Pages

Jumat, 06 Maret 2015

sahabat part 3 (cinta dihidupku)


Surat dari Sang Maha Pencipta...
“Saat kau bangun di pagi hari, AKU memandangmu... dan berharap engkau akan berbicara kepadaKU. Atau bersyukur kepada-KU atas sesuatu hal yang indah yang terjadi didalam hidupmu. Tapi AKU melihatmu begitu sibuk mempersiapkan diri untuk pergi bekerja. AKU kembali menantimu saat engkau sedang bersiap, AKU tahu akan ada sedikit bagimu untuk berhenti dan menyapaKU... tetapi itu tak kunjung kau lakukan, karena dirimu semakin sibuk. Disebuah tempat engkau duduk disebuah kursi, selama lima belas menit tanpa melakukan apapun! Kemudian AKU melihat engkau menggerakkan kakimu, AKU berpikir engkau akan berbicara kepadaKU... tetapi engkau berlari menuju telepon kesayanganmu! Dan menelepon seorang teman, untuk mendengarkan gosip terbaru. AKU melihatmu ketika engkau pergi bekerja... dan AKU menanti dengan sabar sepanjang hari. AKU berpikir engkau terlalu sibuk untuk mengucapkan sesuatu padaKU. Sebelum makan siang, AKU melihatmu memandang sekeliling, mungkin engkau merasa malu untuk sekadar berdoa kepadaKU. Engkau melihat beberapa temanmu berbicara dan menyebut namaKU dengan lembut sebelum menyantap rezeki yang AKU berikan, tapi engkau tidak melakukannya.
Yah tidak apa-apa. Masih ada waktu yang tersisa. Mungkin nanti engkau akan menyapa dan berbicara dan menyebut namaKU. Meskipun saat engkau pulang ke rumah kelihatannya seakan-akan masih banyak pekerjaan yang akan engkau kerjakan. Setelah tugasmu selesai, engkau menyalakan TV. Aku tidak tahu apakah engkau suka menonton TV atau tidak, tapi engkau sering menghabiskan waktu berjam-jam setiap hari didepannya. Kembali AKU menanti dengan sabar saat kau selesai menonton TV. Tapi kembali kau juga tidak menyapa dan berbicara sepatah katapun kepadaKU! Saat tidur... KU pikir kau merasa terlalu lelah. Setelah mengucapkan selamat malam pada keluargamu. Kau melompat ke tempat tidur, dan tertidur tanpa sepatah katapun untukKU...Tidak apa-apa... Karena mungkin engkau tidak menyadari bahwa AKU selalu hadir untukmu. AKU telah bersabar lebih lama dari yang kau sadari. AKU bahkan ingin mengajarkan bagaimana untuk bersabar terhadap oranglain. AKU sangat menyayangimu...”.
Hamba juga sangat mencintai Engkau ya Allah! Ini hanya salah satu bentuk tafakur dalam kehidupan sehari-hari. Aku mengakuinya, sungguh dulu aku memang seperti itu. Yang sering aku pegang adalah handphone! Bukan Al-Qur’an dan menimba ilmu ataupun amalan baik yang lainnya. Mungkin kaki ini sering berjalan ke tempat belanja dan restaurant. Bukan mesjid dan perpustakaan atau tempat yang baik lainnya untuk menemui-Nya. Dan yang ku tahu dan ku hafal hanyalah nama-nama artis Hollywood, dan lirik lagu mereka. Aku bahkan mencari tahu biografi mereka dan mengidolakannya. Dan bukan pula mencari tahu atau juga mengahafal nama para nabi, sejarah mereka dan para ulama juga karya apa yang telah mereka berikan dalam rangka memperjuangkan umat. Aku hanya mengikuti cara berpakaian dan berbicara tau gaya rambut yang sedang populer atau dianggap cantik pada masanya. Tanpa ku tahu bahwa akhlak dan pribadi mereka bobrok dan salah.
Padahal ada banyak tokoh wanita yang mulia sepanjang zaman. Mereka semua tidak hanya cantik, cerdas, kaya dan memiliki banyak bakat dan terhormat. Tapi juga mereka adalah wanita yang begitu dicintai dan disayangi oleh Allah. Seperti Asiyah binti Muzahim, Siti Masyithah, Khadijah binti Khuwailid, Fatimah Az-Zahra, Aisyah binti Abu Bakar, Ummu Kultsum binti Abu Bakar, Hindun binti Utbah dan banyak yang lainnya. Aku hanya bisa menagis dan bertaubat atas semua dosaku kepada Allah. Andai dan hanya andai yang terucap! Namun aku yakin mungkin memang inilah yang terjadi.dan yang terpenting sekarang aku harus berubah dan memperbaiki masa laluku. Aku harus mencontoh akhlak mereka! Para wanita yang dikasihi Allah...
Di hari Jumat siang ini, lumayan melelahkan! Dengan setumpuk tugas madrasah yang cukup banyak, sangat menyita perhatianku dan tenagaku. Tapi sekejap aku tersenyum dan kembali bersemangat ketika mengingat bahwa sekarang adalah waktunya acara keputrian di mushala. Semoga saja, materi kali ini sangat menarik dan menggugah. Amin.
Ketika sampai didepan mushala, ternyata aku dan teman sekelasku terlambat datang. Ya maklumlah seperti biasa untuk pelajaran Biologi, selalu ada kuis dan pemantapan materi dalam evaluasi. Setelah lama mengerjakannya, barulah kami pulang. Kami melihat diteras mushala sudah banyak sekali pasang sepatu berjajaran sangat rapi. Dan seperti biasanya, kami saling menunggu satu sama lain untuk membuka pintu dan masuk kedalamnya. Kami saling berpandangan dan merayu satu sama lain untuk membuka pintu dan masuk duluan. Aduh bener deh, kayak gini aja bikin ribet. Karena sudah terdengar pemateri memaparkan materinya, maka aku pun memegang gagang pintu dan masuk duluan. Seperti dugaan biasanya, semua orang kompak melihat ke arah pintu karena mendengar suara pintu dan ucapan salam. Ya Allah, tatapan mereka itu loh, yang membuat kami merasa dihakimi dan benar malu dibuatnya. Tapi alhamdulillah, masih ada tempat duduk untuk kami yang terlambat ini. Dan pemateri pun tersenyum kepada kami, dan kembali melanjutkan pembicaraannya setelah menunggu kami duduk tenang.
“Baik, kakak akan melanjutkan materi yang akan kakak sampaikan. Shalawat dan salam teruntuk baginda tercinta, Rasulullah Saw...
Suatu pagi di hari-hari terakhir baginda, Rasulullah saw., “Ku wariskan dua perkara kepada kalian yaitu Al-Qur’an dan Sunnahku. Barang siapa yang mencintai Sunnahku, maka mereka mencintaiku. Dan kelak orang-orang yang mencintaiku akan masuk surga bersama-samaku.”. Aku melihat kak Qanita tampak begitu sedih dan berusaha menahan air mata.  Air mata yang berhasil terbendung itu menunjukkan betapa kak Qanita mencintai Rasulullah Saw. Setelah beberapa saat kak Qanita terdiam memandang mata kami, akhirnya kak Qanita melanjutkan kembali kisahnya.
“Khutbah singkat ini diakhiri dengan Rasulullah saw. memandang tenang mata sahabat-sahabatnya. Kelihatan Abu Bakar r.a. membalas pandangan itu dengan mata yang berkaca. Umar r.a. menahan nafas dan tangisannya dengan begitu kuat. Utsman r.a. menghela nafas sepanjang-panjangnya. Ali r.a. pula menundukkan kepala sedalam-dalam yang bisa. Itulah isyaratnya...saat perpisahan sudah tiba! “Rasulullah akan meninggalkan kita ...”(keluh para sahabat).
Pada suatu shubuh, Rasulullah memanggil imam Ali, rupanya Rasulullah merasa kedinginan yang sangat. Beliau tidak sanggup melangkahkan kaki memimpin shalat shubuh berjama’ah, sehingga beliau memutuskan memanggil imam Ali untuk memberi pesan kepada Abu Bakar agar mengimami shalat shubuh berjama’ah. Dikisahkan imam Ali tiga kali meminta kepada Abu Bakar untuk menjadi imam shalat shubuh sesuai pesan baginda Rasul saw. Dan tiga kali juga kemudian Abu Bakar menolak, “Kalau masih ada Rasulullah, tidaklah pantas saya mengimami shalat shubuh” begitu kira-kira kata Abu Bakar. Hingga kemudian, Rasulullah saw. memaksakan dirinya untuk menjadi imam, yang diriwayatkan bahwa itu shalat shubuhnya yang terakhir. Berangkatlah kemudian Rasulullah, berjalan mengimami shalat shubuhnya yang ternyata itu shalat shubuhnya yang terakhir.
Didalam sebagian riwayat dikisahkan ketika Rasulullah mengucapkan salam. Beliau langsung menghadapkan wajahnya kepada para jama’ahnya, kepada para sahabatnya yang saat itu tengah berlinang air mata semua. Karena mereka merasa bahwa jangan-jangan Rasulullah saw. sudah akan meninggalkan mereka. Begitu selesai salam, Rasulullah langsung menghadapkan wajahnya kepada para sahabatnya  dan membacakan ayat terakhir surah Al-Kahfi, surah ke-18 ayat 110. Para sahabat yang mendengar ayat ini, mengerti paham isi ayat ini semakin menangis. Diantaranya Abu Bakar r.a.. “Katakan (wahai Muhammad) sesungguhnya aku ini adalah manusia yang sama seperti kalian”. Seolah-olah Rasulullah ingin berkata kepada kita umatnya, kalau Rasulullah adalah manusia biasa seperti kita yang butuh makan, minum. Maka Rasulullah pun adalah manusia biasa yang hidup dan suatu saat akan meninggal dunia. “Barang siapa yang ingin bertemu Allah, hendaklah dia banyak melakukan amal shalih. Dan jangan mempersekutukan Allah dengan sesuatu apapun”. Hatiku bergetar saat mendengar kalimat “barang siapa yang ingin bertemu Allah”, ya Allah hamba ingin sekali bertemu dengan Engkau. Namun hamba malu! Aku hanya bisa merunduk dan menutup mata ini.
“Dikisahkan Abu Bakar mengingat, episode ketika beliau menemani Rasulullah hijrah. Allah kemudian mewahyukan kepada nabiyullah Muhammad untuk beristirahat di gua Tsur. Masuklah kemudian Abu Bakar, maka bersama Rasulullah disana. Begitu masuk, kerena lelahnya kemudian Rasulullah tertidur. Tertidur di pangkuannya Abu Bakar r.a.. Ketika Rasulullah tertidur di pangkuannya Abu Bakar, ada ular yang mendekati Abu Bakar. Abu Bakar tahu, bahwa ular itu akan menggigit salah satu diantara mereka berdua. Karena yang terjulur kakinya adalah Abu Bakar, Abu Bakar tahu bahwa dirinya yang akan lebih dulu digigit oleh ular itu. Kalau saja, Abu Bakar tidak mencintai Rasulullah saw., Abu bakar ingin sekali mengusir ular ini. Tapi jika beliau mengusir ular ini, Rasulullah akan bangun. Kemudian Abu Bakar merelakan kakinya digigit oleh ular. Kecintaan para sahabat memang tidak akan terukur oleh kita semua.
Hampir saja Abu Bakar menjerit karena sakitnya gigitan ular itu. Tapi Abu Bakar tidak menjerit sepatah kata pun, tidak ada suara dari mulutnya. Kenapa? Karena beliau mencintai orang yang tertidur di pangkuannya. Beliau khawatir, jikalau dengan teriakannya itu Rasulullah terbangun. Dan saat itu Abu Bakar mendengar Rasulullah membacakan ayat ini (QS. Al-Kahfi (18) : 110).
Imam Ali pun begitu. Imam Ali mengingat episode dimana Rasulullah saw. ketika ditemani di kamarnya. Untuk kemudian berdiri menjadi imam shalat shubuh. Lalu kemudian Rasulullah saw. membaca ayat itu, yang beliau paham bahwa akan semakin dekat tanda-tanda Rasulullah akan ajalnya baginda. Imam Ali mengingat, ketika Jibril mewahyukan kepada Rasulullah. Bahwa ada enam kafir Quraisy yang sedang bergerak berjalan mengepung rumah Rasulullah. Salah satu yang dipanggil adalah Imam Ali r.a.. “Ditawarkan siapa diantara kalian berdua, engkau wahai Ali atau engkau wahai ayahku Abu Bakar yang bisa menggantikan aku di rumah ini. Supaya kafir Quraisy menyangka bahwa aku masih ada di rumah ini!”. Kemudian imam Ali mengambil posisi, “Aku saja Rasulullah!”. Kemudian imam Ali menempati tempat tidurnya Rasulullah dan kemudian Rasulullah pergi berangkat. Sayang saat itu sudah tiba kafir Quraisy yang kira-kira sudah sejarak lagi ke pintu rumah Rasulullah saw.. Lalu kemudian Allah mewahyukan kepada Jibril as. Agar Muhammad saw. menggenggam pasir kemudian ditebarkan di depan rumah. Yang singkat cerita kemudian kafir quraisy itu tertidur.    
Cerita episode shubuh terakhir. Begitu pulang Rasulullah saw. ke rumah. Manusia tercinta itu sudah hampir selesai tugasnya di dunia ini. Tengah hari itu di rumah baginda, terdengar suara memberi salam dan meminta izin untuk masuk menziarahi baginda Rasulullah saw. Namun permintaan ini ditolak oleh Fatimah r.a. dengan berkata “Maafkanlah, ayahku sedang demam...”. Rasulullah saw. mendengar jawaban dari Fatimah r.a. itu, lalu Rasulullah bertanya “Siapakah yang datang itu wahai anakku?”. “Tidak tahulah ayahku. Tidak pernah ku lihat orangnya sebelum ini.” Jawab Fatimah r.a., maka jawab Rasululah saw. “Ketahuilah, bahwa dia itulah yang memisahkan pertemuan di dunia...dialah malaikat maut.”. Fatimah r.a. terus menahan ledakan tangisannya. Karena mengetahui ajal ayahnya sudah semakin tiba. Malaikat Izrail dan malaikat Jibril datang menghampiri Rasulullah saw., lalu Rasulullah bertanya “Wahai Jibril, apa hakku di hadapan Allah nanti?”. “Pintu-pintu langit telah terbuka ya Rasulullah, para malaikat menanti roh mu! Semua pintu surga terbuka lebar menanti kedatanganmu.” jawab malaikat Jibril a.s..
Ternyata kata-kata malaikat Jibril itu tidak membuat baginda senang, matanya masih penuh dengan kecemasan. “Engkau tidak senang mendengar khabar ini ya Rasulullah?” tanya malaikat jibril. “Khabarkan kepadaku nasib umatku kelak...” jawab Rasulullah. “Jangan khawatir ya Rasulullah, aku pernah mendengar Allah berfirman “Ku haramkan surga bagi siapa saja, kecuali umat Muhammad telah berada di dalamya.” Jawab malaikat Jibril.”. Detik-detiknya semakin tiba, tibalah saat malaikat Izrail a.s. menjalankan tugasnya. Perlahan-lahan roh Rasulullah mulai ditarik... seluruh badan baginda disimbahi peluh. Urat-urat leher baginda menegang. Perlahan-lahan Rasulullah mengaduh “Jibril betapa sakitnya sakaratul maut ini!” kata baginda. Fatimah r.a. memejamkan matanya, Ali r.a. menundukkan lagi kepalanya. Jibril a.s. pula memalingkan mukanya. “Jijikkah kau Jibril, hingga kau palingkan wajahmu?” tanya Rasulullah. “Siapakah yang sanggup melihat kekasih Allah direnggut ajal?” tegas Jibril.
Sebentar kemudian terdengar Rasulullah saw. memekik, karena sakit yang tidak dapat ditahan lagi. “Ya Allah dahsyatnya nian maut ini...timpakan saja semua siksa maut ini kepadaku, jangan pada umatku.” (Rasulullah saw.). Badan Rasulullah saw. mulai dingin, kaki dan dadanya sudah tidak bergerak lagi. Bibirnya bergetar seakan membisikkan sesuatu. Maka bergegas Ali r.a. mendekati bibir baginda. “Peliharalah shalat... dan peliharalah orang-orang lemah dikalanganmu.” kata baginda. Diluar rumah, terdengar tangisan daripada sahabat. Fatimah menutupi mukanya dengan tangannya. Dan Ali mendekatkan lagi telinganya ke bibir baginda, “Umatku... umatku... umatku!” kesah baginda.
Dan berakhirlah kehidupan insan mulia yang bergelar Rasulullah saw.. Kini, mampukah kita mencintai beliau, sebagaimana beliau begitu mencintai kita umatnya yang tidak pernah beliau temui? Lupakah kita akan perjuangan dan pengorbanan baginda, dalam memperjuangkan dan menjamin kesejahteraan umat manusia setelah zaman baginda?”
Semua orang yang ada disana menangis, semuanya menangis! Aku juga baru tahu ternyata Rasulullah begitu mencintaiku, ya mencintai kami semua umatnya. Mataku terus mengeluarkan air mata yang hangat, entah mengapa hatiku serasa sangat sakit dan sedih mendengar kisah yang disampaikan kak Qanita. Atau mungkin, apakah ini ikatan batin seorang umat terhadap rasulnya?, sekarang aku begitu merindukannya! Aku merindukanmu wahai Rasulullah...sudah berlalu satu jam setelah kak Qanita menceritakannya. Tapi kenapa ya?, ada sesuatu dalam diriku yang tertinggal dalam kisah itu. Ya Allah, aku sadar bahwa selama ini aku tidak terlalu mengenal Rasulullah, aku tidak mengetahui sosok hebat beliau, pengorbanan beliau untukku. Aku benar-benar seorang umat yang tidak tahu berterimakasih! Aku malu Ya Allah...y a mulai dari sekarang aku akan berusaha untuk mengenalmu, mencintaimu dan melanjutkan perjuanganmu ya Rasulullah... untuk agama Allah...!
Aku kagum dengan kak Qanita. Benar-benar kagum dan iri. Masyaallah, kak Qanita adalah seorang gadis yang shalihah, cantik, cerdas, dan ramah senyum dan masih banyak lagi. Ya Allah, apa hamba bisa seperti dia? Hmmm, tidak, tidak! Tidak, hamba tidak bisa seperti dia, tapi hamba harus bisa lebih dari dia!  Iya, hamba harus semangat dan mengejar ketertinggalan hamba selama ini.
 
Semalam aku sudah membuat rencana untuk hari ini, aku akan menemui Ustadzah dan bertanya seputar Rasul kepada beliau. Dan akhirnya aku sekarang tiba di depan mesjid, sepertinya beliau ada didalam selesai melaksanakan shalat sunat dhuha. “Assalamu’alaikum ustadzah!”. “Wa’alaikumsalam warahmatullah wabarakatuh...”. Masyaallah, senyumnya ustadzah indah sekali. Walaupun aku wanita, aku juga terpukau. Mungkin ini salah satu contoh dari hikmahnya berwudhu. Haura pernah mengatakannya kepadaku, bahwa wudhu tidak hanya sebagai thaharah. Namun juga dapat memancarkan aura positive bagi yang senantiasa menjaganya. Subhanallah! Sekarang hamba tahu ya Allah, terimakasih karena Engkau telah menunjukkannya langsung kepada hamba J...
Aku mendekat dan duduk didekat ustadzah dan mencium tangannya. “Kamu hari ini sangat bersemangat sekali! Ibu sangat senang melihat murid kesayangan ibu seperti ini...” ucap ustadzah. “Iya syukran ustadzah! Sekarang saya sudah siap mendengarkan kisah hebat rasul yang telah ustadzah janjikan!”. “Iya, sebelumnya ibu mau merapikan dulu mukenanya, kamu sabar dulu.”. “Na’am ustadzah!” jawabku dengan penuh semangat. Akhirnya ustadzah selesai merapikan mukenanya, berarti...ya bismillahirrahmanirrahim...!
“Baik, bismillahirramanirrahim. Pada kesempatan kali ini, ibu akan menyampaikan sebuah kisah Rasulullah saw. yang sangat dramatis dan penuh akan hikmah, yaitu kisah Rasulullah saw. dan pengemis buta yahudi.
Pada zaman Rasulullah Muhammad saw. memimpin, kota Madinah menjadi tempat yang sangat ramai. Penduduknya bertambah banyak, dan sering dikunjungi oleh pedagang dari berbagai tempat. Kaum muslimin hidup dalam kedamaian dibawah naungan Islam, mereka saling bertegur sapa dengan salam yang hangat. Namun demikian dengan kedamaian itu orang-orang berjual beli di pasar dengan penuh kejujuran.
Hiduplah seorang pengemis buta yang biasa duduk di salah satu sudut pasar kota Madinah dan terdengar setiap harinya, ada seorang yang berbicara kasar tentang Rasulullah saw.. Dan dia berkata, “Dasar manusia pada bodoh semua! Bisa-bisanya ditipu oleh Muhammad. Anak yatim tiba-tiba mengaku menjadi seorang nabi!” Lalu sahabat Rasulullah saw. yang sedang melewati pasar berkata kepada Zaid. “Zaid, tidakkah kau dengar itu?”. “Dengar apa?!” jawabZaid. Lalu dengan mendengarkan sejenak terdengar suara cacian pengemis buta yahudi itu. “Subhanalloh! Siapa yang berani berkata seperti itu? Siapa dia?!”. Lalu sahabatnya menjawab, “Memang engkau tidak tahu wahai Zaid? Dia itu seorang pengemis buta di pasar ini (dengan menunjuk arah dari sumber suara itu)”. “Siapa namanya?” tambah Zaid. “Aku juga tidak tahu. Tapi yang jelas dia sering berbicara sendiri dan mendustakan nabi!”.
Lalu si pengemis itu melanjutkan kata-katanya, “Apakah orang-orang tidak tahu, Muhammad itu pembohong, tukang sihir yang mampu menipu orang-orang dengan kata-katanya! Orang yang haus kekuasaan. Heuh!!! Kurang ajar si Muhammad itu!”. Lalu tiba-tiba ada seseorang yang memberikan dua dinar emas pada wadah milik si pengemis buta yahudi itu. Yang menimbulkan suara yang dapat didengar oleh si pengemis itu. Kemudian pengemis itu segera mengambilnya dan mencium bau dari uang itu untuk mengenalinya dan tersenyum karena rasa bahagianya. Kemudian pengemis itu berkata, “Siapa, siapa engkau?”. Dan sahabat rasul yang menyaksikannya dari kejauhan melihat orang yang menghampiri  pengemis itu, ”Hei! Itu Rasulullah...(dengan menunjuk ke tempat si pengemis buta yahudi)”.  “Kenapa nabi memberikan si pengemis buta yahudi itu dinar emas?” tanya Zaid.
Pengemis itu sangat bahagia, dan segera bertanya kepada tuan yang memberikan kebahagiaan itu. “Siapa engkau tuan? Engkau pemurah sekali! Belum pernah seumur hidupku, ada seseorang yang memberiku uang dinar emas. Marilah duduk bersamaku sebentar! Akan ku ceritakan sebuah kebohongan besar yang sedang terjadi disini.”. Mendengar ucapan dari pengemis itu, Zaid menjadi kesal, “Sungguh gila pengemis itu! Apa dia tidak tahu berhadapan dengan siapa sekarang?! (dengan amarah dan ingin meghampiri si pengemis itu)”. Dengan segera sahabatnya memegang pundaknya, “Sabar saudaraku. Janganlah kau bertindak melebihi nabi!”. “Ya...(dengan menarik nafas panjang)” dan saat itu Zaid menyadari kesalahannya. Lalu Rasulullah saw. menyuapi si pengemis itu dengan penuh kasih sayang dan kesabaran. Baginda selalu setia menemani pengemis itu untuk bercerita tentang kebenaran menurutnya, yang berisi cacian untuk baginda, dan rasa kebenciannya terhadap baginda. “Enak sekali makanan ini. Terimakasih tuan! Belum pernah aku bertemu seseorang yang memperlakukan aku sebaik ini.”.
Demikianlah sejak saat itu Rasulullah sering mengunjungi pengemis buta itu untuk setiap harinya. Subhanallah...aku bergetar mendengar kisah itu. Kisah itu begitu mengharukan, dan aku pun bertanya kepada ustadzah...“Si pengemis buta yahudi itu tidak tahu, bahwa yang selama itu mendatanginya adalah Rasulullah?”.  “Rasulullah tidak pernah menceritakan siapa beliau sebenarnya.” jawab ustadzah. Lalu aku masih belum mengerti, dan ingin bertanya lagi, “Apa nabi tidak marah ustadzah? Kan dihina terus!”. Ustadzah tersenyum simpul dan terdiam sejenak, dan berkata “Itulah salah satu keutamaan nabi. Beliau sangat sabar, meskipun dihina! Beliau tetap bersikap lemah lembut terhadap si pengemis itu. Hingga suatu ketika, Rasulullah saw. pun wafat...dipanggil oleh Allah swt. (dengan nada yang sedih dan lambat)”. “Inna lillahi wa inna ilaihi rooji’un...” sungguh aku tidak dapat menahan air mataku ini, aku jadi teringat kisah yang kemarin saat Rasulullah saw. wafat.”
Untuk beberapa saat, ustadzah menatapku dan tersenyum. Mungkin ustadzah menunggu aku, sampai aku benar-benar siap mendengarkannya kembali. “Apa ceritanya masih ingin dilanjutkan?”. “Iya ustadzah...” jawabku dengan tersenyum. Dan ustadzah pun melanjutkan kisah itu.
“Setelah beberapa hari Rasulullah saw. wafat, Abu Bakar Ash-Shidiq datang mendatangi putrinya, Aisyah r.a. untuk menanyakan sesuatu kepada putrinya. Beliau mengetuk pintu dan mengucapkan salam, “Assalamualaikum!”. “Wa’alaikumsalam. Siapa?” jawab Aisyah. “Ini aku, Aisyah. Ayahmu.”. “Oh ayah, silahkan masuk.”jawabnya dengan lemah lembut. “Ada apakah gerangan ayah?” tanya Aisyah. Dengan wajah yang serius Abu Bakar pun berkata, “Anakku, aku hendak bertanya adakah kebiasaan Rasulullah yang belum aku kerjakan?”. “Wahai ayah...engkau adalah sahabat nabi yang paling dekat, tidak ada kebiasaan nabi yang belum pernah ayah lakukan. Kecuali satu...”. Wajah Abu Bakar menjadi tegang. “Oh ya, apa itu?”. Dengan tidak ingin berlama-lama melihat wajah ayahnya seperti itu, segera Aisyah menjawab kegelisahan ayahnya, “Ayahku, setiap pagi dikala Rasulullah melewati pasar, beliau menyempatkan diri untuk menyuapi seorang pengemis yahudi buta yang ada disana.”. “Hmmm, hanya itu saja? Baiklah akan aku lakukan!”.
“Setelah mendengar penuturan anaknya Aisyah, keesokan harinya Abu Bakar Ash-Shidiq pun pergi menuju pasar tempat pengemis yahudi itu berada. Abu bakar pun senantiasa bertegur sapa dengan siapa pun yang ditemuinya di jalan. “Assalamu’alaikum.”.  Dan jawab salah satu masyarakat Madinah dengan bahagianya, “Waalaikumsalam Wr. Wb.”. Lalu tiba-tiba terdengar suara yang berkata, “Dimanakah engkau sahabatku? Sudah beberapa hari engkau tidak datang. Sudah tiada lagi yang menyuapiku makan!”. “Hmmm, mungkin itu orangnya!” pikir Abu Bakar. Dengan mengikuti arah sumber suaranya, akhirnya abu bakar menemukan pengemis itu dan tiba di hadapannya, mendengar suara derap langkah seseorang maka pengemis itu berkata, “Ah, engkaukah itu...sahabatku? Sudah lama engkau tidak datang. Duduklah, mana makanan untukku? Aku sudah lapar...cepat cepat!”. Lalu Abu bakar duduk dan segera menyuapi pengemis itu. Setelah menelan makanannya, dia kembali berbicara, “Kau tahu tidak? Kabar tentang Muhammad si pendusta itu? Aku dengar pengaruhnya semakin luas, entah sihir apa yang ia gunakan! Bisa-bisanya ia mengaku rasul! Memangnya siapa dia?”. Mendengar ocehan si pengemis buta, Abu Bakar menjadi geram. Mana tahan Abu Bakar mendengar cacian bagi orang yang dicintainya. “Hei, mana makanannya? Jangan diam saja.” Kembali pengemis itu berbicara.
Abu Bakar pun kembali menyuapi si pengemis itu dengan menahan nafsunya, namun akibatnya beliau menyuapinya dengan sedikit kasar. “Eh eh, kau kasar sekali! Aku rasa engkau orang yang berbeda. Siapa engkau sebenarnya?!” tanyanya dengan penasaran. “Aku orang yang biasa memberikanmu makanan.” Kata Abu Bakar. Tetap dengan pendiriannya, akhirnya pengemis itu berkata, ”Bohong! Engkau bukan orang yang biasa mendatangiku.”. Untuk mengujinya, Abu Bakar berkata, “Kenapa?”. “Engkau berbeda! Orang yang biasa mendatangiku selalu menyapaku dan lemah lembut. Ia menanyakan kabarku, membesarkan jiwaku dan menyuapiku dengan penuh kesabaran dan kasih sayang. Belum pernah aku temui orang sebaik itu! Pantasnya, dialah yang menjadi seorang rasul!”jelasnya dengan berlinang air mata. “Engkau benar bapak. Aku, aku memang bukan dia!” jujurnya. “Hah! Lalu, siapa engkau?!” dengan rasa terkejut. “Aku adalah salah seorang dari sahabatnya. Namaku Abu bakar.” jawabnya. Lalu pengemis itu bertanya dengan tergesa dan khawatir, “Lalu kemana sahabatku yang biasa datang itu?”. “Engkau yakin tidak tahu?!” tegas Abu Bakar. “Tidak.”. Abu Bakar menjawab dengan rasa sedih yang mendalam, “Hmmm. Orang yang engkau maksudkan itu sudah meninggal dua hari yang lalu.”. “Hah, apa...sudah meninggal? Benarkah? (dengan terkejut dan tanpa sadar menjatuhkan tongkatnya)”. “Benar bapak. Aku bahkan turut menguburkannya.”. Tangannya memegang kepala dan menutup mata ssedihnya, “Oh...mengapa orang sebaik itu meninggal? Padahal aku belum sempat membalas kebaikannya! Dia orang yang terbaik yang pernah aku temui di muka bumi ini, bahkan melebihi saudara-saudaraku sendiri. Namanya pun aku tidak tahu!” denga rasa penyesalan yang dalam. “Bapak... (dengan memegang lembut pundaknya) maukah kau, aku beri tahu siapa orang itu sebenarnya.”. “Hah, engkau tahu! Siapa dia?”. ”Dialah Muhammad Rasulullah saw.”. “Hah! Dia adalah Muhammad? Benarkah apa yang kau katakan?”.
Demikianlah, pengemis yahudi buta itu menangis sejadi-jadinya! Di pundak Abu Bakar Ash-Shidiq. Dia menyesali segala apa yang ia lakukan. Menghina dan mendustakan nabi, dihadapan sang nabi sendiri. Dia memohon ampun kepada Allah, dan pada saat itu juga dia memeluk Islam. Dan si pengemis itu bertanya kepada Abu Bakar, “Apakah Muhammad saw. akan memaafkan semua kesalahanku terhadapnya?” dengan tatapan sedih dan penuh harap. Abu bakar dengan senyuman dan nada yang menenangkan berkata, “Rasulullah saw. tentu sudah memaafkan engkau...”. Pengemis itu pun sadar dengan semua kebaikan Rasulullah saw. terhadapnya, bahwa Rasulullah lebih dari sikap yang dapat dirasakannya karena telah memaafkannya.”
Jilbabku sudah basah dimana-mana untuk mengusap air mata dipipiku. Aku bingung mencari kain untuk mengusap air mataku lagi. “Ya Allah, kamu kenapa? Bingung cari lahan yang kering ya?” dengan senyuman yang membuat aku malu untuk membalasnya. “Iya ustadzah, afwan Ana sangat sedih dan tak mampu menahan air mata rindu dan takjub ini kepada Rasulullah saw.”. Akhirnya setelah aku pamit kepada ustadzah, aku pulang dan berjalan dengan lamban dan...ya sekarang aku ingin bertafakur di suatu tempat yang sepi dan nyaman.
Tanpa sadar aku tidak mendengarkan salam dan sapa dari sahabatku, Haura. “Assalamu’alaikum...”. Langkah kakiku yang lambat langsung berhenti dan menoleh mendadak, “Oh iya wa’alaikumsalam warahmatullah wabarakatuh! Aduh maaf ya Haura tadi aku melamun!”. “Iya nggak papa, ada apa biasanya kamu yang mengucapkan salam terlebih dahulu?” tanyanya dengan cemas. “Aku nggak papa kok!” aku harus tersenyum agar dia tidak khawatir lagi. “Ya udah kalau gitu, aku ke perpustakaan dulu ya, kamu mau ikut?”. “Untuk sekarang aku ada urusan dulu, jadi aku tidak bisa ikut.” tegasku. Wajahnya masih mengguratkan kekhawatirannya, dan terus menatapku dengan kasih sayangnya, “Ya, baiklah! Ma’assalamah... ”. “Iya, ilal liqo!” jawabku dengan semangat. Mungkin lain kali saja, aku bercerita padanya tentang ini...
Berbeda dengan tahun lalu, tahun sekarang sangat berarti dan indah bagiku. Alhamdulillah, sekarang aku merasakan keceriaan saat menyambut bulan Ramadhan. Berbeda dengan dulu, setelah tahu waktunya dekat aku hanya bersikap biasa saja. Dan setiap harinya ketika menjelang buka puasa, yang terus aku pikirkan hanyalah “Besok makan dimana yah?”...berbeda dengan umat muslim yang lainnya yang tidak mampu. Setiap mereka selalu ada kekhawatiran dengan pertanyaan, “Besok bisa makan atau tidak?”. Sungguh, ramadhan kali inibegitu aku tunggu. Dengan kalimat “Allahumma bariklanaa fii rajabaw wasa’banan, allahumma bariklanaa wa bariknaa ramadhaana”...
Sore ini aku ingin menambah ilmu dengan searching di internet. Dan ada sebuah kisah yang menggetarkan jiwaku. Ini adalah kisah nyata seorang muslimah berjilbab di Amerika (USA) sekitar tahun 2006. Suatu hari wanita ini berjalan pulang dari bekerja dan agak kemalaman... suasana jalan setapak yang agak sepi. Ia melewati jalan pintas. Di ujung jalan, dia melihat sosok pria. Ia menyangka pria itu warga Amerika. Perasaan wanita ini agak was-was karena raut wajah pria itu agak mencurigakan! Dia berusaha untuk tetap tenang sambil membaca kalimah-kalimah Allah. Seraya sungguh-sungguh memohon perlindungan Allah Swt. dalam hatinya. Ketika ia melintas didepan pria itu, ia tetap berdoa. Sekilas ia melirik... orang itu tengah asyik dengan rokoknya, dan seolah tidak memperdulikannya.
Keesokan harinya, wanita muslimah itu melihat berita kriminal di televisi... Seorang wanita melintas dijalan yang ia lalui semalam, hanya selang beberapa menit wanita malang itu mengalami pelecehan seksual ditempat yang sama. Karena begitu ketakutan, ia tidak sempat melihat dengan jelas pelakunya. Hati muslimah ini pun tergerak untuk membantu wanita malang itu dan memberanikan diri untuk datang ke kantor polisi untuk memberitahukan bahwasanya ia bisa mengenali sosok pelaku pelecehan terhadap wanita itu. Karena ia juga menggunakan jalan yang sama sesaat sebelum wanita tadi melintas. Akhirnya muslimah ini pun menunjuk salah seorang yang diduga sebagai pelaku. Ia yakin bahwa pelakunya adalah pria ini yang ada di lorong malam itu. Melalui interogasi polisi akhirnya orang itu pun mengakui perbuatanya!
Tergerak rasa ingin tahu, muslimah ini pun menemui polisi dengan didampingi oleh polisi. “Apa anda tidak melihat saya? Saya juga melewati jalan itu, beberapa menit sebelum wanita yang kau perkosa itu...?” tanyanya. “Mengapa anda tidak mengganggu saya padahal saat itu saya sendirian?” tanyanya dengan begitu cemas dan bingung. Lalu pria itu menjawabnya, “Tentu saja saya melihatmu. Saya tidak berani mengganggu anda! Karena saya melihat dibelakang anda ada dua orang pria berbaju putih dan tinggi besar mengawal anda saat itu. Satu dikanan anda dan yang satu lagi ada dikiri anda.” lanjut pria tersebut. Muslimah itu tidak dapat berkata apa-apa! Sekujur tubuhnya bergetar hebat. Hanya hatinya yang penuh syukur kepada Allah! Mendengar penjelasan pria itu. “Alhamdulillah ya Allah... Engkau masih mendengar doaku dan melindungiku!”.
Jadi bila kita menjaga perintah Allah dan megingat nama-Nya dimanapun kita berada, maka Allah juga akan menjaga dan mengingat kita dimanapun kita berada. Subhanallah... hatiku  bergetar membacanya! Aku begitu takjub dan ikut bersyukur atas apa yang telah dialami oleh muslimah itu. Apa mungkin dua pria berbaju putih itu adalah malaikat Allah? Ya Allah, Engkau begitu menyayangi wanita muslimah itu. Aku terus menangis mentafakuri betapa indah rasa cinta-Mu kepada wanita muslimah itu. Ya Allah jadikanlah hamba wanita muslimah yang bertaqwa, selalu menjaga dan meningkatkan iman islam hamba. Istiqamahkan hamba dalam memenuhi kewajiban hamba ya Allah, dan...dan ampunilah semua dosa hamba ya Allah! Hamba mencintai engkau ya Allah...
“Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?”. Satu ayat ini aku renungkan sedemikian dalam. Aku merenungkan bagaimana menjalani hidup. Setelah membaca dan merenungkan ayat-ayat tadi, aku menjadi semakin semangat untuk dalam menjalani setiap episode kehidupan yang dipersembahkan-Nya dengan segala cinta... Lalu muncul pertanyaan kecil dihati, kenapa aku diuji? Ternyata jawabannya ada di QS. Al-Ankabut ayat 2-3, dan dalam beberapa surah yang lain. Dan timbul lagi pertanyaan yan lainnya, mengapa aku tidak mendapatkan yang aku idam-idamkan? Dan jawabannya ada lagi. Terdapat di QS. Al-Baqarah ayat 216. Jiwa ini serasa tertantang, dan bertanya dalam kejadian masa lalu, mengapa aku mengalami ujian seberat ini? Dan alhamdulillah, Allah kembali menunjukkannya. Jawabannya ada didalamQs. Al-Baqarah ayat 286. Dan sebenarnya Allah selalu memotivasiku selama ini (Qs. Ali ‘Imran ayat 139 dan Yunus ayat 87). Dan untuk menghadapi semua masalahku aku harus bersabar dan mendirikan shalat. Juga berbuat baik kepada semua makhluk Allah, sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadaku (Qs Ali ‘Imran ayat 200 dan Al-Baqarah ayat 45). Dan jika aku berhasil menjalani semuanya dengan perintah Allah maka surga adalah tempat kembaliku (Qs. At-Taubah ayat 111). Dan hanya kepada Allah lah aku berharap atas semua masalah yang menimpaku (Qs. At-Taubah ayat 129).
Untuk itu aku harus terus berbenah dan berbenah... agar aku bisa memberikan yan terbaik untuk Allah dalam masa hidupku yang singkat. Dengan torehan kemulian dan semangat pantang menyerah! Dimanapun, kapanpun, dan dengan siapapun. Selama Allah menjadi “just THE ONE goal” insyaallah aku akan bahagia dunia akhirat. “Wahai jiwa yang tenang kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang ridha dan diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku. Dan masuklah ke dalam surga-Ku” (Qs. Al-Fajr ayat 27-30). Masyaallah indah sekali panggilan Allah kepada hamba-Nya yang shalih dan shalihah... Semoga hamba bisa termasuk hamba-Mu yang Engkau panggil demikian ya Allah, amin! Hamba ingin bertemu dengan Engkau dan memenuhi panggilan-Mu. Dan termasuk golongan hamba-Mu yang berwajah cerah dan bersuka ria kelak di akhirat...
Aku juga terus berusaha untuk berhijab di rumah. Rasanya nyaman saat berhijab. Aku pernah mendengar dari seorang teman, bahwakenapa ada wanita yang bila disuruh mengenakan hijab dia menolak dengan dalih panas, gerah dan yang lainnya. Katanya itu semua dikarenakan hakikatnya api neraka sudah ada didalam tubuhnya. Jadi mereka tidak betah dan nyaman mengenakan hijab. Mereka hanya merasakan hawa panas dan ingin segera membukanya. Na’udzubillahi min dzalik ya Allah...! Ya Allah, ampunilah kami... ampuni hamba karena belum bisa berdakwah secara baik kepada para muslimah lainnya. Bibir ini rasanya terkunci dan berat untuk membukanya. Apa ini semua karena iman hamba masih lemah ya? Aku jadi teringat hadist tentang berdakwah. “Barang siapa yang melihat kemunkaran maka rubahlah dengan tangannya, maka apabila tidak mampu maka rubahlah dengan lisannya dan jika tidak mampu maka rubahlah dengan hatinya. Dan yang demikian tu adalah selemah-lemahnya iman”.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar