Kak Arfan. Itulah nama
pemuda yang telah mengkhitbah Haura kemarin. Aku juga baru tahu dari umi.
Karena sekarang haura jarang memegang handphone, dan kata uni ini juga lumayan
mendadak. Sebenarnya kak Arfan dan haura sudah beberapa tahu yang lalu sudah ada
rencana untuk dijodohkan. Namun keluarga Haura bersikap jujur terhadap apa yang
telah terjadi padanya.Namun karena kebijaksanaan keluarga kak Arfan, akhirnya
mereka bukan menggagalkan perjodohan ini. Namun mereka ingin segera mempercepat
pernikahannya. Aku senang, karena sekarang sahabatku dan penolongku dulu
merekaakan menikah. Ya, aku tahu dia adalah kak Arfan yang aku kenal juga!
Memang Allah telah mengabulkan doaku. Aku mengatahuinya dari identitasnya.
Ibunya Haura memberi tahuku seputar dia. Dan dia kak Arfan yang aku kenal dulu.
Namun dia tidak mengenaliku saat aku hadir di pernikahannya bersama Haura. Dia
tahu aku adalah sebagai Ana, dan seorang sahabat baik Haura. Namun selaras
dengan ini, ingatan Haura pun semakin cepat menghilang.
Sesaat setelah ijab
kabul... Haura jatuh pingsan. Setelah dicari tahu, ternyata Haura juga mengidap
penyakit pneumonia. Kami semakin sedih dibuatnya. Sekarang tibalah waktu itu!
Saat dia telah melupakanku. Dia tidak mengenaliku saat bertemu dengan dia! Bila
ada waktu luang, aku selalu mampir ke rumahnya ditemani dengan umi. Selalu
terlihat dia duduk di balkon belakang rumahnya, dan saat aku memanggilnya dia
menatapku bingung. Aku memeluknya pun dia hanya diam dan membisu. Saat ku lihat
disampingnya ada sebuah gambar seorang gadis yang sangat mirip denganku. Aku
terharu dibuatnya. Ternyata didalam hatinya dia masih mengingatku.
Sahabat, walaupun penyakit
ini telah elumpuhkan ingatanmu terhadapku, namun tidak dengan hatimu! Aku yakin
jauh didalam relung hatimu, ada tempat untuk kami semua. Penyakit ini telah
menghapus hafalan-hafalanmu dulu. Menghapus nama kami semua, dan kenangan indah
yang mahal harganya, itu semua telah kau lupakan. Aku bersedia sahabat, untuk
menjadi ingatanmu. Aku akan memberikannya. Sebagaimana kamu dulu telah
memberikan semuanya untukku. Aku akan berusaha untuk selalu disampingmu, ya
seperti kamu dulu. Aku akan sabar seperti kamu dulu sabar terhadapku.
Ana : “Assalamu’alaiku Haura...!”
Haura : “Wa’alaikumsalam,
kamu siapa?”
Ana : “Oh
aku Ana, sahabat kamu. Kamu ingat kan?”
Haura : “Ana...? Siapa?
Kamu mau apa datang kesini?”
Ana : “Aku mau ajak kamu shalat dhuha bareng,
kamu mau kan?”
Haura : “Enggak! Aku sekarang sedang melukis. Tolong kamu jangan
ganggu aku. Tolong pergi! Aku ingin sendiri...”
Arfan : “Maaf Ana, beberapa hari ini Haura emosinya sangat
sensitif. Jadi saya minta maaf untuknya”.
Ana : “Tidak perlu kak!
Karena sesungguhnya dari dulu Haura sudah meminta maaf untuk hal ini. Dia dulu
meminta maaf pada saya untuk sikap kasarnya dan kecuekannya nanti” jawabku
dengan sedih.
Arfan : “Apa...? Subhanallah, terimakasih atas semua kebaikan
kamu sama Haura ya!”
Ana : “Iya afwan kak!”
Yang membuat aku sedih
adalah, dia sekarang menjadi susah diajak shalat tepat pada waktunya. Dia
sangat suka melukis atau menggambar. Dia bahkan lupa akan bacaan shalat.
Bagaimana berwudhu, dia sering lupa. Namun seperti dia dulu, aku tidak akan
pernah menyerah! Sekalipun dia selalu memarahiku, atau mengusirku tapi aku akan
selalu mengingatkannya kepada “Allah swt.” dan “Muhammad saw.”. Sebagaimana dia
tetap kukuh dan mengangkatku dengan kesabaran dan ketulusannya. Aku yakin dia
akanmeningatku kembali. Aku hanya bisa melihatnya dari kejauhan sekarang, dia
sedang menyiram bunga. Lalu aku melihat dia terjatuh dan secara spontan aku
menghampirinya. Entah mengapa, wajahnya begitu benci padaku. Haura menyuruh aku
pergi, namun aku yang bandel terus mendekatinya. Haura tidak salah, karena yang
dia tahu aku adalah orang lain yang selalu mengganggunya. Tanpa sengaja dia
mendorongku dengan kuat ke arah batu tajam. Tanganku berdarah dan bibirku
mengucap lirihkalimah istirja dan “Allah”. Matanya langsung terbelalak dan
mendadak dia menangis. Dia berteriak menyebut namaku dan menghampiriku. Dia
menangis dan memelukku.
Haura : “Ya Allah... apa
yang sudah aku lakukan sama kamu Na? Apa yang sudah dilakukan oleh tangan jahat
ini! maafkan aku Na, maafkan aku!”
Ana : “Apa kamu
benar-benar mengingat aku? Tolong sebutkan lagi namaku!”
Haura : “Ana, Ana,
Nana-ku!”
Ana : “Ya Allah,
alhamdulillah! Aku yakin, suatu hari nanti kamu pasti akan mengingat aku
kembali. Tak apa walaupun aku haru sterjatuh berdarah seperti ini, asalka kamu
bisa mengenaliku kembali... ”
Kemudian kami berpelukan.
Dia menangis sejadi-jadinya. Aku membantunya bangun dan mengantarnya ke
kamarnya.
Sedangkan didalam kamarnya,
dia terbangun dan mengambil sebuah kertas dan pena.
Assalamu’alaikum
warahmatullahi wabarakatuh
Untuk suamiku kak Arfan
tersayang,
Saya menggunakan kekuatan
terakhir saya untuk menulis surat ini padamu. Ini mungkin akan menambahkan
beban bagi kakak. Mungkin... surat ini tidak akan sampai ke tangan kakak. Tapi
saya tetap mengambil pena untuk menulis. Bagaimanapun, sebelum saya pergi...
saya senang karena kakak bisa hadir dalam hidup saya yang sangat singkat! Saya
benar-benar sangat bahagia. Oleh karena itu, saya mohon kakak jangan
menyalahkan diri sendiri lagi. Mohon lupakan saja saya...
Jadikan saya sebagai
kenangan. Mungkin tak lama lagi saya akan kehilangan ingatan saya kembali. Oleh
karena itu, saat ini saya menulis surat ini agar ketika saya meninggalkan
kakak... saya nanti bisa bertemu kakak sebagai Haura. Saya mohon, agar kakak dapat
melupakan saya. Mohon agar kakak dapat menjaga kesehatan kakak! Semoga kakak
selalu dicintai sebagai orang yang paling baik akhlaknya. Saya berharap bahwa
kakak selalu sehat dan bahagia!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar