Kata sahabat adalah
salah satu kata yang terindah di dunia. Setiap orang pasti membutuhkan dan
mempunyai seorang sahabat. Tapi sebenarnya sahabat dalam Islam itu seperti apa?
Pertanyaan itu seiring waktu terjawab dengan pengalamanku. Tanpa terasa hampir
empat bulan lagi menuju ujian nasioal. Hah, rasanya itu campur aduk. Ujian
nasionah sungguh penuh rahasia dan kejutan.
Rahasia. Ya kata
ini lumayan menyebalkan disaat hubungan antara sahabat ada rahasia. Memang
benar, setiap orang mempunyai hak privasi! Termasuk Haura. Tapi yang paling
membuatku penasaran dan dilanda dilema, rahasia yang dimilikinya tanpa dia
sadar selalu dibicarakan. Dia tiba-tiba berbicara tentang sesuatu yang tidak
jelas, dan ketika aku bertanya tentang apa, atau kenapa, dia langsung bilang
RAHASIA! Ya... atau dia membicarakan hal lain yang dapat mengalihkan
perhatianku. Dia memang pintar! Terkadang tanpa sengaja aku lihat di kelas, dia
sendiri asyik menulis di buku bindernya. Dia tiba-tiba tertawa dan menangis
tersedu. Seperti biasanya, bila aku tanya ada apa dan segera menghampirinya dia
selalu bilang “aku nggak papa kok Ana...” dengan senyuman palsunya. Seberapa
kuat aku mencoba menguak membuka arti senyumannya itu, bertambah pintarnya lagi
Haura membuat aku tak ingin lagi mengetahuinya.
Tidak terasa masa
liburan semester ganjil hampir usai. Jadi kangen banget ketemu sama temen-temen
semuanya! Dan gak mungkin lupa juga mulai januari ini akan mulai lebih fokus
untuk persiapan ujian nasional. Aku jadi ingat Haura. Gak sabar ingin ketemu
sama dia, dan janji dia akan memberi tahu aku rahasianya. Hingga akhirnya buku
bindernya yang datang padaku. Ibunya Haura yang membawakannya padaku dengan
ditemani oleh adik perempuan Haura yang cantik. Umi duduk disampingku dengan
cemas, karena melihat ibu Asiyah menangis. Aku pun bingung dan sedih
melihatnya. Karena selama ini hubungan aku dengan Haura baik-baik saja, dan
kami masih setiap hari berkomunikasi. Ibunya menceritakan bahwa sudah satu
minggu ini Haura dirawat di rumah. Dan dia menitipkan surat dokter, karena
Haura besok tidak bisa masuk sekolah.
Bagaimana bisa?
Padahal setiap harinya aku berkomunikasi sama dia. Setiap hari pula kami saling
bertegur sapa dan kabar. Dia selalu berkata “Alhamdulillah sehat wal’afiat!”.
Kami selalu sms-an setiap kali saling memberi tahu tau mengingatkan waktu
shalat. Tapi memang dikala aku menelponnya, dia selalu mematikannya atau tidak
mengangkatnya. Dan dia meminta maaf dengan alasan ada di jalan atau tengah
shalat. Ketika aku menanyakannya, adiknya menangis dan meminta maaf. “Maafkan
saya kak! Selama ini yang selalu membalas pesan dari kakak adalah saya. Karena
kakak saya...”. Bu Asiyah langsung menyela dan berkata bahwa beliau yang
menyuruh adiknya Haura yang membalas pesan karena Haura sulit menekan tombol handphonenya.
Akhirnya mereka berpamitan dan salam. Kala aku masih termenung, adiknya yang
memberikan buku binder Haura padaku. Saat aku bingung dan menatap mata adiknya
dan ibunya disisi motornya, mereka tersenyum. “Tolong bantu kak Haura ya, kak
Ana...” ujar adiknya.
Walaupun dari dulu
aku begitu menginginkan untuk membaca binder ini, tapi perhatianku lebih
tertuju pada keadaan Haura yang tengah sakit sekarang. Lalu umi datang dan
memelukku dari belakang. “Umi juga akan menangis jika kamu sakit dan sedih...” suara
lirih umi menggoyahkan perhatianku. Aku langsung membalikkan badanku dan
membalas pelukan umi padaku. Walaupun umi bukan ibu kandungku, tapi umi adalah
malaikat yang sengaja Allah turunkan padaku. “”Umi... Ana juga akan lebih
menangis bila Umi sakit dan tersakiti oleh Ana...”. Saat aku memeluk umi,
hangat sekali rasanya! Pelukan umi dapat melupakan pahitnya masa laluku. Namun
aku juga tentunya tidak akan pernah melupakan ayah dan bunda disana. Karena
Allah telah memanggil mereka, karena teramat sangat Allah mencintai mereka
berdua, maka aku akan lebih tenang. “Umi harap kamu lekas tidur, karena besok
awal kamu masuk sekolah! Jangan sampai kesiangan lagi ya, anak umi yang
shalihah”. “Iya amiiin umi...” senyumku ini mengantar umi sampai umi menutup
pintu kamar.
Hari pertama
sekolah begitu menyibukkan. Setiap kali teman-teman bertanya kemana Haura,
setiap itu pula aku merindukannya! Apalagi ketika belajar, biasanya dia ada
disisiku dan berdiskusi bersama. Kami semua ingin sekali menjenguk Haura
dirumahnya, namun beberapa hari ini memang bayak sekali tugas dan kesibukan
masing-masing. Jadi kami semua memutuskan antara hari jumat atau sabtu.
Alhamdulillah, selesai pulang sekolah dan shalat Ashar aku punya waktu untuk
istirahat sebentar. Aku teringat binder Haura yang ingin aku baca. Aku
memegangnya dan sangat senang juga ragu untuk membukanya. Gambar bunga warna
merah dan seorang gadis bergaun panjang menjadi cover bindernya. Tanganku terus
tertuntun untuk membukanya, bismillah aku memulainya.
Di bagian awal adalah
identitas Haura, dan banyak kata-kata mutiara. Setiap lembar selalu ada kata
ALLAH dalam huruf Arab. Banyak biografi atau hanya sekedar biodata tokoh atau
ulama Indonesia yang dia tulis beserta motto hidupnya. Dan tak lupa Haura
menulis banyak pengalamannya, dan catatan kecil untuk Allah Swt.. Aku terlalu
asyik masuk ke dalam dimensi kehidupan Haura. Lama semakin lama aku membaca
kisah hidupnya yang indah dan mengharukan. Yang membuatku cemas adalah, saat
dia menceritakan rasa sakit dan pusing. Dan kisah seorang pemuda yang dia
kagumi, dia adalah kak Arfan.
Sahabatku ini
mengagumi kak Arfan, karena dia memiliki kemiripan dengan orang yang pernah dia
sayangi, Rayhan. Rayhan memang pantas mendapatkan perhatian dan rasa sayang
dari gadis sespesial Haura. Ternyata dia adalah pacar Haura waktu di SLTP. Dia
adalah ketua IRMA dan aktivis dakwah di sekolahnya. Bisa dibilang dia
benar-benar idamannya Haura. Bila dalam telpon mereka selalu berdiskusi masalah
pelajaran dan agama. Ya bisa dibilang mereka adalah saingan dalam ranking
dikelasnya. Saat kelas dua semester satu, IRMA dan OSIS mengadakan acara Maulid
Nabi Saw., dan mereka berdua menjadi salah satu panitia penyelenggara. Saat itu
yang menjadi penceramahnya adalah pamannya Rayhan. Namun atas suratan takdir dari
Allah Swt., motor Rayhan mengalami kecelakaan lumayan parah ketika akan
menjemput pamannya. Dan alhamdulillah Rayhan selamat, namun mengalami luka yang
cukup parah karena kepalanya terbentur cukup keras pada batu, didalam sebuah
selokan yang cukup dalam.
Namun dalam keadaan
yang kesakitan dan berdarah, dengan dibantu oleh warga sekitar, Rayhan
memaksakan diri untuk bangun dan melanjutkan perjalanannya. Alhamdulillah
dengan perjuangan dan pengorbanan Rayhan, acara maulid nabi pun terlaksana
lancar dan sukses. Namun dari hari ke hari kesehatan Rayhan semakin memburuk.
Orang tuanya dari kampung datang menjemput ke pondok pesantrennya. Setelah lama
dirawat di rumah sakit untuk sekian minggunya, ternyata Rayhan telah dipanggil
oleh Allah Swt. Karena pendarahan di otaknya dan sebelumnya terlambat ditangani
oleh dokter maka alasan itulah yang dapat dimengerti oleh keluarga. Namun
masalah kecelakaan itulah yang tidak dapat diterima oleh keluarga, karena
Rayhan tidak pernah memberi tahunya. Jangankan keluarganya yang jauh, teman di
pesantrennya pun tidak mengetahuinya.
Haura menangis
dalam sujudnya, dan mengamalkan apa yang telah diberikan ibu Rayhan untuknya.
Sebuah tasbih berwarna putih. “Nak Haura, Rayhan telah menitipkan ini untuk nak
Haura, sesaat sebelum dia menghembuskan nafasnya yang terakhir...”. Sekarang
aku tahu, kenapa dia sedih atau marah pada dirinya sendiri kalau tasbih itu
tertinggal dirumah. Dengan tasbih itu, adalah cara untuk bertaqarrub kepada
Allah dan ingat akan kata mati. Sejak itu, dia tidak pernah berpacaran lagi,
tidak hanya jera atau karena masa lalunya, namun dia akan lebih memfokuskan
perhatiannya pada cita-citanya, seorang mujahidah...!
Dan yang paling
membuatku terharu adalah adanya kisahku didalam bindernya. Ceritaku adalah
cerita yang membuatnya kembali menulis di bindernya, setelah lama dia menutup
binder kesayangannya karena cerita Rayhan. Setelah ku lihat terakhir kali dia
menulis di bindernya adalah 26 Januari 2009. Dan dia menulis lagi pada tanggal
29 Juli 2011. Dan dia menulis tentang aku, Marsha yang bermetamorfosa menjadi
Ana Lathifa Maryam. Padahal dulu aku membencinya, aku adalah orang yang
menyebalkan dan sering menyakiti orang lain, ya termasuk Haura. Namun dia
menganggapku spesial di hidupnya dan dia menulis sesuatu yang sangat membuatku
terkejut, “Dia bagai bunga kertas! Wataknya keras namun mudah patah juga bila
tertebak angin, hemmm aku tertarik pada gadis ini! Aku takan menyerah untuk
menghadapinya. Aku akan terus disampingnya dan menuntunnya pada fitrahnya.
Marsha, jangan pernah menyerah yah! Kamulah rahasiaku untuk terus berlari,
walau berjalan pun raga ini kesakitan dan lemas. Karena aku yakin ada jiwa
muslimah yang hebat yang kamu sembuyikan, dan untuk menggantikanku untuk
berdiri di medan laga ini...”.
Dalam setiap lembarnya,
selalu ada kata “Allah” dalam huruf arab dan disusul dengan kata “Muhammad”.
Dan dibawahnya terdapat sebuah kalimat yang berukuran kecil. Apa Haura sengaja
menulis huruf sekecil ini? Dengan susah payah aku membaca apa yang dia torehkan
di lembar looseleaf yang berwarna merah muda. “Ya Allah, hamba tidak ingin
melupakan nama Engkau selamanya dihidupku! Juga nama Rasulullah Saw. Karena
Engkau dan Rasulullah adalah cinta hamba. Hamba tidak bisa bertahan jika hamba
melupakannya... hamba takut, sungguh takut jika hamba lupa. Ampuni hamba ya
Allah... hamba tidak ingin seperti ini. Perlahan hamba mulai melupakan hal-hal
yang kecil. Dan semakin lama aku mulai melupakan hal-hal yang penting bagiku.
Hamba tak peduli jika hamba lupa akan siapa hamba ini, asalkan hamba tidak
melupakanmu! Jika benar tentang akibat dari penyakit ini adalah hamba akan
melupakan semuanya, segalanya, berarti hamba kehilangan akan ingatan hamba. Ya
Allah, selama ini hamba telah berusaha untuk menjadi yang terbaik dan menjadi
mujahidah-Mu. Namun mungkin ilmu ini jua akan hilang dan pergi...hamba tidak
tahu kapan dan dimana itu akan terjadi! Hamba hanya bisa berpasrah diri dan
berdoa kepada Engkau ya Allah!”
Sungguh! Aku
benar-benar tidak mengerti apa yang dituliskan oleh Haura. Hilang ingatan? Apa,
kenapa? Sekarang memang dia sedang sakit. Namun dia tidak hilang ingatan. Dia
hanya... seketika itu aku teringat banyak kejadian disaat aku bersamanya.
Ana : “Kamu gak
biasanya bawa handphone ke kelas?”
Haura : “Apa? Oh ada Ana disini! Na, kita photo-photoan yuk!”
Ana : “Eh ada apa nih?
Biasanya kamu yang gak mau d photo, dan sekarang kamu ajak aku photo bersama?”
Haura : “Emmmh, ya udah kalau nggak mau.”
Ana : “Eh eh...jangan
ngambek dong ra! Iya iya... ayo kita photo bersama.”
Setelah beberapa snapshot, dia
bergaya yang lain dari biasanya. Dia juga lupa akan pengumpulan tugas dan
banyak hafalan-hafalannya. Dia sering lupa hari dan tanggal, bahkan dimana dia
menyimpan mukenanya. Padahal dia adalah salah satu orang yang sangat tajam ingatannya!
Bahkan dia juga kadang memanggilku dengan nama Marsha. Disaat dia berbicara
didepan kelas baik itu dalam acara diskusi atau acara diluar sekolah, dia
selalu lupa apa yang akan disampaikan, atau pulang sebelum acara penting
dimulai. Hal itu membuat prestasinya menurun dan para guru kecewa. Karena Haura
salah satu murid kebanggaan mereka!
Ana
: “Kenapa kamu ingin berphoto bersamaku
secara tiba-tiba?”
Haura : “Itu, itu karena aku tidak mau melupakanmu! Aku ingin
terus mengingat kamu sebagai sahabat baikkku...apa itu nggak boleh yah? Aku
Cuma ingin punya sesuatu dari kamu, setidaknya untuk nanti setelah kita sudah
lulus dari aliyah ini...”
Dan segera dia memalingkan wajahnya
dan melihat kembali melihat hasil dari beberapa photo kami. Ya Aku pikir dia
bercanda mengatakan hal itu... dan memang iya kan? Dia selalu menuliskan
peristiwa penting saat hari-harinya bersamaku di sekolah. Dia senang jika aku membuatkannya puisi indah atau kalighrafi
arab untuknya. Dia memang beberapa bulan ini sering lupa sesuatu yang penting...
Aku pernah
mendengar dia berkata yang baru aku mengerti sekarang. “Ya Allah... jika hamba
nanti akan melupakan semuanya, hamba harap nanti hamba tidak akan kehilangan
ingatan hamba tentang Engkau ya Allah... nama Engkau! Juga nama Muhammad
Rasulullah saw., hamba tidak ingin kehilagan semua itu ya Allah”. Isak
tangisnya mendesah kala di mushala, saat dia shalat dhuha duluan. Dulu aku
bingung dengan kalimat itu. Dan aketika aku akan menanyakannya, dia menyapaku
terlebih dulu dan aku baru ingat sekarang. Ya Allah, sahabatku ini begitu
mencintai Engkau dan Rasulullah. Salah satu bukti rasa cintanya, dia berusaha
agar hamba berjalan dalam kebenaran. Mungkin tanpa perantaranya. Hamba akan
tetap menjadi Marsha yang tidak mengenal Tuhannya dan agamanya. Walaupun hamba
belum memahami sepenuhnya, hamba mohon ya Allah... kabulkanlah doa sahabat
hamba... hamba sangat menyayanginya.
Membaca kisah Haura, aku
jadi teringat dengan seseorang. Di sudut kelas aku hanya menangis. Tak ada
orang yang ada disampingku. Ataupun yang hanya lewat dan bertanya. Aku melihat
mereka semua teman di kelas SD-ku bersenang-senang dan tertawa dalam acara naik
kelas dan kelulusan kelas enam. Lalu ada seorang anak laki-laki yang lewat, aku
tidak mempedulikannya dan aku pikir dia hanya lewat saja. Ternyata dia ada
dihadapanku dan ikut jongkok bersamaku. Dia menatapku dan menghapus air mata
dipipiku dengan sapu tangan yang dia miliki. Dia mengeluarkan sapu tangan berwarna
putih itu dari saku celananya, dan ada jahitan namanya yang berwarna merah.
Namanya adalah “Arfan”, dia bagaikan pangeran yang selalu ada di mimpiku.
Sepertinya dia kakak kelasku disini, tapi kelas berapa ya? Tiba-tiba datanglah
empat orang teman sekelasku yang karena mereka aku menangis. Mereka datang
kembali untuk menjailiaku lagi! “Lihat dia menangis! Kamu itu anak yang cengeng
Marsha! Kamu cuma bisanya nangis kan? Itu sebabnya kan mama papa kamu tidak
datang? Mereka malu punya anak cengeng kayak kamu!” katanya dengan membentak.
Lalu pangeranku ini
terbangun dan menghadapi mereka! Dia berdiri tegap dan berkata dengan sikap
badan kuda-kuda, “Apa kalian tahu aku bisa karate?”. Mereka semua kaget dan
ketakutan karena mereka tahu bahwa ternnyata penolongku ini adalah atlet
karate. Saat itu aku ketakutan. Dia yang tersenyum padaku dan berkata, “Jangan
takut de! Kakak gak jago karate kok!” ucapnya untuk menenangkanku. Saat itu aku
kelas dua SD, aku masih anak kecil! Aku hanya bisa diam dan menangis bila dijaili.
Terlebih jika mereka bertanya padaku tentang mama dan papa. Aku hanya bisa
diam, terserah mereka akan bicara apa. Waktu itu aku tidak mau mereka semua
tahu bahwa mama papaku sudah tiada. Yang selalu hadir adalah kak Nisa, walaupun
selalu hadir terlambat ke sekolah.
Saat aku ingin berbicara
pada penolongku, dia dipanggil oleh orangtuanya. Dia segera meminta maaf padaku
karena harus menemui orangtuanya, dan berlalu setelah mengucapkan salam. Aku
terus memandangnya sampai dia tidak terlihat lagi dimataku. Entah apa perasaan
ini! Aku merasa nyaman dan tenang disampingnya. Dia bagai kakakku. Aku sadar
setelah beberapa langkah berjalan, bahwa sapu tangannya masih ada digenggaman
tanganku sekarang. Saat aku melihat ke arahnya berlalu, sudah terlalu lama dia pergi.
Saat aku akan berbalik dan mengembalikannya, kak Nisa datang dengan masih
mengeakan pakaian SMA-nya. Dia memanggilku danmeminta maaf karena terlambat
lagi lagi dan lagi seperti biasanya. Aku hanya tersenyum padanya dan kak Nisa
memegang tanganku dan menciumnya.
Semenjak hari itu aku
selalu menjaga sapu tangan ini. Aku berharap semoga saja Allah mempertemukan
kembali. Walaupun hanya untuk mengembalikan sapu tangan ini. Mungkin sapu
tangan ini berharga baginya, karena pada sapu tangan ini ada jahitan namanya.
Mungkin saja ini jahitan ibunya? Ya Allah... jaga hati hamba. Disatu sisi hamba
ingin mengembalikannya, tapi jika terdapat keinginan hamba yang melenceng dari
niat baik yang telah tergariskan. Hamba bertawakkal kepada Engkau ya Allah...!
Inilah rahasiaku. Rahasiaku terhadap seseorang dimasa laluku.
Hari ini ada pengajian di mesjid agung kota. Aku, Haura
dan yang lainnya mengusahakan untuk hadir kesana. Setelah usai pengajian, kami
semua berkumpul di mesjid dan shalat dzuhur berjama’ah. Rasanya masyaallah
sangat damai dan tenang. Seusai shalat sunat rawatib ba’da dzuhur, satu persatu
dari kami pulang. Tinggallah aku dan Haura tinggal di mesjid. Masih membicarakan
materi yang telah disampaikan oleh mubalig. Terkadang ketika kami sedang
berbicara, Haura tiba-tiba diam dan mengkerutkan keningnya. Saat aku tanya
kenapa, dia berusaha tersenyum dan berkata tidak apa-apa. Saat itu aku menerima
telepon dari umi. Aku harus menjemput umi di salah satu teman umi. Akhirnya aku
berpamitan pada Haura. Entah kenapa, aku merasa berat untuk meninggalkan Haura.
Tapi dia bilang, sebentar lagi dia juga akan pulang karena ayahnya akan
menjemputnya segera. Aku pun tenang setelah mendengarnya. Ketika kami selesai
bersalaman dan melambaikan tangan, aku
berbalik badan dan melangkah turun menuju tangga. Setelah turun beberapa
langkah, terdengar suara “bruk!!!”. Ya Allah! Aku terkejut... itu suara apa ya?
Aku bimbang saat itu. Aku melangkah karena umi sudah menunggu, tapi berhenti
sejenak untuk berbalik badan dan naik ke atas sekedar ingin mengetahui suara
apa itu.
Setelah itu terdengar banyak suara ramai yang berkata “Ada
apa? Ya Allah... dan tolong bantu!”. Aku rasa ada sesuatu yang aneh. Aku
teringat Haura... dan segera berbalik badan dan naik ke atas tangga. Aku lihat
sudah banyak kerumunan orang disana. Ya Allah ada apa ini? Saat aku berusaha
menerobos dan bertanya pada seorang ibu, ibu itu memberikan jawaban yang sangat
mencemaskanku. “Saya juga kurang tahu nak! Tapi katanya seorang gadis yang
tiba-tiba pingsan...”. Ya Allah... mudah-mudahan itu bukan Haura sahabat hamba
ya Allah. Dan setelah harus melewati dua orang lagi, aku berusaha untuk
mengetahui siapa yang pingsan itu. Wajahnya tertutup jilbab, setelah aku
berusaha melihatnya lebih dekat.
Hatiku terguncang! Kala mata ini memandang wajah orang
yang sangat ku sayangi tertidur cantik nan lemas. Ya Allah, Haura-ku...! Inna
lillahi... saat itu aku meminta ibu-ibu yang ada disana untuk mengangkat Haura.
Karena aku yakin jika Haura tahu jika yang mengangkatnya bukan mahramnya tentu
dia kan kecewa. Aku memegang kepalanya dan menaikkannya pada sebuah mobil. Saat
itu dia tertidur di atas pangkuanku. Aku juga segera memberi tahu umi,dan
umi pun segera menyusul menuju rumah
sakit. Ya Allah, ya Allah... hamba sangat memohon kepada Engkau, semoga Haura
baik-baik saja. Sadarkanlah dia ya Allah, angkatlah segala penyakitnya ya
Allah. Aku membelai wajahnya dan membacakan doa untuknya. Setelah kami sampai
di rumah sakit, segera Haura dimasukkan ke ruangan UGD.
Setelah beberapa lama menunggu, akhirnya dokter keluar dan
tersenyum. Dokter bilang, dia baik-baik saja dan sekarang sudah sadar. Sebelumnya
Haura akan dialihkan ke ruangan yang lain. Akhirnya seorang suster menemuiku
dan berkata bahwa dia sudah sadar dan aku diizikan untuk menjenguknya.
Alhamdulillah ya Allah... Aku segera membuka pintu dan megucapkan salam. Dia
menoleh dan tersenyum padaku. Lalu aku duduk di sebuah kursi disampingnya.
Ana : “Hai ukhti, apa kabar?” tanyaku dengan
lemas padanya.
Haura : “Hai juga
saudariku tersayang... alhamdulillah aku baik-baik aja. Maaf ya sudah
merepotkan.” Wajahnya yang begitu kelelahan memancarkan keluh kesahnya. Namun
dia terkaku sibuk dengan mencemaskanku.
Ana : “Alhamdulillah! Enggak papa Ra, aku
senang sekali jika kamu sekarang baik-baik saja. Aku minta maaf ya... aku malah
meninggalkan kamu sendirian.”
Haura : “Kenapa kamu
minta maaf Na? Kamu mau menjemput umi kan? Oh iya, umi kamu sekarang dimana?”.
Ana : “Oh umi sama ibu kamu sedang dalam
perjalanan sekarang. Sebentar lagi mereka juga sampai... Ra, sebenarnya kamu tadi
pingsan kenapa?”.
Haura : “Oh iya Na... terimakasih!
Aku... cuma sakit maag aja kok Na. Tadi aku merasa sangat pusing dan
akhirnya... aku tidak ingat apa-apa lagi.” ujarnya dengan tertawa.
Ana : “Kamu ini yah! Makanya jangan suka
terlalu kecapean. Jadinya waktu makan dan istirahatnya terganggu.”
Haura : “Iya Nana-ku
yang cantik! Pasiennya jangan dimarahi terus dong. Tapi kenapa jilbab kamu
begitu basah?”.
Ana : “Apa? Emh, bukan apa-apa kok. Tadi kena
air...”.
Haura : “Air, air mata
ya?”.
Ana : “(Tertunduk senyum) Mungkin iya...”
Haura : “Ya Allah...
sampai basah seperti itu. (menangis dan menatapku teduh) Aku minta maaf Na, maaf
jika sudah membuat kamu khawatir...”. Dia berusaha bangkit untuk duduk.
Ana : “Enggak enggak. Kamu jangan nangis, kamu
harus minta maaf sama ibu kamu nanti. Tolong kamu jangan seperti ini.”
Haura : “Iya... aku
juga minta maaf untuk apa yang akan terjadi nanti diantara kita...”
Ana : “Maksud kamu apa? Kenapa udah di
rencanakan mau buat kesalahannya ya?” sindirku padanya.
Haura : “Enggak gitu,
maksudnya kan nanti tanpa aku tahu dan aku sadar pastinya aku mempunyai
kesalahan sama kamu...” jawabnya dengan tergesa.
Ana : “Iya iya deh... kamu benar! Aku mohon ya
sama kamu, jangan telat makan lagi, istirahat yang cukup dan jangan
menyembunyikan sesuatu yang penting!”
Haura : “Iya
insyaallah, tapi maksudnya jangan menyembunyikan sesuatu yang penting apa?”
Ana : “Ya apapun yang penting untuk diketahui
orang lain...”
Dia tersenyum dan menganggukkan kepala. Aku merasa ada
sesuatu yang sedang ia sembunyikan dariku. Apa hanya penyakit maag saja ia
sampai jatuh pingsan? Belakangan ini aku perhatikan kesehatannya, memang
sangatlah surut. Sekarang dia agak kurus! Apa karena terlalu sibuk di
organisasi ya jadi dia kurang istirahat? Aku tak pernah tahu apa yang dia
sembunyikan dari kami semua. Hingga Haura sering pingsan dan terbukalah
semuanya saat dokter berkata jujur kepada kami. Ternyata Haura mengidap
penyakit Alzheimer. Kami semua kaget dan sebenarnya kami kurang tahu apa itu
penyakit Alzheimer? Dokter bilang penyakit ini adalah penyakit yang tidak terlalu
berbahaya, namun sangat fatal! Penyakit ini diakibatkan oleh tersumbatnya
peredaran darah di batang otak oleh protein. Penyakit ini juga bisa diturunkan.
Ada kemungkinan bahwa Haura mengidap penyakit ini merupakan turunan dari
kakeknya yang juga mengidap penyakit ini. Dan apa yang disebut sangat fatal?
Penyakit ini dapat menghapus memori orang yang mengidapnya. Bahkan semua
memori! Dokter bilang biasanya orang yang mengidap Alzheimer perlahan akan
melupakan hal yang sepele terlebih dahulu, dan orang-orang yang baru ia kenal,
baru ia ingat. Dan lama kelamaan ia bahkan bisa melupakan keluarganya dan yang
paling miris adalah lupa akan dirinya sendiri.
Setelah Haura kembali ke rumahnya dan tertidur di kamarnya,
aku datang dengan langkah pelan dan menatap cemas wajahnya. Aku perlahan duduk
disampingnya. Tanpa ku sadar, air mata ini mengalir. Sungguh ku tak sanggup
melihatnya tertidur dengan wajah pucat dan lelah. Sesekali wajahnya meringis
dan alis matanya mengkerut... sepertinya dia tengah mimpi buruk.
Ana : “Ra, Haura... Haura?” panggilku untuk
membangunkannya dari wajahnya yang gelisah.
Perlahan ia membuka matanya yang sayup dan melihat wajahku
dengan kaku. Seakan berat dan sakit saat dia membuka matanya. Dia hanya terdiam
kala menatapku.
Ana : “Bisakah
kamu... mengenaliku?” tanyaku dengan terbata-bata.
Dia tetap terdiam dan lemas pandangannya! Aku tertunduk dan
menahan air mataku.
Ana : “Tidak
masalah. Asalkan aku bisa mengenalimu, itu cukup.”
Setelah itu dia menutup matanya kembali dengan lembut. Aku
kaget dan segera membangunkannya lagi dengan memegang pundaknya.
Ana : “Haura...
Haura!”
Alhamdulillah dia terbangun dan menatapku. Air mataku menetes
mendarat ditangannya.
Haura : “Apa ini
sungguhan?” ujarnya dengan terbata.
Ana : “Apa maksud kamu?” tanyaku dengan segera.
Haura : “Ini bukanlah
bayangan? Apa benar-benar Ana?”
Ana : “Ini bukanlah bayangan! Aku telah datang
untuk menemuimu”.
Dia tersenyum dengan bibirnya yang pecah-pecah. Dia masih
tersenyum dan menanti balasan senyuman dariku. Aku juga tersenyum untuknya. Dan
air matanya yang tertampung oleh sudut matanya mengalir jatuh pada pelipisnya
saat dia tersenyum.
Ana : “Aku benar-benar bodoh, bukan? Aku tidak
tahu sahabatku sendiri sedang sakit. Bagiku, sahabat terindahku adalah kamu
Haura, kamulah orang itu. Karena itu lekas sembuh ya, dan segera kembali kesisiku
lagi!”.
Haura : “Ana?”
Ana : “Iya, katakanlah!”
Haura : “Aku
benar-benar minta maaf”.
Ana : “Untuk apa?”
Haura : “Di hari-hari
selanjutnya, aku tidak bisa mengenali kamu... mungkin saat nanti kita akan
bertemu lagi, aku akan menganggap kamu orang lain! Aku benar-benar minta maaf!
Aku mungkin juga akan bersikap kasar dan acuh. Aku benar-benar minta maaf”.
Ana : “Sungguh aku juga mohon maaf atas hal
ini.”
Haura : “Semuanya,
adalah kesalahanku! Aku sama sekali tidak menyalahkanmu. Jadi, apapun yang
terjadi tolong jangan salahkan dirimu sendiri. Ana?”
Ana : “Iya, jangan ditahan! Katakanlah semua
yang ingin kamu sampaikan.”
Haura : “Setelah aku
bertemu dengan kamu, aku benar-benar sangat bahagia.”
Ana : “Mulai dari sekarang, kamu akan lebih
bahagia lagi! Jangan katakan hal semacam itu.”
Kami saling berpandangan, dia seolah berkata baik-baik saja
dengan senyumannya. Tapi aku tak bisa menyembunyikan kesedihanku ini! Tapi
didepannya, aku selalu membalas senyumnya. Aku tidak ingin dia seperti ini.
Sahabatku yang ceria, dan humoris ini sekarang lemas dan sedih. Tak apa jika
memang nanti aku akan dilupakannya.Tak apa, sungguh tak apa. Asalkan dia segera
sembuh dan kembali lagi seperti Haura yang aku kenal, itu doaku.
Setiap hari dari sekarang serasa lebih berharga. Memang dia
sekarang masih Haura-ku. Dan benar, setiap hari dia mulai melupakan sesuatu hal
yang sepele. Setelah beberapa minggu, sempat dia lupa alamat rumahnya saat
pulang naik angkot. Saat dia pulang sekolah, dia tidak menunggu aku. Aku
khawatir denganya, ibunya telah menitipkannya kepadaku saat di sekolah, dan
ketika pulang biasanya dia bersamaku. Namun saat itu dia pulang duluan!
Akhirnya setelah lama aku mencarinya, aku melihat dia termenung sendiri di
bangku taman kota. Saat aku tanya, dia hanya terdiam dan nampak bingung
menjawabnya. Akhirnya ku merangkulnya dan mengantarnya pulang ke rumah. Tapi
subhanallah! Dalam masalah ilmu, hafalannya masih kuat. Namun semua orang belum
mengetahui apa yang terjadi pada Haura. Terkecuali para guru yang bersangkutan.
Dia tetap menjadi motivatorku, walaupun memang sering ia lupa istilah-istilah
Islam yang ingin ia sampaikan. Dia sering meminta maaf kala itu, saat dia lupa
apa yang akan disampaikannya. Seperti biasanya juga, kami sangat menikmati
makan bersama didalam kelas. Dia yang selalu membawa nasinya, dan aku yang
memawa lauk pauknya. Kami sangat suka tempe, dan setelah itu membeli cilok jika
sempat. Hah masyaallah sangat indah bila membayangkannya. Kami saling memberi
tahu ika ada sesuatu yang membuat aurat kami terlihat. Kita sama-sama dalam
berusaha menjadi seorang gadis yang sesungguhnya. Bukan dengan hura-hura dan
memuaskan keinginan kami dengan pergaulan yang bebas dan so asyik dengan lawan
jenis. Dengan fashion kami juga kenal, dan menggunakannya. Namun kami tidak
dikuasai olehnya! Kamilah yang menciptakan fashion sesuai aturan-Nya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar