Sahabat
Kita hadir dalam
harapan baru yang harum, inginkan mekarnya dari pucuk-pucuk kesedihan yang
tundukkan hijaunya daun kehidupan. Dalam fase hidup yang ingin jauh lebih baik
dari sebelumnya, bimbang dalam melangkah ketika harus belajar berdiri sendiri
dan tertatih dalam keraguan. Terlihat dari samping ada tangan yang memegang
jariku ini, kenapa tidak datang dari belakang? Padahal aku sudah lama menoleh
kebelakang, dan menunggu kamu berlari menemuiku! Dan aku pikir kamu menungguku
didepan, karena tak ada dibelakangku! Dan dia hanya tersenyum kaku mengguratkan
sejuta rahasia dibibirnya. Gurat keningku ini menggariskan beribu tanda tanya
besar untuk senyumnya. Lalu dia menatapku tajam dan penuh keyakinan, aku pikir
dia akan memarahiku! “sahabat, mengapa kau mengguratkan keningmu? Aku memang
tak datang dari masa yang lalumu, aku juga tak tahu apakah aku bisa datang pada
masa depanmu nanti. Tapi aku pastikan padamu, aku akan selalu ada bersama jiwa
dan hatimu selama kau mengingatku, apa itu dahulu, sekarang ataupun nanti, itu
terserah padamu sahabat!”. Kata itu memang sederhana, tapi mengapa rasanya aku
tak dapat bergerak! Aku serasa tertahan dan sedih mendengar kata itu, mengapa
kau mengatakan kau akan ada selama aku ingat? Apa maksudmu sahabat? Tolong
jelaskan padaku, aku tidak terlalu mengerti dengan kata-katamu! Hati ini terus
berkicau menumbuhkan rasa curiga padamu sahabat, apa kau akan meninggalkan aku
sekarang?
“Aku akan pergi
sekarang sahabat, aku tidak bisa berjumpa dengan kamu setiap hari seperti hari
kemarin!”...air matanya jatuh ditanganku, rasanya begitu hangat. Tanpa aku
tanya maksudnya, aku tak ingin air matanya jatuh kembali, aku langsung mengusap
air matanya yang terhenti dipipi merahnya. “Sahabat, aku yakin padamu! Jika
memang kau akan pergi maka aku ikhlas dan selalu mendo’akanmu! Karena kau pergi
untuk meraih cita-citamu, mimpi besarmu dan kebahagiaanmu! Lalu menurutmu, apa
aku punya hak untuk menahanmu jangan pergi?”. Bibirnya tertahan dan terbuka
dengan wajah herannya, kelopak matanya pun turun menunduk menutup air mata yang
basah mendesah. Bukankah aku seorang aktris yang hebat? Aku bisa bermain dua
peran dalam satu waktu yang sama! Sahabatku sayang, andai kau tahu perasaanku
yang sebenarnya yang terjadi untuk perpisahan ini. Aku ingin menangis sepuasnya
dengan memelukmu, aku ingin mengutarakan semua rasa rindu dan sayangku padamu.
Aku ingin menjalani satu hari ini bersamamu dengan melakukan semua yang nanti
tidak bisa lagi kita lakukan! Sekejap aku sadar dan tersenyum padamu, aku
bahagia kau akan menemukan sahabat barumu, pengalaman hebatmu yang lain diluar
sana tanpa aku, ya...tanpa aku L!
Lalu kau
membangunkan aku dengan tanganmu memegang pundakku, kau juga pura-pura tegar
dihadapanku kan? Sering ketika kau sedang bicara, kau tertahan dan menunduk
menelan air liur. Tapi aku hanya diam, diamku itu terbayang banyak kenangan
ketika kita ada di sekolah ini. Ketika kita menjadi anak baru di sekolah ini,
ingat betapa cupu dan lucunya kita dulu! Saat belum terlalu mengenalmu, aku
hanya bisa memandangmu dari jauh dan menerka bagaimana pribadimu. Saat
perkenalan, senyum itu yang membuatku tenang dan menjawabmu dengan seutas
senyum dibibirku. “Sahabat sejati adalah sahabat yang apabila kita melihatnya
menyejukkan mata, karena senyumnya! Dia marah apabila kita melakukan perbuatan
mungkar. Dan tersenyum apabila kita melakukan perbuatan makruf. Orang yang
menemaimu dalam mengarungi samudera kehidupan, ikut mengayuh tanpa lelah,
membantumu saat ombak menerjang, membangunkanmu saat badai menerpa. Tegaklah,
tatap wajahnya lihat binarnya dia begitu menyayangimu sahabat”. Kata itu aku
tulis didalam buku binderku, dan itu aku tulis saat aku membayangkanmu sahabat!
Tapi menurutku
sahabat yang benar sejati juga sahabat yang berteman dengan kita karena Allah
Swt, saat bertemu dengannya membuat iman kita bersinar dan membuat kita semakin
baik. Mereka yang menolong kita di dunia karena mereka jualah yang ingin
bertemu kita di surga-Nya. Aku juga tidak pernah lupa ketika tanggal 26
Pebruari 2013, kau menulis kata indah untukku didalam bukuku. “Aku tidak
berharap untuk menjadi orang yang terpenting dalam hidupmu, karena merupakan
permintaan yang terlalu besar bagiku... aku hanya berharap suatu saat nanti,
saat jika kau mengingat dan melihatku kau akan tersenyum dan berkata “dialah
orang yang selalu menyayangiku...”!
Sahabat... apa kau
mau mendengar nyanyian rindu sang rembulan kepada sang mentari? Buaian angin
malam melelapkan insan lelah dan lengah dari fananya dunia ini. Sahabat... apa
kau baik saja disana? Apapun yang engkau rasa, jangan pernah lupa mengingat
Allah dan Rasulullah Saw. Sahabat, jelajahilah malam dingin dengan dzikirmu.
Terangi hati ini dengan Al-Qur’an...nyanyian rindu untukmu selalu bersenandung,
walau bagai sang rembulan tanpa cahaya yang berharap bisa selalu kau lihat dan
berjumpa denganmu matahari, nanti mungkin akan semakin sulit. Sahabat... maafkan
aku ya? Aku terlalu egois dan sombong untuk meminta maaf, aku sangat
menyayangimu sahabat.
Angin bertiup dengan
kencang dan menggugurkan helai demi helai kelopak dari bunga mawar itu... seolah
angin itu mendapatkan perintah dari sang Ilahi untuk memberikan helaian kelopak
bunga itu padaku. Aku yang terduduk di atas rerumputan hijau yang bergoyang
menunjuk kemana angin pergi. Seketika Haura datang dan memelukku dari belakang.
Dia menutup mata dan berkata kalimat itu kembali, “La tahzan, innallaha
ma’ana”! Aku tertegun dan langsung membalikkan badanku ke arahnya. Matanya yang
menatapku lalu ditundukkannya dan tersenyum dengan tatapan ke arah samping.
Seperti biasa, walaupun dia sudah tidak punya rahasia lagi... tapi dia
menyembunyikan arti kalimat itu untuk kesekian kalinya. Apa yang akan aku
sedihkan? Segera dia menunjuk ke arah satu tangkai bunga mawar merah muda...
Haura : “Ana, kamu lihat bunga mawar merah muda disana?”
Ana : “Iya, memang ada
apa?” jawabku dengan setengah terbata.
Haura : “Ana... seandainya kita berdua berjalan bersama dan
saling menunggu jika salah satu diantara kita tertinggal, lalu apakah jika aku
meminta kamu untuk memetik bunga mawar itu dan memberikannya padaku, apakah
kamu akan melakukannya? Walaupun sebenarnya kamu juga menginginkannya!”...
Ana : “A...apa? maksud
kamu bertanya seperti itu apa? Jujur aku kurang paham dengan apa yang kamu
bicarakan?... Sebenarnya ada apa Haura?”
Haura : “Kamu pasti akan memberikannya padaku, kan? Tapi ada
satu hal yang tidak bisa kamu sembunyikan dariku. Yaitu kamu akan terlebih
dahulu mencium baunya sebelum kamu memberikannya padaku. Karena sebenarnya
kamulah pemilik bunga mawar merah muda itu...” simpulnya dengan diakhiri dengan
senyumannya.
Jujur aku terpaku mendengar
pernyataan yang disampaikan oleh Haura! Kenapa aku merasa telah menyakitinya?
Kenapa aku merasa telah mengkhianatinya? Tidak, aku tidak ingin seperti ini...
tanpa sadar kepalaku menggeleng-geleng dan air mataku mengalir lemas melalui
udara yang dingin. Namun tangannya menengadah untuk menampung air mataku, dan
membasahi pipinya dengan air mataku dengan tangannya hangat.
Haura : “Lihat! Aku juga akan menangis jika bidadariku ini
menangis... lain kali kamu jangan menangis ya, kalau tidak ada aku
disampingmu...” dia menggodaku dengan wajah lucunya.
Ana : “Aku minta maaf
sama kamu Haura... aku minta maaf! Aku tidak tahu apa yang sudah aku lakukan
sama kamu, sehingga kamu bersedih.” jelasku padanya dengan tersedu-sedu.
Haura : “Hei... kok kamu minta maaf? Seharusnya aku yang minta
maaf sama kamu Ana. Karena sebenarnya, jika kamu benar-benar memperhatikan
cerita tadi dari awal... maka di cerita tadi akulah penjahatnya!” sembari
mengusap air mataku yang terus mengalir.
Ana : “Kamu bicara apa?
Bukannya kamu kecewa karena aku yang telah pertama kali mencium bau dari bunga
mawar itu? Aku tahu arti senyum itu Ra... kamu marah kan?”
Haura : “Kamu salah. Salah besar! Justru saat senyum itu aku
baru menyadari bahwa kamu yang lebih pantas untuk memilikinya. Apa aku pantas
untuk kecewa? Pada fitrah dari bunga itu yang harum dan mengundang siapa pun
untuk menciumnya. Dan Allah menjadikan kamu dapat menciumnya. Jadi apa yang
salah? Yang salah adalah aku yang tidak tahu bahwa kamu adalah pemiliknya! Dan
aku malah meminta kamu memberikannya padaku, aku penjahatnya kan?”
Sungguh, aku tak bisa berkata
apa-apa saat ini. Dia memelukku erat seolah akan lama kami berpisah dan
memberikannya kembali bunga itu padaku. Dan dia pergi dengan kata indahnya
seiring derap langkahnya yang kaku dan semakin menjauh lalu tersenyum...
Haura : “Jangan menangis Ana sayang... suatu saat Allah akan
mempertemukan kita kembali! Jika masih ada waktu, akan ku ceritakan pada dunia,
betapa beruntungnya aku memiliki kamu didalam hidupku yang singkat. Jika tidak,
maka kamu yang akan melakukannya. Sampaikanlah apa yang kamu anggap berharga
untuk didengar semua orang. Aku akan selalu menjadi sayapmu, dikala kamu merasa
susah dan rindu akan kehadiranku disisimu. Percayalah Ana! Kamu yang terbaik
dan akan selalu menjadi yang terindah disisa hidupku. Arhamuki ya ukhti..., la
tahzan innallaha ma’ana”...
Setelah terhalang dakian bukit, dia menghilang! Dia... menghilang.
Burung yang berkicauan pun tiba-tiba berhenti. Angin yang berarah menunjuk pada
hilangnya Haura sekarang beralih haluan menuju sebuah ayunan yang perlahan
mulai bergoyang. Aku tertuntun ke arahnya dan duduk lemas menunduk. Aku tidak
tahu sekarang apa yang sebenarnya telah terjadi. Ini seperti keadaan Marsha
tanpa Haura... dan aku mendengar suara detak jantungku. Temponya senada dengan
bibirku yang mengucap “Allah, Allah, Allah...”.
Allah... kala ku membuka
mata semuanya gelap! Astagfirullahal’adzim... apakah tadi aku bermimpi buruk
atau hanya mimpi biasa saja? Ya Allah, kenapa hamba bermimpi tentang Haura?
Hati hamba merasa tidak enak. Semoga Haura baik-baik saja ya Allah, amin!
Minggu-minggu ini kenapa aku sering sekali bermimpi tentang Haura ya? Apa
karena aku begitu merindukannya? Atau juga ini salah satu pertanda bahwa dia
juga merindukanku? Tapi dalam setiap mimpiku ini, dia selalu tersenyum dan
pergi dengan sudut tawa dibibirnya yang misterius. Tapi apa sebenarnya yang aku
pikirkan? Dia kan sekarang mempunyai seorang imam disampingnya, aku yakin kak
Arfan pasti selalu menjaga dan melindunginya. Dan aku juga yakin... pasti Haura
sekarang sangat bahagia. Aku juga sangat bahagia Ra, aku inginkan yang terbaik
untuk kamu Ra... memang kamulah bidadariku Haura...
Aku tidak terlalu cemas
kala ku meninggalkanmu! Karena aku tahu setidaknya kak Arfan tidak akan pernah
bosan merawatmu dan membimbingmu dalam jalan-Nya. Sekarang ada yang lebih baik
dalam mendampingimu dan bertanggung jawab. Sekarang akan ada malaikat yang
selalu kamu impikan Ra, dan Allah mengabulkannya. Karena Allah begitu sangat
menyayangimu Haura-ku J!
Diharapkan, kisah
inspiratif islami tentang cinta ini dapat menginspirasi bagi para pembaca semua
untuk mengambil khikmah yang terkandung dalam kisah cerita di dalamnya. OK.
langsung saja kita simak bersama, kisah selengkapnya berikut ini. Seorang ulama
di Arab Saudi, Syaikh Abdul Muhsin Al-Ahmad, menorehkan kisah inspiratif
tentang shalat. Sujud terakhir seorang pengantin mampu membuat jutaan orang
tersentuh. Kisah ini sebuah kisah nyata yang terjadi di Abha, ibu kota Provinsi
Asir, Arab Saudi.Video sang ustadz saat berceramah dan menceritakan kisah ini
sempat diupload di Islamic Tube dan menjadi hit di Arab Saudi dan negara-negara
Islam lainya. Banyak blogger juga merilis kisah ini dan banyak yang memberikan
aspirasi kagum setelah membacanya. Syaikh Abdul Muhsin Al-Ahmad bercerita
tentang ketaqwaan seorang anak perempuan yang dalam kondisi apapun, dia tetap
memilih melaksanakan shalat tepat waktu, meski dia harus menentang kemauan
ibunya.
Syaikh Abdul Muhsin Al-Ahmad bertutur…
“…Setelah melaksanakan shalat Maghrib
pengantin wanita ini berhias, dia menggunakan gaun pengantin putih yang indah,
dia betul-betul telah mempersiapkan dirinya untuk pesta pernikahannya.
Tiba-tiba dia mendengar azan Isya sudah menggema, dia sadar kalau wudhunya
telah batal. Dia berkata kepada ibunya, “Bu, aku mau berwudhu dan shalat Isya
dulu.” Ibunya sangat terkejut, “Apa kamu sudah gila? Tamu sudah menunggumu
untuk melihatmu, bagaimana dengan make-up mu? Semuanya akan terbasuh oleh air.”
Ibunya menambahkan, “Aku ini ibumu, sekarang Ibu katakan jangan shalat
sekarang! Demi Allah, jika kamu berwudhu sekarang, Ibu akan marah kepadamu!” Lalu
anaknya menjawab, “Demi Allah, aku tidak akan pergi dari ruangan ini, hingga
aku shalat, ibu. Ibu harus tahu bahwa tidak ada kepatuhan kepada makhluk dalam
kemaksiatan kepada Allah!” Lalu ibunya menimpali, ” Apa yang akan dikatakan
tamu-tamu kita tentang dirimu ketika kamu tampil nanti dalam pesta pernikahanmu
tanpa make-up? Kamu pasti tidak lagi terlihat cantik di mata mereka! Mereka
akan mengolok-olok dirimu !” Anak perempuannya itu berkata dengan tersenyum,
“Apakah Ibu takut karena aku tidak terlihat cantik di mata makhluk (manusia)?
Bagaimana dengan Penciptaku (Allah)? Yang aku takuti adalah jika dengan
sebab kehilangan shalat, aku tidak akan tampak cantik di mata Allah.”
Lalu, pengantin ini
berwudhu, maka seluruh make-upnya terbasuh tanpa tersisa. Namun, dia tidak
merasa bermasalah dengan apa yang dia lakukan. Kemudian pengantin ini memulai
shalatnya. Pada saat dia bersujud dalam shalatnya, ternyata itulah sujudnya
yang terakhir. Pengantin wanita ini telah meninggal dalam sujudnya dan itu
adalah akhir yang indah. Wafat dengan keadaan bersujud di hadapan Pencipta-Nya.
Betapa akhir yang luar biasa bagi seorang Muslimah yang teguh untuk mematuhi
Tuhannya! Ia telah menjadikan Allah dan ketaatan kepada-Nya sebagai prioritas
pertama, tutup Syaikh Abdul Muhsin Al-Ahmad.
Saat umi menyampaikan kisah itu, beliau
menangis terisak-isak. Aku pun terenyuh dan meneteskan rasa kagum dan mahabbah
ilallah. Umi berkata bahwasanya umi mendapatkan kisah ini dari sahabatnya. Umi
begitu menjiwai ketika membacakannya. Aku pun ketika mendengarkannya, benar
merasakan bahwa isi dari kisah ini masuk ke dalam hatiku. Aku saja mengakui
kekuranganku dalam melaksanakan shalat kepada Allah. Masih suka tidak tepat
waktu, dan tanpa aku sadari aku telah melalaikannya. Iya yah, kita tidak tahu
kapan terakhir kita shalat. Khususnya kapan terakhir kali kita mendengar adzan,
dan meluangkan apapun kegiatan kita untuk memenuhi panggilan Allah. Ya Allah...
pasti Engkau begitu menyayangi wanita itu... sehingga Engkau secara istimewa
memanggil wanita itu dalam keadan yang sangat baik, dalam keadaan suci dalam
rangka beribadah kepada Engkau. Ya Rabbi, jadikanlah hamba seperti wanita itu
ya Allah. Yang selalu memelihara shalatnya dan menjadikan Engkau selalu yang
pertama dan utama dalam hidup hamba, amiiin ya Allah.
Pagi ini kak Arfan tidak bisa pergi bekerja.
Dia sakit demam dan disampingnya telah ada air kompresan dan handuk. Datanglah
Haura dengan senyuman untuk senantiasa menyenangkan hati sang suami. Dan duduk disampingnya sembari meraba
dahinya.
Haura
: “Kakak sakit demam ya... izinkan saya untuk mengompres kakak...”
Arfan
: “Iya kakak izinkan, tapi adek juga masih kurang sehat kan?”
Haura
: ”Lebih utama saya yang mengobati kakak...”
Dengan telaten dan lembut tangannya
memeras handuk itu dan Haura secara perlahan mengingat sebuah kenangan dan
menyebut kata “Marsha”. Semakin dia sering menyebut nama itu, semakin jelas
ingatannya kala ia bersamaku di asrama. Dia juga pernah mengompresku kala ku
sakit demam.
Arfan : “Ada apa dek? Marsha, Marsha siapa?” tanyanya dengan penuh
kekhawatiran. Sampai ia bangun dan duduk memegang pundaknya.
Haura : “Marsha... teman saya dulu.
Dia, emh bukan bukan!” dengan memgang kepalanya sepeti kesakitan.
Arfan : “Ya sudah dek kalau memang
adek belum bisa mengingatnya. Sudah, jangan terlalu dipaksakan.”
Akhirnya Haura melanjutkan untuk mengompres kak Arfan. Setelah itu Haura
meminta izin untuk keluar kamar melaksanakan shalat sunat dhuha. Tangan kak
Arfan memegang tangannya Haura dan memanggil namanya.
Haura : “Ada apa kak?”
Arfan : “Kakak cuma mau bilang terimakasih... kakak
sangat senang sekali kamu selalu ada disisi kakak! Entah adek mengingat kakak
sebagai suami adek atau sebagai kakak adek, asal adek tahu bahwa kakak sangat
sayang sama adek. Adek jangan pernah merasa sendiri. Kalau ada sesuatu, adek
cerita ya sama kakak.” Ucapnya dengan tulus dan tatapan teduh.
Haura : “(Wajahnya terpaku dan
sorotan mata yang bahagia) Iya kak... saya juga berterimakasih karena selama
ini sudah menjadi penopang untuk saya”.
Lalu Haura berlalu dengan anggunnya. Kak
Arfan menatap tenang seiring kepergian Haura meninggalkan kamarnya. Kak Arfan
tahu, jika sekarang Haura mengingatnya, maka untuk beberapa menit atau jam lagi
dia akan lupa. Di setiap jengkal, di setiap ruangan selalu ada poto mereka dan
keluarga juga teman-temanya. Itu semua untuk menenangkan Haura jika dia
histeris karena takut dengan kak Arfan. Dia bisa melupakan semuanya.
Hingga suatu hari, Haura melihat poto
kami didalam buku bindernya. Poto kami saat didalam kelas. Dia berusaha keras
untuk mengenali wajah yang mirip dengannya. Dia meraba poto itu, dan tersenyum
manja. Bahkan sesekali dia memeragakan posenya dulu di poto itu. Namun setelah
itu, dia melihat ke samping dan dia menanyakan siapa gadis yang ada
disampingnya dalam poto itu. Kak Arfan memberi tahu bahwa itu adalah temannya
saat di aliyah. Tapi Haura dengan penyakit Alzheimernya tak mampu mengingatnya.
Bahkan dia telah kehilangan kemampuannya untuk membaca dengan baik. Dan Haura
meminta kak Arfan untuk membaca sebuah tulisan disamping poto itu.
Arfan : “Ana Lathifa Maryam,
sahabatku sayang! Saat aku sedih kala melihat poto ini, hilanglah dengan tawa
setelah melihat poto ini, karena aku tak bisa menahan tawa saat melihat wajahmu
itu... aku juga selalu ingat betapa ekspresi itu selalu terpampang di wajahmu
yang dulu (Marsha).”
Kak Arfan terhenyak dan menebak mungkin
Marsha yang diucapnya tadi saat memeras handuk dan saat menulis ini mungkin
orang yang sama. Tapi ini... dia mengungkap kata yang terakhir, bahwa secara
tidak langsung mengatakan bahwa Ana ini adalah Marsha?
Haura pun sedih kala mendengar kata itu,
walaupun dia belum tentu mengingat siapa Ana dan Marsha itu. Haura meminta kak
Arfan untuk menemui sosok Ana didalam tulisan dan poto ini. Akhirnya mereka pun
pergi dan sampailah didepan rumahku. Umi begitu senang dalam menyambut
mereka.Terlebih Haura, umi memeluknya dan mencium pipinya. Namun seperti biasa,
Haura hanya diam dan tersenyum. Akhirnya umi memanggilku yang sedang di kamar.
Aku yang melihat siapa wanita cantik berjilbab hijau, langsung memeluknya. Aku
bahagia, sungguh bahagia ketika bisa melihat dan memeluknya. Ya Allah, sungguh
berharga moment ini bagi hamba. Jangan pisahkan kami ya Allah. Bisiknya mampu
menggoyahkan lamunanku, ia berbisik “La tahzan”. Aku langsung menatapnya dalam,
dia berkata... “Kamu jangan nangis, karena aku juga akan ikut sedih!”. Aku
mengangguk dan tersenyum padanya. Dia juga membalas senyumanku dan mengajakku
berpoto lagi. Sungguh aku tak dapat menduga suasana ini. Dengan wajahnya yang
lucu, dia ingin mengajakku berpoto berdua. Memang... jasadnya adalah Haura-ku.
Namun, didalamnya... aku tak mengenalinya. Aku sangat merindukan Haura-ku. Aku
yakin Ra! Kamu ada didalam. Kamu pasti akan kembali kan? Lalu kami berdua
berpoto bersama dengan sangat akrab, lalu kami mengajak umi dan kak Arfan untuk
ikut berpoto. Dan ketika senda gurau diantara kami, Haura tiba-tiba pusing dan
terjatuh.
Aku langsung menyandarkannya di
pangkuanku! Dia terus mengeluh sakit dan sakit. Tapi saat kami semua panik dan
segera memanggil bantuan, dia menatapku dan menangis. Dia seolah
memperhatikanku dengan jeli.
Haura : “Ana... Ana! Ana, kamu Ana?”
Ana : “(Aku yang tengah panik
langsung terdiam) Apa? Haura, kamu mengenaliku? Kamu ingat aku?”
Haura : “Tentu aku ingat kamu Nana
(sambil tersenyum) kamu kenapa menangis? Apa karena aku lagi ya? Aku, aku tidak
mau menyakiti kamu Na, aku takut melupakan semua tentang kita, aku tidak bisa selalu
mengingat siapa aku dan orang-orang yang
ada disekitarku. Aku hanya ingat, ketika aku melihat orang-orang yang
aku sayangi menangis”. Isaknya dalam pangkuanku.
Ana : “Enggak Ra, justru jika aku
mampu, aku ingin selalu menangis agar kamu ingat padaku. Dan aku tidak peduli
jika satu jam kemudian kamu akan lupa lagi sama aku, yang terpenting sekarang
kamu tahu... bahwa aku selalu sayang sama kamu! selalu ada untuk mendoakanmu!”
jawabku dengan menatapnya lemas.
Haura : “Aku senang Na... aku ingin
meminta maaf kepada semuanya. Aku minta maaf karena aku hanya bisa menyusahkan
kalian semua. Tolong sampaikan kepada orangtua dan adikku, bahwa aku minta maaf
kepada mereka, dan tolong jaga mereka untuk aku.” Dengan berlomba menahan
setiap detik rasa sakit yang ia rasakan, dia terus berbicara. Terkadang dia
seperti sesak nafas, dan kedinginan. “Aku mohon, maafkan aku. Terimakasih untuk
semua yang kalian berikan untukku.”
Ana : “Kamu
ini bicara apa? Ayo kita ke rumah sakit.... kamu jangan banyak bicara dulu ya!”
Arfan : “Iya dek, kakak mohon kamu jangan berpikir
yang tidak-tidak!”
Haura langsung menatap wajah kak Arfan dan memegang tangannya dengan erat.
Haura : “Ya Allah kak Arfan...
tolong jangan menangis seperti ini! Kak, saya ingin meminta ridha kakak
terhadap saya. Tentunya selama ini saya belum menunaikan kewajiban saya
terhadap kakak. Saya minta maaf kak...”
Arfan : “Iya dek, kakak juga ingin
meminta maaf sama adek. Niat utama kita adalah untuk beribadah kepada Allah,
jadi jangan khawatirkan tentang itu”.
Malam ini begitu hening dan dingin. Tangannya
memegang tanganku dan menyimpannya dipipinya yang dingin. Dia berucap kalimat
keramat kami “la tahzan innallaha ma’anaa”. Tidak... jangan ucapkan itu Ra,
gumamku didalam hati. Kak Arfan langsung mendekatinya dan membisikkan kalimah
syahadat. Dan alhamdulillah Haura pun mengikutinya dengan baik dan lancar.
Mulutnya masih terbuka dan mengucap kalimah tahlil. Kak Arfan mencium tangannya
dan menenangkannya dengan kalimah talbiyah. Sungguh ini mimpi atau kenyataan?
Aku langsung memeluknya dan mengikutinya mengucap kata tahlil itu. Beberapa
detik kami mengucapkan kata tahlil itu, dan setelah itu yang ku dengar hanya
suaraku. Aku terbangun dan menatapnya, matanya telah tertutup.
Ya Allah... sahabatku baru saja telah
kembali kepada Engkau. Tubuhnya masih terasa hangat di pangkuanku. Inna lillahi
wa inna ilaihi raaji’uun... aku begitu kuat untuk menahan air mata ini. Aku
terus menatapnya dengan menguatkan diriku dengan kalimah istigfar dan selalu
mengingat Allah! Aku harus rela, aku harus ikhlas... semua yang bernyawa pasti
mati. Ya Allah, kau sengaja sandarkan sahabat hamba di pangkuan hamba. Sekarang
dia tidak akan merasa kesakitan lagi. Dia sekarang berada disisi-Mu. Rabbana
taqabbal minna fagfirlana dzunubana wa kaffir ‘anna sayyi’atina wa tawaffana
ma’al abrar.
Setelah kami memandikannya,
mengkafaninya dan menyalatkannya sekarang tibalah kami menguburkannya. Sekarang
aku sudah merelakannya. Aku selalu mengirimkan Al-Fatihah bila aku
merindukannya. Semua yang ada di langit dan bumi beserta isinya adalah milik
Engkau, maka saat Engkau mengambilnya hamba harus ikhlas. Ketika aku menutup
mata, selalu ada bayangan aku dengannya. Apalagi saat aku mengingat seberapa
besar perjuangannya untuk mengubahku dari Marsha menjadi Ana. Aku teringat
senyumnya, marahnya, wajah lucunya, rengekan tangisannya... ya Allah kuatkan
hamba! Jangan sampai syaitan membawa hamba pada kemunkaran. Ya Allah hamba
yakin Engkau telah menempatkan Haura di tempat yang terbaik. Ya Allah, ya
Allah... ya Allah ampunilah sahabat hamba. Tapi aku bersyukur, karena kak Arfan
sempat mewarnai hidup kamu... aku tahu kamu begitu mengagumi kak Arfan Ra. Aku
juga tahu, kamu menghindarinya karena kamu tidak ingin menyakitinya. Tapi,
Allah berkehendak lain. Allah membiarkan kak Arfan ada disisi kamu. Dan aku
sangat senang dan bersyukur kepada Allah. Yang terpenting buatku adalah
kebahagiaanmu... kamu yang lebih pantas untuk mendapatkan kak Arfan. Aku sangat
bahagia, dengan kamu ada disisiku, dan kini kamu selalu ada dihatiku...
Hari ini kami semua sahabat haura datang
berziarah. Di tengah pemakaman kami semua berkumpul dan memanjatkan doa
untuknya. Angin ini begitu wangi, benar kami semua dapat mencium bau ini. Kami
semua menangis terharu... karena kami tahu ini adalah wangi kubur dari sahabat
baik kami, Haura! Aku yang membawa bunga kesukaannya, meletakkannya disamping
batu nisannya. Allah selalu menjadikan kamu sahabat terbaik kami Ra, kamu selalu
mendapat tempat istimewa didalam hati kami. Terimakasih karena sudah hinggap
dalam kehidupan kami. Ya Allah... dia adalah seorang mujahidah sejati. Dia
dalam keadaannya yang mengidap penyakit
yang berat, Alzheimer dan pneumonia... tapi girah jihadnya lebih baik dari kami
yang sehat ini.
Dia sahabatku, adalah seorang muallaf
wanita yang hebat! Dia membawaku pada fitrahku. Seorang wanita yang Allah
ciptakan dengan kemuliaannya dan kehormatannya. Dia mengajariku apa arti
cantik, kata baik. Pentingnya ilmu dan prestasi, kesabaran, dan arti... arti
sebuah persahabatan karena Allah. Jika melihatnya dari kejauhan, langsung
mataku sejuk memandangnya, dan aku teringat dengan kata “Allah”. Sekejap aku
tersadar dengan kata Haura... bahwa kata Allah ini adalah sumber kekuatan
baginya. Hatiku dan sekujur tubuhku bergetar hebat kala menyebut nama Allah.
“Allah, Allah, Allah, Allah... Allah!” aku terus mengucapkannya sampai aku
merasa baikan. Ternyata benar, kata Allah ini benar-benar mampu membuat semua
rasa sedih dan ketidakmampuanku bangkit kembali... Ya Allah, hamba akan
melanjutkan mimpi kami yang sempat tertunda. Hamba juga akan berusaha
semaksimal mungkin untuk mewujudkan mimpi itu...
Poto kami yang terakhir kalinya, aku
bingkai dan aku simpan di kamarku. Ketika melihatnya, aku termotivasi untuk
berbuat lebih baik untuk setiap harinya. Seolah dia tersenyum dan menyemangatiku.
Aku terus khusnudzan dan bersyukur dengan apa yang Allah berikan padaku. Karena
kami hanya berpisah sementara untuk di dunia ini... dan kelak Allah akan
mempertemukan kami kembali di surga-Nya amin.
Dan ketika waktu itu tiba, maka Allah tidak akan memisahkan kami lagi...
karena surgalah tempat yang kekal dan sempurna. Tidak akan ada kesedihan dan
tangis, apalagi ada perpisahan dan rasa sakit. Sungguh indah semua rencana
Allah! Jadi, aku sekarang memang sedang berpisah dengannya. Aku kembali menjalani
hidupku seperti biasanya. Umi juga selalu menghiburku dan mengingatkanku. Oh
iya! Apa kabarnya kak Arfan ya? Dia pasti sangat sedih... namun aku percaya dia
bisa menjalaninya dengan sangat baik.. Di bumi setiap harinya terlalu menyibukkan kami, itulah
salah satu hikmah adanya shalat lima waktu! Ya Allah... terimakasih untuk semua
nikmat dan keselamatan yang Engkau anugerahkan kepada hamba, alhamdulillah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar