkit, api di mobil semakin membesar.
Papa : “Kita tidak akan
bisa bertemu dengannya lagi. Jadi katakan sesuatu yang ingin mama katakan
padanya!”
Mama : “Marsha. Jangan pilih-pilih makanan ya, makanlah yang
banyak dan tumbuh besar dan kuat. Juga bertemanlah, kamu tidak perlu punya
banyak teman! Tidak apa-apa jika kamu punya sedikit teman tapi teman yang bisa
kamu percaya. Dan ini juga sangat penting, kamu jangan cengeng dan menangis
jika teman-temanmu mengejekmu, Marsha... kamu akan menghadapi banyak hal sulit
dan penderitaan nantinya. Percaya dirilah dan yakinlah. Dan rangkailah mimpimu
dan wujudkanlah menjadi sebuah kenyataan. Mama ingin mengajarimu secara
langsung dan ada disampingmu! Mama ingin bersama kamu lebih lama lagi. Mama
sangat menyayangi kamu.”
Papa : “Marsha, apa
yang akan papa katakan hampir sama dengan yang telah dikatakan mama kamu yang
cerewet ini. Entah bagaimana, kami yakin suatu hari kamu akan mengetahui semua
ini. Allah pasti akan menyampaikannya.”
Setelah itu aku tahu, Allah
telah menyampaikannya sekarang. Terimakasih ya Allah. Sekarang langkahku
berbalik menuju umi. Kenyataannya umi adalah yang sedang hidup denganku. Aku
masih punya banyak PR dan tugas lainnya sebagai seorang manusia. Untuk itu aku
memilih umi dan berada disampingnya. Bagaimana pun mama dan papa sudah
meninggal, itu kenyaaannya. Aku tidak tahu siapa sebenarnya mereka di dunia
ini.
Papa : “Jadi...”
Lalu ada cahaya putih yang menyelimuti aku dan umi...
Papa : “Sepertinya
kalian akan kembali ke dunia asli kalian...”
Mama : “Ini salam
perpisahan!”
Bibirku bergetar kala
melihat mama dan papa. Memang berat untuk mengatakan ini, namun inilah
keputusan yang aku ambil. Aku harus tetap hidup dan mendampingi umi. Mungkin
inilah terakhir kalinya...
Marsha : “Aku sangat berterimakasih kepada kalian karena sudah
menyelamatkanku. Dan ini sungguh singkat! Aku sangat berterimakasih pada
kalian! Ini pertama kalinya aku menghabiskan waktuku bersama kalian keluargaku.
Terimakasih sudah memberiku makanan hangat! Terimakasih juga sudah
mengkhawatirkan aku, menyayangiku dan menjagaku.”
Aku perlahan terbangun dan
merasakan rasa sakit di kepalaku. Saat membuka mata, aku lihat umi ada
disampingku dan tersenyum padaku. Semua orang yang ada disana tersenyum dan
bersyukur aku sudah siuman.
Ana : “Umi?”
Umi : “Alhamdulillah kamu
sudah sadar sayang, kamu ingat umi? Kamu kembali lagi sama umi?”
Aku pun kaget mendengar
perkataan umi seperti itu. Jadi apa yang aku alami tadi adalah mimpi? Namun
begitu asli dan nyata. Umi juga ada disana. Ternyata aku berhasil melewati masa
kritis ini selama beberapa hari. Dokter bilang jika sudah melewati batas
ketentuan, maka aku dinyatakan koma. Semua teman dan saudara yang ada diluar
segera bersujud syukur. Dokter sangat terkejut dan bahagia, karena disinilah
Allah menjalankan kekuasaan-Nya.
Aku lihat ada seorang
bidadari yang tengah menangis melihat ku tertidur. Aku kira dia Haura, saat aku
membuka mata ternyata dia Belinda. Lalu ada Ica dari luar masuk dan segera
memanggilku ketika dia melihat aku membuka mata. Alhamdulillah, mereka berdua
berhijab sekarang. Mereka juga ikut mendoakan aku dan selalu membaca surah
Yasin untukku. Alhamdulillah ya Allah, Engkau memberikan hidayah kepada mereka.
Lalu Haura dan sahabat yang lainnya datang dan tersenyum padaku. Ternyata
selama aku kritis, Allah ingin meunjukkan bagaimana bila angaku terwujud? Apa
yang akan aku pilih?! Dan mana rencana Allah yang terbaik, dalam keadaan
seperti ini, saat sayapku sedang patah... Allah menunjukkannya dan menjawabnya
agar tidak ada keraguan dan kesedihan lagi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar