Pages

Jumat, 06 Maret 2015

sahabat part 11 (gugurnya bungaku)


Sahabat
Kita hadir dalam harapan baru yang harum, inginkan mekarnya dari pucuk-pucuk kesedihan yang tundukkan hijaunya daun kehidupan. Dalam fase hidup yang ingin jauh lebih baik dari sebelumnya, bimbang dalam melangkah ketika harus belajar berdiri sendiri dan tertatih dalam keraguan. Terlihat dari samping ada tangan yang memegang jariku ini, kenapa tidak datang dari belakang? Padahal aku sudah lama menoleh kebelakang, dan menunggu kamu berlari menemuiku! Dan aku pikir kamu menungguku didepan, karena tak ada dibelakangku! Dan dia hanya tersenyum kaku mengguratkan sejuta rahasia dibibirnya. Gurat keningku ini menggariskan beribu tanda tanya besar untuk senyumnya. Lalu dia menatapku tajam dan penuh keyakinan, aku pikir dia akan memarahiku! “sahabat, mengapa kau mengguratkan keningmu? Aku memang tak datang dari masa yang lalumu, aku juga tak tahu apakah aku bisa datang pada masa depanmu nanti. Tapi aku pastikan padamu, aku akan selalu ada bersama jiwa dan hatimu selama kau mengingatku, apa itu dahulu, sekarang ataupun nanti, itu terserah padamu sahabat!”. Kata itu memang sederhana, tapi mengapa rasanya aku tak dapat bergerak! Aku serasa tertahan dan sedih mendengar kata itu, mengapa kau mengatakan kau akan ada selama aku ingat? Apa maksudmu sahabat? Tolong jelaskan padaku, aku tidak terlalu mengerti dengan kata-katamu! Hati ini terus berkicau menumbuhkan rasa curiga padamu sahabat, apa kau akan meninggalkan aku sekarang?
“Aku akan pergi sekarang sahabat, aku tidak bisa berjumpa dengan kamu setiap hari seperti hari kemarin!”...air matanya jatuh ditanganku, rasanya begitu hangat. Tanpa aku tanya maksudnya, aku tak ingin air matanya jatuh kembali, aku langsung mengusap air matanya yang terhenti dipipi merahnya. “Sahabat, aku yakin padamu! Jika memang kau akan pergi maka aku ikhlas dan selalu mendo’akanmu! Karena kau pergi untuk meraih cita-citamu, mimpi besarmu dan kebahagiaanmu! Lalu menurutmu, apa aku punya hak untuk menahanmu jangan pergi?”. Bibirnya tertahan dan terbuka dengan wajah herannya, kelopak matanya pun turun menunduk menutup air mata yang basah mendesah. Bukankah aku seorang aktris yang hebat? Aku bisa bermain dua peran dalam satu waktu yang sama! Sahabatku sayang, andai kau tahu perasaanku yang sebenarnya yang terjadi untuk perpisahan ini. Aku ingin menangis sepuasnya dengan memelukmu, aku ingin mengutarakan semua rasa rindu dan sayangku padamu. Aku ingin menjalani satu hari ini bersamamu dengan melakukan semua yang nanti tidak bisa lagi kita lakukan! Sekejap aku sadar dan tersenyum padamu, aku bahagia kau akan menemukan sahabat barumu, pengalaman hebatmu yang lain diluar sana tanpa aku, ya...tanpa aku L!
Lalu kau membangunkan aku dengan tanganmu memegang pundakku, kau juga pura-pura tegar dihadapanku kan? Sering ketika kau sedang bicara, kau tertahan dan menunduk menelan air liur. Tapi aku hanya diam, diamku itu terbayang banyak kenangan ketika kita ada di sekolah ini. Ketika kita menjadi anak baru di sekolah ini, ingat betapa cupu dan lucunya kita dulu! Saat belum terlalu mengenalmu, aku hanya bisa memandangmu dari jauh dan menerka bagaimana pribadimu. Saat perkenalan, senyum itu yang membuatku tenang dan menjawabmu dengan seutas senyum dibibirku. “Sahabat sejati adalah sahabat yang apabila kita melihatnya menyejukkan mata, karena senyumnya! Dia marah apabila kita melakukan perbuatan mungkar. Dan tersenyum apabila kita melakukan perbuatan makruf. Orang yang menemaimu dalam mengarungi samudera kehidupan, ikut mengayuh tanpa lelah, membantumu saat ombak menerjang, membangunkanmu saat badai menerpa. Tegaklah, tatap wajahnya lihat binarnya dia begitu menyayangimu sahabat”. Kata itu aku tulis didalam buku binderku, dan itu aku tulis saat aku membayangkanmu sahabat!
Tapi menurutku sahabat yang benar sejati juga sahabat yang berteman dengan kita karena Allah Swt, saat bertemu dengannya membuat iman kita bersinar dan membuat kita semakin baik. Mereka yang menolong kita di dunia karena mereka jualah yang ingin bertemu kita di surga-Nya. Aku juga tidak pernah lupa ketika tanggal 26 Pebruari 2013, kau menulis kata indah untukku didalam bukuku. “Aku tidak berharap untuk menjadi orang yang terpenting dalam hidupmu, karena merupakan permintaan yang terlalu besar bagiku... aku hanya berharap suatu saat nanti, saat jika kau mengingat dan melihatku kau akan tersenyum dan berkata “dialah orang yang selalu menyayangiku...”!
Sahabat... apa kau mau mendengar nyanyian rindu sang rembulan kepada sang mentari? Buaian angin malam melelapkan insan lelah dan lengah dari fananya dunia ini. Sahabat... apa kau baik saja disana? Apapun yang engkau rasa, jangan pernah lupa mengingat Allah dan Rasulullah Saw. Sahabat, jelajahilah malam dingin dengan dzikirmu. Terangi hati ini dengan Al-Qur’an...nyanyian rindu untukmu selalu bersenandung, walau bagai sang rembulan tanpa cahaya yang berharap bisa selalu kau lihat dan berjumpa denganmu matahari, nanti mungkin akan semakin sulit. Sahabat... maafkan aku ya? Aku terlalu egois dan sombong untuk meminta maaf, aku sangat menyayangimu sahabat.
Angin bertiup dengan kencang dan menggugurkan helai demi helai kelopak dari bunga mawar itu... seolah angin itu mendapatkan perintah dari sang Ilahi untuk memberikan helaian kelopak bunga itu padaku. Aku yang terduduk di atas rerumputan hijau yang bergoyang menunjuk kemana angin pergi. Seketika Haura datang dan memelukku dari belakang. Dia menutup mata dan berkata kalimat itu kembali, “La tahzan, innallaha ma’ana”! Aku tertegun dan langsung membalikkan badanku ke arahnya. Matanya yang menatapku lalu ditundukkannya dan tersenyum dengan tatapan ke arah samping. Seperti biasa, walaupun dia sudah tidak punya rahasia lagi... tapi dia menyembunyikan arti kalimat itu untuk kesekian kalinya. Apa yang akan aku sedihkan? Segera dia menunjuk ke arah satu tangkai bunga mawar merah muda...
Haura : “Ana, kamu lihat bunga mawar merah muda disana?”
Ana    : “Iya, memang ada apa?” jawabku dengan setengah terbata.
Haura : “Ana... seandainya kita berdua berjalan bersama dan saling menunggu jika salah satu diantara kita tertinggal, lalu apakah jika aku meminta kamu untuk memetik bunga mawar itu dan memberikannya padaku, apakah kamu akan melakukannya? Walaupun sebenarnya kamu juga menginginkannya!”...
Ana    : “A...apa? maksud kamu bertanya seperti itu apa? Jujur aku kurang paham dengan apa yang kamu bicarakan?... Sebenarnya ada apa Haura?”
Haura : “Kamu pasti akan memberikannya padaku, kan? Tapi ada satu hal yang tidak bisa kamu sembunyikan dariku. Yaitu kamu akan terlebih dahulu mencium baunya sebelum kamu memberikannya padaku. Karena sebenarnya kamulah pemilik bunga mawar merah muda itu...” simpulnya dengan diakhiri dengan senyumannya.
Jujur aku terpaku mendengar pernyataan yang disampaikan oleh Haura! Kenapa aku merasa telah menyakitinya? Kenapa aku merasa telah mengkhianatinya? Tidak, aku tidak ingin seperti ini... tanpa sadar kepalaku menggeleng-geleng dan air mataku mengalir lemas melalui udara yang dingin. Namun tangannya menengadah untuk menampung air mataku, dan membasahi pipinya dengan air mataku dengan tangannya hangat.
Haura : “Lihat! Aku juga akan menangis jika bidadariku ini menangis... lain kali kamu jangan menangis ya, kalau tidak ada aku disampingmu...” dia menggodaku dengan wajah lucunya.
Ana    : “Aku minta maaf sama kamu Haura... aku minta maaf! Aku tidak tahu apa yang sudah aku lakukan sama kamu, sehingga kamu bersedih.” jelasku padanya dengan tersedu-sedu.
Haura : “Hei... kok kamu minta maaf? Seharusnya aku yang minta maaf sama kamu Ana. Karena sebenarnya, jika kamu benar-benar memperhatikan cerita tadi dari awal... maka di cerita tadi akulah penjahatnya!” sembari mengusap air mataku yang terus mengalir.
Ana    : “Kamu bicara apa? Bukannya kamu kecewa karena aku yang telah pertama kali mencium bau dari bunga mawar itu? Aku tahu arti senyum itu Ra... kamu marah kan?”
Haura : “Kamu salah. Salah besar! Justru saat senyum itu aku baru menyadari bahwa kamu yang lebih pantas untuk memilikinya. Apa aku pantas untuk kecewa? Pada fitrah dari bunga itu yang harum dan mengundang siapa pun untuk menciumnya. Dan Allah menjadikan kamu dapat menciumnya. Jadi apa yang salah? Yang salah adalah aku yang tidak tahu bahwa kamu adalah pemiliknya! Dan aku malah meminta kamu memberikannya padaku, aku penjahatnya kan?”
Sungguh, aku tak bisa berkata apa-apa saat ini. Dia memelukku erat seolah akan lama kami berpisah dan memberikannya kembali bunga itu padaku. Dan dia pergi dengan kata indahnya seiring derap langkahnya yang kaku dan semakin menjauh lalu tersenyum...
Haura : “Jangan menangis Ana sayang... suatu saat Allah akan mempertemukan kita kembali! Jika masih ada waktu, akan ku ceritakan pada dunia, betapa beruntungnya aku memiliki kamu didalam hidupku yang singkat. Jika tidak, maka kamu yang akan melakukannya. Sampaikanlah apa yang kamu anggap berharga untuk didengar semua orang. Aku akan selalu menjadi sayapmu, dikala kamu merasa susah dan rindu akan kehadiranku disisimu. Percayalah Ana! Kamu yang terbaik dan akan selalu menjadi yang terindah disisa hidupku. Arhamuki ya ukhti..., la tahzan innallaha ma’ana”...
Setelah terhalang  dakian bukit, dia menghilang! Dia... menghilang. Burung yang berkicauan pun tiba-tiba berhenti. Angin yang berarah menunjuk pada hilangnya Haura sekarang beralih haluan menuju sebuah ayunan yang perlahan mulai bergoyang. Aku tertuntun ke arahnya dan duduk lemas menunduk. Aku tidak tahu sekarang apa yang sebenarnya telah terjadi. Ini seperti keadaan Marsha tanpa Haura... dan aku mendengar suara detak jantungku. Temponya senada dengan bibirku yang mengucap “Allah, Allah, Allah...”.
Allah... kala ku membuka mata semuanya gelap! Astagfirullahal’adzim... apakah tadi aku bermimpi buruk atau hanya mimpi biasa saja? Ya Allah, kenapa hamba bermimpi tentang Haura? Hati hamba merasa tidak enak. Semoga Haura baik-baik saja ya Allah, amin! Minggu-minggu ini kenapa aku sering sekali bermimpi tentang Haura ya? Apa karena aku begitu merindukannya? Atau juga ini salah satu pertanda bahwa dia juga merindukanku? Tapi dalam setiap mimpiku ini, dia selalu tersenyum dan pergi dengan sudut tawa dibibirnya yang misterius. Tapi apa sebenarnya yang aku pikirkan? Dia kan sekarang mempunyai seorang imam disampingnya, aku yakin kak Arfan pasti selalu menjaga dan melindunginya. Dan aku juga yakin... pasti Haura sekarang sangat bahagia. Aku juga sangat bahagia Ra, aku inginkan yang terbaik untuk kamu Ra... memang kamulah bidadariku Haura...
Aku tidak terlalu cemas kala ku meninggalkanmu! Karena aku tahu setidaknya kak Arfan tidak akan pernah bosan merawatmu dan membimbingmu dalam jalan-Nya. Sekarang ada yang lebih baik dalam mendampingimu dan bertanggung jawab. Sekarang akan ada malaikat yang selalu kamu impikan Ra, dan Allah mengabulkannya. Karena Allah begitu sangat menyayangimu Haura-ku J!
Diharapkan, kisah inspiratif islami tentang cinta ini dapat menginspirasi bagi para pembaca semua untuk mengambil khikmah yang terkandung dalam kisah cerita di dalamnya. OK. langsung saja kita simak bersama, kisah selengkapnya berikut ini. Seorang ulama di Arab Saudi, Syaikh Abdul Muhsin Al-Ahmad, menorehkan kisah inspiratif tentang shalat. Sujud terakhir seorang pengantin mampu membuat jutaan orang tersentuh. Kisah ini sebuah kisah nyata yang terjadi di Abha, ibu kota Provinsi Asir, Arab Saudi.Video sang ustadz saat berceramah dan menceritakan kisah ini sempat diupload di Islamic Tube dan menjadi hit di Arab Saudi dan negara-negara Islam lainya. Banyak blogger juga merilis kisah ini dan banyak yang memberikan aspirasi kagum setelah membacanya. Syaikh Abdul Muhsin Al-Ahmad bercerita tentang ketaqwaan seorang anak perempuan yang dalam kondisi apapun, dia tetap memilih melaksanakan shalat tepat waktu, meski dia harus menentang kemauan ibunya.
Syaikh Abdul Muhsin Al-Ahmad bertutur…
“…Setelah melaksanakan shalat Maghrib pengantin wanita ini berhias, dia menggunakan gaun pengantin putih yang indah, dia betul-betul telah mempersiapkan dirinya untuk pesta pernikahannya. Tiba-tiba dia mendengar azan Isya sudah menggema, dia sadar kalau wudhunya telah batal. Dia berkata kepada ibunya, “Bu, aku mau berwudhu dan shalat Isya dulu.” Ibunya sangat terkejut, “Apa kamu sudah gila? Tamu sudah menunggumu untuk melihatmu, bagaimana dengan make-up mu? Semuanya akan terbasuh oleh air.” Ibunya menambahkan, “Aku ini ibumu, sekarang Ibu katakan jangan shalat sekarang! Demi Allah, jika kamu berwudhu sekarang, Ibu akan marah kepadamu!” Lalu anaknya menjawab, “Demi Allah, aku tidak akan pergi dari ruangan ini, hingga aku shalat, ibu. Ibu harus tahu bahwa tidak ada kepatuhan kepada makhluk dalam kemaksiatan kepada Allah!” Lalu ibunya menimpali, ” Apa yang akan dikatakan tamu-tamu kita tentang dirimu ketika kamu tampil nanti dalam pesta pernikahanmu tanpa make-up? Kamu pasti tidak lagi terlihat cantik di mata mereka! Mereka akan mengolok-olok dirimu !” Anak perempuannya itu berkata dengan tersenyum, “Apakah Ibu takut karena aku tidak terlihat cantik di mata makhluk (manusia)? Bagaimana dengan Penciptaku (Allah)? Yang aku takuti adalah jika dengan sebab kehilangan shalat, aku tidak akan tampak cantik di mata Allah.”
Lalu, pengantin ini berwudhu, maka seluruh make-upnya terbasuh tanpa tersisa. Namun, dia tidak merasa bermasalah dengan apa yang dia lakukan. Kemudian pengantin ini memulai shalatnya. Pada saat dia bersujud dalam shalatnya, ternyata itulah sujudnya yang terakhir. Pengantin wanita ini telah meninggal dalam sujudnya dan itu adalah akhir yang indah. Wafat dengan keadaan bersujud di hadapan Pencipta-Nya. Betapa akhir yang luar biasa bagi seorang Muslimah yang teguh untuk mematuhi Tuhannya! Ia telah menjadikan Allah dan ketaatan kepada-Nya sebagai prioritas pertama, tutup Syaikh Abdul Muhsin Al-Ahmad.
Saat umi menyampaikan kisah itu, beliau menangis terisak-isak. Aku pun terenyuh dan meneteskan rasa kagum dan mahabbah ilallah. Umi berkata bahwasanya umi mendapatkan kisah ini dari sahabatnya. Umi begitu menjiwai ketika membacakannya. Aku pun ketika mendengarkannya, benar merasakan bahwa isi dari kisah ini masuk ke dalam hatiku. Aku saja mengakui kekuranganku dalam melaksanakan shalat kepada Allah. Masih suka tidak tepat waktu, dan tanpa aku sadari aku telah melalaikannya. Iya yah, kita tidak tahu kapan terakhir kita shalat. Khususnya kapan terakhir kali kita mendengar adzan, dan meluangkan apapun kegiatan kita untuk memenuhi panggilan Allah. Ya Allah... pasti Engkau begitu menyayangi wanita itu... sehingga Engkau secara istimewa memanggil wanita itu dalam keadan yang sangat baik, dalam keadaan suci dalam rangka beribadah kepada Engkau. Ya Rabbi, jadikanlah hamba seperti wanita itu ya Allah. Yang selalu memelihara shalatnya dan menjadikan Engkau selalu yang pertama dan utama dalam hidup hamba, amiiin ya Allah.
 Pagi ini kak Arfan tidak bisa pergi bekerja. Dia sakit demam dan disampingnya telah ada air kompresan dan handuk. Datanglah Haura dengan senyuman untuk senantiasa menyenangkan hati sang suami.  Dan duduk disampingnya sembari meraba dahinya.
Haura  : “Kakak sakit demam ya... izinkan saya untuk mengompres kakak...”
Arfan  : “Iya kakak izinkan, tapi adek juga masih kurang sehat kan?”
Haura  : ”Lebih utama saya yang mengobati kakak...”
Dengan telaten dan lembut tangannya memeras handuk itu dan Haura secara perlahan mengingat sebuah kenangan dan menyebut kata “Marsha”. Semakin dia sering menyebut nama itu, semakin jelas ingatannya kala ia bersamaku di asrama. Dia juga pernah mengompresku kala ku sakit demam.
Arfan : “Ada apa dek? Marsha, Marsha siapa?” tanyanya dengan penuh kekhawatiran. Sampai ia bangun dan duduk memegang pundaknya.
Haura  : “Marsha... teman saya dulu. Dia, emh bukan bukan!” dengan memgang kepalanya sepeti kesakitan.
Arfan  : “Ya sudah dek kalau memang adek belum bisa mengingatnya. Sudah, jangan terlalu dipaksakan.”
Akhirnya Haura melanjutkan untuk mengompres kak Arfan. Setelah itu Haura meminta izin untuk keluar kamar melaksanakan shalat sunat dhuha. Tangan kak Arfan memegang tangannya Haura dan memanggil namanya.
Haura  : “Ada apa kak?”
Arfan   : “Kakak cuma mau bilang terimakasih... kakak sangat senang sekali kamu selalu ada disisi kakak! Entah adek mengingat kakak sebagai suami adek atau sebagai kakak adek, asal adek tahu bahwa kakak sangat sayang sama adek. Adek jangan pernah merasa sendiri. Kalau ada sesuatu, adek cerita ya sama kakak.” Ucapnya dengan tulus dan tatapan teduh.
Haura  : “(Wajahnya terpaku dan sorotan mata yang bahagia) Iya kak... saya juga berterimakasih karena selama ini sudah menjadi penopang untuk saya”.
Lalu Haura berlalu dengan anggunnya. Kak Arfan menatap tenang seiring kepergian Haura meninggalkan kamarnya. Kak Arfan tahu, jika sekarang Haura mengingatnya, maka untuk beberapa menit atau jam lagi dia akan lupa. Di setiap jengkal, di setiap ruangan selalu ada poto mereka dan keluarga juga teman-temanya. Itu semua untuk menenangkan Haura jika dia histeris karena takut dengan kak Arfan. Dia bisa melupakan semuanya.     
Hingga suatu hari, Haura melihat poto kami didalam buku bindernya. Poto kami saat didalam kelas. Dia berusaha keras untuk mengenali wajah yang mirip dengannya. Dia meraba poto itu, dan tersenyum manja. Bahkan sesekali dia memeragakan posenya dulu di poto itu. Namun setelah itu, dia melihat ke samping dan dia menanyakan siapa gadis yang ada disampingnya dalam poto itu. Kak Arfan memberi tahu bahwa itu adalah temannya saat di aliyah. Tapi Haura dengan penyakit Alzheimernya tak mampu mengingatnya. Bahkan dia telah kehilangan kemampuannya untuk membaca dengan baik. Dan Haura meminta kak Arfan untuk membaca sebuah tulisan disamping poto itu.
Arfan  : “Ana Lathifa Maryam, sahabatku sayang! Saat aku sedih kala melihat poto ini, hilanglah dengan tawa setelah melihat poto ini, karena aku tak bisa menahan tawa saat melihat wajahmu itu... aku juga selalu ingat betapa ekspresi itu selalu terpampang di wajahmu yang dulu (Marsha).”
Kak Arfan terhenyak dan menebak mungkin Marsha yang diucapnya tadi saat memeras handuk dan saat menulis ini mungkin orang yang sama. Tapi ini... dia mengungkap kata yang terakhir, bahwa secara tidak langsung mengatakan bahwa Ana ini adalah Marsha?
Haura pun sedih kala mendengar kata itu, walaupun dia belum tentu mengingat siapa Ana dan Marsha itu. Haura meminta kak Arfan untuk menemui sosok Ana didalam tulisan dan poto ini. Akhirnya mereka pun pergi dan sampailah didepan rumahku. Umi begitu senang dalam menyambut mereka.Terlebih Haura, umi memeluknya dan mencium pipinya. Namun seperti biasa, Haura hanya diam dan tersenyum. Akhirnya umi memanggilku yang sedang di kamar. Aku yang melihat siapa wanita cantik berjilbab hijau, langsung memeluknya. Aku bahagia, sungguh bahagia ketika bisa melihat dan memeluknya. Ya Allah, sungguh berharga moment ini bagi hamba. Jangan pisahkan kami ya Allah. Bisiknya mampu menggoyahkan lamunanku, ia berbisik “La tahzan”. Aku langsung menatapnya dalam, dia berkata... “Kamu jangan nangis, karena aku juga akan ikut sedih!”. Aku mengangguk dan tersenyum padanya. Dia juga membalas senyumanku dan mengajakku berpoto lagi. Sungguh aku tak dapat menduga suasana ini. Dengan wajahnya yang lucu, dia ingin mengajakku berpoto berdua. Memang... jasadnya adalah Haura-ku. Namun, didalamnya... aku tak mengenalinya. Aku sangat merindukan Haura-ku. Aku yakin Ra! Kamu ada didalam. Kamu pasti akan kembali kan? Lalu kami berdua berpoto bersama dengan sangat akrab, lalu kami mengajak umi dan kak Arfan untuk ikut berpoto. Dan ketika senda gurau diantara kami, Haura tiba-tiba pusing dan terjatuh.
Aku langsung menyandarkannya di pangkuanku! Dia terus mengeluh sakit dan sakit. Tapi saat kami semua panik dan segera memanggil bantuan, dia menatapku dan menangis. Dia seolah memperhatikanku dengan jeli.
Haura  : “Ana... Ana! Ana, kamu Ana?”
Ana  : “(Aku yang tengah panik langsung terdiam) Apa? Haura, kamu mengenaliku? Kamu ingat aku?”
Haura  : “Tentu aku ingat kamu Nana (sambil tersenyum) kamu kenapa menangis? Apa karena aku lagi ya? Aku, aku tidak mau menyakiti kamu Na, aku takut melupakan semua tentang kita, aku tidak bisa selalu mengingat siapa aku dan orang-orang yang  ada disekitarku. Aku hanya ingat, ketika aku melihat orang-orang yang aku sayangi menangis”. Isaknya dalam pangkuanku.
Ana     : “Enggak Ra, justru jika aku mampu, aku ingin selalu menangis agar kamu ingat padaku. Dan aku tidak peduli jika satu jam kemudian kamu akan lupa lagi sama aku, yang terpenting sekarang kamu tahu... bahwa aku selalu sayang sama kamu! selalu ada untuk mendoakanmu!” jawabku dengan menatapnya lemas.
Haura  : “Aku senang Na... aku ingin meminta maaf kepada semuanya. Aku minta maaf karena aku hanya bisa menyusahkan kalian semua. Tolong sampaikan kepada orangtua dan adikku, bahwa aku minta maaf kepada mereka, dan tolong jaga mereka untuk aku.” Dengan berlomba menahan setiap detik rasa sakit yang ia rasakan, dia terus berbicara. Terkadang dia seperti sesak nafas, dan kedinginan. “Aku mohon, maafkan aku. Terimakasih untuk semua yang kalian berikan untukku.”
Ana      : “Kamu ini bicara apa? Ayo kita ke rumah sakit.... kamu jangan banyak bicara dulu ya!”
Arfan   : “Iya dek, kakak mohon kamu jangan berpikir yang tidak-tidak!”
Haura langsung menatap wajah kak Arfan dan memegang tangannya dengan erat.
Haura   : “Ya Allah kak Arfan... tolong jangan menangis seperti ini! Kak, saya ingin meminta ridha kakak terhadap saya. Tentunya selama ini saya belum menunaikan kewajiban saya terhadap kakak. Saya minta maaf kak...”
Arfan    : “Iya dek, kakak juga ingin meminta maaf sama adek. Niat utama kita adalah untuk beribadah kepada Allah, jadi jangan khawatirkan tentang itu”.
Malam ini begitu hening dan dingin. Tangannya memegang tanganku dan menyimpannya dipipinya yang dingin. Dia berucap kalimat keramat kami “la tahzan innallaha ma’anaa”. Tidak... jangan ucapkan itu Ra, gumamku didalam hati. Kak Arfan langsung mendekatinya dan membisikkan kalimah syahadat. Dan alhamdulillah Haura pun mengikutinya dengan baik dan lancar. Mulutnya masih terbuka dan mengucap kalimah tahlil. Kak Arfan mencium tangannya dan menenangkannya dengan kalimah talbiyah. Sungguh ini mimpi atau kenyataan? Aku langsung memeluknya dan mengikutinya mengucap kata tahlil itu. Beberapa detik kami mengucapkan kata tahlil itu, dan setelah itu yang ku dengar hanya suaraku. Aku terbangun dan menatapnya, matanya telah tertutup.
Ya Allah... sahabatku baru saja telah kembali kepada Engkau. Tubuhnya masih terasa hangat di pangkuanku. Inna lillahi wa inna ilaihi raaji’uun... aku begitu kuat untuk menahan air mata ini. Aku terus menatapnya dengan menguatkan diriku dengan kalimah istigfar dan selalu mengingat Allah! Aku harus rela, aku harus ikhlas... semua yang bernyawa pasti mati. Ya Allah, kau sengaja sandarkan sahabat hamba di pangkuan hamba. Sekarang dia tidak akan merasa kesakitan lagi. Dia sekarang berada disisi-Mu. Rabbana taqabbal minna fagfirlana dzunubana wa kaffir ‘anna sayyi’atina wa tawaffana ma’al abrar.
Setelah kami memandikannya, mengkafaninya dan menyalatkannya sekarang tibalah kami menguburkannya. Sekarang aku sudah merelakannya. Aku selalu mengirimkan Al-Fatihah bila aku merindukannya. Semua yang ada di langit dan bumi beserta isinya adalah milik Engkau, maka saat Engkau mengambilnya hamba harus ikhlas. Ketika aku menutup mata, selalu ada bayangan aku dengannya. Apalagi saat aku mengingat seberapa besar perjuangannya untuk mengubahku dari Marsha menjadi Ana. Aku teringat senyumnya, marahnya, wajah lucunya, rengekan tangisannya... ya Allah kuatkan hamba! Jangan sampai syaitan membawa hamba pada kemunkaran. Ya Allah hamba yakin Engkau telah menempatkan Haura di tempat yang terbaik. Ya Allah, ya Allah... ya Allah ampunilah sahabat hamba. Tapi aku bersyukur, karena kak Arfan sempat mewarnai hidup kamu... aku tahu kamu begitu mengagumi kak Arfan Ra. Aku juga tahu, kamu menghindarinya karena kamu tidak ingin menyakitinya. Tapi, Allah berkehendak lain. Allah membiarkan kak Arfan ada disisi kamu. Dan aku sangat senang dan bersyukur kepada Allah. Yang terpenting buatku adalah kebahagiaanmu... kamu yang lebih pantas untuk mendapatkan kak Arfan. Aku sangat bahagia, dengan kamu ada disisiku, dan kini kamu selalu ada dihatiku...
Hari ini kami semua sahabat haura datang berziarah. Di tengah pemakaman kami semua berkumpul dan memanjatkan doa untuknya. Angin ini begitu wangi, benar kami semua dapat mencium bau ini. Kami semua menangis terharu... karena kami tahu ini adalah wangi kubur dari sahabat baik kami, Haura! Aku yang membawa bunga kesukaannya, meletakkannya disamping batu nisannya. Allah selalu menjadikan kamu sahabat terbaik kami Ra, kamu selalu mendapat tempat istimewa didalam hati kami. Terimakasih karena sudah hinggap dalam kehidupan kami. Ya Allah... dia adalah seorang mujahidah sejati. Dia dalam keadaannya yang mengidap  penyakit yang berat, Alzheimer dan pneumonia... tapi girah jihadnya lebih baik dari kami yang sehat ini.
Dia sahabatku, adalah seorang muallaf wanita yang hebat! Dia membawaku pada fitrahku. Seorang wanita yang Allah ciptakan dengan kemuliaannya dan kehormatannya. Dia mengajariku apa arti cantik, kata baik. Pentingnya ilmu dan prestasi, kesabaran, dan arti... arti sebuah persahabatan karena Allah. Jika melihatnya dari kejauhan, langsung mataku sejuk memandangnya, dan aku teringat dengan kata “Allah”. Sekejap aku tersadar dengan kata Haura... bahwa kata Allah ini adalah sumber kekuatan baginya. Hatiku dan sekujur tubuhku bergetar hebat kala menyebut nama Allah. “Allah, Allah, Allah, Allah... Allah!” aku terus mengucapkannya sampai aku merasa baikan. Ternyata benar, kata Allah ini benar-benar mampu membuat semua rasa sedih dan ketidakmampuanku bangkit kembali... Ya Allah, hamba akan melanjutkan mimpi kami yang sempat tertunda. Hamba juga akan berusaha semaksimal mungkin untuk mewujudkan mimpi itu...
Poto kami yang terakhir kalinya, aku bingkai dan aku simpan di kamarku. Ketika melihatnya, aku termotivasi untuk berbuat lebih baik untuk setiap harinya. Seolah dia tersenyum dan menyemangatiku. Aku terus khusnudzan dan bersyukur dengan apa yang Allah berikan padaku. Karena kami hanya berpisah sementara untuk di dunia ini... dan kelak Allah akan mempertemukan kami kembali di surga-Nya amin.  Dan ketika waktu itu tiba, maka Allah tidak akan memisahkan kami lagi... karena surgalah tempat yang kekal dan sempurna. Tidak akan ada kesedihan dan tangis, apalagi ada perpisahan dan rasa sakit. Sungguh indah semua rencana Allah! Jadi, aku sekarang memang sedang berpisah dengannya. Aku kembali menjalani hidupku seperti biasanya. Umi juga selalu menghiburku dan mengingatkanku. Oh iya! Apa kabarnya kak Arfan ya? Dia pasti sangat sedih... namun aku percaya dia bisa menjalaninya dengan sangat baik.. Di bumi setiap  harinya terlalu menyibukkan kami, itulah salah satu hikmah adanya shalat lima waktu! Ya Allah... terimakasih untuk semua nikmat dan keselamatan yang Engkau anugerahkan kepada hamba, alhamdulillah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar