Pages

Jumat, 06 Maret 2015

sahabat part 8 (kamulah rahasiaku)


Kata sahabat adalah salah satu kata yang terindah di dunia. Setiap orang pasti membutuhkan dan mempunyai seorang sahabat. Tapi sebenarnya sahabat dalam Islam itu seperti apa? Pertanyaan itu seiring waktu terjawab dengan pengalamanku. Tanpa terasa hampir empat bulan lagi menuju ujian nasioal. Hah, rasanya itu campur aduk. Ujian nasionah sungguh penuh rahasia dan kejutan.
Rahasia. Ya kata ini lumayan menyebalkan disaat hubungan antara sahabat ada rahasia. Memang benar, setiap orang mempunyai hak privasi! Termasuk Haura. Tapi yang paling membuatku penasaran dan dilanda dilema, rahasia yang dimilikinya tanpa dia sadar selalu dibicarakan. Dia tiba-tiba berbicara tentang sesuatu yang tidak jelas, dan ketika aku bertanya tentang apa, atau kenapa, dia langsung bilang RAHASIA! Ya... atau dia membicarakan hal lain yang dapat mengalihkan perhatianku. Dia memang pintar! Terkadang tanpa sengaja aku lihat di kelas, dia sendiri asyik menulis di buku bindernya. Dia tiba-tiba tertawa dan menangis tersedu. Seperti biasanya, bila aku tanya ada apa dan segera menghampirinya dia selalu bilang “aku nggak papa kok Ana...” dengan senyuman palsunya. Seberapa kuat aku mencoba menguak membuka arti senyumannya itu, bertambah pintarnya lagi Haura membuat aku tak ingin lagi mengetahuinya.
Tidak terasa masa liburan semester ganjil hampir usai. Jadi kangen banget ketemu sama temen-temen semuanya! Dan gak mungkin lupa juga mulai januari ini akan mulai lebih fokus untuk persiapan ujian nasional. Aku jadi ingat Haura. Gak sabar ingin ketemu sama dia, dan janji dia akan memberi tahu aku rahasianya. Hingga akhirnya buku bindernya yang datang padaku. Ibunya Haura yang membawakannya padaku dengan ditemani oleh adik perempuan Haura yang cantik. Umi duduk disampingku dengan cemas, karena melihat ibu Asiyah menangis. Aku pun bingung dan sedih melihatnya. Karena selama ini hubungan aku dengan Haura baik-baik saja, dan kami masih setiap hari berkomunikasi. Ibunya menceritakan bahwa sudah satu minggu ini Haura dirawat di rumah. Dan dia menitipkan surat dokter, karena Haura besok tidak bisa masuk sekolah.
Bagaimana bisa? Padahal setiap harinya aku berkomunikasi sama dia. Setiap hari pula kami saling bertegur sapa dan kabar. Dia selalu berkata “Alhamdulillah sehat wal’afiat!”. Kami selalu sms-an setiap kali saling memberi tahu tau mengingatkan waktu shalat. Tapi memang dikala aku menelponnya, dia selalu mematikannya atau tidak mengangkatnya. Dan dia meminta maaf dengan alasan ada di jalan atau tengah shalat. Ketika aku menanyakannya, adiknya menangis dan meminta maaf. “Maafkan saya kak! Selama ini yang selalu membalas pesan dari kakak adalah saya. Karena kakak saya...”. Bu Asiyah langsung menyela dan berkata bahwa beliau yang menyuruh adiknya Haura yang membalas pesan karena Haura sulit menekan tombol handphonenya. Akhirnya mereka berpamitan dan salam. Kala aku masih termenung, adiknya yang memberikan buku binder Haura padaku. Saat aku bingung dan menatap mata adiknya dan ibunya disisi motornya, mereka tersenyum. “Tolong bantu kak Haura ya, kak Ana...” ujar adiknya.
Walaupun dari dulu aku begitu menginginkan untuk membaca binder ini, tapi perhatianku lebih tertuju pada keadaan Haura yang tengah sakit sekarang. Lalu umi datang dan memelukku dari belakang. “Umi juga akan menangis jika kamu sakit dan sedih...” suara lirih umi menggoyahkan perhatianku. Aku langsung membalikkan badanku dan membalas pelukan umi padaku. Walaupun umi bukan ibu kandungku, tapi umi adalah malaikat yang sengaja Allah turunkan padaku. “”Umi... Ana juga akan lebih menangis bila Umi sakit dan tersakiti oleh Ana...”. Saat aku memeluk umi, hangat sekali rasanya! Pelukan umi dapat melupakan pahitnya masa laluku. Namun aku juga tentunya tidak akan pernah melupakan ayah dan bunda disana. Karena Allah telah memanggil mereka, karena teramat sangat Allah mencintai mereka berdua, maka aku akan lebih tenang. “Umi harap kamu lekas tidur, karena besok awal kamu masuk sekolah! Jangan sampai kesiangan lagi ya, anak umi yang shalihah”. “Iya amiiin umi...” senyumku ini mengantar umi sampai umi menutup pintu kamar.
Hari pertama sekolah begitu menyibukkan. Setiap kali teman-teman bertanya kemana Haura, setiap itu pula aku merindukannya! Apalagi ketika belajar, biasanya dia ada disisiku dan berdiskusi bersama. Kami semua ingin sekali menjenguk Haura dirumahnya, namun beberapa hari ini memang bayak sekali tugas dan kesibukan masing-masing. Jadi kami semua memutuskan antara hari jumat atau sabtu. Alhamdulillah, selesai pulang sekolah dan shalat Ashar aku punya waktu untuk istirahat sebentar. Aku teringat binder Haura yang ingin aku baca. Aku memegangnya dan sangat senang juga ragu untuk membukanya. Gambar bunga warna merah dan seorang gadis bergaun panjang menjadi cover bindernya. Tanganku terus tertuntun untuk membukanya, bismillah aku memulainya.
Di bagian awal adalah identitas Haura, dan banyak kata-kata mutiara. Setiap lembar selalu ada kata ALLAH dalam huruf Arab. Banyak biografi atau hanya sekedar biodata tokoh atau ulama Indonesia yang dia tulis beserta motto hidupnya. Dan tak lupa Haura menulis banyak pengalamannya, dan catatan kecil untuk Allah Swt.. Aku terlalu asyik masuk ke dalam dimensi kehidupan Haura. Lama semakin lama aku membaca kisah hidupnya yang indah dan mengharukan. Yang membuatku cemas adalah, saat dia menceritakan rasa sakit dan pusing. Dan kisah seorang pemuda yang dia kagumi, dia adalah kak Arfan.
Sahabatku ini mengagumi kak Arfan, karena dia memiliki kemiripan dengan orang yang pernah dia sayangi, Rayhan. Rayhan memang pantas mendapatkan perhatian dan rasa sayang dari gadis sespesial Haura. Ternyata dia adalah pacar Haura waktu di SLTP. Dia adalah ketua IRMA dan aktivis dakwah di sekolahnya. Bisa dibilang dia benar-benar idamannya Haura. Bila dalam telpon mereka selalu berdiskusi masalah pelajaran dan agama. Ya bisa dibilang mereka adalah saingan dalam ranking dikelasnya. Saat kelas dua semester satu, IRMA dan OSIS mengadakan acara Maulid Nabi Saw., dan mereka berdua menjadi salah satu panitia penyelenggara. Saat itu yang menjadi penceramahnya adalah pamannya Rayhan. Namun atas suratan takdir dari Allah Swt., motor Rayhan mengalami kecelakaan lumayan parah ketika akan menjemput pamannya. Dan alhamdulillah Rayhan selamat, namun mengalami luka yang cukup parah karena kepalanya terbentur cukup keras pada batu, didalam sebuah selokan yang cukup dalam.
Namun dalam keadaan yang kesakitan dan berdarah, dengan dibantu oleh warga sekitar, Rayhan memaksakan diri untuk bangun dan melanjutkan perjalanannya. Alhamdulillah dengan perjuangan dan pengorbanan Rayhan, acara maulid nabi pun terlaksana lancar dan sukses. Namun dari hari ke hari kesehatan Rayhan semakin memburuk. Orang tuanya dari kampung datang menjemput ke pondok pesantrennya. Setelah lama dirawat di rumah sakit untuk sekian minggunya, ternyata Rayhan telah dipanggil oleh Allah Swt. Karena pendarahan di otaknya dan sebelumnya terlambat ditangani oleh dokter maka alasan itulah yang dapat dimengerti oleh keluarga. Namun masalah kecelakaan itulah yang tidak dapat diterima oleh keluarga, karena Rayhan tidak pernah memberi tahunya. Jangankan keluarganya yang jauh, teman di pesantrennya pun tidak mengetahuinya.
Haura menangis dalam sujudnya, dan mengamalkan apa yang telah diberikan ibu Rayhan untuknya. Sebuah tasbih berwarna putih. “Nak Haura, Rayhan telah menitipkan ini untuk nak Haura, sesaat sebelum dia menghembuskan nafasnya yang terakhir...”. Sekarang aku tahu, kenapa dia sedih atau marah pada dirinya sendiri kalau tasbih itu tertinggal dirumah. Dengan tasbih itu, adalah cara untuk bertaqarrub kepada Allah dan ingat akan kata mati. Sejak itu, dia tidak pernah berpacaran lagi, tidak hanya jera atau karena masa lalunya, namun dia akan lebih memfokuskan perhatiannya pada cita-citanya, seorang mujahidah...!
Dan yang paling membuatku terharu adalah adanya kisahku didalam bindernya. Ceritaku adalah cerita yang membuatnya kembali menulis di bindernya, setelah lama dia menutup binder kesayangannya karena cerita Rayhan. Setelah ku lihat terakhir kali dia menulis di bindernya adalah 26 Januari 2009. Dan dia menulis lagi pada tanggal 29 Juli 2011. Dan dia menulis tentang aku, Marsha yang bermetamorfosa menjadi Ana Lathifa Maryam. Padahal dulu aku membencinya, aku adalah orang yang menyebalkan dan sering menyakiti orang lain, ya termasuk Haura. Namun dia menganggapku spesial di hidupnya dan dia menulis sesuatu yang sangat membuatku terkejut, “Dia bagai bunga kertas! Wataknya keras namun mudah patah juga bila tertebak angin, hemmm aku tertarik pada gadis ini! Aku takan menyerah untuk menghadapinya. Aku akan terus disampingnya dan menuntunnya pada fitrahnya. Marsha, jangan pernah menyerah yah! Kamulah rahasiaku untuk terus berlari, walau berjalan pun raga ini kesakitan dan lemas. Karena aku yakin ada jiwa muslimah yang hebat yang kamu sembuyikan, dan untuk menggantikanku untuk berdiri di medan laga ini...”.
Dalam setiap lembarnya, selalu ada kata “Allah” dalam huruf arab dan disusul dengan kata “Muhammad”. Dan dibawahnya terdapat sebuah kalimat yang berukuran kecil. Apa Haura sengaja menulis huruf sekecil ini? Dengan susah payah aku membaca apa yang dia torehkan di lembar looseleaf yang berwarna merah muda. “Ya Allah, hamba tidak ingin melupakan nama Engkau selamanya dihidupku! Juga nama Rasulullah Saw. Karena Engkau dan Rasulullah adalah cinta hamba. Hamba tidak bisa bertahan jika hamba melupakannya... hamba takut, sungguh takut jika hamba lupa. Ampuni hamba ya Allah... hamba tidak ingin seperti ini. Perlahan hamba mulai melupakan hal-hal yang kecil. Dan semakin lama aku mulai melupakan hal-hal yang penting bagiku. Hamba tak peduli jika hamba lupa akan siapa hamba ini, asalkan hamba tidak melupakanmu! Jika benar tentang akibat dari penyakit ini adalah hamba akan melupakan semuanya, segalanya, berarti hamba kehilangan akan ingatan hamba. Ya Allah, selama ini hamba telah berusaha untuk menjadi yang terbaik dan menjadi mujahidah-Mu. Namun mungkin ilmu ini jua akan hilang dan pergi...hamba tidak tahu kapan dan dimana itu akan terjadi! Hamba hanya bisa berpasrah diri dan berdoa kepada Engkau ya Allah!”
Sungguh! Aku benar-benar tidak mengerti apa yang dituliskan oleh Haura. Hilang ingatan? Apa, kenapa? Sekarang memang dia sedang sakit. Namun dia tidak hilang ingatan. Dia hanya... seketika itu aku teringat banyak kejadian disaat aku bersamanya.
Ana    : “Kamu gak biasanya bawa handphone ke kelas?”
Haura : “Apa? Oh ada Ana disini! Na, kita photo-photoan yuk!”
Ana    : “Eh ada apa nih? Biasanya kamu yang gak mau d photo, dan sekarang kamu ajak aku photo bersama?”
Haura : “Emmmh, ya udah kalau nggak mau.”
Ana    : “Eh eh...jangan ngambek dong ra! Iya iya... ayo kita photo bersama.”
Setelah beberapa snapshot, dia bergaya yang lain dari biasanya. Dia juga lupa akan pengumpulan tugas dan banyak hafalan-hafalannya. Dia sering lupa hari dan tanggal, bahkan dimana dia menyimpan mukenanya. Padahal dia adalah salah satu orang yang sangat tajam ingatannya! Bahkan dia juga kadang memanggilku dengan nama Marsha. Disaat dia berbicara didepan kelas baik itu dalam acara diskusi atau acara diluar sekolah, dia selalu lupa apa yang akan disampaikan, atau pulang sebelum acara penting dimulai. Hal itu membuat prestasinya menurun dan para guru kecewa. Karena Haura salah satu murid kebanggaan mereka!
Ana      : “Kenapa kamu ingin berphoto bersamaku secara tiba-tiba?”
Haura : “Itu, itu karena aku tidak mau melupakanmu! Aku ingin terus mengingat kamu sebagai sahabat baikkku...apa itu nggak boleh yah? Aku Cuma ingin punya sesuatu dari kamu, setidaknya untuk nanti setelah kita sudah lulus dari aliyah ini...”
Dan segera dia memalingkan wajahnya dan melihat kembali melihat hasil dari beberapa photo kami. Ya Aku pikir dia bercanda mengatakan hal itu... dan memang iya kan? Dia selalu menuliskan peristiwa penting saat hari-harinya bersamaku di sekolah. Dia senang jika aku  membuatkannya puisi indah atau kalighrafi arab untuknya. Dia memang beberapa bulan ini sering lupa sesuatu yang penting...
Aku pernah mendengar dia berkata yang baru aku mengerti sekarang. “Ya Allah... jika hamba nanti akan melupakan semuanya, hamba harap nanti hamba tidak akan kehilangan ingatan hamba tentang Engkau ya Allah... nama Engkau! Juga nama Muhammad Rasulullah saw., hamba tidak ingin kehilagan semua itu ya Allah”. Isak tangisnya mendesah kala di mushala, saat dia shalat dhuha duluan. Dulu aku bingung dengan kalimat itu. Dan aketika aku akan menanyakannya, dia menyapaku terlebih dulu dan aku baru ingat sekarang. Ya Allah, sahabatku ini begitu mencintai Engkau dan Rasulullah. Salah satu bukti rasa cintanya, dia berusaha agar hamba berjalan dalam kebenaran. Mungkin tanpa perantaranya. Hamba akan tetap menjadi Marsha yang tidak mengenal Tuhannya dan agamanya. Walaupun hamba belum memahami sepenuhnya, hamba mohon ya Allah... kabulkanlah doa sahabat hamba... hamba sangat menyayanginya.

Membaca kisah Haura, aku jadi teringat dengan seseorang. Di sudut kelas aku hanya menangis. Tak ada orang yang ada disampingku. Ataupun yang hanya lewat dan bertanya. Aku melihat mereka semua teman di kelas SD-ku bersenang-senang dan tertawa dalam acara naik kelas dan kelulusan kelas enam. Lalu ada seorang anak laki-laki yang lewat, aku tidak mempedulikannya dan aku pikir dia hanya lewat saja. Ternyata dia ada dihadapanku dan ikut jongkok bersamaku. Dia menatapku dan menghapus air mata dipipiku dengan sapu tangan yang dia miliki. Dia mengeluarkan sapu tangan berwarna putih itu dari saku celananya, dan ada jahitan namanya yang berwarna merah. Namanya adalah “Arfan”, dia bagaikan pangeran yang selalu ada di mimpiku. Sepertinya dia kakak kelasku disini, tapi kelas berapa ya? Tiba-tiba datanglah empat orang teman sekelasku yang karena mereka aku menangis. Mereka datang kembali untuk menjailiaku lagi! “Lihat dia menangis! Kamu itu anak yang cengeng Marsha! Kamu cuma bisanya nangis kan? Itu sebabnya kan mama papa kamu tidak datang? Mereka malu punya anak cengeng kayak kamu!” katanya dengan membentak.
Lalu pangeranku ini terbangun dan menghadapi mereka! Dia berdiri tegap dan berkata dengan sikap badan kuda-kuda, “Apa kalian tahu aku bisa karate?”. Mereka semua kaget dan ketakutan karena mereka tahu bahwa ternnyata penolongku ini adalah atlet karate. Saat itu aku ketakutan. Dia yang tersenyum padaku dan berkata, “Jangan takut de! Kakak gak jago karate kok!” ucapnya untuk menenangkanku. Saat itu aku kelas dua SD, aku masih anak kecil! Aku hanya bisa diam dan menangis bila dijaili. Terlebih jika mereka bertanya padaku tentang mama dan papa. Aku hanya bisa diam, terserah mereka akan bicara apa. Waktu itu aku tidak mau mereka semua tahu bahwa mama papaku sudah tiada. Yang selalu hadir adalah kak Nisa, walaupun selalu hadir terlambat ke sekolah.
Saat aku ingin berbicara pada penolongku, dia dipanggil oleh orangtuanya. Dia segera meminta maaf padaku karena harus menemui orangtuanya, dan berlalu setelah mengucapkan salam. Aku terus memandangnya sampai dia tidak terlihat lagi dimataku. Entah apa perasaan ini! Aku merasa nyaman dan tenang disampingnya. Dia bagai kakakku. Aku sadar setelah beberapa langkah berjalan, bahwa sapu tangannya masih ada digenggaman tanganku sekarang. Saat aku melihat ke arahnya berlalu, sudah terlalu lama dia pergi. Saat aku akan berbalik dan mengembalikannya, kak Nisa datang dengan masih mengeakan pakaian SMA-nya. Dia memanggilku danmeminta maaf karena terlambat lagi lagi dan lagi seperti biasanya. Aku hanya tersenyum padanya dan kak Nisa memegang tanganku dan menciumnya.
Semenjak hari itu aku selalu menjaga sapu tangan ini. Aku berharap semoga saja Allah mempertemukan kembali. Walaupun hanya untuk mengembalikan sapu tangan ini. Mungkin sapu tangan ini berharga baginya, karena pada sapu tangan ini ada jahitan namanya. Mungkin saja ini jahitan ibunya? Ya Allah... jaga hati hamba. Disatu sisi hamba ingin mengembalikannya, tapi jika terdapat keinginan hamba yang melenceng dari niat baik yang telah tergariskan. Hamba bertawakkal kepada Engkau ya Allah...! Inilah rahasiaku. Rahasiaku terhadap seseorang dimasa laluku.
Hari ini ada pengajian di mesjid agung kota. Aku, Haura dan yang lainnya mengusahakan untuk hadir kesana. Setelah usai pengajian, kami semua berkumpul di mesjid dan shalat dzuhur berjama’ah. Rasanya masyaallah sangat damai dan tenang. Seusai shalat sunat rawatib ba’da dzuhur, satu persatu dari kami pulang. Tinggallah aku dan Haura tinggal di mesjid. Masih membicarakan materi yang telah disampaikan oleh mubalig. Terkadang ketika kami sedang berbicara, Haura tiba-tiba diam dan mengkerutkan keningnya. Saat aku tanya kenapa, dia berusaha tersenyum dan berkata tidak apa-apa. Saat itu aku menerima telepon dari umi. Aku harus menjemput umi di salah satu teman umi. Akhirnya aku berpamitan pada Haura. Entah kenapa, aku merasa berat untuk meninggalkan Haura. Tapi dia bilang, sebentar lagi dia juga akan pulang karena ayahnya akan menjemputnya segera. Aku pun tenang setelah mendengarnya. Ketika kami selesai bersalaman dan  melambaikan tangan, aku berbalik badan dan melangkah turun menuju tangga. Setelah turun beberapa langkah, terdengar suara “bruk!!!”. Ya Allah! Aku terkejut... itu suara apa ya? Aku bimbang saat itu. Aku melangkah karena umi sudah menunggu, tapi berhenti sejenak untuk berbalik badan dan naik ke atas sekedar ingin mengetahui suara apa itu.
Setelah itu terdengar banyak suara ramai yang berkata “Ada apa? Ya Allah... dan tolong bantu!”. Aku rasa ada sesuatu yang aneh. Aku teringat Haura... dan segera berbalik badan dan naik ke atas tangga. Aku lihat sudah banyak kerumunan orang disana. Ya Allah ada apa ini? Saat aku berusaha menerobos dan bertanya pada seorang ibu, ibu itu memberikan jawaban yang sangat mencemaskanku. “Saya juga kurang tahu nak! Tapi katanya seorang gadis yang tiba-tiba pingsan...”. Ya Allah... mudah-mudahan itu bukan Haura sahabat hamba ya Allah. Dan setelah harus melewati dua orang lagi, aku berusaha untuk mengetahui siapa yang pingsan itu. Wajahnya tertutup jilbab, setelah aku berusaha melihatnya lebih dekat.
Hatiku terguncang! Kala mata ini memandang wajah orang yang sangat ku sayangi tertidur cantik nan lemas. Ya Allah, Haura-ku...! Inna lillahi... saat itu aku meminta ibu-ibu yang ada disana untuk mengangkat Haura. Karena aku yakin jika Haura tahu jika yang mengangkatnya bukan mahramnya tentu dia kan kecewa. Aku memegang kepalanya dan menaikkannya pada sebuah mobil. Saat itu dia tertidur di atas pangkuanku. Aku juga segera memberi tahu umi,dan umi  pun segera menyusul menuju rumah sakit. Ya Allah, ya Allah... hamba sangat memohon kepada Engkau, semoga Haura baik-baik saja. Sadarkanlah dia ya Allah, angkatlah segala penyakitnya ya Allah. Aku membelai wajahnya dan membacakan doa untuknya. Setelah kami sampai di rumah sakit, segera Haura dimasukkan ke ruangan UGD.
Setelah beberapa lama menunggu, akhirnya dokter keluar dan tersenyum. Dokter bilang, dia baik-baik saja dan sekarang sudah sadar. Sebelumnya Haura akan dialihkan ke ruangan yang lain. Akhirnya seorang suster menemuiku dan berkata bahwa dia sudah sadar dan aku diizikan untuk menjenguknya. Alhamdulillah ya Allah... Aku segera membuka pintu dan megucapkan salam. Dia menoleh dan tersenyum padaku. Lalu aku duduk di sebuah kursi disampingnya.
Ana    : “Hai ukhti, apa kabar?” tanyaku dengan lemas padanya.
Haura : “Hai juga saudariku tersayang... alhamdulillah aku baik-baik aja. Maaf ya sudah merepotkan.” Wajahnya yang begitu kelelahan memancarkan keluh kesahnya. Namun dia terkaku sibuk dengan mencemaskanku.
Ana     : “Alhamdulillah! Enggak papa Ra, aku senang sekali jika kamu sekarang baik-baik saja. Aku minta maaf ya... aku malah meninggalkan kamu sendirian.”
Haura : “Kenapa kamu minta maaf Na? Kamu mau menjemput umi kan? Oh iya, umi kamu sekarang dimana?”.
Ana    : “Oh umi sama ibu kamu sedang dalam perjalanan sekarang. Sebentar lagi mereka juga sampai... Ra, sebenarnya kamu tadi pingsan kenapa?”.
Haura : “Oh iya Na... terimakasih! Aku... cuma sakit maag aja kok Na. Tadi aku merasa sangat pusing dan akhirnya... aku tidak ingat apa-apa lagi.” ujarnya dengan tertawa.
Ana    : “Kamu ini yah! Makanya jangan suka terlalu kecapean. Jadinya waktu makan dan istirahatnya terganggu.”
Haura : “Iya Nana-ku yang cantik! Pasiennya jangan dimarahi terus dong. Tapi kenapa jilbab kamu begitu basah?”.
Ana    : “Apa? Emh, bukan apa-apa kok. Tadi kena air...”.
Haura : “Air, air mata ya?”.
Ana    : “(Tertunduk senyum) Mungkin iya...”
Haura : “Ya Allah... sampai basah seperti itu. (menangis dan menatapku teduh) Aku minta maaf Na, maaf jika sudah membuat kamu khawatir...”. Dia berusaha bangkit untuk duduk.
Ana    : “Enggak enggak. Kamu jangan nangis, kamu harus minta maaf sama ibu kamu nanti. Tolong kamu jangan seperti ini.”
Haura : “Iya... aku juga minta maaf untuk apa yang akan terjadi nanti diantara kita...”
Ana    : “Maksud kamu apa? Kenapa udah di rencanakan mau buat kesalahannya ya?” sindirku padanya.
Haura : “Enggak gitu, maksudnya kan nanti tanpa aku tahu dan aku sadar pastinya aku mempunyai kesalahan sama kamu...” jawabnya dengan tergesa.
Ana    : “Iya iya deh... kamu benar! Aku mohon ya sama kamu, jangan telat makan lagi, istirahat yang cukup dan jangan menyembunyikan sesuatu yang penting!”
Haura : “Iya insyaallah, tapi maksudnya jangan menyembunyikan sesuatu yang penting apa?”
Ana    : “Ya apapun yang penting untuk diketahui orang lain...”
Dia tersenyum dan menganggukkan kepala. Aku merasa ada sesuatu yang sedang ia sembunyikan dariku. Apa hanya penyakit maag saja ia sampai jatuh pingsan? Belakangan ini aku perhatikan kesehatannya, memang sangatlah surut. Sekarang dia agak kurus! Apa karena terlalu sibuk di organisasi ya jadi dia kurang istirahat? Aku tak pernah tahu apa yang dia sembunyikan dari kami semua. Hingga Haura sering pingsan dan terbukalah semuanya saat dokter berkata jujur kepada kami. Ternyata Haura mengidap penyakit Alzheimer. Kami semua kaget dan sebenarnya kami kurang tahu apa itu penyakit Alzheimer? Dokter bilang penyakit ini adalah penyakit yang tidak terlalu berbahaya, namun sangat fatal! Penyakit ini diakibatkan oleh tersumbatnya peredaran darah di batang otak oleh protein. Penyakit ini juga bisa diturunkan. Ada kemungkinan bahwa Haura mengidap penyakit ini merupakan turunan dari kakeknya yang juga mengidap penyakit ini. Dan apa yang disebut sangat fatal? Penyakit ini dapat menghapus memori orang yang mengidapnya. Bahkan semua memori! Dokter bilang biasanya orang yang mengidap Alzheimer perlahan akan melupakan hal yang sepele terlebih dahulu, dan orang-orang yang baru ia kenal, baru ia ingat. Dan lama kelamaan ia bahkan bisa melupakan keluarganya dan yang paling miris adalah lupa akan dirinya sendiri.
Setelah Haura kembali ke rumahnya dan tertidur di kamarnya, aku datang dengan langkah pelan dan menatap cemas wajahnya. Aku perlahan duduk disampingnya. Tanpa ku sadar, air mata ini mengalir. Sungguh ku tak sanggup melihatnya tertidur dengan wajah pucat dan lelah. Sesekali wajahnya meringis dan alis matanya mengkerut... sepertinya dia tengah mimpi buruk.
Ana    : “Ra, Haura... Haura?” panggilku untuk membangunkannya dari wajahnya yang gelisah.
Perlahan ia membuka matanya yang sayup dan melihat wajahku dengan kaku. Seakan berat dan sakit saat dia membuka matanya. Dia hanya terdiam kala menatapku.
Ana    : “Bisakah kamu... mengenaliku?” tanyaku dengan terbata-bata.
Dia tetap terdiam dan lemas pandangannya! Aku tertunduk dan menahan air mataku.
Ana    : “Tidak masalah. Asalkan aku bisa mengenalimu, itu cukup.”
Setelah itu dia menutup matanya kembali dengan lembut. Aku kaget dan segera membangunkannya lagi dengan memegang pundaknya.
Ana    : “Haura... Haura!”
Alhamdulillah dia terbangun dan menatapku. Air mataku menetes mendarat ditangannya.
Haura : “Apa ini sungguhan?” ujarnya dengan terbata.
Ana    : “Apa maksud kamu?” tanyaku dengan segera.
Haura : “Ini bukanlah bayangan? Apa benar-benar Ana?”
Ana    : “Ini bukanlah bayangan! Aku telah datang untuk menemuimu”.
Dia tersenyum dengan bibirnya yang pecah-pecah. Dia masih tersenyum dan menanti balasan senyuman dariku. Aku juga tersenyum untuknya. Dan air matanya yang tertampung oleh sudut matanya mengalir jatuh pada pelipisnya saat dia tersenyum.
Ana    : “Aku benar-benar bodoh, bukan? Aku tidak tahu sahabatku sendiri sedang sakit. Bagiku, sahabat terindahku adalah kamu Haura, kamulah orang itu. Karena itu lekas sembuh ya, dan segera kembali kesisiku lagi!”.
Haura : “Ana?”
Ana    : “Iya, katakanlah!”
Haura : “Aku benar-benar minta maaf”.
Ana    : “Untuk apa?”
Haura : “Di hari-hari selanjutnya, aku tidak bisa mengenali kamu... mungkin saat nanti kita akan bertemu lagi, aku akan menganggap kamu orang lain! Aku benar-benar minta maaf! Aku mungkin juga akan bersikap kasar dan acuh. Aku benar-benar minta maaf”.
Ana    : “Sungguh aku juga mohon maaf atas hal ini.”
Haura : “Semuanya, adalah kesalahanku! Aku sama sekali tidak menyalahkanmu. Jadi, apapun yang terjadi tolong jangan salahkan dirimu sendiri. Ana?”
Ana    : “Iya, jangan ditahan! Katakanlah semua yang ingin kamu sampaikan.”
Haura : “Setelah aku bertemu dengan kamu, aku benar-benar sangat bahagia.”
Ana     : “Mulai dari sekarang, kamu akan lebih bahagia lagi! Jangan katakan hal semacam itu.”
Kami saling berpandangan, dia seolah berkata baik-baik saja dengan senyumannya. Tapi aku tak bisa menyembunyikan kesedihanku ini! Tapi didepannya, aku selalu membalas senyumnya. Aku tidak ingin dia seperti ini. Sahabatku yang ceria, dan humoris ini sekarang lemas dan sedih. Tak apa jika memang nanti aku akan dilupakannya.Tak apa, sungguh tak apa. Asalkan dia segera sembuh dan kembali lagi seperti Haura yang aku kenal, itu doaku.
Setiap hari dari sekarang serasa lebih berharga. Memang dia sekarang masih Haura-ku. Dan benar, setiap hari dia mulai melupakan sesuatu hal yang sepele. Setelah beberapa minggu, sempat dia lupa alamat rumahnya saat pulang naik angkot. Saat dia pulang sekolah, dia tidak menunggu aku. Aku khawatir denganya, ibunya telah menitipkannya kepadaku saat di sekolah, dan ketika pulang biasanya dia bersamaku. Namun saat itu dia pulang duluan! Akhirnya setelah lama aku mencarinya, aku melihat dia termenung sendiri di bangku taman kota. Saat aku tanya, dia hanya terdiam dan nampak bingung menjawabnya. Akhirnya ku merangkulnya dan mengantarnya pulang ke rumah. Tapi subhanallah! Dalam masalah ilmu, hafalannya masih kuat. Namun semua orang belum mengetahui apa yang terjadi pada Haura. Terkecuali para guru yang bersangkutan. Dia tetap menjadi motivatorku, walaupun memang sering ia lupa istilah-istilah Islam yang ingin ia sampaikan. Dia sering meminta maaf kala itu, saat dia lupa apa yang akan disampaikannya. Seperti biasanya juga, kami sangat menikmati makan bersama didalam kelas. Dia yang selalu membawa nasinya, dan aku yang memawa lauk pauknya. Kami sangat suka tempe, dan setelah itu membeli cilok jika sempat. Hah masyaallah sangat indah bila membayangkannya. Kami saling memberi tahu ika ada sesuatu yang membuat aurat kami terlihat. Kita sama-sama dalam berusaha menjadi seorang gadis yang sesungguhnya. Bukan dengan hura-hura dan memuaskan keinginan kami dengan pergaulan yang bebas dan so asyik dengan lawan jenis. Dengan fashion kami juga kenal, dan menggunakannya. Namun kami tidak dikuasai olehnya! Kamilah yang menciptakan fashion sesuai aturan-Nya. 



Tidak ada komentar:

Posting Komentar