Who am i? Aku
memang bukanlah orang yang tengah amnesia atau bermain teater sebagai individu
baru yang hidup... ternyata jarang sekali orang yang mengetahui siapa dirinya
yang sebenarnya, dan sangat sulit untuk memahami jati dirinya yang
sesungguhnya! Ketika aku bercermin diri dengan menatap lugu nan lemas dan
tangan memakaikan jilbab untuk menutup auratku, aku melihat sesuatu yang
berbeda dari aura wajahku. Ya rasanya sangat berbeda, aku ternyata lebih cantik
jika memakai jilbab dan jilbab menjaga kehormatan dan keindahanku. Ya,
alhamdulillahilladzi hassanta kholqin fahasin khuluqi... tanpa sadar bibir ini
tersenyum... dan tersadar jiwa ini,
betapa menyesalnya diri ini. Mengapa baru sekarang aku menyadari yang sebenarnya
harus aku lakukan dari dulu? Berapa banyak orang gratis melihat auratku,
keindahanku, kehormatanku? Ketika melihat di cermin ada seorang muslimah bersahaja
nan cantik ternyata itu aku! Dengan pakaian taqwa ini, aku jadi malu seandainya
aku akan berbuat maksiat kepada Allah dan Rasul-Nya...
Teringat masa
laluku yang sangat jauh berbeda dengan keadaanku yang sekarang, betapa dulu aku
sangat menghindar dari kata hijab! Aku telah menganggap mereka sebagai orang
yang tertutup, orang yang meninggalkan kebebasan dunia ini, dan seolah tidak
bisa menikmati sepenuhnya apa itu emansipasi wanita. Teringat dulu bagaimana
kerasnya aku untuk memakai jilbab! Namun betapa kuatnya pula hidayah dan inayah
Allah datang kepadaku.
Saat ini aku begitu
capai dan bosan! Kenapa sih mereka memaksa aku untuk berpakaian seperti itu!
Menutup semua tubuhku dengan kain panjang dan gak modis! Aku duduk di belakang
pohon dan termenung sendiri! Disini aku tidak mempunyai teman yang mengerti
aku! Aku bener-bener nggak betah tinggal disini. Kepalaku menunduk dan melihat
bunga warna ungu yang terbasahi embun. Dan aku membawa bunga itu ke dalam
kamar. Aku ingin memandanginya sepuas hatiku. Ya setidaknya itu yang aku
inginkan sekarang. Tiba-tiba ada tangan yang meletakkan minuman teh kotak
didepanku, tepat disamping bunga yang tengah ku pandang. Aku sudah mengetahui
siapa orang yang ada disampingku sekarang, dia pasti Haura. Tanpa pikir panjang,
aku langsung meluapkan apa yang aku rasakan sekarang!
Marsha :“Aku sudah letih...” dengan menundukkan
kepala.
Haura :“Letih karena apa?”
Marsha :“Dengan semua orang yang telah membicarakan
aku!”
Haura :“Siapa yang telah membicarakanmu?”
Marsha :“Dengan banyak orang yang ada disini... setiap kali aku
bersama mereka, mereka selalu menyuruhku untuk memakai jilbab!”
Haura :“Oh... itu kan hal
yang biasa. Jilbab selalu menjadi topik utama disini... ya khususnya buat
kamu!”
Marsha :“Ya, memanglah! Aku pun selalu mendengar
tentangnya.”
Haura :“Lagi pula, bukankah lebih indah jika
kamu memakai jilbab?”
Marsha : Kepalaku terangkat dan terkaget, “Siapa
yang mengatakannya?”
Haura :“Hal itu telah disebutkan didalam
Al-Qur’an bukan?”
Marsha :“Ya...mereka pun berkata begitu.”
Haura :“Itu bersumber
didalam surah An-Nur dan didalam surah-surah yang lain, perihal kewajiban
seorang muslimah berjilbab... ”
Marsha :“Iya, tapi itu
bukanlah dosa yang besar! Menurutku terhadap mereka, kemauan merekalah yang
lebih penting!”
Haura :“Benar, tapi
bukankah dosa besar itu selalu berawal dari dosa yang kecil?”
Marsha :“Iya memang. Tapi, apa yang kita pakai itu tidak
penting...yang terpenting adalah memiliki hati yang ikhlas dan suci. ”
Haura :“Bila memang begitu, lalu kenapa kamu
menghabiskan waktu berjam-jam setiap hari untuk bersolek dan mempercantik diri?
Kamu telah menghabiskan banyak uang untuk membeli alat-alat kecantikan. Itu
juga belum termasuk belanja terapi rambut dan untuk berbagai macam cara untuk
kamu diet!”
Marsha :“Tapi aku tidak menyukai berhijab...itu akan
merampas kebebasanku!”
Haura :“Lalu apakah
lotion dan berbagai alat kecantikan membuat kamu bebas? Beritahu aku,
sebenarnya apa makna kebebasan bagi kamu?”
Marsha :“Kebebasan adalah melakukan apa saja yang ingin kita
lakukan, dan kita sukai...”
Haura :“Kamu
salah...kebebasan adalah melakukan perkara yang baik, tanpa perlu mempertimbangkan
apa yang akan dikatakan oleh orang lain! Memang semua keinginan manusia itu
baik? Karena Allah yang telah menciptakan manusia, maka Allah jua lah yang
lebih tahu mana perkara yang baik bagi apa yang diciptakan-Nya! Kita jangan so
tahu...”
Marsha :“Sebentar, tolong
dengarkan aku! Dalam kenyataannya, banyak wanita yang beragama Islam tidak
berhijab ataupun memakai jilbab, dan perilaku mereka itu baik! Dan banyak juga
yang memakai jilbab, tapi mereka itu jahat.”
Haura :“Perlu kamu
ketahui! Bahwa hijab dan perilaku itu adalah dua hal yang berbeda. Hijab adalah
perintah langsung dari Allah yang mutlak tanpa ditawar dalam bentuk aqidah,
sedangkan perilaku adalah akhlak yang muncul dari pribadinya masing-masing
dalam menjalankan syariah Islam. Ada yang taat dan ada yang munafik! Setelah
mereka mengetahui kebenarannya, itu kembali lagi pada pilihan hidupnya
masing-masing. Karena tingkat keimanan seseorang itu tidak selalu diukur dari
hijab. Setelah itu, kalau yang baik menurut kamu itu adalah kaki botol, apakah
itu bermakna bahwa kamu akan menjadi kaki botol juga?”
Marsha :“Aku tidak ingin menjadi orang yang fanatik! Aku sudah
menjadi orang yang baik, dan tidak perlu memakai benda ini...! ”
Haura :“Kesimpulannya,
kamu itu sudah fanatik terhadap dunia yang sekular dan ekstremis yang ingkar
terhadap perintah Allah Swt.”
Marsha :“Kamu tidak
mengerti, dan kamu juga tidak akan pernah memahami aku, jika aku memakai jilbab
ini! Lalu, siapa yang akan menikah denganku?”
Haura :“Jika begitu menurutmu, dalam pandangan kamu,
apakah orang yang berjilbab dalam sejarah manusia tidak pernah menikah?”
Marsha :“Ok, tapi jika
aku menikah...dan suamiku nanti tidak menyukai atau mengizinkan aku untuk
berjilbab bagaimana? Dan dia tidak mau aku memakai jilbab?”
Haura :“Lelaki yang
tidak patuh terhadap perintah Allah, tidak patut untuk dinikahi!”
Marsha :“Lalu, siapa nanti yang akan mempekerjakan
aku bila aku berjilbab?”
Haura :“Tentulah syarikat
dan perusahaan yang hormat kepada para pegawainya seadanya, mereka melihat
kemampuan dan bakat bukan penampilan dan gaya. Mereka akan melihat prestasi
kita. Bukankah itu yang seharusnya terjadi? Bukan dengan uang, pendekatan dan
penampilan yang memancing para lelaki! Apa kamu betah dengan semua itu, memang
siapa yang memberi rezeki kepada kita, apa manusia?”
Marsha :“Tapi tidak dimulai sekarang kan?”
Haura :“Ya, tentu saja
dimulai dari sekarang, setelah kamu mengetahui itu wajib! Banyak wanita Islam
yang bekerja, baik itu di rumah sakit, dunia korporat dan bidang lainnya,
dengan memakai jilbab, tanpa meninggalkan kewajiban mereka dengan berhijab.”
Marsha :“Kenapa kamu
begitu fanatik dan keras kepala dalam masalah ini dengan membawa agama, padahal
ini hanya selembar kain saja...?”
Haura :“Lalu mengapa
kamu mempermasalahkan pakaian mahal mereka dan warna lipstik mereka?”
Marsha :“Kamu tidak menjawab pertanyaanku!”
Haura :“Aku sudah
menjawabnya. Hijab bukanlah hanya masalah sehelai pakaian. Tapi hijab adalah
sebuah perintah! Ia telah ditentukan dan wajib untuk dipatuhi, untuk setiap
wanita yang beragama Islam. Tapi baju pendek kamu dan pakaian ketat kamu...?”
Marsha :“Itu
fashionlah...Apa kamu tidak pernah peduli dan menyukai sesuatu? Kenyataannya
hijab adalah pakaian yang diperkenalkan oleh lelaki yang mau mengendalikan dan
mengekang wanita!”
Haura :“Lalu bagaimana
pula dengan wanita yang melawan suami mereka karena ingin memakai hijab? Dan
wanita yang dipaksa untuk melepas hijab mereka oleh lelaki? Apa yang akan kamu
katakan tentang itu? Orang yang menyuruh kamu untuk tidak berhijab bukan wanita
kan?”
Marsha :“Benar, tapi...”
Haura :“Tapi fashion yang
direka dan dipromosikan oleh syarikat atau perusahaan yang dikuasai lelaki
membuat kamu bebas kah? Benar kah lelaki tidak pernah mengendalikan dan
menjadikan wanita sebagai komoditi? Sudahlah itu...”
Marsha :“Iya, tapi aku belum selesai bicara!”
Haura :“Kamu akan bicara
apa? Apa kamu akan bicara bahwa lelaki mengendalikan wanita dengan menggunakan
hijab?”
Marsha :“Ya!”
Haura :“Secara spesifik, bagaimana?”
Marsha :“Dengan memberi tahu kita bagaimana dan apa
yang perlu dipakai.”
Haura :“Tidakkah Tv,
film, dan majalah memberi tahu kamu apa yang perlu dipakai dan bagaimana akan
cantik? Bukankah itu mengendalikan namanya?! Itu mempengaruhi kamu, membuat
kamu memakai apa yang mereka inginkan! Mereka bukan saja telah menguasai kamu,
tapi pasaran juga.”
Marsha :“Apa maksud kamu?”
Haura :“Maksudku,
mereka yang membuat majalah itu ingin melihat kamu kurus kering dan annorexia!
Seperti gambar wanita yang ada di cover majalah itu...”
Marsha :“Aku tidak mengerti! Apa kaitannya hijab
dengan produk?”
Haura :“Tentu saja ada
kena mengena! Apa kamu tidak merasakannya? HIJAB adalah ancaman kepada
konsumerisme. Wanita banyak menghabiskan berjuta-juta untuk kelihatan kurus
kering dan hidup dalam standard fashion yang direka oleh manusia. Dan kemudian
Islam muncul, untuk memberi tahu bahwa luaran itu tidak penting, sebaliknya
utamakanlah dalaman diri kira! Jangan peduli apa yang dikatakan oleh manusia
tentang penampilan diri kita.”
Marsha :“Sudahlah!!! Aku tidak mau memakai hijab! Karena tidak
sesuai langsung dengan kehidupan hari ini... baiklah! Aku tidak boleh melakukan
ini. ”
Haura :“Dan rugilah
mereka yang mengotorkan (jiwanya)... (Al-Qur’an: 91/10). Aku harap kamu tidak
pernah menyerah untuk terus mengetahui kebenarannya! Aku selalu berdoa kepada
Allah, agar kita bisa selamanya menjadi sahabat yang ada didalam jalan
kebenaran, Marsha...aku begini karena aku begitu menyayangi kamu! Lihatlah lebih
jauh kedalam diri kamu, mana yang baik dan benar menurut hati kamu, bukan
menurut nafsu kamu... aku tahu kamu telah mengakuinya, maka terimalah dan
berpasrah dirilah kepada Allah. Biarkan hati kamu yang memimpin dan jadikan
akal untuk membuktikannya... (dengan wajah yang tampak sedih dan gelisah)”.
Setelah debat
panjang yang sangat melelahkan tadi, Haura pergi setelah mengucapkan salam. Dia
berlalu, kala aku menunduk dan membelakanginya. Aku sendiri pun sebenarnya
tidak mengetahui apa kebenaran yang ada di hadapanku sekarang. Hatiku keruh,
tak nampak hitam dan putih! Aku menutup mata dan mencoba mendengarkan apa kata
hatiku. Aku telah terbelenggu oleh paradigma diriku sendiri, aku mencoba
mempertahankan prinsip yang selama ini aku pegang kukuh. Namun, ternyata apa
yang aku genggam ini adalah berlawanan dengan... ya aku akui bahwa kata hatiku
memang mengakui kekalahan ini.
Aku termenung dan mengingat
mengapa aku ada disini... Ketika aku harus hidup dalam apa yang belum aku
kenal. Saat aku harus berjalan dalam sebuah lorong dan beribu tangga. Rasanya
sangat menyebalkan dan melelahkan! Karena aku tidak menyukai apa yang harus aku
jalani, imbasnya aku jadi tidak menyukai orang-orang yang ikut terlibat dalam
apa yang sudah terjadi padaku. Rasanya seperti mimpi. Aku adalah seorang gadis
dari kota besar yang hidup dengan penuh angan dan cita remaja modern, dan aku
mendapatkan semuanya! Selama ini yang membesarkanku adalah kakak perempuanku
dan seorang pembantu. Kedua orangtuaku telah lama meninggal akibat kecelakaan
mobil. Walaupun aku ada didalam mobil itu, namun sebuah keajaiban aku selamat
dan melanjutkan hidupku sekarang.
Terkadang aku merasa
menjadi seorang gadis yang kuat dan sangat egois. Namun di satu titik aku
sangat lemah dan tidak tahu apa-apa. Aku sadar selama ini yang menguasai diriku
adalah egoku, aku hanyut dan senang dalam arus globalisasi. Motivasiku terhadap
sekolah dikeruhkan oleh pergaulan remaja yang bebas. Aku bukanlah gadis yang
berprestasi! Karena itu bukanlah hal yang menjadi prioritasku. Aku hanya ingin
menjadi gadis yang populer di sekolah karena kecantikanku, karena populeranku
dan gayaku. Aku juga mempunyai dua sahabat yang aku bingkai menjadi sebuah geng
terpopuler di sekolahku. Semua orang di sekolahku tahu siapa kami, dan kami
setara dengan organisasi OSIS, karena aturan yang kami buat dan pertahankan. Semuanya
terkendali karena pemilik yayasan sekolah ini adalah kakakku. Dia berhasil
menjadi sosok yang mandiri dan sukses melanjutkan karir dan perusahaan papa.
Walaupun dia sudah dewasa dan mempunyai kriteria wanita idaman para pria, namun
kakak memilih konsen terhadap pekerjaannya dan... dan merawatku. Dan didalam
geng ini, akulah ratunya! Sahabatku bernama Belinda dan Raisa. Mereka sahabatku
dari SD dan kami mempunyai satu prinsip, banyak kesamaan dan karakter yang
cocok. Merekalah yang membuat aku lupa dengan segala kesedihanku dan semua
kerinduanku dengan orangtuaku.
Di SMP kami memperbudak
banyak siswa di sekolah, dan menghinakan mereka yang tidak punya standar dan
style menurut kami. Hingga klimaks dari perbuatanku adalah aku diskors bersama
sahabatku. Kepala sekolah memanggil wali kami ke sekolah, dan tentunya kakakku
disela istirahat kantornya terpaksa datang ke sekolah. Dan hal itu membuat
kakakku kecewa dan menangis. Dia malu kepada dirinya sendiri, karena tidak
berhasil mendidikku dengan baik. Dan aku tersentak! Ketika kakakku berkata, “Apa
yang harus kakak katakan jika mama sama papa masih hidup! Kamu tahu alasan apa
kakak belum menikah sekarang dan setiap hari harus pergi pagi pulang malam!
Kakak Cuma ingin kamu menjadi anak yang baik, berprestasi dan membanggakan.
Lihat diri kamu sekarang! Tentu mama papa sangat kecewa dan sedih melihat kamu
seperti ini!”. Hatiku sangat sakit ketika mendengarnya. Aku tak dapat
berpura-pura kuat dan tegar lagi. Bila kakak membicarakan tentang mama dan papa
aku tak dapat bertahan lagi. Dan setelah beberapa hari, kakak memutuskan agar
aku setelah lulus sekolah SMP disini, aku akan melanjutkan sekolah di kota
lain. Kakak akan menitipkan aku pada teman mama, dan disana adalah tempat
kelahiran mama. Aku tahu mungkin ini cara terbaik menurut kakak agar aku bisa
berubah. Mungkin ini menunjukkan betapa kecewa dan kewalahannya kakak
terhadapku. Tak dapat ku percaya. Sungguh lucu keadaan ini! Kenapa kakak begitu
tega menitipkan aku pada orang yang tidak aku kenal? Padahal aku selalu
berusaha untuk mengerti kakak, dekat dengan kakak. Entah mengapa aku merasa
bahwa kakak tidak menyukaiku.
Aku tak dapat menerimanya!
Kenapa kak? Kenapa kakak seenaknya memutuskan apa yang akan aku lakukan?
Ini masa depanku, ini hidupku. Nafsuku
berkata bahwa aku harus melawan keadaan ini. Akhirnya dengan amarah aku
berusaha berbicara dengan kakakku. Aku tak peduli kakak sekarang sedang sibuk
bekerja, dan sibuk dengan setumpuk pekerjaannya di meja kerjanya di kamar. Aku
masuk kamarnya tanpa mengetuk pintu dan berjalan dengan ekspresi yang kesal dan
marah. Kakak tampak menghela nafas panjang dan menunda pekerjaannya. Dia
menutup laptopnya dan menyilangkan tangannya di atas meja kerjanya. Aduh!
Kenapa mentalku jadi menciut? Awalnya aku yang ingin segera meluapkan
kekesalanku pada kakak. Tapi melihat gelagat kakak sekarang, aku jadi takut.
Terlebih aku melihat kakak melepaskan kacamatanya, jarang sekali aku melihat
kakak melepasnya.
“Ada apa?! Seharusnya kamu
mempunyai alasan yang bagus untuk datang kesini dan mengganggu konsentrasi dan
pekerjaan kakak!” tegas kakak. Aduh gimana nih, aku harus jawab apa? Akhirnya
yang terjadi akibat kebingunganku adalah mulutku yang terbuka tertutup beberapa
kali dan wajahku tegang dibuatnya. Kakakku tertawa dan berdiri dari kursi
panasnya. Apa kakak tertawa karena bermaksud menyudutkanku? Jika benar, maka
dia telah berhasil. Aku tak tahan dalam situasi yang hambar ini, “Emmm, ke
kenapa kakak tertawa?” tanyaku dengan berusaha mengumpulkan keberanianku. Aku
berusaha menyembunyikan rasa takutku. Aku ingin keluar dari zona kerdilku selama
ini. Aku selalu takut kepada kakak dari aku mengenalnya. Dia bukan hanya
kakakku, tapi dia guru BK-ku. Dengan gaya yang santai dia menjawabnya, “Menurut
kamu apa? Kamu itu lucu...kamu kayak ikan koi yang butuh nafas dan air! Mulut
kamu itu loh...”. Aduh beneran aku malu dibuatnya. Tanpa pikir panjang sebelum
kakak bertanya apa maksudku tadi, aku langsung berbicara menyampaikan maksud
kedatanganku. “Aku datang kesini karena kakak tidak ikut makan malam tadi. Jadi
aku ingin memberitahu kakak kalau sekarang kakak harus menyempatkan waktu untuk
makan malam. Jangan terlalu sibuk dengan pekerjaan kakak...” kataku dengan
cemas.
Kakakku tersenyum dan
memegang pundakku dan berterimakasih atas perhatianku malam ini. Hahhh! Gagal
lagi aku menghadapi kakakku! Setelah beberapa hari aku hanya diam di rumah, aku
merasa sepi dan tersadar. Aku hanya terdiam dan termangu duduk di kursi panas
kakak. Disana aku melihat album photo kebersamaan aku dan kakak. Tanpa aku
ketahui, ternyata ada banyak surat yang kakak tulis untukku dalam setiap ulang
tahunku. Tak aku sangka! Kakak menyayangiku lebih dari apa yang aku bayangkan.
Tapi kenapa kakak tidak memberikannya? Disana kakak mengungkapkan apa yang
tidak bisa kakak ucapkan setiap harinya. Dia dalam setiap harinya selalu
mengucapkan kata sayang untukku. Aku memejamkan mata dan menangis menyadari
bahwa kakak adalah belahan cermin dari mama dan papa. Sungguh tak mudah
memegang dua peran dalam satu waktu. Aku kagum kepada kakak, dia memang yang
terbaik! I love you too kak...
Dengan sadar aku menerima
dan pasrah terhadap keputusan kakak. Dengan diantar oleh kakak, aku sampai di
rumah teman mama, namanya Bu Hana. Setelah kakak berbasa-basi dan membantu aku
membereskan semua barangku di kamar baruku, akhirnya kakak pulang. Saat diteras
rumah, aku tak sanggup melihat kakak pergi dan melihat punggung kakak dari arah
belakang... kenapa aku merasa bahwa aku akan sangat merindukannya? Tanpa
kusadari, bibir ini bergetar dan memanggil kakak. “Kak Nisa!!!”. Kakak berbalik
badan dan berlari menuju padaku. Kakak menangis dan memelukku erat. “Mungkin ini pertama kalinya kamu
melihat kakak menangis. Tapi saat melihat kamu berangkat sekolah setiap hari
pun kakak selalu menagis terharu karena kamu. Sekarang kamu mempunyai bu Hana
sebagai pengganti kakak setiap hari. Kamu harus baik dan hormat kepada bu Hana,
anggap beliau sebagai mama kamu!”. Itulah kata terakhir sekaligus nasihat
untukku sebelum kakak pergi dan mengucap salam. Dari sana aku tahu maksud
kakak. Secara perlahan, aku mulai menerima bu Hana dalam hidupku. Bu Hana
adalah seorang janda, suaminya merupakan seorang kyai yang begitu dihormati
didaerah tersebut dan dibanyak tempat setiap aku ikut bu Hana pergi. Bu Hana
begitu baik, penyantun, ramah, dan perhatian. Oh satu lagi, beliau begitu dalam
agamanya. Ya! Bu Hana adalah wanita shalihah.
Jujur, walaupun aku tipical
orang yang nggak mudah betah kalau tinggal selain dirumahku, tapi kenapa ya aku
disini begitu betah dan nyaman. Aku tahu gaya hidupku sangat berbeda dengan apa
yang dilakukan oleh bu Hana. Tapi bu Hana tidak memaksakan apa yang baik
menurutnya, dia memberikanku kenyamanan disini dan memberi contoh yang baik.
Aku malah malu dibuatnya! Selain shalat fardhu yang lima waktu, bu Hana juga
senantiasa melaksanakan shalat sunat yang lainnya, ya aku lupa lagi apa
namanya. Beliau memang benar menganggapku sebagai anak kandungnya, tapi aku
tidak mudah langsung begitu saja menganggap beliau sebagai pengganti mama.
Bagaimana pun juga dihatiku mama dan papa takan pernah tergantikan. Bila aku
bertanya kenapa bu Hana terlalu baik sama aku, beliau hanya tersenyum dan
bilang bahwa itu sudah menjadi kewajibannya. Aku berpikir, kalau mama masih
hidup mungkin tidak akan jauh berbeda dengan apa yang telah bu Hana lakukan
untukku. Ternyata seperti ini yah rasanya mempunyai seorang mama, kebahagiaan
ini menurutku cukup! Dan satu kejap saja mataku menyadarkanku bahwa mama telah
meninggal dan bu Hana bukan ibuku. Inilah kenyataannya Marsha, ya aku tahu itu
semua...
Sudah hampir dua bulan aku
tinggal disini. Dan setiap seminggu sekali selama dua bulan, bu Hana membelikan
aku sebuah gamis lengkap dengan jilbabnya yang besar. Aku kira itu untuk beliau
sendiri, tapi bu Hana bilang bahwa ini untuk kebutuhanku. Aku juga mulai
terbiasa dengan lingkungan disini. Tanpa aku bertanya dan mengelak, aku pun
mengikuti nasihat bu Hana untuk menutup aurat bila keluar rumah. Ya udahlah gak
papa, lagian disini hawanya panas! Nanti kulitku jadi gosong. Aku juga tidak
sanggup menolak perintah bu Hana, karena semua kebutuhanku terpenuhi oleh bu
Hana. Dan semua yang bu Hana perintahkan memang bisa aku terima. Aku
jalan-jalan dan beristirahat di sebuah warung. Tiba-tiba ada seorang ibu keluar
dari dalam dan tersenyum, “Neng, neng teh siapa? Neng meuni geulis!”...”Oh iya
makasih ibu.”.Ya setidaknya aku mengerti sedikit bahasa sunda, karena tahu dari
bibi. Setelah lama kami bercakap-cakap, ibu itu heran ternyata aku begitu mirip
dengan bu Hana. Tapi kenapa aku nggak sadar yah? Ya... memang iya sih, apalagi
kalau aku memakai jilbab.
Sepulang dari sana aku
terus menatap diriku sendiri di cermin. Hatiku mengakui kemiripan ini, tapi
sulit ku terima ini secara tiba-tiba. Tapi apa salahnya jika mirip dengan bu
Hana? Kata hatiku terus bergumam seperti itu. Iya, mungkin ini cuma kebetulan
aja... Lama kelamaan, kebiasaan hidupku yang lama tanpa sadar telah aku
tinggalkan. Pakaian modis dan perawatan kulit dan wajah yang biasa aku pakai
perlahan aku tinggalkan. Aku akui bu Hana berhasil merubah aku dari gadis yang tidak
tahu menjalani hidup dengan benar. Bu Hana adalah sosok mama yang aku dambakan.
Selama beberapa bulan saja, kami mengetahui ternyata banyak kesamaan diantara
kami. Beliau mengubah cara pandangku terhadap kata cantik, dan bagaimana
menjadi wanita yang terbaik.
Hingga pada suatu hari, kak
Nisa datang ke rumah untuk bersilaturahmi dan mengetahui kondisiku. Kak Nisa
lama menunggu diluar, saat itu aku tengah di jalan dekat rumah selesai belanja
dari warung. Akhirnya bu Hana tiba dirumah setelah ada keperluan diluar. Saat mereka masuk ke dalam, aku melihat
mereka dari kejauhan. Ah senangnya melihat kakak datang mengunjungiku kesini.
Timbul lagi sifat jailku, aku mengendap-endap ke dekat pintu. Dan aku tak
sengaja mendengar percakapan serius antara kak Nisa dengan bu Hana. Kak Nisa
begitu akrab dengan bu Hana dan ibu Hana juga begitu mengenal kak Nisa. Sampai
kak Nisa mempertanyakan perjanjian antara papa dan bu Hana.Yang membuat aku
sangat shock adalah bahwa bu Hana adalah ibu kandungku! Disana aku terpaku
duduk bersandar pada dinding tembok dekat pintu. Aku mendengar semuanya.
Mendengar semua kebenaran dan kenyataan yang sulit aku terima. Kenyataannya
adalah bu Hana istri kedua dari papa. Kak Nisa mendesak bu Hana untuk
menceritakan kebenaran yang terjadi.
Bu Hana : “Ya, ceritanya sangat panjang. Waktu itu Nisa baru
berumur tiga tahun. Dan waktu itu mama kamu mengidap penyakit kanker serviks
yang sangat parah karena mama kamu kurang memperdulikan rasa sakitnya. Juga
pada saat itu mama kamu tengah hamil muda. Dan akhirnya demi kesehatan dan
keselamatan mama kamu, akhirnya rahimnya diangkat. Karena itu, mama kamu
mengalami stres berat dan sering melamun. Setelah beberapa bulan, mama kamu
mengetahui bahwa papa kamu ingin memiliki keturunan lagi. Tapi papa kamu adalah
suami yang baik, beliau selalu menyembunyikan keinginannya itu demi menjaga
perasaan istrinya. Saat itu ibu masih belum menikah, dan mama kamu datang pada
ibu dan memohon agar ibu mau menikah dengan papa kamu! Mama kamu adalah sahabat
ibu. Ibu tidak mungkin menyakiti hati mama kamu. Tapi mama kamu adalah istri
yang shalihah. Dia merelakan suaminya menikah lagi, dan mama kamu memilih ibu
untuk menjadi madunya. Atas alasan dari ibu kamu, dan setiap doa dalam shalat
istikharah ibu juga orang tua ibu, akhirnya ibu menyetujui permintaan mama
kamu.”(tutur bu Hana dengan sedih nan lemah lembut).
Kak Nisa : “Ya Allah... sekarang
Nisa tahu kenapa papa dulu mewasiatkan agar Nisa mencari seseorang dan
memberikan hak asuh atas Marsha, yang identitas dan alamatnya ada didalam map
milik papa. Dan orang itu adalah ibu... Namun saat itu Nisa masih kecil bu, dan
papa menitipkannya kepada bibi! (dengan isak tangis). Lalu selanjutnya
bagaimana bu? Ada apa sehingga ibu harus pergi dari rumah dan meninggalkan
Marsha? (dengan nada tergesa)”.
Bu Hana : “Ehm, itu... setelah
pernikahan ibu bersama papa kamu, semuanya berjalan dengan baik. Ibu dan mama
kamu sangat bahagia dengan merawat kamu. Kasih sayang yang papa kamu berikan
juga sama rata, baik itu secara materil maupun non-materil. Hingga ibu
mengandung Marsha, perhatian papa kamu semakin terpusat pada ibu. Karena dulu
ibu beberapa kali keguguran, maka ketika itu saat ibu hamil kesekian bulannya,
papa kamu begitu perhatian. Mungkin karena itu mama kamu mengalami stres berat
kembali... namun dia tidak pernah menampakkannya, apa yang dia rasa, apa yang
dia derita... sampai akhirnya lahirlah Marsha. Kami semua begitu bahagia dan
bersyukur. Namun ketika ibu tengah menggendong Marsha dikamar ditemani oleh
papa kamu, mama kamu datang dan merebut Marsha dari ibu. Entah kenapa tiba-tiba
mama kamu menangis dan menyebut Marsha sebagai anak kandungnya. Juga entah
kenapa mama kamu marah sama ibu, dan menuduh ibu sebagai penculik bayinya (dengan
menahan rasa tangisnya). Mama kamu menjadi...(terdiam dan termenung)”.
Kak Nisa : “Menjadi
sakit jiwa kan bu? Nisa sudah tahu dari bibi. Bibi sudah menceritakan semua
yang diketahuinya. Dan akhirnya demi kebaikan mama, beberapa bulan kemudian ibu
pergi dari rumah dan bercerai dengan papa. Karena setiap mama melihat wajah ibu,
mama akan histeris dan menggila. Juga mama tidak mau dijauhkan dari Marsha saat
itu, bila mama tidak melihat Marsha maka mama akan kabur dari rumah dan mencari
Marsha. Mungkin ini diakibatkan oleh rasa kecewa mama karena mama kehilangan
janin dan rahimnya.” Ujar kakak dengan menahan linangan air matanya.
Bu Hana : “Nisa sudah
tahu semuanya?”
Kak Nisa : “Iya bu. Nisa
sudah tahu semuanya. Maaf, Nisa cuma ingin mendengar langsung dari ibu. Dan
ternyata apa yang ibu katakan sama dengan apa yang Nisa ketahui dari bibi.”.
Bu Hana : “Iya tidak
apa-apa sayang. Malah ibu bersyukur, karena sekarang kamu mengetahui
kebenarannya. Ibu juga minta maaf karena ibu tidak bisa langsung bertakziah
disaat mama papa kamu meninggal. Karena saat itu ibu tidak bisa menemukan
alamat rumah kalian yang baru.”
Saat itu kak Nisa dan bu
Hana berpelukan. Mereka berdua menangis dan meluapkan segala isi hati mereka.
Aku melihat mereka dibalik jendela dan tak bisa menguatkan tanganku untuk
membuka pintu. Aku juga belum sanggup untuk mengucap salam dan bertemu dengan
mereka didalam rumah. Ternyata bu Hana adalah ibu kandungku, mama adalah ibu
tiriku, dan kak Nisa adalah kakak tiriku juga papa tetap ayahku. Akhirnya aku
hanya bisa berlari dan duduk di ayunan dan berusaha menerima kenyataan ini.
Hingga aku mendengar suara mobil kakak pergi dari rumah bu Hana. Ya Allah, apa
yang harus aku lakukan sekarang? Disisi lain aku sangat sedih... namun bagian
yang terbesar adalah kenyataan yang harus aku syukuri bahwa selama ini aku
tinggal bersama ibu kandungku, tapi kenapa sekarang aku jadi malu untuk bertemu
dengan bu Hana? Dengan belahan cerminku...
Aku ingin sekali memelukmu
ibu... tapi aku memilih untuk berpura-pura belum mengetahui kebenaran bahwa aku
adalah anak kandungmu ibu! Tapi aku begitu malu ketika aku akan berkata jujur
padamu, aku bukanlah seorang anak yang baik untukmu. Biarlah hati kita saling berbicara
dan menatap dengan kesabaran. Aku pikir, ibu juga menunggu waktu yang tepat
untuk mengungkapkan semuanya padaku. Apa mungkin ibu menunggu sampai aku pantas
untuk ibu? Apa pun itu, akan aku lakukan semuanya untukmu ibu! Aku rela
melakukan apa pun agar ibu mau menerima dan memanggilku dengan kata “Anakku”...
Mengingat tujuan pertamaku kesini, akhirnya bu Hana memasukkan aku ke sekolah
berbasis agama Islam. MAN 9 Bandung. Jujur aku kurang setuju dengan keputusan
bu Hana. Beliau melihat ekspresiku yang begitu khawatir dan bingung. Namun
pelukan bu Hana dapat menenangkanku! Beliau menjelaskan bahwa itu adalah
sekolah terbaik disini. Dan beliau ingin memberikan yang terbaik yang mampu
beliau berikan. Menurutmu, jika ini perintah
ibumu dan memang yang terbaik, apa kamu akan menolaknya dan mengecewakan ibu
kamu? Kata hatiku terus berkicau demikian.
Hingga sampailah aku
disini. Selain bersekolah biasa, aku tinggal di asrama. Setiap seminggu sekali
bu Hana kemari atau aku yang pulang. Disini sangat jauh berbeda dengan apa yang
aku bayangkan. Walaupun mereka semua sangat baik padaku, tapi aku tidak betah
disini. Aku ingin kembali pulang. Aku melihat dunia lain disini. Mereka semua
sebaya denganku, namun gaya berpakaian mereka, bahasa mereka, aku tidak suka.
Semakin aku berusaha menghindar dari mereka, semakin mereka mendekatiku dan
mengajak aku masuk ke dalam dunia mereka. Namun diantara mereka semua ada
seorang gadis yang aku kenal sekarang dengan nama Haura. Dia tidak pantang
menyerah, dia begitu ingin mengenalku dan mungkin itu salah satu siasatnya
untuk menjadikan aku agar seperti dirinya.
Selama ini aku sadar. Bahwa
sahabatku yang dulu aku bangga-banggakan kini mereka telah melupakanku. Mereka
juga jarang membalas pesan dariku. Namun disisiku sekarang ada seorang gadis
yang begitu menyayangiku. Aku mengetahuinya dari sudut matanya yang selalu
mempercayaiku. Dia memiliki kesabaran yang hangat dan mampu membuka mataku
tentang wanita berhijab. Dia segera menegurku dengan kata lembutnya bila aku
keluar kamar tidak berhijab. Dia memang gadis yang idealis menurutku. Dia
memiliki banyak sahabat dan prestasi di sekolah. Ketika berhijab pun aura
kecantikannya begitu mengalun bagai nada harmoni yang tersingkap oleh simfoni.
Dia tidak terlalu memikirkan perawatan kulit dan rambutnya, dan apa saja yang
akan dia pakai agar terlihat modis dan cantik. Atau siapa saja pemuda tampan di
sekolah yang jadi sosok idola dan harus didapatkannya dan juga keinginan menjadi
sosok yang populer dengan fashion dan kecantikannya. Dia tidak tertarik dengan
itu semua. Padahal dimanapun hampir semua gadis yang sebaya dengan dia ada di
zona itu, termasuk aku. Namun dengan akhlaknya dan pribadinya yang hangat juga
kepandaian namun tetap rendah hati, dia berhasil menjadi sosok yang dikagumi di
sekolah. Dan keberuntunganku terhadap dia adalah... bahwa aku teman sekamarnya
di asrama.
Dia tidak menyerah
terhadapku, berbeda dengan teman berhijabnya yang lain. Seberapa cuek dan
menyebalkannya aku, dia begitu sabar dan hangat. Hingga suatu saat aku sakit
demam. Dia yang begitu cekatan merawatku dan mendoakan kesembuhanku. Dan dia
selalu meminta maaf bila dia terlambat pulang karena ada kegiatan di sekolah.
Karena mungkin dia khawatir kalau aku terlambat makan obat dan bosan di kamar.
Hingga hatiku luluh dan ingin mengetahui kebenarannya...“Apa yang membuat kamu
bertahan selama ini padaku? Padahal aku kurang baik sama kamu. Tapi kamu selalu
membalas semuanya dengan senyuman dan perhatian...” tanyaku dengan lemas.
Tangannya yang tengah memeras handuk untuk mengompresku terhenti, dan
diletakkannya di atas keningku. “Allah...” jawabnya dengan tenang. Aku tak
mengerti apa maksudnya, dan aku bertanya apa penjelasan atas kata Allah yang
diucapkannya itu. Dia tersenyum dan berkata, “Allah lah yang membuat aku bertahan selama
ini. Didalam hidupku, kata Allah ini adalah sumber kekuatanku. Karena Allah
berfirman bahwa sesungguhnya seorang mukmin dengan mukmin lainnya adalah
saudara. Dari itu aku, kamu, kita semua disini dan dimana pun mukmin lainnya
adalah satu umat, satu Tuhan yaitu Allah. Jadi apakah ada alasan lain aku
membiarkan saudaraku sendiri dalam keadaan sakit?”. Jawabannya memang teoritis
dan dapat aku terima sebagai seorang muslimah. Namun, itu bukan jawaban yang
aku inginkan.“Maksudku, kenapa kamu baik sekali padaku. Ketika semua orang
menatapku dengan pandangan yang aneh karena pakaian dan sikapku. Kamu malah
mendekatiku dan mencoba lebih dalam mengenalku.” Tegasku dengan menatap matanya
yang berkunang-kunang.
Dia berdiri dan duduk
disampingku. Dan dia berkata, “Karena dulu aku pernah seperti kamu dan mengerti
apa yang kamu pikirkan. Aku bahkan dulu sangat membenci Islam dan wanita yang
berhijab.”. Apa? Aku tak percaya dengan apa yang telah ku dengar ini. Aku tak
mampu berkata banyak, hanya rasa terkejut dan kebingungan yang menghiasi
wajahku. “Karena aku terlahir dari keluarga non-muslim. Kami hidup bahagia dan
sampai tiba waktu aku harus kehilangan ayahku. Dia menjadi seorang muallaf dan
menikah dengan seorang wanita yang berhijab, tentunya dia beragama Islam. Dari
sanalah ketika aku mulai dewasa, bertumbuhlah juga benci dan dendamku terhadap
wanita yang telah merebut kebahagiaan keluarga kami. Ibuku beberapa tahun setelah perceraian
sering sakit-sakitan dan akhirnya meninggal saat aku tengah berusia dua belas
tahun. Ayahku dan ibu tiriku datang untuk menjemputku, tapi aku menolak dan
lebih memilih kabur dari rumah. Dan beberapa tahun aku tinggal bersama tanteku.
Ketika itu, saat aku sedang melewati sebuah mesjid dan aku dengar bahwa
berhijab itu wajib, hatiku bergetar! Aku juga tidak tahu kenapa, padahal aku
bukan seorang yang beragama Islam. Lalu dari sana aku mencari di internet
mengapa seorang wanita dalam Islam harus berhijab? Dan harus menutupi seluruh tubuhnya?
Dimulai dari aku membaca
artikel, sejarah hijab, sampai akhirnya aku membeli buku muslimah dan Al-Qur’an
terjemahan. Aku tak percaya, dimulai dari bahasa, cara penyampaian dan
penjelasannya begitu mengena di hati dan sempurna. Al-Qur’an begitu
menakjubkan. Banyak kalimat yang dapat aku terima kebenarannya! Baik itu secara
keilmuan empirik, maupun secara non-empirik. Dari sana aku membulatkan tekadku
untuk datang kepada ayah dan ibu tiriku untuk memeluk Islam. Karena ternyata
aku tahu apa yang membuat ayah meninggalkan keluarganya dan lebih memilih Islam
dan ibu tiriku! Atas hidayah serta inayah Allah yang begitu besar untukku, aku
terus mempelajari Islam dan mempunyai motivasi yang kuat untuk mengejar
ketertinggalanku. Aku ingin seperti remaja muslimah lainnya...” jawabnya dengan
air mata yang hangat mendarat di tanganku.
Aku begitu malu setelah
mengetahui semuanya. Dia ternyata seorang muallaf, dan baru beberapa tahun
manjadi seorang muslimah. Tapi dia bisa lebih baik dariku, yang lahir dari
rahim Islam. Aku tak pernah menduganya, aku kira dia seorang anak kyai atau keturunan
mualim. Aku tak bisa berhenti menatap rona bahagia dimatanya, ketika dia terus
bercerita tentang betapa bersyukurnya dia hidup didalam Islam. Dia merasakan
kedamaian, ketenangan dan cinta yang hakiki dihidupnya. Aku menangis menyadari betapa
bodohnya aku selama ini memandang agamaku sendiri sebelah mata! Mengecap
saudara-saudariku sebagai orang yang kuno dan tertutup. Padahal jika tidak ada
mereka, mungkin Allah telah serta merta menurunkan azab-Nya bagi kami hamba-Nya
yang dzalim dan durhaka ini. Aku memegang tangannya dan ku genggam erat dipipiku.
“Haura, ajari aku apa yang kamu ketahui tentang sempurnanya Islam! Agar aku
bisa menemukan kedamaian dan mengetahui cinta dihidupku, tuntun aku padanya!
Sungguh... aku ingin berjalan sesuai dengan apa yang telah Allah tetapkan, dan
memandang dengan pemahaman yang Rasul tetapkan.” kesahku padanya. Kami saling
berpelukan dan saling meneteskan air mata. Dia berbisik, “La tahzan, innallaha
ma’ana... jangan bersedih, karena sesungguhnya Allah selalu bersama kita!”.
Sungguh hatiku menjadi tenang mendengarnya. Ya Allah, terimakasih atas semua
kebaikan dan kebahagiaan yang telah engkau anugerahkan kepada hamba. Aku
mencintaimu ya Allah... sangat mencintaimu!
Setelah kejadian itu, aku
dan Haura semakin akrab dan menjadi seorang sahabat. Dia tidak hanya sahabatku,
tapi dia juga adalah guruku. Dia memberi tahuku apa yang dia tahu seputar
berhijab dan hikmah yang terkandung didalamnya. Dia memakaikan jilbab padaku
dengan lembut dan mengajarkan bagaimana model-model berhijab. Aku juga menjadi
dekat dengan sahabatnya yang lain, dan mereka menerimaku dengan tangan terbuka.
Salah satu diantara mereka juga ada yang memberiku jilbab dan kaos kaki panjang
atau stoking untuk menutup aurat kakiku. Benar-benar terbalik 360 derajat dengan
perasaan saat pertama aku berada disini. Ternyata masalahnya aku sendiri yang
menutup diri terhadap mereka dan bertahan dalam gaya hidup yang salah.
Kami juga sering bekerja
kelompok dan berdiskusi masalah pelajaran di sekolah. Karena pergaulanku dengan
para wanita shalihah, aku juga ketularan banyak ilmu dan bahasa mereka. Lama
kelamaan sikapku yang manja, egois, pemarah dan jutek berubah menjadi semakin
baik. Aku benar-benar bersyukur dan terus meningkatkan keimananku disini.
Karena asrama ini adalah pondok pesantren, aku juga sekarang menjiwai bagaimana
istimewanya hidup didalam Islam. Aku menjadi pribadi yang ingin serba tahu dan
terus gigih mempelajari hal baru dalam Islam. Prestasiku di sekolah dan
pemahamanku di pondok juga meningkat. Aku jadi lebih percaya diri sekarang.
Juga karena rasa maluku terhadap Allah, aku meninggalkan semua kebiasaan
jelekku dulu.
Aku ingin menjadi pribadi
yang baru! Aku ingin menjalani Islam secara kaffah. Aku ingin menjadi orang
yang beragama dan bermanfaat. Aku ingin menghapus semua dosaku dimasa lalu
dengan taubat dan perubahanku yang sekarang. Aku ingin membanggakan bu Hana dan
kakak. Aku ingin mereka semua yang diluar sana tahu, bahwa Islam itu indah.
Bahwa Islam itu sempurna dan hiduplah dalam islam sebagai bukti komitmen dan
konsekuensi kita terhadap Islam. Aku ingin menjadi seorang mujahidah! Aku ingin
ingin ingin mendapat rahmat dan maghfirah Allah dan syafaat Rasulullah saw.
Inilah agenda hidupku.
Setiap harinya selalu ada
pengalaman spiritual antara aku dengan Allah. Aku juga selalu belajar puasa sunat
senin kamis seperti yang biasa dilakukan Haura dan temannya yang lain. Di
madrasah ini aku belajar dengan sungguh-sungguh. Karena persaingan disini begitu
ketat, apalagi di kelasku. Hampir semua murid disini mempunyai nilai yang
tinggi pada masing-masing mata pelajaran. Tapi yang menjadi kelemahanku adalah Al-Qur’an
Hadist. Ya karena wajarlah dulu di SMP-ku nggak ada mapel ini. Aduh ngehafalnya
susah! Nilainya bergantung dari lengkapnya kita test lagi sama ibu. Ya Allah,
berikanlah hamba kesabaran dan kemampuan untuk menjalaninya. Hamba harus
belajar lebih baik lagi. Ya...hamba tidak boleh menyerah begitu saja.
Dan Allah mengabulkan
do’aku! Lewat perantara Haura, aku diajarkan bagaimana agar lebih mudah untuk
menghafal ayat Al-Qur’an. Salah satunya memang aku harus senantiasa menjaga
wudhuku. Dan berdo’a sebelum menghafalnya, dibaca dulu satu kali dan pilahlah
dibagian mana saja untuk berhenti dihafal dalam satu ayat jika satu ayatnya
panjang. Dan ulanglah untuk beberapa kali, dan aku terbiasa dengan lima atau
tiga kali. Iya alhamdulillah, metode itu berhasil. Ya Allah, hamba sangat
bersyukur karena Engkau telah menurunkan seorang sahabat yang menuntun hamba
pada jalan-Mu. Hamba ingin terus mendekatkan diri hamba pada-Mu. Jangan biarkan
hamba berputus asa dan menjauh dari-Mu ya Allah... amin.
Seperti yang lainnya, aku
mulai terbiasa melaksanakan shalat sunat dhuha dan mengikuti kegiatan keputrian
di mushala. Juga melaksanakan shalat fardhu pada awal waktu, alhamdulillah! Aku
benar-benar merasa hidup. Aku betah dan menyukai semuanya. Bahkan acara
keputrian yang diselenggarakan oleh organisasi IRMA di sekolah selalu aku
tunggu-tunggu. Karena materinya sangat aku suka. Terutama pengetahuan tentang
fikih ibadah dan bagaimana hak dan kewajiban wanita. Disana kita juga diajarkan
untuk muhadharah, ya belajar berbicara di depan umum. Dan menjelaskan banyak
kisah-kisah inspiratif juga emansipasi wanita dari Islam. Betapa rendah dan
hinanya wanita dulu pada masa jahiliyah, dan cahaya Islam pun datang merangkul
dan memuliakan para wanita di bumi. Aku tertunduk, karena kenyataannya pada
zaman sekarang malah wanita sendiri yang menjatuhkan martabat dan kehormatannya
setelah Allah memuliakannya. Dan aku dulu termasuk wanita yang menjatuhkan
martabatnya dengan mengumbar aurat lewat tubuh dan sikapku. Astagfirullah!
Aku benar-benar ingin
berubah menuju jalan Islam! Aku ingin meninggalkan semua gaya hidup dan
kebiasaanku yang buruk. Entah mengapa sekarang jiwaku begitu tertarik dan
terdorong untuk terus mempelajari Islam. Dan sekarang aku menemukan jawabannya!
Ini ternyata salah satu hidayah yang telah Allah berikan. “Dari Muawiyah
r.a., berkata, Rasulullah saw. telah bersabda : Barangsiapa yang Allah
kehendaki baginya suatu kebaikan, maka Allah akan memberinya kefahaman dalam
agama (ilmu)”. (Muttafaq ‘Alaih). Jadi dimulai dari sekarang aku semakin
giat dan giat lagi dalam menimba ilmu Allah! Ilmu adalah suatu kebaikan dan
kebenaran dalam hidup. Akan ku buktikan! Bahwa baik Islam maupun Al-Qur’an bisa
dipelajari secara ilmiah.
Aku sudah memutuskan! Bahwa
aku tidak boleh berpakaian telanjang lagi, aku harus memakai pakaian taqwa. Aku
tidak boleh bersikap sombong dan terus berpikir bahwa aku hanya hidup didunia.
Aku harus bersikap tawadhu’ dan zuhud. Tanpa aku tahu bahwa setelah aku mati,
aku akan dibangkitkan. Dan aku harus mempertanggung jawabkan semua perbuatanku,
sekecil apapun itu. Jika biasanya atau umumnya para wanita tidak berhijab, maka
aku harus berlaku yang istimewa. Yang berbeda itu memang aneh dan yang aneh itu
maka langka, dan yang langka adalah mahal harganya. Jadilah wanita yang luar
biasa sahabat!!!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar