Pages

Jumat, 06 Maret 2015

sahabat part 10 (bunga kertas)


Kak Arfan. Itulah nama pemuda yang telah mengkhitbah Haura kemarin. Aku juga baru tahu dari umi. Karena sekarang haura jarang memegang handphone, dan kata uni ini juga lumayan mendadak. Sebenarnya kak Arfan dan haura sudah beberapa tahu yang lalu sudah ada rencana untuk dijodohkan. Namun keluarga Haura bersikap jujur terhadap apa yang telah terjadi padanya.Namun karena kebijaksanaan keluarga kak Arfan, akhirnya mereka bukan menggagalkan perjodohan ini. Namun mereka ingin segera mempercepat pernikahannya. Aku senang, karena sekarang sahabatku dan penolongku dulu merekaakan menikah. Ya, aku tahu dia adalah kak Arfan yang aku kenal juga! Memang Allah telah mengabulkan doaku. Aku mengatahuinya dari identitasnya. Ibunya Haura memberi tahuku seputar dia. Dan dia kak Arfan yang aku kenal dulu. Namun dia tidak mengenaliku saat aku hadir di pernikahannya bersama Haura. Dia tahu aku adalah sebagai Ana, dan seorang sahabat baik Haura. Namun selaras dengan ini, ingatan Haura pun semakin cepat menghilang.
Sesaat setelah ijab kabul... Haura jatuh pingsan. Setelah dicari tahu, ternyata Haura juga mengidap penyakit pneumonia. Kami semakin sedih dibuatnya. Sekarang tibalah waktu itu! Saat dia telah melupakanku. Dia tidak mengenaliku saat bertemu dengan dia! Bila ada waktu luang, aku selalu mampir ke rumahnya ditemani dengan umi. Selalu terlihat dia duduk di balkon belakang rumahnya, dan saat aku memanggilnya dia menatapku bingung. Aku memeluknya pun dia hanya diam dan membisu. Saat ku lihat disampingnya ada sebuah gambar seorang gadis yang sangat mirip denganku. Aku terharu dibuatnya. Ternyata didalam hatinya dia masih mengingatku.
Sahabat, walaupun penyakit ini telah elumpuhkan ingatanmu terhadapku, namun tidak dengan hatimu! Aku yakin jauh didalam relung hatimu, ada tempat untuk kami semua. Penyakit ini telah menghapus hafalan-hafalanmu dulu. Menghapus nama kami semua, dan kenangan indah yang mahal harganya, itu semua telah kau lupakan. Aku bersedia sahabat, untuk menjadi ingatanmu. Aku akan memberikannya. Sebagaimana kamu dulu telah memberikan semuanya untukku. Aku akan berusaha untuk selalu disampingmu, ya seperti kamu dulu. Aku akan sabar seperti kamu dulu sabar terhadapku.
Ana    : “Assalamu’alaiku Haura...!”
Haura : “Wa’alaikumsalam, kamu siapa?”
Ana    : “Oh aku Ana, sahabat kamu. Kamu ingat kan?”
Haura : “Ana...? Siapa? Kamu mau apa datang kesini?”
Ana    : “Aku mau ajak kamu shalat dhuha bareng, kamu mau kan?”
Haura : “Enggak! Aku sekarang sedang melukis. Tolong kamu jangan ganggu aku. Tolong pergi! Aku ingin sendiri...”
Arfan : “Maaf Ana, beberapa hari ini Haura emosinya sangat sensitif. Jadi saya minta maaf untuknya”.
Ana    : “Tidak perlu kak! Karena sesungguhnya dari dulu Haura sudah meminta maaf untuk hal ini. Dia dulu meminta maaf pada saya untuk sikap kasarnya dan kecuekannya nanti” jawabku dengan sedih.
Arfan : “Apa...? Subhanallah, terimakasih atas semua kebaikan kamu sama Haura ya!”
Ana    : “Iya afwan kak!”
Yang membuat aku sedih adalah, dia sekarang menjadi susah diajak shalat tepat pada waktunya. Dia sangat suka melukis atau menggambar. Dia bahkan lupa akan bacaan shalat. Bagaimana berwudhu, dia sering lupa. Namun seperti dia dulu, aku tidak akan pernah menyerah! Sekalipun dia selalu memarahiku, atau mengusirku tapi aku akan selalu mengingatkannya kepada “Allah swt.” dan “Muhammad saw.”. Sebagaimana dia tetap kukuh dan mengangkatku dengan kesabaran dan ketulusannya. Aku yakin dia akanmeningatku kembali. Aku hanya bisa melihatnya dari kejauhan sekarang, dia sedang menyiram bunga. Lalu aku melihat dia terjatuh dan secara spontan aku menghampirinya. Entah mengapa, wajahnya begitu benci padaku. Haura menyuruh aku pergi, namun aku yang bandel terus mendekatinya. Haura tidak salah, karena yang dia tahu aku adalah orang lain yang selalu mengganggunya. Tanpa sengaja dia mendorongku dengan kuat ke arah batu tajam. Tanganku berdarah dan bibirku mengucap lirihkalimah istirja dan “Allah”. Matanya langsung terbelalak dan mendadak dia menangis. Dia berteriak menyebut namaku dan menghampiriku. Dia menangis dan memelukku.
Haura  : “Ya Allah... apa yang sudah aku lakukan sama kamu Na? Apa yang sudah dilakukan oleh tangan jahat ini! maafkan aku Na, maafkan aku!”
Ana     : “Apa kamu benar-benar mengingat aku? Tolong sebutkan lagi namaku!”
Haura  : “Ana, Ana, Nana-ku!”
Ana   : “Ya Allah, alhamdulillah! Aku yakin, suatu hari nanti kamu pasti akan mengingat aku kembali. Tak apa walaupun aku haru sterjatuh berdarah seperti ini, asalka kamu bisa mengenaliku kembali... ”
Kemudian kami berpelukan. Dia menangis sejadi-jadinya. Aku membantunya bangun dan mengantarnya ke kamarnya.
Sedangkan didalam kamarnya, dia terbangun dan mengambil sebuah kertas dan pena.
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh
Untuk suamiku kak Arfan tersayang,
Saya menggunakan kekuatan terakhir saya untuk menulis surat ini padamu. Ini mungkin akan menambahkan beban bagi kakak. Mungkin... surat ini tidak akan sampai ke tangan kakak. Tapi saya tetap mengambil pena untuk menulis. Bagaimanapun, sebelum saya pergi... saya senang karena kakak bisa hadir dalam hidup saya yang sangat singkat! Saya benar-benar sangat bahagia. Oleh karena itu, saya mohon kakak jangan menyalahkan diri sendiri lagi. Mohon lupakan saja saya...
Jadikan saya sebagai kenangan. Mungkin tak lama lagi saya akan kehilangan ingatan saya kembali. Oleh karena itu, saat ini saya menulis surat ini agar ketika saya meninggalkan kakak... saya nanti bisa bertemu kakak sebagai Haura. Saya mohon, agar kakak dapat melupakan saya. Mohon agar kakak dapat menjaga kesehatan kakak! Semoga kakak selalu dicintai sebagai orang yang paling baik akhlaknya. Saya berharap bahwa kakak selalu sehat dan bahagia!


Tidak ada komentar:

Posting Komentar