Surat dari Sang
Maha Pencipta...
“Saat kau bangun di
pagi hari, AKU memandangmu... dan berharap engkau akan berbicara kepadaKU. Atau
bersyukur kepada-KU atas sesuatu hal yang indah yang terjadi didalam hidupmu.
Tapi AKU melihatmu begitu sibuk mempersiapkan diri untuk pergi bekerja. AKU
kembali menantimu saat engkau sedang bersiap, AKU tahu akan ada sedikit bagimu
untuk berhenti dan menyapaKU... tetapi itu tak kunjung kau lakukan, karena
dirimu semakin sibuk. Disebuah tempat engkau duduk disebuah kursi, selama lima
belas menit tanpa melakukan apapun! Kemudian AKU melihat engkau menggerakkan
kakimu, AKU berpikir engkau akan berbicara kepadaKU... tetapi engkau berlari
menuju telepon kesayanganmu! Dan menelepon seorang teman, untuk mendengarkan
gosip terbaru. AKU melihatmu ketika engkau pergi bekerja... dan AKU menanti
dengan sabar sepanjang hari. AKU berpikir engkau terlalu sibuk untuk
mengucapkan sesuatu padaKU. Sebelum makan siang, AKU melihatmu memandang
sekeliling, mungkin engkau merasa malu untuk sekadar berdoa kepadaKU. Engkau
melihat beberapa temanmu berbicara dan menyebut namaKU dengan lembut sebelum
menyantap rezeki yang AKU berikan, tapi engkau tidak melakukannya.
Yah tidak apa-apa.
Masih ada waktu yang tersisa. Mungkin nanti engkau akan menyapa dan berbicara
dan menyebut namaKU. Meskipun saat engkau pulang ke rumah kelihatannya
seakan-akan masih banyak pekerjaan yang akan engkau kerjakan. Setelah tugasmu
selesai, engkau menyalakan TV. Aku tidak tahu apakah engkau suka menonton TV
atau tidak, tapi engkau sering menghabiskan waktu berjam-jam setiap hari
didepannya. Kembali AKU menanti dengan sabar saat kau selesai menonton TV. Tapi
kembali kau juga tidak menyapa dan berbicara sepatah katapun kepadaKU! Saat
tidur... KU pikir kau merasa terlalu lelah. Setelah mengucapkan selamat malam
pada keluargamu. Kau melompat ke tempat tidur, dan tertidur tanpa sepatah
katapun untukKU...Tidak apa-apa... Karena mungkin engkau tidak menyadari bahwa
AKU selalu hadir untukmu. AKU telah bersabar lebih lama dari yang kau sadari.
AKU bahkan ingin mengajarkan bagaimana untuk bersabar terhadap oranglain. AKU
sangat menyayangimu...”.
Hamba juga sangat
mencintai Engkau ya Allah! Ini hanya salah satu bentuk tafakur dalam kehidupan
sehari-hari. Aku mengakuinya, sungguh dulu aku memang seperti itu. Yang sering
aku pegang adalah handphone! Bukan Al-Qur’an dan menimba ilmu ataupun amalan
baik yang lainnya. Mungkin kaki ini sering berjalan ke tempat belanja dan
restaurant. Bukan mesjid dan perpustakaan atau tempat yang baik lainnya untuk
menemui-Nya. Dan yang ku tahu dan ku hafal hanyalah nama-nama artis Hollywood,
dan lirik lagu mereka. Aku bahkan mencari tahu biografi mereka dan
mengidolakannya. Dan bukan pula mencari tahu atau juga mengahafal nama para
nabi, sejarah mereka dan para ulama juga karya apa yang telah mereka berikan
dalam rangka memperjuangkan umat. Aku hanya mengikuti cara berpakaian dan
berbicara tau gaya rambut yang sedang populer atau dianggap cantik pada
masanya. Tanpa ku tahu bahwa akhlak dan pribadi mereka bobrok dan salah.
Padahal ada banyak
tokoh wanita yang mulia sepanjang zaman. Mereka semua tidak hanya cantik,
cerdas, kaya dan memiliki banyak bakat dan terhormat. Tapi juga mereka adalah
wanita yang begitu dicintai dan disayangi oleh Allah. Seperti Asiyah binti
Muzahim, Siti Masyithah, Khadijah binti Khuwailid, Fatimah Az-Zahra, Aisyah
binti Abu Bakar, Ummu Kultsum binti Abu Bakar, Hindun binti Utbah dan banyak
yang lainnya. Aku hanya bisa menagis dan bertaubat atas semua dosaku kepada
Allah. Andai dan hanya andai yang terucap! Namun aku yakin mungkin memang
inilah yang terjadi.dan yang terpenting sekarang aku harus berubah dan
memperbaiki masa laluku. Aku harus mencontoh akhlak mereka! Para wanita yang
dikasihi Allah...
Di hari Jumat siang
ini, lumayan melelahkan! Dengan setumpuk tugas madrasah yang cukup banyak,
sangat menyita perhatianku dan tenagaku. Tapi sekejap aku tersenyum dan kembali
bersemangat ketika mengingat bahwa sekarang adalah waktunya acara keputrian di
mushala. Semoga saja, materi kali ini sangat menarik dan menggugah. Amin.
Ketika sampai
didepan mushala, ternyata aku dan teman sekelasku terlambat datang. Ya
maklumlah seperti biasa untuk pelajaran Biologi, selalu ada kuis dan pemantapan
materi dalam evaluasi. Setelah lama mengerjakannya, barulah kami pulang. Kami
melihat diteras mushala sudah banyak sekali pasang sepatu berjajaran sangat
rapi. Dan seperti biasanya, kami saling menunggu satu sama lain untuk membuka
pintu dan masuk kedalamnya. Kami saling berpandangan dan merayu satu sama lain
untuk membuka pintu dan masuk duluan. Aduh bener deh, kayak gini aja bikin
ribet. Karena sudah terdengar pemateri memaparkan materinya, maka aku pun
memegang gagang pintu dan masuk duluan. Seperti dugaan biasanya, semua orang
kompak melihat ke arah pintu karena mendengar suara pintu dan ucapan salam. Ya
Allah, tatapan mereka itu loh, yang membuat kami merasa dihakimi dan benar malu
dibuatnya. Tapi alhamdulillah, masih ada tempat duduk untuk kami yang terlambat
ini. Dan pemateri pun tersenyum kepada kami, dan kembali melanjutkan
pembicaraannya setelah menunggu kami duduk tenang.
“Baik, kakak akan
melanjutkan materi yang akan kakak sampaikan. Shalawat dan salam teruntuk
baginda tercinta, Rasulullah Saw...
Suatu pagi di hari-hari terakhir
baginda, Rasulullah saw., “Ku wariskan dua perkara kepada kalian yaitu
Al-Qur’an dan Sunnahku. Barang siapa yang mencintai Sunnahku, maka mereka
mencintaiku. Dan kelak orang-orang yang mencintaiku akan masuk surga bersama-samaku.”. Aku melihat kak Qanita tampak begitu sedih dan berusaha
menahan air mata. Air mata yang berhasil
terbendung itu menunjukkan betapa kak Qanita mencintai Rasulullah Saw. Setelah
beberapa saat kak Qanita terdiam memandang mata kami, akhirnya kak Qanita melanjutkan
kembali kisahnya.
“Khutbah singkat
ini diakhiri dengan Rasulullah saw. memandang tenang mata sahabat-sahabatnya.
Kelihatan Abu Bakar r.a. membalas pandangan itu dengan mata yang berkaca. Umar
r.a. menahan nafas dan tangisannya dengan begitu kuat. Utsman r.a. menghela
nafas sepanjang-panjangnya. Ali r.a. pula menundukkan kepala sedalam-dalam yang
bisa. Itulah isyaratnya...saat perpisahan sudah tiba! “Rasulullah akan
meninggalkan kita ...”(keluh para sahabat).
Pada suatu shubuh,
Rasulullah memanggil imam Ali, rupanya Rasulullah merasa kedinginan yang
sangat. Beliau tidak sanggup melangkahkan kaki memimpin shalat shubuh
berjama’ah, sehingga beliau memutuskan memanggil imam Ali untuk memberi pesan
kepada Abu Bakar agar mengimami shalat shubuh berjama’ah. Dikisahkan imam Ali
tiga kali meminta kepada Abu Bakar untuk menjadi imam shalat shubuh sesuai
pesan baginda Rasul saw. Dan tiga kali juga kemudian Abu Bakar menolak, “Kalau
masih ada Rasulullah, tidaklah pantas saya mengimami shalat shubuh” begitu
kira-kira kata Abu Bakar. Hingga kemudian, Rasulullah saw. memaksakan dirinya
untuk menjadi imam, yang diriwayatkan bahwa itu shalat shubuhnya yang terakhir.
Berangkatlah kemudian Rasulullah, berjalan mengimami shalat shubuhnya yang
ternyata itu shalat shubuhnya yang terakhir.
Didalam sebagian
riwayat dikisahkan ketika Rasulullah mengucapkan salam. Beliau langsung
menghadapkan wajahnya kepada para jama’ahnya, kepada para sahabatnya yang saat
itu tengah berlinang air mata semua. Karena mereka merasa bahwa jangan-jangan
Rasulullah saw. sudah akan meninggalkan mereka. Begitu selesai salam,
Rasulullah langsung menghadapkan wajahnya kepada para sahabatnya dan membacakan ayat terakhir surah Al-Kahfi,
surah ke-18 ayat 110. Para sahabat yang mendengar ayat ini, mengerti paham isi
ayat ini semakin menangis. Diantaranya Abu Bakar r.a.. “Katakan (wahai
Muhammad) sesungguhnya aku ini adalah manusia yang sama seperti kalian”.
Seolah-olah Rasulullah ingin berkata kepada kita umatnya, kalau Rasulullah
adalah manusia biasa seperti kita yang butuh makan, minum. Maka Rasulullah pun
adalah manusia biasa yang hidup dan suatu saat akan meninggal dunia. “Barang
siapa yang ingin bertemu Allah, hendaklah dia banyak melakukan amal shalih. Dan
jangan mempersekutukan Allah dengan sesuatu apapun”. Hatiku bergetar saat
mendengar kalimat “barang siapa yang ingin bertemu Allah”, ya Allah hamba ingin
sekali bertemu dengan Engkau. Namun hamba malu! Aku hanya bisa merunduk dan
menutup mata ini.
“Dikisahkan Abu
Bakar mengingat, episode ketika beliau menemani Rasulullah hijrah. Allah
kemudian mewahyukan kepada nabiyullah Muhammad untuk beristirahat di gua Tsur.
Masuklah kemudian Abu Bakar, maka bersama Rasulullah disana. Begitu masuk,
kerena lelahnya kemudian Rasulullah tertidur. Tertidur di pangkuannya Abu Bakar
r.a.. Ketika Rasulullah tertidur di pangkuannya Abu Bakar, ada ular yang
mendekati Abu Bakar. Abu Bakar tahu, bahwa ular itu akan menggigit salah satu
diantara mereka berdua. Karena yang terjulur kakinya adalah Abu Bakar, Abu Bakar
tahu bahwa dirinya yang akan lebih dulu digigit oleh ular itu. Kalau saja, Abu
Bakar tidak mencintai Rasulullah saw., Abu bakar ingin sekali mengusir ular
ini. Tapi jika beliau mengusir ular ini, Rasulullah akan bangun. Kemudian Abu
Bakar merelakan kakinya digigit oleh ular. Kecintaan para sahabat memang tidak
akan terukur oleh kita semua.
Hampir saja Abu
Bakar menjerit karena sakitnya gigitan ular itu. Tapi Abu Bakar tidak menjerit
sepatah kata pun, tidak ada suara dari mulutnya. Kenapa? Karena beliau
mencintai orang yang tertidur di pangkuannya. Beliau khawatir, jikalau dengan
teriakannya itu Rasulullah terbangun. Dan saat itu Abu Bakar mendengar
Rasulullah membacakan ayat ini (QS. Al-Kahfi (18) : 110).
Imam Ali pun
begitu. Imam Ali mengingat episode dimana Rasulullah saw. ketika ditemani di
kamarnya. Untuk kemudian berdiri menjadi imam shalat shubuh. Lalu kemudian
Rasulullah saw. membaca ayat itu, yang beliau paham bahwa akan semakin dekat
tanda-tanda Rasulullah akan ajalnya baginda. Imam Ali mengingat, ketika Jibril
mewahyukan kepada Rasulullah. Bahwa ada enam kafir Quraisy yang sedang bergerak
berjalan mengepung rumah Rasulullah. Salah satu yang dipanggil adalah Imam Ali
r.a.. “Ditawarkan siapa diantara kalian berdua, engkau wahai Ali atau engkau wahai
ayahku Abu Bakar yang bisa menggantikan aku di rumah ini. Supaya kafir Quraisy
menyangka bahwa aku masih ada di rumah ini!”. Kemudian imam Ali mengambil
posisi, “Aku saja Rasulullah!”. Kemudian imam Ali menempati tempat tidurnya
Rasulullah dan kemudian Rasulullah pergi berangkat. Sayang saat itu sudah tiba
kafir Quraisy yang kira-kira sudah sejarak lagi ke pintu rumah Rasulullah saw..
Lalu kemudian Allah mewahyukan kepada Jibril as. Agar Muhammad saw. menggenggam
pasir kemudian ditebarkan di depan rumah. Yang singkat cerita kemudian kafir
quraisy itu tertidur.
Cerita episode
shubuh terakhir. Begitu pulang Rasulullah saw. ke rumah. Manusia tercinta itu
sudah hampir selesai tugasnya di dunia ini. Tengah hari itu di rumah baginda,
terdengar suara memberi salam dan meminta izin untuk masuk menziarahi baginda
Rasulullah saw. Namun permintaan ini ditolak oleh Fatimah r.a. dengan berkata
“Maafkanlah, ayahku sedang demam...”. Rasulullah saw. mendengar jawaban dari
Fatimah r.a. itu, lalu Rasulullah bertanya “Siapakah yang datang itu wahai
anakku?”. “Tidak tahulah ayahku. Tidak pernah ku lihat orangnya sebelum ini.”
Jawab Fatimah r.a., maka jawab Rasululah saw. “Ketahuilah, bahwa dia itulah
yang memisahkan pertemuan di dunia...dialah malaikat maut.”. Fatimah r.a. terus
menahan ledakan tangisannya. Karena mengetahui ajal ayahnya sudah semakin tiba.
Malaikat Izrail dan malaikat Jibril datang menghampiri Rasulullah saw., lalu
Rasulullah bertanya “Wahai Jibril, apa hakku di hadapan Allah nanti?”.
“Pintu-pintu langit telah terbuka ya Rasulullah, para malaikat menanti roh mu!
Semua pintu surga terbuka lebar menanti kedatanganmu.” jawab malaikat Jibril
a.s..
Ternyata kata-kata
malaikat Jibril itu tidak membuat baginda senang, matanya masih penuh dengan
kecemasan. “Engkau tidak senang mendengar khabar ini ya Rasulullah?” tanya
malaikat jibril. “Khabarkan kepadaku nasib umatku kelak...” jawab Rasulullah.
“Jangan khawatir ya Rasulullah, aku pernah mendengar Allah berfirman “Ku
haramkan surga bagi siapa saja, kecuali umat Muhammad telah berada di dalamya.”
Jawab malaikat Jibril.”. Detik-detiknya semakin tiba, tibalah saat malaikat
Izrail a.s. menjalankan tugasnya. Perlahan-lahan roh Rasulullah mulai
ditarik... seluruh badan baginda disimbahi peluh. Urat-urat leher baginda
menegang. Perlahan-lahan Rasulullah mengaduh “Jibril betapa sakitnya sakaratul
maut ini!” kata baginda. Fatimah r.a. memejamkan matanya, Ali r.a. menundukkan
lagi kepalanya. Jibril a.s. pula memalingkan mukanya. “Jijikkah kau Jibril,
hingga kau palingkan wajahmu?” tanya Rasulullah. “Siapakah yang sanggup melihat
kekasih Allah direnggut ajal?” tegas Jibril.
Sebentar kemudian
terdengar Rasulullah saw. memekik, karena sakit yang tidak dapat ditahan lagi.
“Ya Allah dahsyatnya nian maut ini...timpakan saja semua siksa maut ini
kepadaku, jangan pada umatku.” (Rasulullah saw.). Badan Rasulullah saw. mulai
dingin, kaki dan dadanya sudah tidak bergerak lagi. Bibirnya bergetar seakan
membisikkan sesuatu. Maka bergegas Ali r.a. mendekati bibir baginda.
“Peliharalah shalat... dan peliharalah orang-orang lemah dikalanganmu.” kata
baginda. Diluar rumah, terdengar tangisan daripada sahabat. Fatimah menutupi
mukanya dengan tangannya. Dan Ali mendekatkan lagi telinganya ke bibir baginda,
“Umatku... umatku... umatku!” kesah baginda.
Dan berakhirlah
kehidupan insan mulia yang bergelar Rasulullah saw.. Kini, mampukah kita
mencintai beliau, sebagaimana beliau begitu mencintai kita umatnya yang tidak
pernah beliau temui? Lupakah kita akan perjuangan dan pengorbanan baginda,
dalam memperjuangkan dan menjamin kesejahteraan umat manusia setelah zaman
baginda?”
Semua orang yang
ada disana menangis, semuanya menangis! Aku juga baru tahu ternyata Rasulullah
begitu mencintaiku, ya mencintai kami semua umatnya. Mataku terus mengeluarkan
air mata yang hangat, entah mengapa hatiku serasa sangat sakit dan sedih
mendengar kisah yang disampaikan kak Qanita. Atau mungkin, apakah ini ikatan
batin seorang umat terhadap rasulnya?, sekarang aku begitu merindukannya! Aku
merindukanmu wahai Rasulullah...sudah berlalu satu jam setelah kak Qanita
menceritakannya. Tapi kenapa ya?, ada sesuatu dalam diriku yang tertinggal
dalam kisah itu. Ya Allah, aku sadar bahwa selama ini aku tidak terlalu
mengenal Rasulullah, aku tidak mengetahui sosok hebat beliau, pengorbanan
beliau untukku. Aku benar-benar seorang umat yang tidak tahu berterimakasih!
Aku malu Ya Allah...y a mulai dari sekarang aku akan berusaha untuk mengenalmu,
mencintaimu dan melanjutkan perjuanganmu ya Rasulullah... untuk agama Allah...!
Aku kagum dengan
kak Qanita. Benar-benar kagum dan iri. Masyaallah, kak Qanita adalah seorang
gadis yang shalihah, cantik, cerdas, dan ramah senyum dan masih banyak lagi. Ya
Allah, apa hamba bisa seperti dia? Hmmm, tidak, tidak! Tidak, hamba tidak bisa
seperti dia, tapi hamba harus bisa lebih dari dia! Iya, hamba harus semangat dan mengejar
ketertinggalan hamba selama ini.
Semalam aku sudah
membuat rencana untuk hari ini, aku akan menemui Ustadzah dan bertanya seputar
Rasul kepada beliau. Dan akhirnya aku sekarang tiba di depan mesjid, sepertinya
beliau ada didalam selesai melaksanakan shalat sunat dhuha. “Assalamu’alaikum ustadzah!”.
“Wa’alaikumsalam warahmatullah wabarakatuh...”. Masyaallah, senyumnya ustadzah
indah sekali. Walaupun aku wanita, aku juga terpukau. Mungkin ini salah satu
contoh dari hikmahnya berwudhu. Haura pernah mengatakannya kepadaku, bahwa
wudhu tidak hanya sebagai thaharah. Namun juga dapat memancarkan aura positive
bagi yang senantiasa menjaganya. Subhanallah! Sekarang hamba tahu ya Allah,
terimakasih karena Engkau telah menunjukkannya langsung kepada hamba J...
Aku mendekat dan
duduk didekat ustadzah dan mencium tangannya. “Kamu hari ini sangat bersemangat
sekali! Ibu sangat senang melihat murid kesayangan ibu seperti ini...” ucap
ustadzah. “Iya syukran ustadzah! Sekarang saya sudah siap mendengarkan kisah
hebat rasul yang telah ustadzah janjikan!”. “Iya, sebelumnya ibu mau merapikan
dulu mukenanya, kamu sabar dulu.”. “Na’am ustadzah!” jawabku dengan penuh
semangat. Akhirnya ustadzah selesai merapikan mukenanya, berarti...ya
bismillahirrahmanirrahim...!
“Baik,
bismillahirramanirrahim. Pada kesempatan kali ini, ibu akan menyampaikan sebuah
kisah Rasulullah saw. yang sangat dramatis dan penuh akan hikmah, yaitu kisah
Rasulullah saw. dan pengemis buta yahudi.
Pada zaman
Rasulullah Muhammad saw. memimpin, kota Madinah menjadi tempat yang sangat
ramai. Penduduknya bertambah banyak, dan sering dikunjungi oleh pedagang dari
berbagai tempat. Kaum muslimin hidup dalam kedamaian dibawah naungan Islam,
mereka saling bertegur sapa dengan salam yang hangat. Namun demikian dengan
kedamaian itu orang-orang berjual beli di pasar dengan penuh kejujuran.
Hiduplah seorang
pengemis buta yang biasa duduk di salah satu sudut pasar kota Madinah dan
terdengar setiap harinya, ada seorang yang berbicara kasar tentang Rasulullah
saw.. Dan dia berkata, “Dasar manusia pada bodoh semua! Bisa-bisanya ditipu
oleh Muhammad. Anak yatim tiba-tiba mengaku menjadi seorang nabi!” Lalu sahabat
Rasulullah saw. yang sedang melewati pasar berkata kepada Zaid. “Zaid, tidakkah
kau dengar itu?”. “Dengar apa?!” jawabZaid. Lalu dengan mendengarkan sejenak
terdengar suara cacian pengemis buta yahudi itu. “Subhanalloh! Siapa yang
berani berkata seperti itu? Siapa dia?!”. Lalu sahabatnya menjawab, “Memang
engkau tidak tahu wahai Zaid? Dia itu seorang pengemis buta di pasar ini
(dengan menunjuk arah dari sumber suara itu)”. “Siapa namanya?” tambah Zaid.
“Aku juga tidak tahu. Tapi yang jelas dia sering berbicara sendiri dan
mendustakan nabi!”.
Lalu si pengemis
itu melanjutkan kata-katanya, “Apakah orang-orang tidak tahu, Muhammad itu
pembohong, tukang sihir yang mampu menipu orang-orang dengan kata-katanya!
Orang yang haus kekuasaan. Heuh!!! Kurang ajar si Muhammad itu!”. Lalu
tiba-tiba ada seseorang yang memberikan dua dinar emas pada wadah milik si
pengemis buta yahudi itu. Yang menimbulkan suara yang dapat didengar oleh si
pengemis itu. Kemudian pengemis itu segera mengambilnya dan mencium bau dari
uang itu untuk mengenalinya dan tersenyum karena rasa bahagianya. Kemudian
pengemis itu berkata, “Siapa, siapa engkau?”. Dan sahabat rasul yang menyaksikannya
dari kejauhan melihat orang yang menghampiri
pengemis itu, ”Hei! Itu Rasulullah...(dengan menunjuk ke tempat si
pengemis buta yahudi)”. “Kenapa nabi
memberikan si pengemis buta yahudi itu dinar emas?” tanya Zaid.
Pengemis itu sangat
bahagia, dan segera bertanya kepada tuan yang memberikan kebahagiaan itu.
“Siapa engkau tuan? Engkau pemurah sekali! Belum pernah seumur hidupku, ada
seseorang yang memberiku uang dinar emas. Marilah duduk bersamaku sebentar!
Akan ku ceritakan sebuah kebohongan besar yang sedang terjadi disini.”.
Mendengar ucapan dari pengemis itu, Zaid menjadi kesal, “Sungguh gila pengemis
itu! Apa dia tidak tahu berhadapan dengan siapa sekarang?! (dengan amarah dan
ingin meghampiri si pengemis itu)”. Dengan segera sahabatnya memegang
pundaknya, “Sabar saudaraku. Janganlah kau bertindak melebihi nabi!”.
“Ya...(dengan menarik nafas panjang)” dan saat itu Zaid menyadari kesalahannya.
Lalu Rasulullah saw. menyuapi si pengemis itu dengan penuh kasih sayang dan
kesabaran. Baginda selalu setia menemani pengemis itu untuk bercerita tentang
kebenaran menurutnya, yang berisi cacian untuk baginda, dan rasa kebenciannya
terhadap baginda. “Enak sekali makanan ini. Terimakasih tuan! Belum pernah aku
bertemu seseorang yang memperlakukan aku sebaik ini.”.
Demikianlah sejak
saat itu Rasulullah sering mengunjungi pengemis buta itu untuk setiap harinya.
Subhanallah...aku bergetar mendengar kisah itu. Kisah itu begitu mengharukan,
dan aku pun bertanya kepada ustadzah...“Si pengemis buta yahudi itu tidak tahu,
bahwa yang selama itu mendatanginya adalah Rasulullah?”. “Rasulullah tidak pernah menceritakan siapa
beliau sebenarnya.” jawab ustadzah. Lalu
aku masih belum mengerti, dan ingin bertanya lagi, “Apa nabi tidak marah
ustadzah? Kan dihina terus!”. Ustadzah tersenyum simpul dan terdiam
sejenak, dan berkata “Itulah salah satu keutamaan nabi. Beliau sangat sabar,
meskipun dihina! Beliau tetap bersikap lemah lembut terhadap si pengemis itu.
Hingga suatu ketika, Rasulullah saw. pun wafat...dipanggil oleh Allah swt.
(dengan nada yang sedih dan lambat)”. “Inna lillahi wa inna ilaihi rooji’un...”
sungguh aku tidak dapat menahan air mataku ini, aku jadi teringat kisah yang
kemarin saat Rasulullah saw. wafat.”
Untuk beberapa
saat, ustadzah menatapku dan tersenyum. Mungkin ustadzah menunggu aku, sampai
aku benar-benar siap mendengarkannya kembali. “Apa ceritanya masih ingin
dilanjutkan?”. “Iya ustadzah...” jawabku dengan tersenyum. Dan ustadzah pun
melanjutkan kisah itu.
“Setelah beberapa
hari Rasulullah saw. wafat, Abu Bakar Ash-Shidiq datang mendatangi putrinya,
Aisyah r.a. untuk menanyakan sesuatu kepada putrinya. Beliau mengetuk pintu dan
mengucapkan salam, “Assalamualaikum!”. “Wa’alaikumsalam. Siapa?” jawab Aisyah.
“Ini aku, Aisyah. Ayahmu.”. “Oh ayah, silahkan masuk.”jawabnya dengan lemah
lembut. “Ada apakah gerangan ayah?” tanya Aisyah. Dengan wajah yang serius Abu
Bakar pun berkata, “Anakku, aku hendak bertanya adakah kebiasaan Rasulullah
yang belum aku kerjakan?”. “Wahai ayah...engkau adalah sahabat nabi yang paling
dekat, tidak ada kebiasaan nabi yang belum pernah ayah lakukan. Kecuali
satu...”. Wajah Abu Bakar menjadi tegang. “Oh ya, apa itu?”. Dengan tidak ingin
berlama-lama melihat wajah ayahnya seperti itu, segera Aisyah menjawab
kegelisahan ayahnya, “Ayahku, setiap pagi dikala Rasulullah melewati pasar,
beliau menyempatkan diri untuk menyuapi seorang pengemis yahudi buta yang ada
disana.”. “Hmmm, hanya itu saja? Baiklah akan aku lakukan!”.
“Setelah mendengar
penuturan anaknya Aisyah, keesokan harinya Abu Bakar Ash-Shidiq pun pergi
menuju pasar tempat pengemis yahudi itu berada. Abu bakar pun senantiasa
bertegur sapa dengan siapa pun yang ditemuinya di jalan.
“Assalamu’alaikum.”. Dan jawab salah
satu masyarakat Madinah dengan bahagianya, “Waalaikumsalam Wr. Wb.”. Lalu
tiba-tiba terdengar suara yang berkata, “Dimanakah engkau sahabatku? Sudah
beberapa hari engkau tidak datang. Sudah tiada lagi yang menyuapiku makan!”.
“Hmmm, mungkin itu orangnya!” pikir Abu Bakar. Dengan mengikuti arah sumber
suaranya, akhirnya abu bakar menemukan pengemis itu dan tiba di hadapannya,
mendengar suara derap langkah seseorang maka pengemis itu berkata, “Ah,
engkaukah itu...sahabatku? Sudah lama engkau tidak datang. Duduklah, mana
makanan untukku? Aku sudah lapar...cepat cepat!”. Lalu Abu bakar duduk dan
segera menyuapi pengemis itu. Setelah menelan makanannya, dia kembali
berbicara, “Kau tahu tidak? Kabar tentang Muhammad si pendusta itu? Aku dengar
pengaruhnya semakin luas, entah sihir apa yang ia gunakan! Bisa-bisanya ia
mengaku rasul! Memangnya siapa dia?”. Mendengar ocehan si pengemis buta, Abu
Bakar menjadi geram. Mana tahan Abu Bakar mendengar cacian bagi orang yang
dicintainya. “Hei, mana makanannya? Jangan diam saja.” Kembali pengemis itu
berbicara.
Abu Bakar pun
kembali menyuapi si pengemis itu dengan menahan nafsunya, namun akibatnya
beliau menyuapinya dengan sedikit kasar. “Eh eh, kau kasar sekali! Aku rasa
engkau orang yang berbeda. Siapa engkau sebenarnya?!” tanyanya dengan
penasaran. “Aku orang yang biasa memberikanmu makanan.” Kata Abu Bakar. Tetap
dengan pendiriannya, akhirnya pengemis itu berkata, ”Bohong! Engkau bukan orang
yang biasa mendatangiku.”. Untuk mengujinya, Abu Bakar berkata, “Kenapa?”.
“Engkau berbeda! Orang yang biasa mendatangiku selalu menyapaku dan lemah
lembut. Ia menanyakan kabarku, membesarkan jiwaku dan menyuapiku dengan penuh
kesabaran dan kasih sayang. Belum pernah aku temui orang sebaik itu! Pantasnya,
dialah yang menjadi seorang rasul!”jelasnya dengan berlinang air mata. “Engkau
benar bapak. Aku, aku memang bukan dia!” jujurnya. “Hah! Lalu, siapa engkau?!”
dengan rasa terkejut. “Aku adalah salah seorang dari sahabatnya. Namaku Abu
bakar.” jawabnya. Lalu pengemis itu bertanya dengan tergesa dan khawatir, “Lalu
kemana sahabatku yang biasa datang itu?”. “Engkau yakin tidak tahu?!” tegas Abu
Bakar. “Tidak.”. Abu Bakar menjawab dengan rasa sedih yang mendalam, “Hmmm.
Orang yang engkau maksudkan itu sudah meninggal dua hari yang lalu.”. “Hah,
apa...sudah meninggal? Benarkah? (dengan terkejut dan tanpa sadar menjatuhkan
tongkatnya)”. “Benar bapak. Aku bahkan turut menguburkannya.”. Tangannya
memegang kepala dan menutup mata ssedihnya, “Oh...mengapa orang sebaik itu
meninggal? Padahal aku belum sempat membalas kebaikannya! Dia orang yang
terbaik yang pernah aku temui di muka bumi ini, bahkan melebihi
saudara-saudaraku sendiri. Namanya pun aku tidak tahu!” denga rasa penyesalan
yang dalam. “Bapak... (dengan memegang lembut pundaknya) maukah kau, aku beri
tahu siapa orang itu sebenarnya.”. “Hah, engkau tahu! Siapa dia?”. ”Dialah
Muhammad Rasulullah saw.”. “Hah! Dia adalah Muhammad? Benarkah apa yang kau
katakan?”.
Demikianlah,
pengemis yahudi buta itu menangis sejadi-jadinya! Di pundak Abu Bakar
Ash-Shidiq. Dia menyesali segala apa yang ia lakukan. Menghina dan mendustakan
nabi, dihadapan sang nabi sendiri. Dia memohon ampun kepada Allah, dan pada
saat itu juga dia memeluk Islam. Dan si pengemis itu bertanya kepada Abu Bakar,
“Apakah Muhammad saw. akan memaafkan semua kesalahanku terhadapnya?” dengan
tatapan sedih dan penuh harap. Abu bakar dengan senyuman dan nada yang
menenangkan berkata, “Rasulullah saw. tentu sudah memaafkan engkau...”.
Pengemis itu pun sadar dengan semua kebaikan Rasulullah saw. terhadapnya, bahwa
Rasulullah lebih dari sikap yang dapat dirasakannya karena telah memaafkannya.”
Jilbabku sudah
basah dimana-mana untuk mengusap air mata dipipiku. Aku bingung mencari kain
untuk mengusap air mataku lagi. “Ya Allah, kamu kenapa? Bingung cari lahan yang
kering ya?” dengan senyuman yang membuat aku malu untuk membalasnya. “Iya
ustadzah, afwan Ana sangat sedih dan tak mampu menahan air mata rindu dan
takjub ini kepada Rasulullah saw.”. Akhirnya setelah aku pamit kepada ustadzah,
aku pulang dan berjalan dengan lamban dan...ya sekarang aku ingin bertafakur di
suatu tempat yang sepi dan nyaman.
Tanpa sadar aku
tidak mendengarkan salam dan sapa dari sahabatku, Haura. “Assalamu’alaikum...”.
Langkah kakiku yang lambat langsung berhenti dan menoleh mendadak, “Oh iya
wa’alaikumsalam warahmatullah wabarakatuh! Aduh maaf ya Haura tadi aku
melamun!”. “Iya nggak papa, ada apa biasanya kamu yang mengucapkan salam
terlebih dahulu?” tanyanya dengan cemas. “Aku nggak papa kok!” aku harus
tersenyum agar dia tidak khawatir lagi. “Ya udah kalau gitu, aku ke
perpustakaan dulu ya, kamu mau ikut?”. “Untuk sekarang aku ada urusan dulu,
jadi aku tidak bisa ikut.” tegasku. Wajahnya masih mengguratkan
kekhawatirannya, dan terus menatapku dengan kasih sayangnya, “Ya, baiklah!
Ma’assalamah... ”. “Iya, ilal liqo!” jawabku dengan semangat. Mungkin lain kali
saja, aku bercerita padanya tentang ini...
Berbeda dengan
tahun lalu, tahun sekarang sangat berarti dan indah bagiku. Alhamdulillah,
sekarang aku merasakan keceriaan saat menyambut bulan Ramadhan. Berbeda dengan
dulu, setelah tahu waktunya dekat aku hanya bersikap biasa saja. Dan setiap
harinya ketika menjelang buka puasa, yang terus aku pikirkan hanyalah “Besok
makan dimana yah?”...berbeda dengan umat muslim yang lainnya yang tidak mampu.
Setiap mereka selalu ada kekhawatiran dengan pertanyaan, “Besok bisa makan atau
tidak?”. Sungguh, ramadhan kali inibegitu aku tunggu. Dengan kalimat “Allahumma
bariklanaa fii rajabaw wasa’banan, allahumma bariklanaa wa bariknaa ramadhaana”...
Sore ini aku ingin
menambah ilmu dengan searching di internet. Dan ada sebuah kisah yang
menggetarkan jiwaku. Ini adalah kisah nyata seorang muslimah berjilbab di
Amerika (USA) sekitar tahun 2006. Suatu hari wanita ini berjalan pulang dari
bekerja dan agak kemalaman... suasana jalan setapak yang agak sepi. Ia melewati
jalan pintas. Di ujung jalan, dia melihat sosok pria. Ia menyangka pria itu
warga Amerika. Perasaan wanita ini agak was-was karena raut wajah pria itu agak
mencurigakan! Dia berusaha untuk tetap tenang sambil membaca kalimah-kalimah
Allah. Seraya sungguh-sungguh memohon perlindungan Allah Swt. dalam hatinya.
Ketika ia melintas didepan pria itu, ia tetap berdoa. Sekilas ia melirik...
orang itu tengah asyik dengan rokoknya, dan seolah tidak memperdulikannya.
Keesokan harinya,
wanita muslimah itu melihat berita kriminal di televisi... Seorang wanita
melintas dijalan yang ia lalui semalam, hanya selang beberapa menit wanita
malang itu mengalami pelecehan seksual ditempat yang sama. Karena begitu
ketakutan, ia tidak sempat melihat dengan jelas pelakunya. Hati muslimah ini
pun tergerak untuk membantu wanita malang itu dan memberanikan diri untuk
datang ke kantor polisi untuk memberitahukan bahwasanya ia bisa mengenali sosok
pelaku pelecehan terhadap wanita itu. Karena ia juga menggunakan jalan yang
sama sesaat sebelum wanita tadi melintas. Akhirnya muslimah ini pun menunjuk
salah seorang yang diduga sebagai pelaku. Ia yakin bahwa pelakunya adalah pria
ini yang ada di lorong malam itu. Melalui interogasi polisi akhirnya orang itu
pun mengakui perbuatanya!
Tergerak rasa ingin
tahu, muslimah ini pun menemui polisi dengan didampingi oleh polisi. “Apa anda
tidak melihat saya? Saya juga melewati jalan itu, beberapa menit sebelum wanita
yang kau perkosa itu...?” tanyanya. “Mengapa anda tidak mengganggu saya padahal
saat itu saya sendirian?” tanyanya dengan begitu cemas dan bingung. Lalu pria
itu menjawabnya, “Tentu saja saya melihatmu. Saya tidak berani mengganggu anda!
Karena saya melihat dibelakang anda ada dua orang pria berbaju putih dan tinggi
besar mengawal anda saat itu. Satu dikanan anda dan yang satu lagi ada dikiri
anda.” lanjut pria tersebut. Muslimah itu tidak dapat berkata apa-apa! Sekujur
tubuhnya bergetar hebat. Hanya hatinya yang penuh syukur kepada Allah!
Mendengar penjelasan pria itu. “Alhamdulillah ya Allah... Engkau masih mendengar
doaku dan melindungiku!”.
Jadi bila kita
menjaga perintah Allah dan megingat nama-Nya dimanapun kita berada, maka Allah
juga akan menjaga dan mengingat kita dimanapun kita berada. Subhanallah...
hatiku bergetar membacanya! Aku begitu
takjub dan ikut bersyukur atas apa yang telah dialami oleh muslimah itu. Apa
mungkin dua pria berbaju putih itu adalah malaikat Allah? Ya Allah, Engkau
begitu menyayangi wanita muslimah itu. Aku terus menangis mentafakuri betapa
indah rasa cinta-Mu kepada wanita muslimah itu. Ya Allah jadikanlah hamba
wanita muslimah yang bertaqwa, selalu menjaga dan meningkatkan iman islam
hamba. Istiqamahkan hamba dalam memenuhi kewajiban hamba ya Allah, dan...dan
ampunilah semua dosa hamba ya Allah! Hamba mencintai engkau ya Allah...
“Maka nikmat Tuhanmu yang
manakah yang kamu dustakan?”. Satu
ayat ini aku renungkan sedemikian dalam. Aku merenungkan bagaimana menjalani
hidup. Setelah membaca dan merenungkan ayat-ayat tadi, aku menjadi semakin
semangat untuk dalam menjalani setiap episode kehidupan yang dipersembahkan-Nya
dengan segala cinta... Lalu muncul pertanyaan kecil dihati, kenapa aku diuji?
Ternyata jawabannya ada di QS. Al-Ankabut ayat 2-3, dan dalam beberapa surah
yang lain. Dan timbul lagi pertanyaan yan lainnya, mengapa aku tidak
mendapatkan yang aku idam-idamkan? Dan jawabannya ada lagi. Terdapat di QS.
Al-Baqarah ayat 216. Jiwa ini serasa tertantang, dan bertanya dalam kejadian
masa lalu, mengapa aku mengalami ujian seberat ini? Dan alhamdulillah, Allah
kembali menunjukkannya. Jawabannya ada didalamQs. Al-Baqarah ayat 286. Dan
sebenarnya Allah selalu memotivasiku selama ini (Qs. Ali ‘Imran ayat 139 dan Yunus ayat 87). Dan untuk
menghadapi semua masalahku aku harus bersabar dan mendirikan shalat. Juga
berbuat baik kepada semua makhluk Allah, sebagaimana Allah telah berbuat baik
kepadaku (Qs Ali ‘Imran ayat 200 dan Al-Baqarah ayat 45). Dan jika aku berhasil
menjalani semuanya dengan perintah Allah maka surga adalah tempat kembaliku
(Qs. At-Taubah ayat 111). Dan hanya kepada Allah lah aku berharap atas semua
masalah yang menimpaku (Qs. At-Taubah ayat 129).
Untuk itu aku harus
terus berbenah dan berbenah... agar aku bisa memberikan yan terbaik untuk Allah
dalam masa hidupku yang singkat. Dengan torehan kemulian dan semangat pantang
menyerah! Dimanapun, kapanpun, dan dengan siapapun. Selama Allah menjadi “just
THE ONE goal” insyaallah aku akan bahagia dunia akhirat. “Wahai jiwa yang
tenang kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang ridha dan diridhai-Nya. Maka
masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku. Dan masuklah ke dalam surga-Ku” (Qs.
Al-Fajr ayat 27-30). Masyaallah indah sekali panggilan Allah kepada
hamba-Nya yang shalih dan shalihah... Semoga hamba bisa termasuk hamba-Mu yang
Engkau panggil demikian ya Allah, amin! Hamba ingin bertemu dengan Engkau dan
memenuhi panggilan-Mu. Dan termasuk golongan hamba-Mu yang berwajah cerah dan
bersuka ria kelak di akhirat...
Aku juga terus
berusaha untuk berhijab di rumah. Rasanya nyaman saat berhijab. Aku pernah
mendengar dari seorang teman, bahwakenapa ada wanita yang bila disuruh
mengenakan hijab dia menolak dengan dalih panas, gerah dan yang lainnya.
Katanya itu semua dikarenakan hakikatnya api neraka sudah ada didalam tubuhnya.
Jadi mereka tidak betah dan nyaman mengenakan hijab. Mereka hanya merasakan
hawa panas dan ingin segera membukanya. Na’udzubillahi min dzalik ya Allah...!
Ya Allah, ampunilah kami... ampuni hamba karena belum bisa berdakwah secara
baik kepada para muslimah lainnya. Bibir ini rasanya terkunci dan berat untuk
membukanya. Apa ini semua karena iman hamba masih lemah ya? Aku jadi teringat
hadist tentang berdakwah. “Barang siapa yang melihat kemunkaran maka rubahlah
dengan tangannya, maka apabila tidak mampu maka rubahlah dengan lisannya dan
jika tidak mampu maka rubahlah dengan hatinya. Dan yang demikian tu adalah
selemah-lemahnya iman”.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar