Pages

Jumat, 06 Maret 2015

sahabat part 7 (sayapku yang patah)


Tersenyumlah... hati yang bersedih!
Saat kita menempuhi anak duri dunia, derita sekali sekala mencuit hati. Hati remuk menangis tiada henti... kesedihan terus-menerus bersemadi didalam hati! Ketika itu sabar pun sudah tidak bisa dikenali lagi. Dalamterharu, air mata tertumpah juga. Wahai hamba Ilahi! Begitulah kehidupan di dunia. Kita tidak akan sesekali dapat menyangka apa yang Allah aturkan untuk kita. Ada kalanya kita tersangat gembira, ada kalanya kita tersangat kecewa. Namun, jangan risau sahabat! ALLAH ITU TUHAN KITA! Tuhan Yang Maha Luas Kasih Sayang-Nya. Percayalah!!! Allah tidak akan menduga hamba-Nya, kecuali untuk melihat hamba-Nya.
Tersenyum disana... tertawa disana! Berbahagia disana... insyaallah di surga-Nya. Yang mengalir dibawahnya sungai-sungai yang mendamaikan jiwa. Oh indahnya! Di dalam hati manusia ada kekusutan dan tidak akan terurai kecuali menerima kehendak Allah Swt.. Wahai hamba Allah, jangan bersedih! Karena kita telah melalui kesedihan itu kemarin dan ia sama sekali tidak memberi sebarang manfaat pun pada keesokkan harinya... Kesedihan demi kesedihan akan membuat kita semakin terpuruk dalam keputusasaan dan dunia yang luas dirasakan sempit dan tiada berguna lagi.
Padahal, dunia inilah kesempatan untuk kita mendekatkan diri kepada Allah untuk kita raih surga-Nya yang tersangat indah dan terbebas dari pada rasa kesedihan. Gara-gara kesedihan, air yang manis terasa pahit! Makanan yang lezat terasa hambar. Bunga mawar yang mekar mewangi kembali layu. Ingatlah!!! Tangisan terindah itu ketika butiran-butiran air mata hangat dipipi lantaran terasa diri kita begitu kerdil disisi Allah... dan betapa berdosanya diri kita disisi Allah.
Wahai hamba Allah! Lihatlah disekelilingmu dan teguhkan pendirianmu! Sepanjang hidup dan usiamu jangan pernah berputus asa. Senyuman yang kau berikan dan air mata yang kau titiskan, simpan... jadikan tauladan! Segala yang kau pandang dan kau dengar simpan buat pedoman! Hai sahabat, berpikir positif ya! Kita tidak tahu apapun, tapi Allah mengetahui segalanya. Jangan bersedih karena Allah selalu bersama kita...!
Kata motivasi ini yang dapat membuat aku bangkit dari keterpurukanku. Sebagai seorang anak yang berlatar belakang yatim piatu sungguh membuatku sedih dan hilang arah dulu. Memang semua kebutuhanku terpenuhi, namun aku hidup bukan hanya sekedar jasadku semata. Aku punya jiwa, aku punya hati. Semenjakaku mengenal dunia ini, aku tidak mengeal siapa mam dan papaku! Aku terbiasa sendiri, sepi dan sedih! Perkembangan mentalku kurang tumbuh dengan baik bila dibandingkan dengan teman-teman yang lainnya yang mendapatkan kasih sayang penuh dari orang tuanya. Aku merasa menjadi orang paling menderita di dunia.
Sampai aku teringat suatu hari yang takan pernah aku lupakan! Saat aku di SMP, pernah ada diselenggarakan sebuah lomba melukis di kota. Semua temanku yang satu sanggar mengikutinya. Semua orang tuanya mendukung dan berniat untuk meminta surat izin kepada kepala sekolah untuk mengikutinya. Aku melihat jelas senyuman dari teman-temanku yang begitu bahagianya saat orang tua mereka menjemput di gerbang pintu sanggar. Namun berbeda ceritanya dengan Belinda. Orang tuanya tidak mengizinkannya untuk mengikuti lomba ini, orang tuanya berkata dengan jelas bahwa “Kamu ini kan pintarnya berdandan sayang! Jadi mana mungkin kamu ikut lomba ini? Sudahlah! Kamu tidak usah mengikuti lomba ini...” dengan tertawa. Hal itu membuat Belinda kesal karena semua orang disana memperhatikannya. “Astaga! Apa yang mama katakan! Sungguh itu tidak lucu tapi menyebalkan!”. Mama Belinda juga kesal karena Belinda sudah melawan mamanya. Aku berusaha mengingatkannya, namun dia malah pergi.
Aku pulang sendiri dan berjalan lemas di sepanjang perjalanan menuju rumah. Aku melihat di sebuah spanduk iklan, ada seorang anak yang makan bersama kedua orang tuanya. Sampai aku melihat di taman kota, banyak orang tua yang bermain dengan anak-anaknya. Lalu mereka menggendong anaknya yang tengah ketiduran. Aku pun melanjutkan perjalananku dan ketika sampai didepan pintu rumah, aku terdiam. Tanganku sudah memegang gagang pintu  dan tinggal membukanya. Entah dari mana aku mempunyai pikiran seperti ini, aku berpikir akan ada mama papa di rumah. Aku begitu bersemangat membuka pintu dan berkata “Assalamu’alaikum, aku pulang!”. Saat aku melihatnya, rumah tampak sepi dan suram. Senyumku menjadi kesedihan dalam satu detik! Oh iya... bukannya setiap hariku selama empat belas tahun ini tidak ada mama dan papa di rumah? Aku berjalan menuju kamarku dengan menunduk, dan saat ku buka pintu kamar, sungguh kotor dan berantakannya kamarku ini,  aku hanya bersedih.
Hingga tibalah saat makan malam. Malam ini kak Nisa pulang sore jadi malam ini aku bisa bertemu dengan kak Nisa. Saat kak Nisa duduk, aku memulai pembicaraan...
Marsha    : “Kak....”
Kak Nisa : “Iya? Ada apa Sha? Apa ada sesuatu yang ingin kamu tanyakan?”
Marsha     : “Kak... mengenai itu, bisakah kakak membuat surat rekomendasi untuk mengikuti lomba melukis kepada kepala sekolah?”
Kak Nisa : “Apa???”
Marsha  : “Semua teman Marsha bilang jika ayah ibunya membuat surat rekomendasi bagi mereka, jadi Marsha ingin kakak...”
Kak Nisa : “Tidak, kakak tidak bisa!!!”
Marsha    : “Kenapa?”
Kak Nisa : “Kakak sudah tahu mengenai lomba itu. Kakak tidak mengizinkan karena lomba itu mengganggu pelajaran kamu. Bukankah beberapa hari lagi kamu UTS? Memang kakak akui kelebihan kamu dalam bidang melukis. Namun, sekolah  harus kamu prioritaskan! Walaupun kamu adik kakak, tetap kakak tidak bisa memberikan kamu perlakuan istimewa! Kakak juga dulu sangat menyukai berenang, namun saat itu semua tidak mendukung sekolah, maka kakak harus melepaskannya. Kakak harus mendapatkan nilai bagus dan prestasi yang baik. Agar mendapatkan pekerjaan yang terbaik dan  itu semua untuk kamu...”
Marsha    : “Iya lalu kakak tidak ada di rumah, kakak berubah menjadi boneka! Boneka  itu tidak bisa mengatakan selamat datang! Terkadang aku berpikir bahwa aku ini bukan adik kakak. Akan lebih menyenangkan jika kakak ada di rumah dan selalu mengucapkan selamat datang jika aku pulang. Kakak, apakah aku...”
Kak Nisa : “Hentikan omong kosong kamu itu! Kenapa kamu bertingkah aneh hari ini?”
Marsha    : “Entahlah...”
Lalu bibi datang menyajikan makanankesukaan kami, sayur sop dicampur bakso.
Namun alangkah menyebalkannya saat aku melihat didalam sayur sop tidak memakai bakso.
Marsha    : “Bibi, kenapa sayur sopnya tidak memakai bakso?”
Bibi         : “Oh maaf non, tadi di pasar langganannya bibi habis! Kan non katanya lebih baik tidak memakai bakso daripada bakso selain dari sana...”
Marsha    : “Ya sudah aku gak mau makan!”
Kak Nisa : “Kenapa kamu jadi kasar? Kenapa juga sekarang kamu jadi pemilih?”
Bibi         : “Sudah jangan bertengkar non...! Maafkan bibi”
Marsha    : “Aku tidak suka dengan sop ini!” lalu aku berlari meninggalkan meja makan.
Ka Nisa   : “Hei tunggu Marsha!”
Bibi          : “Bibi tidak tahu non... kalau non Marsha sangat tidak menyukainya”
Kak Nisa  : “Sebenarnya ini tentang sop bi, bibi jangan khawatir. Marsha selalu suka kok dengan sayur buatan bibi.”
Kakak memang tidak bisa mengerti keinginan orang! Jangan samakan aku dong sama kakak dulu. Apa aku memang harus senasib sama kakak?! Kalau dipikir-pikir, memang kapan ya kakak bisa mengerti keinginan aku? Ternyata aku salah berharap sama kakak! Padahal aku mempunyai mimpi dalam bidang melukis ini. Aku terus marah-marah didalam hati. Aku sangat kecewa sama kakak, kenapa kakak tidak pernah membiarkan aku hidup dengan apa yang aku pilih, sekali saja..!
Sekarang aku akan ke sekolah mengahadiri acara qurban di sekolah. Sebagai panitia kegiatan qurban di sekolah, aku harus tiba lebih pagi dari pada biasanya. Entah mengapa walaupun sudah beberapa tahun dari ingatan itu, hari ini aku teringat kembali. Daripada biasanya ketika berjalan, aku lebih ingat untuk selalu berdzkir. Selain doa untuk berkendara, setelahnya aku membaca tasbih dan istigfar. Saat di tikungan tajam dan berliku, tiba-tiba ada sebuah mobil  yang ngebut dengan kecepatan tinggi. Mobil itu mengambil bagian jalanku, aku tak bisa berbuat banyak mungkin karena kaget dan mobil itu segera menabrakku dari depan. “Allohu akbar!”, hanya kata itu yang aku ingat setelahnya. Semua orang berkerumun dan segera membawaku ke rumah sakit. Darah yang keluar dari kepalaku mengalir segar di jalanan. Ternyata orang yang mengemudikan mobil itu tengah mabuk. Dan dia harus mempertanggung jawabkan atas perbuatannya. Kabar pun segera sampai pada sahabat-sahabatku di sekolah. Terutama umi yang kala itu tengah mengajar. Umi sampai hampir pingsan mendengar kabar tentang kecelakaanku. Beberapa dari sahabatku ada yang menangis dan ingin segera menjengukku ke rumah sakit. Akhirnya ada umi, Haura, kak Nisa, dan temanku yang lainnya. Mereka begitu cemas dan terus menitipkan doa untukku dalam setiap tetes air matanya. Dalam keadaan kritis, Allah menggenggam ruh ku dengan kekuasaan-Nya. Dan selalu menjagaku dengan sepenuhnya dalam setiap nafasku.
Aku berjalan menyusuri jalan berliku, di tengah keramaian banyak orang, aku merasa sepi dan sunyi. Setiap sudut jalan selalu ada cerita dan tawa guarau mereka. Entah apa yang mereka bicarakan sampai mereka tertawa seperti itu. Saat aku melewati rumah Belinda, tanpa sengaja aku mendengar perdebatan panas dia dengan mamanya.
Ibu Nina : “Apa karena kamu sedang dalam masa remaja? Kenapa kamu selalu menentang?”
Belinda   : “Berhentilah mama untuk terus ikut campur dalam segala hal! Aku bukan anak-anak lagi!” sambil melangkah pergi. Dia juga melihat potonya dengan kedua orang tuanya.
Ibu Nina : “Mau kemana? Mama belum selesai bicara.”
Belinda   : “Ini hidupku, jadi jangan ikut campur ma.” Sambil membuka pintu.
Ibu Nina : “Belinda!!!”
Saat itu pun dia keluar dari rumah dan melihatku. Dia tampak kaget dan langkahnya terhenti. Dalam perjalanan kami pun dia terus kesal dengan ekspresi wajahnya. Ya sangat jelas terlihat oleh siapa pun. Akhirnya kami berhenti di sebuah ayunan tempat kami dulu suka bermain. Dan kami duduk pada ayunan itu.
Marsha  : “Bel, mama kamu akan mencarimu! Apa kamu pikir akan baik-baik aja kalau ada disini?”
Belinda : “Biarkan mama sendirian! Mama selalu ikut campur dalam setiap apa yang aku lakukan! Dan mama tidak akan puas sampai semuanya berjalan sesuai rencananya.”
Aku hanya terus menatapnya dengan rasa kesal! Tapi dia berkata itu karena rasa kesalnya juga...
Belinda : “Begitu juga dengan papa. Bagaimana perasaan mereka jika berada diposisiku?! Papa melakukan semua yang mama katakan. Dan akibatnya, kakak menjadi korban dari mereka! Aku tidak mau seperti kakak yang tertekan dan tidak mampu menjalani hidupnya dengan bebas.”
Bibirku begitu gereget mendengar semua perkataannya. Bagaimana bisa dia berbicara seperti itu pada orang tuanya? Bagaimana pun juga dia harus tetap menjaga kata-katanya!
Marsha  : “Hei...”
Belinda  : “Aku harap aku bisa menghormati orang tuaku seperti yang lainnya! Aku malu memanggil mereka orang tua!!!”
Tanganku bergetar dan sudah tak tahan lagi mendengar perkataannya!
Marsha  : “Belinda, perkataanmu sangat kasar sekali!”
Belinda  : “Apa? Jadi kamu ada dipihak orang tuaku?”
Marsha  : “Apa maksud kamu dengan ada dipihak mereka? Aku cuma...”
Belinda  : “Ahhh! Kamu tidak tahu Marsha apa yang aku rasakan sekarang karena kamu tidak pernah mengalaminya! Jika Ica ada disini, mungkin dia akan lebih mengerti aku...”
Tanpa dia sadari, dia telah membuat hatiku terluka. Sangat terluka! Aku tahu, aku mungkin bukanlah sahabat yang baik untuknya! Karena aku tidak tahu dan mengerti bagaimana rasanya dimarahi oleh orang tua. Bagaimana rasanya diceramahi orang tua dan mendapat perhatian dari mereka. Bagaimana cerita tentang mama yang suka bawel, cerewet atau ayah yang kera, tegas dan lainnya. Ya aku tahu itu semua. Baru saja, aku memikirkannya, dan baru saja hatiku serasa dipukul sekuat-kuatnya sampai aku tersungkur. Air mataku pun terjatuh di tanah dan meninggalkan bekas yang cukup dalam untuk dilihat. Apa aku harus mengalami dulu jika aku ingin menasihatinya?
Belinda  : “Mar... sha? A, aku... tidak bermaksud untuk menyakiti kamu Sha! Aku minta maaf jika aku sudah menyakiti kamu, maaf!”
Aku tak tahu... aku hanya ingin berlari dan sendirian. Kaki pun melangkah cepat dan meninggalkan Belinda. Air mataku semakin deras seiring langkahku yang semakin cepat. Langkahku terhenti saat aku melihat ada sebuah kerumunan banyak orang. Aku melihat kesana dan ternyata ada sebah kecelakaan mobil dengan mobil. Saat aku lihat lebih dekat lagi, ternyata yang menjadi korban adalah orang tuanya Belinda! Dan mama dan papanya Belinda meninggal di tempat. Setelah mendengar kesaksian dari orang disana, mobil orang tua Belinda ditabrak oleh mobil truk yang supirnya tengah mengantuk. Aku langsung menghubungi Belinda dan ingin memberi tahukannya namun handphonenya tidak aktif. Lalu setelah selesai dimandikan dan dishalatkan, maka kami menunggu Belinda pulang. Setelah aku berbicara dengan Ica, ternyata sebelumnya orang tuanya Belinda datang ke rumahnya. Mereka mencari tahu informasi keberadaan dimana Belinda sekarang. Handphonenya mati, tidak bisa dihubungi. Orang tuanya begitu khawatir dan sedih karena Belinda sampai malam belum pulang juga.
Dan sampai akhirnya Belinda pulang dengan langkah yang terseret. Dia bingung kenapa rumahnya dipenuhi oleh banyak orang?Aku pun langsung menyambutnya dan memeluknya. Kami pun langsung memberi tahunya, dia yang tak percaya langsung masuk ke dalam  rumah. Terlihat banyak orang yang berkumpul mengelilingi mama papanya yang tertidur dengan ditutupi samping dan wajahnya dengan kelambu. Dia shock dan histeris! Dia lari dan memanggil mama dan papanya! Dia memeluk keduanya. Segera guru agama kami menenangkannya. Akhirnya dalam beberapa menit, kami ikut mengantar ke pamakaman. Kami semua dengan khidmat melaksanakan penguburan ini. Mata Belinda yang sayup dan merah begitu lelahnya menangis dan beristigfar.  Aku pun membayangkan dulu bagaimana mama dan papa seperti ini.
Sampai tiba aku kembali ke rumahnya Belinda yag semakin lama semakin sepi dengan tamu yang ingin berkunjung dan mengucapkan rasa duka dan berkabungnya. Terlihat dia menelusuri kamar mama dan papanya.
Belinda  : “Aku sangat berdosa...”
Marsha : “Sudah Bel, setiap orang pasti pernah melakukan kesalahan! Yang terpenting kamu harus bangkit dan mendoakan mama papa kamu.”
Belinda  : “Jadi rasanya seperti ini ya bila tidak ada mama dan papa?! Sekarang aku tahu bagaimana rasanya jika ada diposisi kamu... mungkin aku akan rela dan senang jika mama papa masih memarahiku dan menasehatiku sekarang! Terserah mereka mau apa... yang terpenting mereka ada disini...” dengan tangisnya yang memenuhi dekapan tanganku.
Marsha  : “Ya Allah Bel, kamu harus rela. Kita harus yakin bahwa orang tua kita disana mendapatkan tempat yang lebih baik dari pada disini. Allah leih mencintai mereka... Mereka tidak pernah pergi! Mereka ada disini, di hati dan ingatan kita. Jadi jangan bilang kalau mereka tidak ada disini!”
Belinda  : “Marsha...?!”
Marsha  : “Kita pasti akan bertemu dengan mereka kembali, di surga-Nya Allah... amiin!”
Belinda  : “Iya amiin.... namun rasa menyesalku terhadap mereka begitu kuat! Kamu tahu kan, sebelumnya aku sudah menyusahkan dan menyakiti mereka dengan kata-kataku. Aku belum pernah membuat mereka bangga terhadapku, aku hanya meminta dan meminta tanpa memberikan apa yang mereka mau. Aku cuman bisanya nangis dan marah dengan mama dan papa.”
Marsha  : “Iya aku tahu... tapi hanya doa kamu yang akan sampai kepada mereka sekarang! Jadi jadikan ini sebagai pembelajaran buat kita!”
Saat aku kembali ke rumah dan akan membuka pintu, terdengar suara bapa-bapa dan seorang ibu-ibu, kak Nisa dan bibi. Mereka semua nampaknya sedang makan malam bersama! Mereka bersenda gurau bersama. Tanganku ingin segera membuka pintu. Saat melangkah memasuki rumah, terlihat rumah begitu terlihat cerah dari biasanya. Dan saat aku melangkah dan melihat ke ruang makan, aku lihat ada mama dan papa sedang makan malam bersama kak Nisa dan bibi yang tengah mengantarkan makanan dari dapur. Aku tak percaya dengan apa yang tengah aku lihat ini, bagaimana mungkin? Mereka semuanya melihatku dan tersenyum.
Mama       : “Selamat datang sayang! Ayo kita makan!” dengan memelukku erat.
Papa        : “Ayo duduk disini dekat papa, papa sangat rindu sama kamu!”
Marsha    : “Apa ini sungguhan? Atau ini mimpi? Ini, ini nyata?!”
Kak Nisa  : “Apa maksud kamu dek? Harusnya kamu senang, karena mama papa baru pulang dari luar kota!”
Mama      : “Kamu kemana saja sayang, kenapa jam segini baru pulang?”
Papa          : “Papa kira kamu tersesat dan lupa jalan pulang, ya? Papa minta maaf ya karena tidak bisa menjemput kamu hari ini...”
Marsha     : “(Deraian air mata dipipi dan memeluk mama papa) Aku...”
Mama       : “Ada apa dengan kamu, ini bukanlah pertemuan keluarga yan terpisah lama...”
Marsha     : “Di selama ini, maksudku aku minta maaf ma, pa...!”
Papa         : “Mama kamu tidak cerewet! Dia melakukan itu karena sayang padamu, untuk itu dengarkanlah apa kata ibumu!”
Aku tak percaya ini! Namun aku juga sangat bahagia dengan ini. Ini seolah mimpi, namun terasa oleh panca inderaku! Ya Allah, apa pun ini... biarkanlah seperti ini ya Allah! Hamba mohon jangan berubah. Mama menyuapiku dengan lembut. Papa selalu memegang kepaalaku dan mengusapnya. Papa selalu menyanjungku! Aku begitu sangat bahagia! Aku pun sampai susah tidur, aku takut saat aku membuka mataku besok, mama dan papa pergi. Namun rasa kantuk ini pun segera datang setelah beberapa lama aku memikirkan ini semua terjadi, bagaimana bisa? Tapi rasa bahagiaku lebih dominan dari pada rasa kagetku.
Hari ini selesai sekolah aku berjalan dan berjalan. Lama kelamaan aku memikirkan mama dan papa. Aku tidak sabar ingin segera sampai di rumah dan bertemu dengan mereka! Dan saat aku membuka pintu, tanganku terhenti... apa kemarin aku hanya mimpi? Ada mama dan papa dirumah? Dan saat aku masuk ke rumah, ternyata ada pesta kejutan untukku. Aku tidak ingat hari ini aku ulang tahun. Dengan kue ulang tahun yang besar, mama dan papa memberiku kado yang sangat spesial. Namun dalam suasana yang indah ini, aku mendengar seorang ibu diluar rumahsedang menangis. Entah mengapa aku tertuntun ke arahnya dan terus mencari siapa yang tengah menangis itu? Saat aku ada di halaman rumah, ternyata ada seorang ibu memakai gaun putih berjilbab sedang menangis. Aku rasa aku mengenalinya... hatiku sangat sakit melihat dia bersedih seperti itu! Dia itu adalah... umi? Ya dia umi.... itu umi! Aku langsung menghampirinya dan memeluknya.
Marsha : “Umi... umi kenapa menangis?”
Umi      : “Karena kamu akan melupakan dan meninggalkan umi...”
Marsha : “Tidak umi, Marsha, Marsha? Aku ini... aku adalah Ana kan umi?”
Umi      : “Kamu Ana sayang... Ana-nya umi!”
Marsha  : “Sebenarnya apa yang tengah terjadi sekarang? Kita ada dimana umi?”
Umi      : “Kamu dalam masa koma sayang, kita sedang berada di alam bawah sadar kamu!”
Lalu mama dan papa muncul dan memanggilku menuju mereka! Mereka juga sangat takut untuk kehilangan aku. Begitu pun dengan umi! Aku sunguh bingung, aku diantara keduanya, mama dan papa yang memanggilku Marsha dan umiyang memanggilku Ana. Lalu aku mengucap kata Allah dihatiku, seketika itu pun terlihat bayangan saat mama, papa dan aku kecelakaan yang merenggut nyawa mam dan papa. Mobil kami terbalik, dan mama papa terjepit mobil dan tidak bisa keluar, mama berusaha mengeluarkan aku dengan tangannya dan melemparkanaku sejauh mungkin. Karena mama tahu mobil itu akan segera meledak.
Mama : “Terimakasih atas segala yang telah papa lakukan untukku sejauh ini. Selama ini aku berpura-pura gila hanya untuk memisahkan Marsha dengan ibu kandungnya! Mama ingin memiliki papa seutuhnya, mama ternyata tidak bisa membaginya walau pada sahabat mama. Maafkan mama. Pa, janga memasang ekspresi wajahseperti itu. Mama sangat bahagia karena telah dicintai oleh papa. Jika kita mampu bertahan hidup, mama pikir kita akan hidup bahagia. Mama sangat gembira walau hanya membayangkannya saja!”
Papa     : “Mama ini bicara apa. Sudahlah biarlah berlalu. Kita harus segera keluar dari sini. Lihat! Disana Marsha senidiran...”
Setelah beberapa kali mama dan papa bangkit, api di mobil semakin membesar.
Papa    : “Kita tidak akan bisa bertemu dengannya lagi. Jadi katakan sesuatu yang ingin mama katakan padanya!”
Mama : “Marsha. Jangan pilih-pilih makanan ya, makanlah yang banyak dan tumbuh besar dan kuat. Juga bertemanlah, kamu tidak perlu punya banyak teman! Tidak apa-apa jika kamu punya sedikit teman tapi teman yang bisa kamu percaya. Dan ini juga sangat penting, kamu jangan cengeng dan menangis jika teman-temanmu mengejekmu, Marsha... kamu akan menghadapi banyak hal sulit dan penderitaan nantinya. Percaya dirilah dan yakinlah. Dan rangkailah mimpimu dan wujudkanlah menjadi sebuah kenyataan. Mama ingin mengajarimu secara langsung dan ada disampingmu! Mama ingin bersama kamu lebih lama lagi. Mama sangat menyayangi kamu.”
Papa    : “Marsha, apa yang akan papa katakan hampir sama dengan yang telah dikatakan mama kamu yang cerewet ini. Entah bagaimana, kami yakin suatu hari kamu akan mengetahui semua ini. Allah pasti akan menyampaikannya.”
Setelah itu aku tahu, Allah telah menyampaikannya sekarang. Terimakasih ya Allah. Sekarang langkahku berbalik menuju umi. Kenyataannya umi adalah yang sedang hidup denganku. Aku masih punya banyak PR dan tugas lainnya sebagai seorang manusia. Untuk itu aku memilih umi dan berada disampingnya. Bagaimana pun mama dan papa sudah meninggal, itu kenyaaannya. Aku tidak tahu siapa sebenarnya mereka di dunia ini.
Papa     : “Jadi...”
Lalu ada cahaya putih yang menyelimuti aku dan umi...
Papa     : “Sepertinya kalian akan kembali ke dunia asli kalian...”
Mama   : “Ini salam perpisahan!”
Bibirku bergetar kala melihat mama dan papa. Memang berat untuk mengatakan ini, namun inilah keputusan yang aku ambil. Aku harus tetap hidup dan mendampingi umi. Mungkin inilah terakhir kalinya...
Marsha : “Aku sangat berterimakasih kepada kalian karena sudah menyelamatkanku. Dan ini sungguh singkat! Aku sangat berterimakasih pada kalian! Ini pertama kalinya aku menghabiskan waktuku bersama kalian keluargaku. Terimakasih sudah memberiku makanan hangat! Terimakasih juga sudah mengkhawatirkan aku, menyayangiku dan menjagaku.”
Aku perlahan terbangun dan merasakan rasa sakit di kepalaku. Saat membuka mata, aku lihat umi ada disampingku dan tersenyum padaku. Semua orang yang ada disana tersenyum dan bersyukur aku sudah siuman.
Ana  : “Umi?”
Umi  : “Alhamdulillah kamu sudah sadar sayang, kamu ingat umi? Kamu kembali lagi sama umi?”
Aku pun kaget mendengar perkataan umi seperti itu. Jadi apa yang aku alami tadi adalah mimpi? Namun begitu asli dan nyata. Umi juga ada disana. Ternyata aku berhasil melewati masa kritis ini selama beberapa hari. Dokter bilang jika sudah melewati batas ketentuan, maka aku dinyatakan koma. Semua teman dan saudara yang ada diluar segera bersujud syukur. Dokter sangat terkejut dan bahagia, karena disinilah Allah menjalankan kekuasaan-Nya.
Aku lihat ada seorang bidadari yang tengah menangis melihat ku tertidur. Aku kira dia Haura, saat aku membuka mata ternyata dia Belinda. Lalu ada Ica dari luar masuk dan segera memanggilku ketika dia melihat aku membuka mata. Alhamdulillah, mereka berdua berhijab sekarang. Mereka juga ikut mendoakan aku dan selalu membaca surah Yasin untukku. Alhamdulillah ya Allah, Engkau memberikan hidayah kepada mereka. Lalu Haura dan sahabat yang lainnya datang dan tersenyum padaku. Ternyata selama aku kritis, Allah ingin meunjukkan bagaimana bila angaku terwujud? Apa yang akan aku pilih?! Dan mana rencana Allah yang terbaik, dalam keadaan seperti ini, saat sayapku sedang patah... Allah menunjukkannya dan menjawabnya agar tidak ada keraguan dan kesedihan lagi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar