Pages

Jumat, 06 Maret 2015

sahabat part 2 (belahan cermin)


Who am i? Aku memang bukanlah orang yang tengah amnesia atau bermain teater sebagai individu baru yang hidup... ternyata jarang sekali orang yang mengetahui siapa dirinya yang sebenarnya, dan sangat sulit untuk memahami jati dirinya yang sesungguhnya! Ketika aku bercermin diri dengan menatap lugu nan lemas dan tangan memakaikan jilbab untuk menutup auratku, aku melihat sesuatu yang berbeda dari aura wajahku. Ya rasanya sangat berbeda, aku ternyata lebih cantik jika memakai jilbab dan jilbab menjaga kehormatan dan keindahanku. Ya, alhamdulillahilladzi hassanta kholqin fahasin khuluqi... tanpa sadar bibir ini tersenyum... dan tersadar  jiwa ini, betapa menyesalnya diri ini. Mengapa baru sekarang aku menyadari yang sebenarnya harus aku lakukan dari dulu? Berapa banyak orang gratis melihat auratku, keindahanku, kehormatanku? Ketika melihat di cermin ada seorang muslimah bersahaja nan cantik ternyata itu aku! Dengan pakaian taqwa ini, aku jadi malu seandainya aku akan berbuat maksiat kepada Allah dan Rasul-Nya...
Teringat masa laluku yang sangat jauh berbeda dengan keadaanku yang sekarang, betapa dulu aku sangat menghindar dari kata hijab! Aku telah menganggap mereka sebagai orang yang tertutup, orang yang meninggalkan kebebasan dunia ini, dan seolah tidak bisa menikmati sepenuhnya apa itu emansipasi wanita. Teringat dulu bagaimana kerasnya aku untuk memakai jilbab! Namun betapa kuatnya pula hidayah dan inayah Allah datang kepadaku.
Saat ini aku begitu capai dan bosan! Kenapa sih mereka memaksa aku untuk berpakaian seperti itu! Menutup semua tubuhku dengan kain panjang dan gak modis! Aku duduk di belakang pohon dan termenung sendiri! Disini aku tidak mempunyai teman yang mengerti aku! Aku bener-bener nggak betah tinggal disini. Kepalaku menunduk dan melihat bunga warna ungu yang terbasahi embun. Dan aku membawa bunga itu ke dalam kamar. Aku ingin memandanginya sepuas hatiku. Ya setidaknya itu yang aku inginkan sekarang. Tiba-tiba ada tangan yang meletakkan minuman teh kotak didepanku, tepat disamping bunga yang tengah ku pandang. Aku sudah mengetahui siapa orang yang ada disampingku sekarang, dia pasti Haura. Tanpa pikir panjang, aku langsung meluapkan apa yang aku rasakan sekarang!
Marsha  :“Aku sudah letih...” dengan menundukkan kepala.
Haura    :“Letih karena apa?”
Marsha  :“Dengan semua orang yang telah membicarakan aku!”
Haura    :“Siapa yang telah membicarakanmu?”
Marsha :“Dengan banyak orang yang ada disini... setiap kali aku bersama mereka, mereka selalu menyuruhku untuk memakai jilbab!”
Haura  :“Oh... itu kan hal yang biasa. Jilbab selalu menjadi topik utama disini... ya khususnya buat kamu!”
Marsha  :“Ya, memanglah! Aku pun selalu mendengar tentangnya.”
Haura     :“Lagi pula, bukankah lebih indah jika kamu memakai jilbab?”
Marsha  : Kepalaku terangkat dan terkaget, “Siapa yang mengatakannya?”
Haura    :“Hal itu telah disebutkan didalam Al-Qur’an bukan?”
Marsha  :“Ya...mereka pun berkata begitu.”
Haura    :“Itu bersumber didalam surah An-Nur dan didalam surah-surah yang lain, perihal kewajiban seorang muslimah berjilbab... ”
Marsha   :“Iya, tapi itu bukanlah dosa yang besar! Menurutku terhadap mereka, kemauan merekalah yang lebih penting!”
Haura   :“Benar, tapi bukankah dosa besar itu selalu berawal dari dosa yang kecil?”
Marsha :“Iya memang. Tapi, apa yang kita pakai itu tidak penting...yang terpenting adalah memiliki hati yang ikhlas dan suci. ”
Haura    :“Bila memang begitu, lalu kenapa kamu menghabiskan waktu berjam-jam setiap hari untuk bersolek dan mempercantik diri? Kamu telah menghabiskan banyak uang untuk membeli alat-alat kecantikan. Itu juga belum termasuk belanja terapi rambut dan untuk berbagai macam cara untuk kamu diet!”
Marsha  :“Tapi aku tidak menyukai berhijab...itu akan merampas kebebasanku!”
Haura  :“Lalu apakah lotion dan berbagai alat kecantikan membuat kamu bebas? Beritahu aku, sebenarnya apa makna kebebasan bagi kamu?”
Marsha :“Kebebasan adalah melakukan apa saja yang ingin kita lakukan, dan kita sukai...”
Haura   :“Kamu salah...kebebasan adalah melakukan perkara yang baik, tanpa perlu mempertimbangkan apa yang akan dikatakan oleh orang lain! Memang semua keinginan manusia itu baik? Karena Allah yang telah menciptakan manusia, maka Allah jua lah yang lebih tahu mana perkara yang baik bagi apa yang diciptakan-Nya! Kita jangan so tahu...”
Marsha  :“Sebentar, tolong dengarkan aku! Dalam kenyataannya, banyak wanita yang beragama Islam tidak berhijab ataupun memakai jilbab, dan perilaku mereka itu baik! Dan banyak juga yang memakai jilbab, tapi mereka itu jahat.”
Haura   :“Perlu kamu ketahui! Bahwa hijab dan perilaku itu adalah dua hal yang berbeda. Hijab adalah perintah langsung dari Allah yang mutlak tanpa ditawar dalam bentuk aqidah, sedangkan perilaku adalah akhlak yang muncul dari pribadinya masing-masing dalam menjalankan syariah Islam. Ada yang taat dan ada yang munafik! Setelah mereka mengetahui kebenarannya, itu kembali lagi pada pilihan hidupnya masing-masing. Karena tingkat keimanan seseorang itu tidak selalu diukur dari hijab. Setelah itu, kalau yang baik menurut kamu itu adalah kaki botol, apakah itu bermakna bahwa kamu akan menjadi kaki botol juga?”
Marsha :“Aku tidak ingin menjadi orang yang fanatik! Aku sudah menjadi orang yang baik, dan tidak perlu memakai benda ini...! ”
Haura     :“Kesimpulannya, kamu itu sudah fanatik terhadap dunia yang sekular dan ekstremis yang ingkar terhadap perintah Allah Swt.”
Marsha  :“Kamu tidak mengerti, dan kamu juga tidak akan pernah memahami aku, jika aku memakai jilbab ini! Lalu, siapa yang akan menikah denganku?”
Haura    :“Jika begitu menurutmu, dalam pandangan kamu, apakah orang yang berjilbab dalam sejarah manusia tidak pernah menikah?”
Marsha  :“Ok, tapi jika aku menikah...dan suamiku nanti tidak menyukai atau mengizinkan aku untuk berjilbab bagaimana? Dan dia tidak mau aku memakai jilbab?”
Haura   :“Lelaki yang tidak patuh terhadap perintah Allah, tidak patut untuk dinikahi!”
Marsha   :“Lalu, siapa nanti yang akan mempekerjakan aku bila aku berjilbab?”
Haura  :“Tentulah syarikat dan perusahaan yang hormat kepada para pegawainya seadanya, mereka melihat kemampuan dan bakat bukan penampilan dan gaya. Mereka akan melihat prestasi kita. Bukankah itu yang seharusnya terjadi? Bukan dengan uang, pendekatan dan penampilan yang memancing para lelaki! Apa kamu betah dengan semua itu, memang siapa yang memberi rezeki kepada kita, apa manusia?”
Marsha   :“Tapi tidak dimulai sekarang kan?”
Haura    :“Ya, tentu saja dimulai dari sekarang, setelah kamu mengetahui itu wajib! Banyak wanita Islam yang bekerja, baik itu di rumah sakit, dunia korporat dan bidang lainnya, dengan memakai jilbab, tanpa meninggalkan kewajiban mereka dengan berhijab.”
Marsha  :“Kenapa kamu begitu fanatik dan keras kepala dalam masalah ini dengan membawa agama, padahal ini hanya selembar kain saja...?”
Haura     :“Lalu mengapa kamu mempermasalahkan pakaian mahal mereka dan warna lipstik mereka?”
Marsha   :“Kamu tidak menjawab pertanyaanku!”
Haura   :“Aku sudah menjawabnya. Hijab bukanlah hanya masalah sehelai pakaian. Tapi hijab adalah sebuah perintah! Ia telah ditentukan dan wajib untuk dipatuhi, untuk setiap wanita yang beragama Islam. Tapi baju pendek kamu dan pakaian ketat kamu...?”
Marsha  :“Itu fashionlah...Apa kamu tidak pernah peduli dan menyukai sesuatu? Kenyataannya hijab adalah pakaian yang diperkenalkan oleh lelaki yang mau mengendalikan dan mengekang wanita!”
Haura   :“Lalu bagaimana pula dengan wanita yang melawan suami mereka karena ingin memakai hijab? Dan wanita yang dipaksa untuk melepas hijab mereka oleh lelaki? Apa yang akan kamu katakan tentang itu? Orang yang menyuruh kamu untuk tidak berhijab bukan wanita kan?”
Marsha   :“Benar, tapi...”
Haura  :“Tapi fashion yang direka dan dipromosikan oleh syarikat atau perusahaan yang dikuasai lelaki membuat kamu bebas kah? Benar kah lelaki tidak pernah mengendalikan dan menjadikan wanita sebagai komoditi? Sudahlah itu...”
Marsha   :“Iya, tapi aku belum selesai bicara!”
Haura  :“Kamu akan bicara apa? Apa kamu akan bicara bahwa lelaki mengendalikan wanita dengan menggunakan hijab?”
Marsha   :“Ya!”
Haura      :“Secara spesifik, bagaimana?”
Marsha   :“Dengan memberi tahu kita bagaimana dan apa yang perlu dipakai.”
Haura     :“Tidakkah Tv, film, dan majalah memberi tahu kamu apa yang perlu dipakai dan bagaimana akan cantik? Bukankah itu mengendalikan namanya?! Itu mempengaruhi kamu, membuat kamu memakai apa yang mereka inginkan! Mereka bukan saja telah menguasai kamu, tapi pasaran juga.”
Marsha    :“Apa maksud kamu?”                            
Haura     :“Maksudku, mereka yang membuat majalah itu ingin melihat kamu kurus kering dan annorexia! Seperti gambar wanita yang ada di cover majalah itu...”
Marsha    :“Aku tidak mengerti! Apa kaitannya hijab dengan produk?”
Haura    :“Tentu saja ada kena mengena! Apa kamu tidak merasakannya? HIJAB adalah ancaman kepada konsumerisme. Wanita banyak menghabiskan berjuta-juta untuk kelihatan kurus kering dan hidup dalam standard fashion yang direka oleh manusia. Dan kemudian Islam muncul, untuk memberi tahu bahwa luaran itu tidak penting, sebaliknya utamakanlah dalaman diri kira! Jangan peduli apa yang dikatakan oleh manusia tentang penampilan diri kita.”
Marsha :“Sudahlah!!! Aku tidak mau memakai hijab! Karena tidak sesuai langsung dengan kehidupan hari ini... baiklah! Aku tidak boleh melakukan ini. ”
Haura  :“Dan rugilah mereka yang mengotorkan (jiwanya)... (Al-Qur’an: 91/10). Aku harap kamu tidak pernah menyerah untuk terus mengetahui kebenarannya! Aku selalu berdoa kepada Allah, agar kita bisa selamanya menjadi sahabat yang ada didalam jalan kebenaran, Marsha...aku begini karena aku begitu menyayangi kamu! Lihatlah lebih jauh kedalam diri kamu, mana yang baik dan benar menurut hati kamu, bukan menurut nafsu kamu... aku tahu kamu telah mengakuinya, maka terimalah dan berpasrah dirilah kepada Allah. Biarkan hati kamu yang memimpin dan jadikan akal untuk membuktikannya... (dengan wajah yang tampak sedih dan gelisah)”.
Setelah debat panjang yang sangat melelahkan tadi, Haura pergi setelah mengucapkan salam. Dia berlalu, kala aku menunduk dan membelakanginya. Aku sendiri pun sebenarnya tidak mengetahui apa kebenaran yang ada di hadapanku sekarang. Hatiku keruh, tak nampak hitam dan putih! Aku menutup mata dan mencoba mendengarkan apa kata hatiku. Aku telah terbelenggu oleh paradigma diriku sendiri, aku mencoba mempertahankan prinsip yang selama ini aku pegang kukuh. Namun, ternyata apa yang aku genggam ini adalah berlawanan dengan... ya aku akui bahwa kata hatiku memang mengakui kekalahan ini.
Aku termenung dan mengingat mengapa aku ada disini... Ketika aku harus hidup dalam apa yang belum aku kenal. Saat aku harus berjalan dalam sebuah lorong dan beribu tangga. Rasanya sangat menyebalkan dan melelahkan! Karena aku tidak menyukai apa yang harus aku jalani, imbasnya aku jadi tidak menyukai orang-orang yang ikut terlibat dalam apa yang sudah terjadi padaku. Rasanya seperti mimpi. Aku adalah seorang gadis dari kota besar yang hidup dengan penuh angan dan cita remaja modern, dan aku mendapatkan semuanya! Selama ini yang membesarkanku adalah kakak perempuanku dan seorang pembantu. Kedua orangtuaku telah lama meninggal akibat kecelakaan mobil. Walaupun aku ada didalam mobil itu, namun sebuah keajaiban aku selamat dan melanjutkan hidupku sekarang.
Terkadang aku merasa menjadi seorang gadis yang kuat dan sangat egois. Namun di satu titik aku sangat lemah dan tidak tahu apa-apa. Aku sadar selama ini yang menguasai diriku adalah egoku, aku hanyut dan senang dalam arus globalisasi. Motivasiku terhadap sekolah dikeruhkan oleh pergaulan remaja yang bebas. Aku bukanlah gadis yang berprestasi! Karena itu bukanlah hal yang menjadi prioritasku. Aku hanya ingin menjadi gadis yang populer di sekolah karena kecantikanku, karena populeranku dan gayaku. Aku juga mempunyai dua sahabat yang aku bingkai menjadi sebuah geng terpopuler di sekolahku. Semua orang di sekolahku tahu siapa kami, dan kami setara dengan organisasi OSIS, karena aturan yang kami buat dan pertahankan. Semuanya terkendali karena pemilik yayasan sekolah ini adalah kakakku. Dia berhasil menjadi sosok yang mandiri dan sukses melanjutkan karir dan perusahaan papa. Walaupun dia sudah dewasa dan mempunyai kriteria wanita idaman para pria, namun kakak memilih konsen terhadap pekerjaannya dan... dan merawatku. Dan didalam geng ini, akulah ratunya! Sahabatku bernama Belinda dan Raisa. Mereka sahabatku dari SD dan kami mempunyai satu prinsip, banyak kesamaan dan karakter yang cocok. Merekalah yang membuat aku lupa dengan segala kesedihanku dan semua kerinduanku dengan orangtuaku.
Di SMP kami memperbudak banyak siswa di sekolah, dan menghinakan mereka yang tidak punya standar dan style menurut kami. Hingga klimaks dari perbuatanku adalah aku diskors bersama sahabatku. Kepala sekolah memanggil wali kami ke sekolah, dan tentunya kakakku disela istirahat kantornya terpaksa datang ke sekolah. Dan hal itu membuat kakakku kecewa dan menangis. Dia malu kepada dirinya sendiri, karena tidak berhasil mendidikku dengan baik. Dan aku tersentak! Ketika kakakku berkata, “Apa yang harus kakak katakan jika mama sama papa masih hidup! Kamu tahu alasan apa kakak belum menikah sekarang dan setiap hari harus pergi pagi pulang malam! Kakak Cuma ingin kamu menjadi anak yang baik, berprestasi dan membanggakan. Lihat diri kamu sekarang! Tentu mama papa sangat kecewa dan sedih melihat kamu seperti ini!”. Hatiku sangat sakit ketika mendengarnya. Aku tak dapat berpura-pura kuat dan tegar lagi. Bila kakak membicarakan tentang mama dan papa aku tak dapat bertahan lagi. Dan setelah beberapa hari, kakak memutuskan agar aku setelah lulus sekolah SMP disini, aku akan melanjutkan sekolah di kota lain. Kakak akan menitipkan aku pada teman mama, dan disana adalah tempat kelahiran mama. Aku tahu mungkin ini cara terbaik menurut kakak agar aku bisa berubah. Mungkin ini menunjukkan betapa kecewa dan kewalahannya kakak terhadapku. Tak dapat ku percaya. Sungguh lucu keadaan ini! Kenapa kakak begitu tega menitipkan aku pada orang yang tidak aku kenal? Padahal aku selalu berusaha untuk mengerti kakak, dekat dengan kakak. Entah mengapa aku merasa bahwa kakak tidak menyukaiku.
Aku tak dapat menerimanya! Kenapa kak? Kenapa kakak seenaknya memutuskan apa yang akan aku lakukan? Ini  masa depanku, ini hidupku. Nafsuku berkata bahwa aku harus melawan keadaan ini. Akhirnya dengan amarah aku berusaha berbicara dengan kakakku. Aku tak peduli kakak sekarang sedang sibuk bekerja, dan sibuk dengan setumpuk pekerjaannya di meja kerjanya di kamar. Aku masuk kamarnya tanpa mengetuk pintu dan berjalan dengan ekspresi yang kesal dan marah. Kakak tampak menghela nafas panjang dan menunda pekerjaannya. Dia menutup laptopnya dan menyilangkan tangannya di atas meja kerjanya. Aduh! Kenapa mentalku jadi menciut? Awalnya aku yang ingin segera meluapkan kekesalanku pada kakak. Tapi melihat gelagat kakak sekarang, aku jadi takut. Terlebih aku melihat kakak melepaskan kacamatanya, jarang sekali aku melihat kakak melepasnya.
“Ada apa?! Seharusnya kamu mempunyai alasan yang bagus untuk datang kesini dan mengganggu konsentrasi dan pekerjaan kakak!” tegas kakak. Aduh gimana nih, aku harus jawab apa? Akhirnya yang terjadi akibat kebingunganku adalah mulutku yang terbuka tertutup beberapa kali dan wajahku tegang dibuatnya. Kakakku tertawa dan berdiri dari kursi panasnya. Apa kakak tertawa karena bermaksud menyudutkanku? Jika benar, maka dia telah berhasil. Aku tak tahan dalam situasi yang hambar ini, “Emmm, ke kenapa kakak tertawa?” tanyaku dengan berusaha mengumpulkan keberanianku. Aku berusaha menyembunyikan rasa takutku. Aku ingin keluar dari zona kerdilku selama ini. Aku selalu takut kepada kakak dari aku mengenalnya. Dia bukan hanya kakakku, tapi dia guru BK-ku. Dengan gaya yang santai dia menjawabnya, “Menurut kamu apa? Kamu itu lucu...kamu kayak ikan koi yang butuh nafas dan air! Mulut kamu itu loh...”. Aduh beneran aku malu dibuatnya. Tanpa pikir panjang sebelum kakak bertanya apa maksudku tadi, aku langsung berbicara menyampaikan maksud kedatanganku. “Aku datang kesini karena kakak tidak ikut makan malam tadi. Jadi aku ingin memberitahu kakak kalau sekarang kakak harus menyempatkan waktu untuk makan malam. Jangan terlalu sibuk dengan pekerjaan kakak...” kataku dengan cemas.
Kakakku tersenyum dan memegang pundakku dan berterimakasih atas perhatianku malam ini. Hahhh! Gagal lagi aku menghadapi kakakku! Setelah beberapa hari aku hanya diam di rumah, aku merasa sepi dan tersadar. Aku hanya terdiam dan termangu duduk di kursi panas kakak. Disana aku melihat album photo kebersamaan aku dan kakak. Tanpa aku ketahui, ternyata ada banyak surat yang kakak tulis untukku dalam setiap ulang tahunku. Tak aku sangka! Kakak menyayangiku lebih dari apa yang aku bayangkan. Tapi kenapa kakak tidak memberikannya? Disana kakak mengungkapkan apa yang tidak bisa kakak ucapkan setiap harinya. Dia dalam setiap harinya selalu mengucapkan kata sayang untukku. Aku memejamkan mata dan menangis menyadari bahwa kakak adalah belahan cermin dari mama dan papa. Sungguh tak mudah memegang dua peran dalam satu waktu. Aku kagum kepada kakak, dia memang yang terbaik! I love you too kak...
Dengan sadar aku menerima dan pasrah terhadap keputusan kakak. Dengan diantar oleh kakak, aku sampai di rumah teman mama, namanya Bu Hana. Setelah kakak berbasa-basi dan membantu aku membereskan semua barangku di kamar baruku, akhirnya kakak pulang. Saat diteras rumah, aku tak sanggup melihat kakak pergi dan melihat punggung kakak dari arah belakang... kenapa aku merasa bahwa aku akan sangat merindukannya? Tanpa kusadari, bibir ini bergetar dan memanggil kakak. “Kak Nisa!!!”. Kakak berbalik badan dan berlari menuju padaku. Kakak menangis dan memelukku  erat. “Mungkin ini pertama kalinya kamu melihat kakak menangis. Tapi saat melihat kamu berangkat sekolah setiap hari pun kakak selalu menagis terharu karena kamu. Sekarang kamu mempunyai bu Hana sebagai pengganti kakak setiap hari. Kamu harus baik dan hormat kepada bu Hana, anggap beliau sebagai mama kamu!”. Itulah kata terakhir sekaligus nasihat untukku sebelum kakak pergi dan mengucap salam. Dari sana aku tahu maksud kakak. Secara perlahan, aku mulai menerima bu Hana dalam hidupku. Bu Hana adalah seorang janda, suaminya merupakan seorang kyai yang begitu dihormati didaerah tersebut dan dibanyak tempat setiap aku ikut bu Hana pergi. Bu Hana begitu baik, penyantun, ramah, dan perhatian. Oh satu lagi, beliau begitu dalam agamanya. Ya! Bu Hana adalah wanita shalihah.
Jujur, walaupun aku tipical orang yang nggak mudah betah kalau tinggal selain dirumahku, tapi kenapa ya aku disini begitu betah dan nyaman. Aku tahu gaya hidupku sangat berbeda dengan apa yang dilakukan oleh bu Hana. Tapi bu Hana tidak memaksakan apa yang baik menurutnya, dia memberikanku kenyamanan disini dan memberi contoh yang baik. Aku malah malu dibuatnya! Selain shalat fardhu yang lima waktu, bu Hana juga senantiasa melaksanakan shalat sunat yang lainnya, ya aku lupa lagi apa namanya. Beliau memang benar menganggapku sebagai anak kandungnya, tapi aku tidak mudah langsung begitu saja menganggap beliau sebagai pengganti mama. Bagaimana pun juga dihatiku mama dan papa takan pernah tergantikan. Bila aku bertanya kenapa bu Hana terlalu baik sama aku, beliau hanya tersenyum dan bilang bahwa itu sudah menjadi kewajibannya. Aku berpikir, kalau mama masih hidup mungkin tidak akan jauh berbeda dengan apa yang telah bu Hana lakukan untukku. Ternyata seperti ini yah rasanya mempunyai seorang mama, kebahagiaan ini menurutku cukup! Dan satu kejap saja mataku menyadarkanku bahwa mama telah meninggal dan bu Hana bukan ibuku. Inilah kenyataannya Marsha, ya aku tahu itu semua...
Sudah hampir dua bulan aku tinggal disini. Dan setiap seminggu sekali selama dua bulan, bu Hana membelikan aku sebuah gamis lengkap dengan jilbabnya yang besar. Aku kira itu untuk beliau sendiri, tapi bu Hana bilang bahwa ini untuk kebutuhanku. Aku juga mulai terbiasa dengan lingkungan disini. Tanpa aku bertanya dan mengelak, aku pun mengikuti nasihat bu Hana untuk menutup aurat bila keluar rumah. Ya udahlah gak papa, lagian disini hawanya panas! Nanti kulitku jadi gosong. Aku juga tidak sanggup menolak perintah bu Hana, karena semua kebutuhanku terpenuhi oleh bu Hana. Dan semua yang bu Hana perintahkan memang bisa aku terima. Aku jalan-jalan dan beristirahat di sebuah warung. Tiba-tiba ada seorang ibu keluar dari dalam dan tersenyum, “Neng, neng teh siapa? Neng meuni geulis!”...”Oh iya makasih ibu.”.Ya setidaknya aku mengerti sedikit bahasa sunda, karena tahu dari bibi. Setelah lama kami bercakap-cakap, ibu itu heran ternyata aku begitu mirip dengan bu Hana. Tapi kenapa aku nggak sadar yah? Ya... memang iya sih, apalagi kalau aku memakai jilbab.
Sepulang dari sana aku terus menatap diriku sendiri di cermin. Hatiku mengakui kemiripan ini, tapi sulit ku terima ini secara tiba-tiba. Tapi apa salahnya jika mirip dengan bu Hana? Kata hatiku terus bergumam seperti itu. Iya, mungkin ini cuma kebetulan aja... Lama kelamaan, kebiasaan hidupku yang lama tanpa sadar telah aku tinggalkan. Pakaian modis dan perawatan kulit dan wajah yang biasa aku pakai perlahan aku tinggalkan. Aku akui bu Hana berhasil merubah aku dari gadis yang tidak tahu menjalani hidup dengan benar. Bu Hana adalah sosok mama yang aku dambakan. Selama beberapa bulan saja, kami mengetahui ternyata banyak kesamaan diantara kami. Beliau mengubah cara pandangku terhadap kata cantik, dan bagaimana menjadi wanita yang terbaik.
Hingga pada suatu hari, kak Nisa datang ke rumah untuk bersilaturahmi dan mengetahui kondisiku. Kak Nisa lama menunggu diluar, saat itu aku tengah di jalan dekat rumah selesai belanja dari warung. Akhirnya bu Hana tiba dirumah setelah ada keperluan diluar.  Saat mereka masuk ke dalam, aku melihat mereka dari kejauhan. Ah senangnya melihat kakak datang mengunjungiku kesini. Timbul lagi sifat jailku, aku mengendap-endap ke dekat pintu. Dan aku tak sengaja mendengar percakapan serius antara kak Nisa dengan bu Hana. Kak Nisa begitu akrab dengan bu Hana dan ibu Hana juga begitu mengenal kak Nisa. Sampai kak Nisa mempertanyakan perjanjian antara papa dan bu Hana.Yang membuat aku sangat shock adalah bahwa bu Hana adalah ibu kandungku! Disana aku terpaku duduk bersandar pada dinding tembok dekat pintu. Aku mendengar semuanya. Mendengar semua kebenaran dan kenyataan yang sulit aku terima. Kenyataannya adalah bu Hana istri kedua dari papa. Kak Nisa mendesak bu Hana untuk menceritakan kebenaran yang terjadi.
Bu Hana : “Ya, ceritanya sangat panjang. Waktu itu Nisa baru berumur tiga tahun. Dan waktu itu mama kamu mengidap penyakit kanker serviks yang sangat parah karena mama kamu kurang memperdulikan rasa sakitnya. Juga pada saat itu mama kamu tengah hamil muda. Dan akhirnya demi kesehatan dan keselamatan mama kamu, akhirnya rahimnya diangkat. Karena itu, mama kamu mengalami stres berat dan sering melamun. Setelah beberapa bulan, mama kamu mengetahui bahwa papa kamu ingin memiliki keturunan lagi. Tapi papa kamu adalah suami yang baik, beliau selalu menyembunyikan keinginannya itu demi menjaga perasaan istrinya. Saat itu ibu masih belum menikah, dan mama kamu datang pada ibu dan memohon agar ibu mau menikah dengan papa kamu! Mama kamu adalah sahabat ibu. Ibu tidak mungkin menyakiti hati mama kamu. Tapi mama kamu adalah istri yang shalihah. Dia merelakan suaminya menikah lagi, dan mama kamu memilih ibu untuk menjadi madunya. Atas alasan dari ibu kamu, dan setiap doa dalam shalat istikharah ibu juga orang tua ibu, akhirnya ibu menyetujui permintaan mama kamu.”(tutur bu Hana dengan sedih nan lemah lembut).
Kak Nisa  : “Ya Allah... sekarang Nisa tahu kenapa papa dulu mewasiatkan agar Nisa mencari seseorang dan memberikan hak asuh atas Marsha, yang identitas dan alamatnya ada didalam map milik papa. Dan orang itu adalah ibu... Namun saat itu Nisa masih kecil bu, dan papa menitipkannya kepada bibi! (dengan isak tangis). Lalu selanjutnya bagaimana bu? Ada apa sehingga ibu harus pergi dari rumah dan meninggalkan Marsha? (dengan nada tergesa)”.
Bu Hana  : “Ehm, itu... setelah pernikahan ibu bersama papa kamu, semuanya berjalan dengan baik. Ibu dan mama kamu sangat bahagia dengan merawat kamu. Kasih sayang yang papa kamu berikan juga sama rata, baik itu secara materil maupun non-materil. Hingga ibu mengandung Marsha, perhatian papa kamu semakin terpusat pada ibu. Karena dulu ibu beberapa kali keguguran, maka ketika itu saat ibu hamil kesekian bulannya, papa kamu begitu perhatian. Mungkin karena itu mama kamu mengalami stres berat kembali... namun dia tidak pernah menampakkannya, apa yang dia rasa, apa yang dia derita... sampai akhirnya lahirlah Marsha. Kami semua begitu bahagia dan bersyukur. Namun ketika ibu tengah menggendong Marsha dikamar ditemani oleh papa kamu, mama kamu datang dan merebut Marsha dari ibu. Entah kenapa tiba-tiba mama kamu menangis dan menyebut Marsha sebagai anak kandungnya. Juga entah kenapa mama kamu marah sama ibu, dan menuduh ibu sebagai penculik bayinya (dengan menahan rasa tangisnya). Mama kamu menjadi...(terdiam dan termenung)”.
Kak Nisa   : “Menjadi sakit jiwa kan bu? Nisa sudah tahu dari bibi. Bibi sudah menceritakan semua yang diketahuinya. Dan akhirnya demi kebaikan mama, beberapa bulan kemudian ibu pergi dari rumah dan bercerai dengan papa. Karena setiap mama melihat wajah ibu, mama akan histeris dan menggila. Juga mama tidak mau dijauhkan dari Marsha saat itu, bila mama tidak melihat Marsha maka mama akan kabur dari rumah dan mencari Marsha. Mungkin ini diakibatkan oleh rasa kecewa mama karena mama kehilangan janin dan rahimnya.” Ujar kakak dengan menahan linangan air matanya.
Bu Hana    : “Nisa sudah tahu semuanya?”
Kak Nisa  : “Iya bu. Nisa sudah tahu semuanya. Maaf, Nisa cuma ingin mendengar langsung dari ibu. Dan ternyata apa yang ibu katakan sama dengan apa yang Nisa ketahui dari bibi.”.
Bu Hana   : “Iya tidak apa-apa sayang. Malah ibu bersyukur, karena sekarang kamu mengetahui kebenarannya. Ibu juga minta maaf karena ibu tidak bisa langsung bertakziah disaat mama papa kamu meninggal. Karena saat itu ibu tidak bisa menemukan alamat rumah kalian yang baru.”
Saat itu kak Nisa dan bu Hana berpelukan. Mereka berdua menangis dan meluapkan segala isi hati mereka. Aku melihat mereka dibalik jendela dan tak bisa menguatkan tanganku untuk membuka pintu. Aku juga belum sanggup untuk mengucap salam dan bertemu dengan mereka didalam rumah. Ternyata bu Hana adalah ibu kandungku, mama adalah ibu tiriku, dan kak Nisa adalah kakak tiriku juga papa tetap ayahku. Akhirnya aku hanya bisa berlari dan duduk di ayunan dan berusaha menerima kenyataan ini. Hingga aku mendengar suara mobil kakak pergi dari rumah bu Hana. Ya Allah, apa yang harus aku lakukan sekarang? Disisi lain aku sangat sedih... namun bagian yang terbesar adalah kenyataan yang harus aku syukuri bahwa selama ini aku tinggal bersama ibu kandungku, tapi kenapa sekarang aku jadi malu untuk bertemu dengan bu Hana? Dengan belahan cerminku...
Aku ingin sekali memelukmu ibu... tapi aku memilih untuk berpura-pura belum mengetahui kebenaran bahwa aku adalah anak kandungmu ibu! Tapi aku begitu malu ketika aku akan berkata jujur padamu, aku bukanlah seorang anak yang baik untukmu. Biarlah hati kita saling berbicara dan menatap dengan kesabaran. Aku pikir, ibu juga menunggu waktu yang tepat untuk mengungkapkan semuanya padaku. Apa mungkin ibu menunggu sampai aku pantas untuk ibu? Apa pun itu, akan aku lakukan semuanya untukmu ibu! Aku rela melakukan apa pun agar ibu mau menerima dan memanggilku dengan kata “Anakku”... Mengingat tujuan pertamaku kesini, akhirnya bu Hana memasukkan aku ke sekolah berbasis agama Islam. MAN 9 Bandung. Jujur aku kurang setuju dengan keputusan bu Hana. Beliau melihat ekspresiku yang begitu khawatir dan bingung. Namun pelukan bu Hana dapat menenangkanku! Beliau menjelaskan bahwa itu adalah sekolah terbaik disini. Dan beliau ingin memberikan yang terbaik yang mampu beliau berikan. Menurutmu,  jika ini perintah ibumu dan memang yang terbaik, apa kamu akan menolaknya dan mengecewakan ibu kamu? Kata hatiku terus berkicau demikian.
Hingga sampailah aku disini. Selain bersekolah biasa, aku tinggal di asrama. Setiap seminggu sekali bu Hana kemari atau aku yang pulang. Disini sangat jauh berbeda dengan apa yang aku bayangkan. Walaupun mereka semua sangat baik padaku, tapi aku tidak betah disini. Aku ingin kembali pulang. Aku melihat dunia lain disini. Mereka semua sebaya denganku, namun gaya berpakaian mereka, bahasa mereka, aku tidak suka. Semakin aku berusaha menghindar dari mereka, semakin mereka mendekatiku dan mengajak aku masuk ke dalam dunia mereka. Namun diantara mereka semua ada seorang gadis yang aku kenal sekarang dengan nama Haura. Dia tidak pantang menyerah, dia begitu ingin mengenalku dan mungkin itu salah satu siasatnya untuk menjadikan aku agar seperti dirinya.
Selama ini aku sadar. Bahwa sahabatku yang dulu aku bangga-banggakan kini mereka telah melupakanku. Mereka juga jarang membalas pesan dariku. Namun disisiku sekarang ada seorang gadis yang begitu menyayangiku. Aku mengetahuinya dari sudut matanya yang selalu mempercayaiku. Dia memiliki kesabaran yang hangat dan mampu membuka mataku tentang wanita berhijab. Dia segera menegurku dengan kata lembutnya bila aku keluar kamar tidak berhijab. Dia memang gadis yang idealis menurutku. Dia memiliki banyak sahabat dan prestasi di sekolah. Ketika berhijab pun aura kecantikannya begitu mengalun bagai nada harmoni yang tersingkap oleh simfoni. Dia tidak terlalu memikirkan perawatan kulit dan rambutnya, dan apa saja yang akan dia pakai agar terlihat modis dan cantik. Atau siapa saja pemuda tampan di sekolah yang jadi sosok idola dan harus didapatkannya dan juga keinginan menjadi sosok yang populer dengan fashion dan kecantikannya. Dia tidak tertarik dengan itu semua. Padahal dimanapun hampir semua gadis yang sebaya dengan dia ada di zona itu, termasuk aku. Namun dengan akhlaknya dan pribadinya yang hangat juga kepandaian namun tetap rendah hati, dia berhasil menjadi sosok yang dikagumi di sekolah. Dan keberuntunganku terhadap dia adalah... bahwa aku teman sekamarnya di asrama.
Dia tidak menyerah terhadapku, berbeda dengan teman berhijabnya yang lain. Seberapa cuek dan menyebalkannya aku, dia begitu sabar dan hangat. Hingga suatu saat aku sakit demam. Dia yang begitu cekatan merawatku dan mendoakan kesembuhanku. Dan dia selalu meminta maaf bila dia terlambat pulang karena ada kegiatan di sekolah. Karena mungkin dia khawatir kalau aku terlambat makan obat dan bosan di kamar. Hingga hatiku luluh dan ingin mengetahui kebenarannya...“Apa yang membuat kamu bertahan selama ini padaku? Padahal aku kurang baik sama kamu. Tapi kamu selalu membalas semuanya dengan senyuman dan perhatian...” tanyaku dengan lemas. Tangannya yang tengah memeras handuk untuk mengompresku terhenti, dan diletakkannya di atas keningku. “Allah...” jawabnya dengan tenang. Aku tak mengerti apa maksudnya, dan aku bertanya apa penjelasan atas kata Allah yang diucapkannya itu. Dia tersenyum dan berkata,  “Allah lah yang membuat aku bertahan selama ini. Didalam hidupku, kata Allah ini adalah sumber kekuatanku. Karena Allah berfirman bahwa sesungguhnya seorang mukmin dengan mukmin lainnya adalah saudara. Dari itu aku, kamu, kita semua disini dan dimana pun mukmin lainnya adalah satu umat, satu Tuhan yaitu Allah. Jadi apakah ada alasan lain aku membiarkan saudaraku sendiri dalam keadaan sakit?”. Jawabannya memang teoritis dan dapat aku terima sebagai seorang muslimah. Namun, itu bukan jawaban yang aku inginkan.“Maksudku, kenapa kamu baik sekali padaku. Ketika semua orang menatapku dengan pandangan yang aneh karena pakaian dan sikapku. Kamu malah mendekatiku dan mencoba lebih dalam mengenalku.” Tegasku dengan menatap matanya yang berkunang-kunang.
Dia berdiri dan duduk disampingku. Dan dia berkata, “Karena dulu aku pernah seperti kamu dan mengerti apa yang kamu pikirkan. Aku bahkan dulu sangat membenci Islam dan wanita yang berhijab.”. Apa? Aku tak percaya dengan apa yang telah ku dengar ini. Aku tak mampu berkata banyak, hanya rasa terkejut dan kebingungan yang menghiasi wajahku. “Karena aku terlahir dari keluarga non-muslim. Kami hidup bahagia dan sampai tiba waktu aku harus kehilangan ayahku. Dia menjadi seorang muallaf dan menikah dengan seorang wanita yang berhijab, tentunya dia beragama Islam. Dari sanalah ketika aku mulai dewasa, bertumbuhlah juga benci dan dendamku terhadap wanita yang telah merebut kebahagiaan keluarga kami.  Ibuku beberapa tahun setelah perceraian sering sakit-sakitan dan akhirnya meninggal saat aku tengah berusia dua belas tahun. Ayahku dan ibu tiriku datang untuk menjemputku, tapi aku menolak dan lebih memilih kabur dari rumah. Dan beberapa tahun aku tinggal bersama tanteku. Ketika itu, saat aku sedang melewati sebuah mesjid dan aku dengar bahwa berhijab itu wajib, hatiku bergetar! Aku juga tidak tahu kenapa, padahal aku bukan seorang yang beragama Islam. Lalu dari sana aku mencari di internet mengapa seorang wanita dalam Islam harus berhijab? Dan harus menutupi seluruh tubuhnya?
Dimulai dari aku membaca artikel, sejarah hijab, sampai akhirnya aku membeli buku muslimah dan Al-Qur’an terjemahan. Aku tak percaya, dimulai dari bahasa, cara penyampaian dan penjelasannya begitu mengena di hati dan sempurna. Al-Qur’an begitu menakjubkan. Banyak kalimat yang dapat aku terima kebenarannya! Baik itu secara keilmuan empirik, maupun secara non-empirik. Dari sana aku membulatkan tekadku untuk datang kepada ayah dan ibu tiriku untuk memeluk Islam. Karena ternyata aku tahu apa yang membuat ayah meninggalkan keluarganya dan lebih memilih Islam dan ibu tiriku! Atas hidayah serta inayah Allah yang begitu besar untukku, aku terus mempelajari Islam dan mempunyai motivasi yang kuat untuk mengejar ketertinggalanku. Aku ingin seperti remaja muslimah lainnya...” jawabnya dengan air mata yang hangat mendarat di tanganku.
Aku begitu malu setelah mengetahui semuanya. Dia ternyata seorang muallaf, dan baru beberapa tahun manjadi seorang muslimah. Tapi dia bisa lebih baik dariku, yang lahir dari rahim Islam. Aku tak pernah menduganya, aku kira dia seorang anak kyai atau keturunan mualim. Aku tak bisa berhenti menatap rona bahagia dimatanya, ketika dia terus bercerita tentang betapa bersyukurnya dia hidup didalam Islam. Dia merasakan kedamaian, ketenangan dan cinta yang hakiki dihidupnya. Aku menangis menyadari betapa bodohnya aku selama ini memandang agamaku sendiri sebelah mata! Mengecap saudara-saudariku sebagai orang yang kuno dan tertutup. Padahal jika tidak ada mereka, mungkin Allah telah serta merta menurunkan azab-Nya bagi kami hamba-Nya yang dzalim dan durhaka ini. Aku memegang tangannya dan ku genggam erat dipipiku. “Haura, ajari aku apa yang kamu ketahui tentang sempurnanya Islam! Agar aku bisa menemukan kedamaian dan mengetahui cinta dihidupku, tuntun aku padanya! Sungguh... aku ingin berjalan sesuai dengan apa yang telah Allah tetapkan, dan memandang dengan pemahaman yang Rasul tetapkan.” kesahku padanya. Kami saling berpelukan dan saling meneteskan air mata. Dia berbisik, “La tahzan, innallaha ma’ana... jangan bersedih, karena sesungguhnya Allah selalu bersama kita!”. Sungguh hatiku menjadi tenang mendengarnya. Ya Allah, terimakasih atas semua kebaikan dan kebahagiaan yang telah engkau anugerahkan kepada hamba. Aku mencintaimu ya Allah... sangat mencintaimu!
Setelah kejadian itu, aku dan Haura semakin akrab dan menjadi seorang sahabat. Dia tidak hanya sahabatku, tapi dia juga adalah guruku. Dia memberi tahuku apa yang dia tahu seputar berhijab dan hikmah yang terkandung didalamnya. Dia memakaikan jilbab padaku dengan lembut dan mengajarkan bagaimana model-model berhijab. Aku juga menjadi dekat dengan sahabatnya yang lain, dan mereka menerimaku dengan tangan terbuka. Salah satu diantara mereka juga ada yang memberiku jilbab dan kaos kaki panjang atau stoking untuk menutup aurat kakiku. Benar-benar terbalik 360 derajat dengan perasaan saat pertama aku berada disini. Ternyata masalahnya aku sendiri yang menutup diri terhadap mereka dan bertahan dalam gaya hidup yang salah.
Kami juga sering bekerja kelompok dan berdiskusi masalah pelajaran di sekolah. Karena pergaulanku dengan para wanita shalihah, aku juga ketularan banyak ilmu dan bahasa mereka. Lama kelamaan sikapku yang manja, egois, pemarah dan jutek berubah menjadi semakin baik. Aku benar-benar bersyukur dan terus meningkatkan keimananku disini. Karena asrama ini adalah pondok pesantren, aku juga sekarang menjiwai bagaimana istimewanya hidup didalam Islam. Aku menjadi pribadi yang ingin serba tahu dan terus gigih mempelajari hal baru dalam Islam. Prestasiku di sekolah dan pemahamanku di pondok juga meningkat. Aku jadi lebih percaya diri sekarang. Juga karena rasa maluku terhadap Allah, aku meninggalkan semua kebiasaan jelekku dulu.
Aku ingin menjadi pribadi yang baru! Aku ingin menjalani Islam secara kaffah. Aku ingin menjadi orang yang beragama dan bermanfaat. Aku ingin menghapus semua dosaku dimasa lalu dengan taubat dan perubahanku yang sekarang. Aku ingin membanggakan bu Hana dan kakak. Aku ingin mereka semua yang diluar sana tahu, bahwa Islam itu indah. Bahwa Islam itu sempurna dan hiduplah dalam islam sebagai bukti komitmen dan konsekuensi kita terhadap Islam. Aku ingin menjadi seorang mujahidah! Aku ingin ingin ingin mendapat rahmat dan maghfirah Allah dan syafaat Rasulullah saw. Inilah agenda hidupku.
Setiap harinya selalu ada pengalaman spiritual antara aku dengan Allah. Aku juga selalu belajar puasa sunat senin kamis seperti yang biasa dilakukan Haura dan temannya yang lain. Di madrasah ini aku belajar dengan sungguh-sungguh. Karena persaingan disini begitu ketat, apalagi di kelasku. Hampir semua murid disini mempunyai nilai yang tinggi pada masing-masing mata pelajaran. Tapi yang menjadi kelemahanku adalah Al-Qur’an Hadist. Ya karena wajarlah dulu di SMP-ku nggak ada mapel ini. Aduh ngehafalnya susah! Nilainya bergantung dari lengkapnya kita test lagi sama ibu. Ya Allah, berikanlah hamba kesabaran dan kemampuan untuk menjalaninya. Hamba harus belajar lebih baik lagi. Ya...hamba tidak boleh menyerah begitu saja.
Dan Allah mengabulkan do’aku! Lewat perantara Haura, aku diajarkan bagaimana agar lebih mudah untuk menghafal ayat Al-Qur’an. Salah satunya memang aku harus senantiasa menjaga wudhuku. Dan berdo’a sebelum menghafalnya, dibaca dulu satu kali dan pilahlah dibagian mana saja untuk berhenti dihafal dalam satu ayat jika satu ayatnya panjang. Dan ulanglah untuk beberapa kali, dan aku terbiasa dengan lima atau tiga kali. Iya alhamdulillah, metode itu berhasil. Ya Allah, hamba sangat bersyukur karena Engkau telah menurunkan seorang sahabat yang menuntun hamba pada jalan-Mu. Hamba ingin terus mendekatkan diri hamba pada-Mu. Jangan biarkan hamba berputus asa dan menjauh dari-Mu ya Allah... amin.
Seperti yang lainnya, aku mulai terbiasa melaksanakan shalat sunat dhuha dan mengikuti kegiatan keputrian di mushala. Juga melaksanakan shalat fardhu pada awal waktu, alhamdulillah! Aku benar-benar merasa hidup. Aku betah dan menyukai semuanya. Bahkan acara keputrian yang diselenggarakan oleh organisasi IRMA di sekolah selalu aku tunggu-tunggu. Karena materinya sangat aku suka. Terutama pengetahuan tentang fikih ibadah dan bagaimana hak dan kewajiban wanita. Disana kita juga diajarkan untuk muhadharah, ya belajar berbicara di depan umum. Dan menjelaskan banyak kisah-kisah inspiratif juga emansipasi wanita dari Islam. Betapa rendah dan hinanya wanita dulu pada masa jahiliyah, dan cahaya Islam pun datang merangkul dan memuliakan para wanita di bumi. Aku tertunduk, karena kenyataannya pada zaman sekarang malah wanita sendiri yang menjatuhkan martabat dan kehormatannya setelah Allah memuliakannya. Dan aku dulu termasuk wanita yang menjatuhkan martabatnya dengan mengumbar aurat lewat tubuh dan sikapku. Astagfirullah!
Aku benar-benar ingin berubah menuju jalan Islam! Aku ingin meninggalkan semua gaya hidup dan kebiasaanku yang buruk. Entah mengapa sekarang jiwaku begitu tertarik dan terdorong untuk terus mempelajari Islam. Dan sekarang aku menemukan jawabannya! Ini ternyata salah satu hidayah yang telah Allah berikan. “Dari Muawiyah r.a., berkata, Rasulullah saw. telah bersabda : Barangsiapa yang Allah kehendaki baginya suatu kebaikan, maka Allah akan memberinya kefahaman dalam agama (ilmu)”. (Muttafaq ‘Alaih). Jadi dimulai dari sekarang aku semakin giat dan giat lagi dalam menimba ilmu Allah! Ilmu adalah suatu kebaikan dan kebenaran dalam hidup. Akan ku buktikan! Bahwa baik Islam maupun Al-Qur’an bisa dipelajari secara ilmiah.
Aku sudah memutuskan! Bahwa aku tidak boleh berpakaian telanjang lagi, aku harus memakai pakaian taqwa. Aku tidak boleh bersikap sombong dan terus berpikir bahwa aku hanya hidup didunia. Aku harus bersikap tawadhu’ dan zuhud. Tanpa aku tahu bahwa setelah aku mati, aku akan dibangkitkan. Dan aku harus mempertanggung jawabkan semua perbuatanku, sekecil apapun itu. Jika biasanya atau umumnya para wanita tidak berhijab, maka aku harus berlaku yang istimewa. Yang berbeda itu memang aneh dan yang aneh itu maka langka, dan yang langka adalah mahal harganya. Jadilah wanita yang luar biasa sahabat!!!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar