KARYA : INDRI
SUMIYATI
A.
HAKIKAT CINTA
Tuhan,
aku cinta padamu
Aku
lemas tapi berdaya
Aku
tidak sambat rasa sakit atau gatal
Aku
pengin makan tajin
Aku
tidak pernah sesak nafas
Tapi
tubuhku tidak memuaskan
Untuk
punya posisi yang ideal dan wajar
Aku
pengin membersihkan tubuhku
Dari
racun kimiawi
Aku
pengin kembali pada jalan alam
Aku
ingin meningkatkan pengabdian kepada Allah
Tuhan,
aku cinta padamu
(W.S
Rendra)
Kata “cinta”
memang sudah tak asing lagi di telinga kita, seperti sudah tergurat
dalam memori otak kita. Namun, bila ada seseorang yang bertanya kepada kita,
tentang apa arti atau definisi cinta itu, kita selalu bingung dibuatnya.
Padahal dalam otak kita sudah tersedia jawabannya, namun begitu sulit untuk
diucapkan. Karena yang timbul di otak bukanlah kata-kata , namun berupa ingatan
mengenai suatu hal kejadian atau pengalaman cinta.
Banyak orang di bumi ini yang mengutarakan rasa
cintanya, baik itu pada sesamanya, pada hewan kesayangan, dan yang paling utama
adalah kepada Tuhannya. Dan banyak orang yang salah mengartikan kata cinta,
mereka selalu meluruskan kata cinta dengan hawa nafsu, dengan kemaksiatan, dan
dengan perbuatan yang menyimpang dari norma-norma agama Islam. Ataupun dengan
teori-teori filosofis yang sudah diracuni oleh asas-asas pemikiran nasrani dan
yahudi, sehingga membuat kekeliruan pemahaman didalam otak kita.
Cinta adalah suatu fitrah suci yang dianugerahkan Allah kepada manusia, cinta adalah suatu perasaan
indah yang muncul pada hati manusia. Cinta adalah suatu motivasi terbesar dalam
diri manusia, dan Allah hanya
menganugerahkannya pada manusia. Tentu ini adalah suatu karunia yang besar dari
Allah Swt dan patut kita syukuri. Dan cinta
merupakan perpaduan antara rasa kasih dan rasa sayang, yang menyelimuti hati
manusia, untuk mendampingi akal dan hawa nafsu manusia.
Allah Swt begitu
mengistimewakan manusia, dimulai dari penciptaan bentuknya yang paling baik
(Qs.Al-Mu’minuun ayat 12-13 dan At-Tagabun ayat 3) dan diciptakannya bumi
beserta isinya, dll. Malaikat tidak
memiliki hawa nafsu, dan iblis tidak memiliki rasa cinta kepada Allah, mereka sebagai makhluk-Nya yang ditugasi
berbeda untuk manusia. Cermati, sebagai contoh, malaikat Jibril diperintahkan
oleh Allah untuk menjaga dan menolong Nabi
Muhammad Saw, sedangkan Iblis sudah ditakdirkan untuk menggoda dan mencelakakan
Nabi Muhammad Saw. Jadi menurut anda, pemeran utama dalam contoh ini siapa? Lihat
Qs. Ali Imran ayat 139. Namun ingat, ada pepatah yang berkata “sebaik-baik
manusia bisa melebihi malaikat, dan seburuk-buruk manusia bisa melebihi iblis”.
Dan semua itu kembali lagi kepada kita sebagai pemeran utama dalam drama hidup
ini! Setiap manusia diberikan kesempatan yang sama dalam pilihan hidupnya,
hanya orang yang beriman dan beramal shalehlah yang akan menang dan selamat.
Ciri dari orang yang beriman adalah orang yang tidak
akan merasa takut dan tidak pula merasa susah, seperti yang telah dijanjikan
oleh Allah Swt
dalam Qs. Al-Baqarah ayat 38. Dan bisa juga sahabat membacanya didalam Qs.
Al-Maidah ayat 3, Qs. Al-Bayyinah ayat 7, Qs. Al-Anfal ayat 2-4, Qs. Al-Anfal
ayat 74, Qs. Al-Bayyinah ayat 165, Qs. Al-Hajj ayat 78 dan masih banyak sekali
firman Allah tentang orang yang beriman.
Berikut adalah ciri orang yang beriman didalam sebuah
hadist, “Engkau akan menemukan seorang mukmin itu bersungguh-sungguh pada apa
yang mampu dilakukannya dan bersedih atas apa yang tidak mampu dilakukannya”
(HR. Ahmad). Juga terdapat pada hadist berikut “Setiap anak adam mempunyai
kesalahan. Dan sebaik-baik orang yang mempunyai kesalahan adalah bertaubat”
(HR. Turmudzi), dan hadist ini juga langsung berhubungan dengan firman Allah Swt didalam Qs. Al-Hijr ayat 49 yang
berbunyi, “Kabarkanlah kepada hamba-hamba-Ku bahwa Akulah
Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang”.
Tentunya kita semua sudah dapat mengambil esensi dan nilai
yang terkandung didalamnya. Namun sahabat, ada firman Allah
yang berbunyi berikut, “Dan kebanyakan manusia tidak akan beriman
walaupun engkau sangat menginginkannya” (Qs. Yusuf ayat 103). Ayat ini harus
menjadi renungan bagi kita semua umat Rasulullah Saw.
Marilah kita ibda’ binnafsi terlebih dahulu, bercermin
pada hati kita! Apakah kita sudah termasuk orang yang beriman? Tidak cukup
hanya dengan iman, karena harus dibarengi dengan ikhsan dan amal shaleh. Memang
tidak mudah untuk melakukannya, tapi kita harus yakin inilah jalan keselamatan
untuk kita sebagai manusia yang beragama dan berakal.
Dahulu saat aku masih dalam kejahiliyahanku, sering
pertanyaan sederhana yang mampu menundukkan kepala dan bingung dibuatnya.
Pertanyaan itu adalah, apakah kita mencintai Allah
Swt? Memang bibir ini berucap “ya! Aku mencintai Allah!” tapi di hati ini rasanya aku sudah menjadi seorang
penjahat yang luar biasa dosanya. Ucapan itu seperti tidak ada ruhnya, mungkin
karena aku jarang berdzikir untuk mengingat Allah, tidak khusyuk dalam shalatnya,
jarang meminta maaf kepada kedua orang tuaku dan masih banyak lagi perbuatan
dosa yang semakin hari semakin menjauhkan aku dari Engkau ya Allah!
Inilah yang telah
menginspirasiku untuk membuat catatan kecil ini, walau didalamnya bukanlah
kata-kata mutiara yang mampu membuat hati terpana karena silau akan
keindahannya, walau bukan puisi dari pujangga cinta yang mampu menyihir benci
jadi cinta dan dapat merangkaikan kata demi kata hidup dan mempunyai dunianya
sendiri. Ataupun yang dapat melukiskan warna kehidupan yang begitu kontras dan
tak begitu mudah dimengerti.
Aku hanyalah hamba Allah yang mendapat ilmu yang sangat sedikit untuk
dibagikan. Sebagai seseorang yang berusaha untuk membangunkan anda ditengah
dunia sekulerisme ini. Agama bukanlah sekedar aturan belaka, yang dipandang
sebagian orang dapat mengekang atau dogma yang tidak beralasan. Apapun
zamannya, agama itu harus tetap hidup karena agama itu adalah ISLAM. Sekarang
agama hanya dipandang sebagai adat atau budaya lama, ya hanya seperti itu yang
biasanya dilakukan oleh kita sehari-hari. Apakah itu tidak membuat kita mencari
tahu ruh yang ada didalamnya?
Agama ISLAM ini dapat tumbuh dan bangun lagi seperti
pada zaman Rasulullah Saw dengan izin Allah walaupun
tanpa kita! Tapi, siapa kita tanpa agama Allah
ini? Apakah kita tidak malu kepada diri sendiri minimalnya? Kita hanya tahu
bahwa kita beragama ISLAM, tanpa mengetahui identitas agama ISLAM, kisah besar
agama ISLAM yang mengukir sejarah manusia.
Aku sangat malu, sungguh malu sekali. Kita sebagai
manusia sering mengungkapkan cinta kepada sesama manusia, dan pandai membuat
puisi cinta agar orang yang kita cintai bahagia. Tapi, sudahkah atau seringkah
kita mengucapkannya kepada Allah? Walaupun
kita beribu kali mengucapkannya, hati ini masih sangat malu karena tidak sesuai
dengan yang sering dilakukan ragawinya, sungguh aku sangat malu ya Allah.....!
Mencintai Allah...mencintai
Allah Yang Maha Kuasa takkan membuatmu
terluka, mencintai Allah Yang Maha Penyayang
akan membuatmu bahagia. Tiada rasa cemas didada dan tiada ku rasa kehilangan,
apapun yang ku cinta semua hanyalah di dunia fana yang seharusnya Allah yang teramat ku cinta. Semakin keras ku
langkahkan kakiku, semakin keras ku didera. Namun percayalah tiada yang
percuma, Allah tahu segalanya.
Kita belum dapat menyadari cinta yang sebenarnya ada
untuk kita, kita bahkan terlalu jenius bila berkata tentang cinta. Cinta bukan
hanya tentang senyum dan kebahagiaan, yang dapat menghipnotis manusia untuk
berpikiran serba instan dalam mencapai tujuan cinta kelabu. Jarang orang yang
mau tahu bahwa cinta itu hanyalah ujian dari Allah
yang diciptakan dalam permainan perasaan manusia, ada yang maslahat dan ada
juga yang madharat.
Sebenarnya kata cinta ini akan lahir dari pengabdian
yang tulus dan pengorbanan yang ikhlas, disini kita berbicara cinta sejati,
sejati itu adalah kekal dan yang sebenarnya, sebenarnya ini adalah fitrah
manusia menuju Allah, Allah Yang Maha Sempurna dengan Asmaul-Husna-Nya. Namun dengan seiringnya waktu yang membuat
kita semakin tua dengan keadaan, itu mampu menjadikan kita rapuh dan lemah
dalam kemampuan manusia untuk terus beribadah.
Bagaimana kita akan menuju Allah,
jika diri kita belum bersih dari najis dan penyakit hati. Kita tidak akan peka
terhadap cinta Allah kepada kita, kita juga
tidak akan sadar terhadap cinta Rasul kepada kita! Karena hati kita beku bahkan
mati! Diantaranya penyebab hati yang mati adalah mencintai Allah tapi tidak menta’atinya, mencintai Rasul
tapi tidak melaksanakan sunahnya, mendapat nikmat tapi tidak bersyukur, membaca
Al-Qur’an tapi tidak mengamalkannya, mengantar orang yang meninggal tapi tidak
mengambil ibrah darinya, menyebut kesalahan orang lain daripada diri sendiri,
dll.
Kita tidak akan mudah menyadari kesalahan-kesalhan kita
sahabat, karena Allah Swt berfirman didalam
Qs.At-Taubah (09) ayat 37 yang artinya “.....(Oleh setan) dijadikan terasa
indah bagi mereka perbuatan-perbuatan buruk mereka. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir”.
Dan kebanyakan manusia teryata tidak tahu berterima kasih atas nikmat Allah Swt dan pengkhianat untuk semua kasih sayang Allah kepada umat manusia seperti yang terdapat
didalam Qs. Luqman (31) ayat 32.
B.
CINTA PERTAMA
Awalnya aku tak ingin merasakan jatuh
cinta...
Karena pasti hanya permainan dan senda gurau
Dan akan hanya mengikis luka dan air mata.......
Aku hanya ingin mencintai sang Ilahi
Allahu robby yang kekal dan abadi,,,,,,,,
Inilah aku sang kembang yang mekar
Yang jalani harinya tanpa sinar mentari
Mengapa...? bukankah menyalahi kodratnya
Tanpa ada pancaran cinta yang mengiringi
hidupmu
Seindah apapun hidupmu tak akan bermakna
Sampai air langit basuh tanya dalam hati
Dan genangan senyum yang tersisa tuk hari
nanti
Hingga akhirnya Ilahi robby memperkenankan
Sang kembang dapat seberkas pancaran sinar
mentari
Sampai tertuntun kupu-kupu pandang
kembang
Metamorfosa
yang harmonis di tiap pancaran cinta
Kupu-kupu yang ajarkan hidup baru
Dan berikan pengalaman berharga
Yang takan pernah terlupa di hati
Sebagai CINTA PERTAMA.........
Kata “cinta pertama” memang agak sedikit sensitif di
telinga kita, respon yang diberikan setiap individu berbeda-beda. Ada yang
tersenyum, sedih, marah, atau malah diam? Dan apa reaksi anda ketika
mendengarnya?
Dan pertanyaannya adalah siapa cinta pertama anda? mungkin jawabannya a, b, c dan seterusnya,
intinya cinta pertama anda itu adalah manusia. Memang menurut anda apa definisi
dari cinta pertama? Mungkin beberapa
pengertiannya adalah suatu perasaan suka (cinta) yang pertama kalinya dalam
hidup kita kepada seseorang. Atau definisi lainnya, adalah seseorang lelaki
yang pertama kali mengenalkan dan mengajarkan cinta kepada kita. Dan masih
banyak lagi definisi lainnya, dan semua pernyataan berikut adalah benar.
Mari kita jawab bersama, siapa
cinta pertama kita? Karena saya yakin benar, bahwa cinta pertama kita semua
adalah sama, yakni ALLAH SWT. Coba kita teliti bersama, analisis,
renungi, sadari, dan yakini. Apakah pernyataan saya benar? Atau mungkin ada
jawaban yang lain lagi? Sungguh keterlaluan jika ada jawaban yang lain,
terkecuali anda tidak mentafakurkan diri anda secara benar.
Cermati kembali kata-kata saya,
karena ini merupakan sebuah pernyataan yang tidak hanya sekedar spekulasi
biasa, namun disertai dengan dalil Al-Qur’an dan riwayat hadits. Bukti yang
pertama yakni, pada saat di alam ruh, ketika semua ruh manusia selesai
diciptakan oleh Allah azza wa jalla, Allah berfirman dalam surah Al-A’raf ayat 172. “Alastu birabbikum? Qooluu balaa syahidnaa”
yang artinya “bukankah aku ini Tuhanmu? Betul, Engkau Tuhan kami, kami
bersaksi”.
Di dalam ayat ini, semua ruh manusia yang diciptakan
oleh Allah Swt, mereka semua bersaksi dan
bertauhid hanya kepada Allah Swt. Semua ruh
mengabdi sebagai tanda ta’at dan kecintaannya kepada Tuhannya. Semua ruh ini
yang telah bersaksi, lalu Allah menurunkan
ruh ini ke dunia, dengan takdir agama yang berbeda. Ruh ini ada yang
ditakdirkan sebagai manusia yang beragama Islam, ada ruh yang ditakdirkan
sebagai manusia yang beragama Kristen, Hindu, Budha, Konghucu, dan lain-lain
(Qs. At-Tagabun ayat 02). Maka bersyukurlah kita yang ditakdirkan Allah, sebagai manusia yang beragama Islam,
sungguh karunia yang mahal harganya. Setiap manusia mempunyai takdir yang
berbeda, tentu anda akan paham tentang ini dengan saya. Takdir manusia seperti
sebuah paket, yang didalamnya terdapat umur yang sudah ditentukan, rezeki yang
akan diberikan, siapa jodoh yang akan dipasangkan dengan kita, dan kapan
kematian akan menjemput kita semua.
Secara deskriptif, manusia di
dunia ini bagaikan air sungai. Mengapa demikian? Apakah anda sudah mengetahui
jawabannya? Jawabannya adalah air sungai adalah jernih, dan air sungai tersebut
selalu menuju ke dataran yang paling rendah, dan air sungai itu akan mengikuti
jalan dan kelokkan bentuk tanah, dan pada akhirnya semua air sungai akan
bermuara di lautan. Ada yang arahnya lurus, tentu akan semakin mudah jalannya
dan akan semakin cepat air tersebut sampai di lautan. Dan ada juga yang arahnya
berkelok-kelok, tentu akan semakin sulit jalannya dan akan semakin lama air
tersebut sampai di lautan. Gambaran air yang lurus ini adalah orang muslim yang
beriman, sedangkan gambaran air yang berkelok-kelok adalah orang kafir atau
orang muslim yang tidak beriman.
Gambaran hidup di dunia ini,
bagaikan setetes air. Dan gambaran hidup di akhirat, bagaikan samudera yang
begitu luas. Menurut anda bagaimana bandingannya, antara setetes air tadi
dengan samudera yang begitu luas? Harus berapa kali lipat kah? Lalu apakah
sekarang kita masih membangga-banggakan diri hidup di dunia yang begitu singkat
ini? Terkadang kita semua sering lupa bahwa setiap perbuatan ada balasannya,
dan Allah Maha Teliti atas apa ang kita
kerjakan. Janji Allah itu ada dan nyata,
begitu pun siksa-Nya. Berapa kali Allah berfirman didalam ayat suci Al-Qur an, “innallaha
‘adzabun adzhiim” bahwasanya azab Allah
benar sangatlah pedih bagi manusia. Dan Allah
sekali-kali tidak pernah mendzalimi hamba-Nya,
semua perkara yang buruk adalah dari perbuatan kita semua.
Dan jangan pernah kita menyalahkan
Allah Swt dalam setiap duka yang berombakkan
musibah dalam hidup kita, jangan sampai bila kita mendapat kebahagiaan, kita
berpikir semua itu adalah karena usaha kita sendiri, dan apabila kemalangan
menimpa, kita marah dan bertanya kepada Allah Swt.
Allah Swt didalam Al-Qur’annya berfirman
bahwasanya jika seseorang menyatakan beriman kepada Allah,
pastilah orang tersebut akan diberikan ujian yang brmacam-macam untuk sebagai
bukti bahwa orang tersebut memang benar beriman atau tidak kepada Allah! (Qs. Al-Ankabut ayat 7 dan Az-Zumar ayat
35). Semua urusan orang beriman itu adalah baik, karena jika mereka mendapat
musibah maka mereka akan sabar dan sholat, dan jika mereka mendapat kebahagiaan
maka mereka akan bersyukur dan berbagi. Menjadi orang yang beriman memanglah
tidak mudah, namun hal tersebut bukan pula suatu kemustahilan yang bisa dicapai
seorang muslim. Bersikap khusnudzan baik secara keilmuan dalam kesehatan.
Ada satu surah didalam
Al-Qur’an yang menjelaskan banyak nikmat Allah
kepada manusia, namun manusia selalu mendustakannya, dan hanya sebagian kecil
saja yang bertafakur dan bersyukur. Setiap yang Allah
ciptakan pasti ada ilmu didalamnya, baik ilmu secara biologi yang meneliti
sampai kehidupan sel dan bagiannya. Bagaimana didalam sel yaitu komponen
terkecil didalam tubuh makhluk hidup bekerja secara spesifik dan beraturan juga
kontinue. Maupun ilmu secara kias dan pencitraan dari bentuk, warna dan
kekhasan tersendiri dari makhluk hidup itu. Semua itu adalah ciri dan tanda
kebesaran Allah bagi kaum yang berpikir dan
berakal sehat.
Sahabat, bacalah arti dari Qs.
Ar-rahman (55) ayat 1-78! Pahami dan bayangkan betapa Allah
sangat mencintai kita hamba-Nya. Ingatlah
sahabat bahwa kita makhluk ciptaan Allah yang
tentunya akan mengikuti rumus dunia ini, yang awalnya kita tidak ada lalu kita
ada, dan akan menjadi tiada pada akhirnya. Hanya Allah
lah Yang Maha Mencabut Nyawa manusia (Qs. Ali Imran (3) ayat 145) dan Allah tidak akan pernah menunda waktu kematian kita
(Qs. Al-Munafiqun (63) ayat 11), jangan sampai kita menyesal di akhir nanti
bahkan yang menjadi saksi adalah anggota badan kita sendiri.
C.
BELAJAR MENCINTAI
Tentunya semua orang pernah
merasakan rasanya bagaimana jatuh cinta, karena semua manusia dibekali perasaan
oleh Allah Swt. Setiap lika-liku kehidupan
manusia selalu dibumbui dengan masalah. Sesuatu yang tidak sejalan dengan
kehendak kita semua, sebuah keadaan yang tidak kita inginkan, atau malah itu adalah
suatu mimpi buruk bagi sebagian orang! Tapi apa artinya kita tanpa sebuah
masalah? Dan masalah yang paling sensitif adalah masalah cinta. Terkadang kita
harus belajar dengan sesuatu yang tidak kita harapkan, yang belum terbiasa dengan
hal itu, atau karena alasannya ya memang sulit untuk dilakukan. Karena seperti
yang kita ketahui bersama, masalah cinta adalah masalah hati, masalah perasaan
yang bersangkut paut dengan keyakinan, harapan, kebahagiaan dan yang lainnya.
Namun ada satu hal yang sangat sering kita lupakan, yaitu belajar untuk mencintai
Tuhan kita sendiri yakni Allah Swt!
Rasa cinta hamba terhadap
Tuhannya memang sudah ada tertanam didalam sanubari yang paling dalam, namun
seperti halnya sebuah tanaman, rasa cinta itu juga harus benar-benar
dihidupkan, dengan perawatan yang baik, adanya kasih sayang yang istiqomah
dapat menjalin sebuah kedekatan batin kita. Harus selalu dipupuk dengan
keimanan dan ketaqwaan yang senantiasa bertambah lebih baik dan lebih banyak
lagi, bersabar dalam menemani perjalanan tumbuh dan kembangnya, selalu
berprasangka baik akan segala macam gangguan yang akan diterima nanti.
Kita sering lupa kepada Allah Swt, kita terlalu sombong untuk memuji asma-Nya, selalu bersyukur atas semua nikmat dan keselamatan
yang selalu dilimpahkan kepada kita, walaupun kita tidak meminta dan mengucapkan
terimakasih untuk setiap kebaikan-Nya. Tapi Allah tidak pernah marah, bosan, jengkel kepada
kita hamba-Nya. Kita semakin jauh dari Allah, memisahkan Allah
dari kehidupan kita, hanya menyebut nama-Nya
pada saat shalat saja.
Tanamkan didalam hati bahwa
kita itu mencintai Allah, kita lihat betapa
luar biasanya cinta Allah kepada hamba-Nya yakni Nabi Muhammad Saw, Rasulullah Saw sangat
mencintai Allah melebihi segalanya yang ada
di bumi dan di langit. Ingin tahu siapa diantara hamba-Nya
yang mendapat cinta-Nya? Lihat Qs. Ali Imran
ayat 134 dan ayat 146. Beliau tidak pernah berhenti memuji asma-Nya, sebagai tanda ingat kepada Allah, dari kata ingat tersebut adalah suatu
kecintaan Rasul kepada Allah Swt. Rasulullah
benar-benar akan suri tauladannya (Qs. Al-Ahzab ayat 21), tidak pernah putus
asa dalam menggapai ridha Allah! Ketahuilah
bahwa ridha Allah melebihi langit dan bumi,
jika Allah sudah ridha, maka dia akan mendapatkan
lebih dari surga Allah Swt (Qs. At-Taubah
ayat 72) .
Dalam tahapannya kita akan
mencintai Allah, tentu kita harus mengenal Allah lebih jauhnya, lebih banyak lagi untuk
belajar ilmu agama-Nya. Mengenal sifat-sifat
Allah, memahami dan menghafalnya yakni
Asma’ul Husna (nama-nama Allah yang baik),
semakin rajin lagi dalam ibadahnya, dan semakin khusyuk lagi dalam shalatnya.
Terutama didalam shalat, kita sedang berkomunikasi langsung kepada Allah Swt! Kita menghadap langsung kepada Allah, bertemu dengan Allah,
dan berbicara dengan Allah Swt.
Seringlah untuk berdzikir,
mengucapkan kalimat-kalimat talbiyah wa thayyibah, dan selalu beramar ma’ruf
nahyil munkar, agar ridha Allah selalu
menyertai kita. Allah tidak pernah
meninggalkan kita (Qs. Ad-Dukhan ayat 03), dalam keadaan apapun. Allah senantiasa bersama kita hamba-Nya, dalam keadaan suka dan duka, tawa dan tangis,
dalam keadaan kita ingat Allah ataupun
tidak, Allah selalu bersama kita. Allah tidak pernah pandang bulu dalam Ar-Rahmaan yakni
dalam berkasih, Yang Maha Pengasih, Allah adalah
Dzat Yang Maha Pemberi Rezeki, tidak hanya kepada manusia, tapi juga kepada
semua makhluk-Nya.
Kenali diri lebih dalam, apa
yang selalu kita cari sebagai manusia? Kita hanya bermain saja di bumi ini, mencari
kesenangan dan kebahagiaan dan pujian orang dalam pengakuannya sebagai manusia
yang sukses dan bermartabat. Tanpa kita ingat apa yang salah dan hilang dalam
target hidup kita, seringlah berintrospeksi diri dikala malam tenang dalam
qiyamul lail.
Rasa cinta juga tumbuh akibat
seringnya intensitas waktu yang lama akan kebersamaan, disana akan adanya
saling mengenal, saling memahami, saling mendengar, dan lebih dari sekedar
melihat (membaca), disana akan ada rasa yang tumbuh secara sendirinya, dan merasa
sedih bila jauh dari-Nya. Allah Swt akan tetap selalu ada di hati kita
semua, hanya diri kita saja yang jarang sekali memahaminya bahkan menyadarinya.
Kita terlalu sibuk untuk mencari kebahagiaan dan surga diluar sana, tapi
sudahkah kita menengok kedalam diri kita? Adakah rasa sedih ketika kita jauh
dari Allah? Adakah rasa sesal yang
beranginkan rasa malu kepada Allah? Dan
sudah munculkah rasa rindu kepada Allah Swt
dan ingin kembali kepada-Nya? Rasa cinta
(mahabbah) yang sejatinya tumbuh hanya untuk sang Ilahi, dan akan terus tumbuh
seiringnya waktu dan pengalaman dalam sekelumit masalah yang menerjang dan
membelit diri dengan erat.
Seringlah kita untuk bertafakur
dalam keadaan sunyi yang tenang, saat ruh kita rindu kepada penciptanya, yang
menjaganya dan hanya kepada-Nya ruh kita
akan kembali. Sebagai contoh, perhatikan hal yang sederhana dan ada didalam
tubuh kita, seperti tangan yang tiada hentinya bekerja. Tanyalah pada hati
kita, apa yang sering dia lakukan? Apa yang sering dia pegang? Apakah Al-Qur’an
atau handphone atau apa lagi?
Dalam surah Yaasin Allah berfirman bahwasanya di akhirat nanti mulut
kita dikunci, tangan kita yang akan berbicara, dan kaki kita yang akan bersaksi
terhadap apa yang telah kita perbuat selama didunia ini. Di akhirat nanti tidak
ada lagi penolong manusia selain Allah ta’ala,
saat itu ada wajah yang muram sedih dan ada wajah yang berseri-seri bahagia
karena akan menghadap Tuhannya. Bahkan ada ulama yang mengatakan bahwa puncak
nikmat dari syurga, bukanlah tinggal di syurga dengan segala kenikmatan yang
ada.
Sebenarnya siapakah kita ini?
Yang terlalu sombong untuk bersujud kepada Allah,
yang merasa egois dengan aturan Islam, yang pandai membuat berjuta alasan untuk
membela dirinya sendiri. Para nabi, khulafaur-rasyidin, syuhada, tabi’in
tabi’at, mujahid mujahidah, syeikh, para ilmuwan Islam, waliyullah, kyai besar,
ustad ustadzah dan semua yang sangat berjasa dalam tumbuh kembangnya agama
Islam banyak tercatat didalam buku sejarah. Kita semua bisa membaca bagaimana
mereka semua hidup sebagai hamba Allah Swt.
Mereka adalah tokoh idola
sejati kita, setiap pahlawan Islam mempunyai andil masing-masing dalam
perjuangan dan pengorbanannya untuk agama Allah ini.
Walau kini mereka jarang sekali dikenal dan diketahui oleh generasinya sendiri,
tapi nama dan amal mereka tetap kekal pada kitab ‘Iliyyin, juga oleh Allah Swt. Mereka jarang dikenang untuk dikenal,
mereka jarang dicari sejarahnya untuk dicontoh, mereka hamba-hamba Allah yang beriman dan tinggi ilmu dunia akhiratnya
saja, sudah mulai terlupakan, apalagi kita yang bukan siapa-siapa! Apa yang
patut disombongkan oleh kita?
Pertanyaannya adalah apakah
kita akan dikenang? Dan sebagai apa kita akan dikenang? Semua orang mudah
terlupakan ketika pergi, tapi ada Allah yang
tidak pernah lupa dan tidak pernah tidur. Allah selalu
bersama kita dalam tingkatan dunia, saat kita di alam ruh, saat kita berada di
dunia fana (rusak) ini, saat kita terkurung penyesalan dan menanti di alam
kubur dan saat kita menempuh finish di akhirat.
Saat kita nanti berada di akhirat, kita akan merasakan
hidup di dunia bagaikan tinggal saat di siang hari saja (Qs. Al-Ahqaf (46) ayat
35). Kita lupa tujuan kita, ingat latar
belakang Nabi Adam As dan Siti Hawa ditirunkan ke bumi ini, manusia diturunkan
ke bumi ini untuk beribadah kepada Allah Swt.
D.
UNTUK MEMAHAMI
Untuk belajar mencintai Allah
memang tidak mudah, tapi dalam setiap jiwa individu pasti mempunyai
modal yang sama, tinggal bagaimana seseorang tersebut untuk memupuknya tumbuh
subur dan berbunga lalu berbuah selamanya. Setiap jiwa pada suatu waktu pasti
ada kalanya pernah mengalami waktu saat jiwanya rapuh karena merindukan Allah Swt, teringat semua dosa yang kita lakukan
dahulu, dosa yang membuat air mata orang tua kita mengalir, atau sampai membuat
seseorang dendam kepada kita, dan hal-hal lainnya yang dapat membuat kita jauh
dari Allah Swt.
Namun, dalam setiap kesalahan yang telah kita lakukan,
yakinlah bahwa semua itu adalah rencana tersirat yang telah Allah gariskan untuk kita, semua itu untuk
dipelajari, untuk dipahami suatu ilmu yang secara tidak langsung Allah tuturkan kepada kita. Allah sangat mengerti isi hati setiap hamba-Nya, Allah yang
paling mengerti sifat ataupun karakter hamba-Nya.
Saat Allah Swt sedang menguji kita atau
menurunkan musibah kepada kita, berarti Allah sedang
merindukan kita. Allah rindu akan sholat
yang selalu khusyuk akan indahnya kepada Allah.
Yang didalamnya kita berbicara kepada Allah secara
lembut dan berpasrah diri kepada Allah Swt,
juga rukuk dan sujud tanda kerendahan diri kita kepada Allah,
menundukkan semua kesombongan kita, membawa semua dosa dan taubat kita kepada Allah Swt, karena hanya kepada Allah lah kita semua kembali.
Allah Swt bukan hendak merendahkan
kita hamba-Nya, Allah
juga bukan ingin menyakiti kita, Allah tidak
pernah mendzalimi hamba-Nya. Semua musibah
yang buruk adalah ujian untuk kita menjadi orang yang lebih baik lagi, menjadi
orang yang kuat, pandai bersabar dan bersyukur, dan sadarilah saat kita semua dirundung
masalah sedemikian rupa, hingga kita sadar bahwa hanya Allah
lah yang segala-galanya, Dia-lah tempat kita bergantung dan tempat kembali,
tempat kita beribadah dan memohon pertolongan.
Ingatlah akan kematian kita semua, kita akan sendiri!
Tidak ada keluarga, kerabat, saudara, ataupun teman yang menemani atau bahkan
menolong di alam kubur. Hanya kita sendiri, dan amal kita yang mengiringi kita
sekalian. Dalam suasana yang gelap gulita, menemui malaikat yang kasar dan
kejam terkecuali kepada hamba-hamba Allah yang
beriman. Kita bukanlah apa-apa, kita makhluk yang terlalu sombong akan
kelebihan kita, dan sikap riya yang hampir tidak kita sadari selalu membumbui
hari-hari kita, padahal hal tersebut sangat ditakutkan oleh Rasulullah Saw.
Suatu kepahaman akan terjadi dan mengalir begitu saja
saat diri kita dalam keadaan sadar, juga fokus terhadap apa yang kita
targetkan, kita mendengar dan menyimak dengan sungguh-sungguh dalam setiap
kejadian hidup kita, kita juga perlu meluangkan waktu untuk berpikir mengenai
apa, kenapa, bagaimana dan pertanyaan lainnya sebagai responsi dari apa yang
kita ketahui. Segala macam perasaan dan pengalaman yang terindah adalah saat
jiwa kita merasa dekat dengan penciptanya.
Kasih sayang Allah kepada
kita sangatlah berlimpah, dan semua nikmat-Nya
yang sangat banyak (Al-Kautsar). Kita tidak akan pernah sanggup untuk
menghitung semua nikmat itu, sedangkan coba hitung berapa banyak kita bersyukur
kapada Allah Swt atas semua nikmat-Nya? Allah selalu
memberikan yang terbaik untuk kita, walaupun menurut pandangan manusia itu
adalah buruk! Namun Allah lebih mengetahui
segala sesuatu dari pada kita! Untuk itu janganlah kita mengatur Allah untuk semua yang kita inginkan, dan marah
kepada Allah ketika tidak sesuai dengan apa
yang kita harapkan. Mintalah kepada Allah agar
hanya Allah lah yang Maha Kuasa untuk
mengatur dan mempunyai banyak rencana indah untuk kita, agar kita senantiasa
mendapat ridha dan ampunan Allah Swt.
Berpikirlah, sesungguhnya engkau adalah seorang yang
diciptakan untuk berpikir...kita manusia adalah makhluk Allah yang diciptakan dengan sempurna dibandingkan dengan
makhluk yang lainnya. Kita dianugerahi akal untuk mempunyai kemampuan
membedakan mana yang hanya sekedar baik atau benar dan mana yang salah. Allah tidak pernah menyuruh kita untuk mencari
solusi ataupun jalan keluar dalam menghadapi suatu masalah, namun Allah hanya menyuruh kita untuk senantiasa sabar
dan istiqomah dalam shalatnya. “Kuatkanlah harapanmu dalam meraih apa-apa yang
bermanfaat bagimu” (HR. Muslimin). Kita hanya membulatkan tekad yang kuat dan
berani dalam bertindak dalam lingkup kebenaran yang hakiki, dan berpegang teguh
pada Al-Qur’an dan Hadits. Allah tidak
pernah meninggalkan kita dalam keadaan apapun, Allah
akan selalu tetap ada di hati kita.
Jangan pernah bosan dan kapok menjadi orang baik, bila
kita mendapat hinaan, makian, umpatan, atau bahkan fitnahan, jangan pernah
mudah menyerah dalam mengarungi lautan yang biru akan kejamnya. Dengan adanya
masalah seperti itu, kita akan menyadari bahwa kebaikan itu tumbuh dari suatu
masalah, dan tolak ukurnya adalah kejahatan. Jika kita sudah menemukan inti
ataupun nilai yang terkandung dalam suatu masalah, kita akan menangis dan
tersenyum karena rasa terimakasih yang indah kepada Allah
Swt, dan sadar bahwa dia rela membeli sujudnya kepada Allah Swt walau harus dengan tangisan, rasa sakit,
hinaan, lahir dan bathin.
Seringlah membaca terjemahan dari Al-Qur’an, ataupun
buku-buku islam lainnya yang dapat membuka wawasan kita tentang agama Islam. Ingatlah
bahwa dalam salah satu riwayat hadist Rasulullah Saw, ini harus menjadi
renungan kita sebagai umatnya yang akhir zaman, bahwasanya Islam lahir dalam
keadaan asing dan akan hilang saat dalam keadaan asing bagi pemeluknya, dan
mari kita analisis bersama sekarang, apakah Islam sudah menjadi asing bagi
pemeluknya?
Dalam salah satu tokoh tasawuf aliran mahabbah, ada
seorang wanita bernama Rabi’ah Al Adawiyah. Beliau sangat terkenal pada
masanya, dan mengenalkan filosofi baru dalam konteks rumusan masalah siapa
cinta pertama kita? Bagaimana cara kita untuk mencintai Allah Swt? Apa yang harus dilakukan bila kita mencintai Allah Swt? Dan banyak lagi yang lainnya sebagai
bahan untuk kita pikirkan dan bertanya kepada sesama muslim.
Memahami arti cinta yang sebenarnya memang tidak
semudah merasakannya, apalagi mengucapkannya, tapi kalau itu untuk Allah? Allah selalu
mengajarkan manusia berkasih sayang dan mencintai sesuai kadarnya
masing-masing. Cinta kepada Allah Swt, cinta
kepada Rasulullah Saw, cinta kepada orang tua, dan cinta kepada sesama muslim
wal muslimat lainnya.
Cinta bagai bunga yang terbang di musim gugur yang
mengikuti arah semilirnya angin liar, walau entah kemana perginya bunga itu
kita tak tahu! Namun tanya bumi pada angin yang lalu, akankah sang bunga tiba
di tempat yang biru airnya kembali? Cinta kan selalu mencoba untuk tumbuh
cantik nan indah walau beribu musim kan datang mematahkannya lagi, namun cinta
kan bertahan! Sampai hujan kan kukuhkan cinta berulang lepas.
Dan pada saatnya nanti cinta akan lagi bersinar
bergabung bersama mentari, semakin lama semakin dewasa dan semakin memberi
senyuman yang berarti. Dan menunduk tanda syukur kepada Allah Swt. Sampai tiba waktu cinta nanti memberi manfaat kepada
sekitarnya dan menyebarkan benih-benih ilmu Allah,
agar menjadi bibit unggul meraih panen syurga.
Sahabat, kita harus bisa menjadi generasi yang rabbani
, yakni generasi Islam terbaik. Perlu kita ketahui bersama bahwasanya pahala
yang diberikan Allah Swt kepada anak remaja
dalam amal shalehnya dibandingkan dengan orang tua dalam amal shalehnya lebih
besar pahala untuk anak remaja. Mengapa demikian? Karena anak remaja dalam
berbagai pengertiannya, anak remaja adalah masa pubertas, masa labil dan dalam
keadaan besar-besarnya hawa nafsu. Anak remaja cenderung lebih mendengarkan
temannya daripada orang tuanya, keras kepala, selalu ingin diperhatikan orang
lain, dll. Sangat berbahaya jika tidak terkontrol oleh rasa keimanan.
Kata paham pengertiannya lebih dari sekedar kata tahu,
mungkin pemahaman tentang bagaimana menimbulkan rasa cinta kepada Allah Swt. Salah satu wujud dari rasa cinta kita
kepada Allah Swt adalah dengan mendirikan
shalat. Shalat bukanlah hanya sekedar rutinitas kewajiban umat muslim saja,
bila kita semua mengetahui ternyata berjuta ilmu dan ikhtibar dapat kita ambil
didalamnya.
Mari kita mulai dengan mengetahui makna dari gerakan
shalat, berawal dari makna gerakan mengangkat tangan. Maknanya adalah tanda
hormat dan memuliakan Allah Swt yang ada di
hadapannya, kemudian menyerahkan segenap hidupnya kepada Allah Swt. Lalu makna dari do’a iftitah adalah
penyerahan diri secara total kepada Allah.
Suatu syahadah atau penetapan misi dan prinsip hidup seseorang baik didalam
berpikir ataupun bertingkah laku.
Selanjutnya makna dari gerakan rukuk adalah simbol
penyerahan diri kepada Allah, dengan
menundukkan kepala tanda kepatuhan dan keta’atan yang tanpa batas ke hadapan Allah dengan membaca tasbih. Lalu makna dari gerakan
i’tidal adalah simbol ketenangan batin setelah penyerahan diri dan tunduk
kepada Allah secara total, ketenangan akan
menghilangkan rasa takut terhadap kehidupan dengan berdiri tegak.
Adapun makna dari gerakan sujud adalah menunjukkan
kemuliaan manusia tidak ada artinya di hadapan Allah
Yang Maha Mulia. Sebagai bukti bahwa ia hina dan segenap hidupnya diserahkannya
kepada Allah Swt. Selanjutnya ada makna dari
duduk diantara dua sujud adalah menyadari kesombongan diri yang telah
dilakukannya kemudian berbisik kepada Allah untuk
meminta ampunan, rahmat, rizki dan kesehatan. Untuk berdo’a seraya meminta
pengampunan dan kasih sayang.
Lalu makna dari takbir pada setiap pergantian gerakan
shalat adalah penguatan terus-menerus suara hati sehingga suara itu terus hidup
dan mencerdaskan emosi juga spiritual sekaligus memelihara kepekaan jiwa.
Selanjutnya yang terakhir adalah makna dari gerakan salam adalah hubungan
horizontal atau hubungan dengan sesama, membawa misi akhir untuk memberikan
keselamatan dan kedamaian kepada sesama makhluk. Karena itu orang yang shalat
akan membawa misi perdamaian dan keselamatan kepada sesama manusia dan makhluk
lainnya, ternyata perintah shalat berbeda dengan perintah ibadah wajib lainnya.
Perintah shalat merupakan mikrajnya orang yang mukmin.
Perintah menegakkan shalat ini mempunyai nilai yang sangat berkah, yakni
terdapat nilai yang terus bertambah kebaikannya jika kita mentafakurinya. Tidak
hanya sebatas gerakan dan ucapan semata, shalat dibangun oleh tiga aspek yakni
: kauniyah, fi’liyah dan qolbiyah. Tentu sahabat sudah mengerti akan arti dan
maknanya.
Jika kita mencintai Allah
Swt, pastinya kita tidak akan pernah meningalkan shalat dan
melalaikannya. Karena shalat merupakan amalan yang pertama di hisab di akhirat
nanti, yang juga bergantung pada amalan ibadah yang lainnya. Hal ini sesuai
dengan firman Allah Swt fi kitabihil kariim
Qs. Ali ‘Imran ayat 31, “Katakanlah (Muhammad), “Jika kamu mencintai Allah, ikutlah aku, niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu”. Dan
Allah tidak akan pernah menyia-nyiakan orang
yang beriman diantara manusia, seperti firman Allah
Swt yang telah termaktub didalam Qs. Al-Kahfi ayat 30.
Adakalanya sahabat yang paling mengerti kita sekalipun
pergi meninggalkan kita, tak peduli dan mencoba mengerti keadaan sulit kita!
Tapi ada yang lebih memahami dan mendengarkan hati kecil kita, yaitu Allah Swt. Tidak selalu ada bahu yang siap untuk
dijadikan sandaran kala kita bersedih dan menangis, namun akan selalu ada lantai
bumi yang sengaja Allah ciptakan untuk kita
bersujud.
Tak pernah ku lihat tanpa ku mendengar, dapat ku
rasakan selalu ku rasakan. Betapa besarnya kuasa-Mu! Ya Allah...aku percaya Engkau pasti telah merencanakan yang
terbaik untuk diriku, agar ku tak jatuh dan selalu ada di jalan-Mu. Itu adalah
lirik lagu religi yang dapat menyentuh hatiku, tidakkah itu juga dapat
menyentuh hati para sahabat? Bukankah kita semua adalah para musafir cinta?
(Qs. Al-Insyiqaq ayat 06) Manusia yang sedang menempuh perjalanan yang
sebenarnya sangatlah pendek, namun perjuangannya yang besar untuk dapat
mencintai Tuhannya sepenuh jiwa raga, dengan iman dan taqwa dihidupnya. Dunia
ini adalah tempat perjalanan manusia menuju Tuhannya!
Cinta kepada Allah
adalah landasan dan dasar yang paling utama dan pertama, dan itu adalah sumber
untuk segala dan semua cinta yang ada di bumi dan di langit. Coba sahabat lihat
Qs. Al-Baqarah ayat 186, itu dapat membuat hati kita bergetar dan menunduk
khauf kepada Allah Swt.
Dan berdoa semoga kita semua termasuk hamba Allah
Swt yang beriman dan senantiasa beramal shaleh yang mempunyai cinta
untuk Allah dihatinya.
E.
DAN MENYADARI AKAN CINTA SEJATI
Terlalu banyak mulut kita untuk berkata cinta, seakan
kita mengetahui apa arti cinta itu. Kita bersikap taklid, dan hal tersebut
adalah dilarang dalam agama Islam, karena hal tersebut tidak ada didalam
Al-Qur’an dan Sunah Rasulullah Saw. Cinta itu datang secara tiba-tiba, tak
pernah disangka pertemuannya, tapi itu kadar manusia. Kita begitu sulit untuk
menjabarkan arti cinta, semuanya ada didalam pikiran kita namun saat kita akan
mengucapkannya rasanya terbelenggu akan ketidakmampuan. Dalam mencintai kita akan
dibutuhkan sebuah pengorbanan, semua agar terasa indahnya cinta itu. Cinta yang
sempurna adalah cinta Allah Swt kepada
hamba-Nya, cinta yang tulus dan rela memberi
tanpa diminta oleh kita. Cinta yang didalamnya kita menemukan sebuah benih
kesabaran, dan keikhlasan. Yang tiada hentinya Allah
memberikan nikmat kepada kita, memberikan keselamatan kepada kita, dan
sebuah keberuntungan didalam hidup yang besar.
Kita terlalu
lemah untuk membalas cinta Allah, namun kita
terlalu sombong dan sok tahu dalam menjalani kata cinta itu sendiri. Rasulullah
Saw memusatkan dan menjadikan Allah Swt
sebagai Cinta Sejatinya, Cinta yang terbesar didalam hidupnya. Allah tidak akan pernah lapuk oleh waktu, dan
tidak akan pernah tumpul dengan usia, tidak seperti manusia. Ada kalanya kita
mencintai manusia teramat sangat besar sampai mengorbankan jiwanya sekalipun,
bahkan ada orang yang bilang aku hanya hidup untukmu, jika tidak diiringi dengan
keimanan yang kuat kepada Allah Swt hal
tersebut bisa memabukkan kita. Sudah merupakan hukum dunia, yang ada menjadi
tiada maupun sebaliknya, kita manusia lemah dalam hatinya (perasaanya), kita
mendewakan cinta secara berlebihan. Anda akan mengetahui bagaimana luar biasa
indahnya saat seorang hamba mampu mencintai Allah dengan
sepenuh hatinya, dan berserah diri atas semua qada dan qadar-Nya.
Apakah anda pernah menangis bersujud karena bertaubat kepada Allah Swt? Dan selalu mengingat nama-Nya dimanapun anda berada, dengan berdzikir
didalam setiap langkah dalam menyusuru bumi Allah
Swt?
Cinta datang dalam kesunyian, dalam kegelapan, dalam
kepedihan, dalam kebodohan, dalam kebutaan, karena cinta adalah memberi,
melakukan, berkorban, dan berbagi. Cinta sejati kita adalah Allah Swt, hanya kepada-Nya
lah kita semua beribadah, hanya kepada Dia-lah kita mohon pertolongan dan
As-Shamad (tempat bergantung). Kita ini sungguh rapuh, kita ini benar akan kelemahan,
sungguh banyak teori dan filsafat tentang duniawi yang menghiasi pikiran kita.
Semua itu bagai memperbudak bila tanpa keimanan, kita bagai jenuh dengan dunia
ini bila tak sesuai dengan yang kita harapkan. Kita tidak ingat, bahwa Allah selalu bersama kita, disaat semua orang
tidak memahami atau bahkan menjauhi, dan sampai orang terdekat kita yang kita
anggap selalu bersama kita, ternytata ada kalanya mereka bagai bunga dihanyut
arus sungai.
Dan hanya Allah lah
Yang Maha Mengetahui atas keadaan hamba-Nya
sampai isi hati dari hamba-Nya (Qs. Ali
‘iran ayat 119), Dia tidak pernah meninggalkan hamba-Nya
dalam keadaan apapun. Untuk itu mengadulah kepada Allah
sebelum kepada yang lain, mintalah kepada Allah
ampunan dan solusi yang harus diambil. Kita sungguh terlalu berdosa
kepada Allah, kita terjebak paham
sekulerisme, dan hedonisme. Dan faktor itulah yang menjadi faktor dominan
hancurnya khilafah Islam, jauhnya kita dari kebenaran dan kebaikan. Saat nanti
mata kita terbelalak, kita akan mengetahui indahnya cinta Allah kepada hamba-Nya
yang beriman. Allah berjanji akan membeli
keimanan dan ketaqwaan hamba-Nya yang
beriman dengan surga yang mengalir dibawahnya sungai-sungai, dan semua itu
hanya kiasan, karena sesungguhnya surga yang sebenarnya tidak dapat dibayangkan
dan dikira oleh mata, jiwa, dan pikiran kita sebagai manusia. Sadarilah, kita
hidup punya tujuan, kita dilahirkan ke dunia tidak semata-mata tanpa alasan.
Seharusnya semakin tinggi ilmu yang kita dapat, maka semakin berpikir secara
rasionalitas yang berpangku pada Al-Quran dan
Hadits. Cintailah Allah sepenuh hati
kita, rasakan Allah yang dekat dengan kita
melebihi urat nadi kita, Allah lebih memilih
diam di hati kita untuk mencintai kita hamba-Nya.
Cinta, cinta disini sendiri memandang langit biru,
seakan menanti turunnya air hujan yang menghujam masuk kedalam tanah...berharap
sebuah keajaiban datang menjemput dan menghidupkan hati yang mati. Cinta haus
akan kasih, dan lapar akan sayang. Nada indah mengalir memanggil ruh yang
menatap wajah Tuhannya. Berdiri tertatih, pincang akan keimanan yang tumbuh
disanubari...terlalu lama hamba hidup menunduk kerana burung tak tahu akan arah
pulangnya. Menundukkan kepala bukan hanya ketidakmampuan diri, namun sadar akan
posisi diri atas nikmat dari Tuhannya Yang Maha Sempurna. Bantu cinta, untuk
bangun! Bangun untuk berlari menyusul aliran sungai surga yang berada dibawah
kuasa-Nya. Yang disana mengalir rasa kasih
dan sayang yang sempurna dari Allah, kepada
siapa saja hamba-Nya yang berhak
mendapatkannya. Walau raga ini berbatas didunia, akan tetapi tidak akan pernah
lekang selalu tergurat cinta yang terukir dihati sampai cinta ini bertemu
dengan Sang Maha Cinta pemilik cinta yang sempurna dan kekal abadi selamanya.
Ajari musafir ini Ya Allah untuk selalu
mencintai-Mu dalam kesadaran akan ketenangan yang dingin berembunkan
keikhlasan.
Ada yang menyatakan bahwa cinta itu adalah energi,
titik pusat dari manusia itu sendiri. Puncak kenikmatan cinta adalah saat kita
benar merasakan cinta kita kepada Allah Swt.
Tidak ada cinta yang abadi, tidak ada cinta yang sempurna, tidak ada pula cinta
yang mampu hidup selamanya! Terkecuali cinta Allah
kepada hamba-Nya dan cinta seorang hamba
kepada Tuhannya. Walau raga ini nanti akan mati kaku tak berdaya, walau kita
akan hidup di dunia yang lain menunggu janji yang telah Allah tetapkan untuk manusia, sampai nanti kita akan dihidupkan
kembali dan bangkit dari kubur kita. Ini bukan hanya sekedar cerita atau
dongeng belaka! Ini adalah janji Allah Swt
kepada hamba-Nya.
Ada seorang murid yang
bertanya kepada gurunya dengan sombong juga penasaran yang sangat mengganjal
dihatinya. Dia bertanya bahwa apakah benar bahwa Allah itu ada? Lalu bagaimana wujudnya? Lantas bagaimana adanya takdir dan
bagaimana prosesnya? Dan dikatakan bahwa syaitan kelak akan dimasukkan kedalam
api neraka, bukankah syaitan juga terbuat dari api, apakah bisa syaitan
merasakan dibakar oleh api?
Gurunya spontan
langsung menampar muridnya yang berkata
demikian. Muridnya kaget dan bertanya mengapa gurunya menamparnya? Dan bukan
jawaban yang didapatnya? Dan gurunya menjawab bahwa tamparan itu adalah jawaban
dari ketiga pertanyaan muridnya itu. Muridnya terkaget kembali dengan
pertanyaan besar yang memenuhi hatinya.
Tadi kau bertanya
bahwa apakah Allah itu ada dan bagaimana wujudnya?
Sekarang aku kembali bertanya kepadamu, apakah kau merasakan sakit dari
tamparan itu, lalu jika kau merasakan sakitnya bagaimanakah wujud ataupun
bentuk dari rasa sakit itu? Tunjukkanlah padaku, bukankah tidak berbentuk
sakitnya? Dan kau bertanya apakah ada takdir dan bagaimana kejadiannya, coba
terangkanlah padaku! Apakah kemarin kau
tahu jika hari ini kau akan ku tampar, bukankah ini tidak diketahui akan
terjadi? Dan yang terakhir kau bertanya tentang bagaimana bisa syaitan yang
terbuat dari apinya Allah merasakan siksa api
nerakanya Allah? Lalu apakah kau merasakan sakit
dari tamparanku? Bukankah itu terjadi karena kulit dengan kulit? Rasa sakit itu
ada bukan, apalagi api?
Jadi sahabat jangan
pernah ragu dan bimbang mengenai Allah Swt,
karena sebenarnya Allah itu menerangkan
segalanya yang haq kepada kita, temuilah Allah
didalam Al-Qur’anil Karim, setiap lembarnya kan mengantarkan kita pada shalat
yang khusyuk lagi tawadhu’. Semuanya kan membuat kita sadar bahwa hidup ini
memanglah proses manusia untuk benar mengenal Tuhannya, bagaimana cara untuk
benar mencintai Allah.
F.
BERUSAHA BERLARI UNTUK MENGEJARNYA
Terkadang sesuatu yang mencintai kita selalu terlambat
untuk kita sadari, dan karena cinta tersebut tulus, sunyi, diam, dan tanpa
mengharap sebuah balasan bahkan sanjungan indah dalam prasangkanya. Cinta Alloh
selalu ada untuk setiap hamba-Nya yang
beriman, dan selalu terbuka lebar untuk semua hamba-Nya
yang mau berkemauan keras untuk belajar kembali pada jalan-Nya. Sebesar apa pun engkau mencintai seorang
manusia, sebahagia apa pun perasaan itu yang engkau rasa, bagaikan harimu
setiap hari diselimuti pelangi dan sinar mentari. Rasa bahagia dalam cinta
terhadap sesama manusia berbeda rasanya saat kita mempunyai rasa cinta terhadap
Allah Swt. Tak dapat saya jelaskan secara
benar dan lengkap, namun dalam setiap diri ataupun individu akan mempunyai
kesempatan untuk mencintai Allah Swt. Memang
hanya pengalamanlah yang paling berharga dalam kehidupan, lebih dari sekedar
guru, namun merupakan sebuah pasir waktu yang mengingatkanmu untuk tidak
melakukan kesalahan yang sama. Pengalaman cinta memang paling berkesan dalam
kehidupan manusia, karena cinta adalah buah dalam rasa bahagia manusia.
Setiap orang pasti pernah mencintai dan dicintai, baik
disadari ataupun tidak. Cinta pada zaman yang sekarang bukan cinta yang murni
dimaksudkan oleh Allah Swt! Cinta pada zaman
sekarang seperti dalam lumpur, semua kata cinta yang berteorikan seribu janji
kebaikan dan kebahagiaan ternyata hanya bagai susu yang beracun. Ingatkah kita
akan janji Allah terhadap seorang mujahid wa
mujahidah? Seorang yang berjihad di jalan Allah tidak
hanya bersyaratkan harus meninggal untuk membela atau mensyiarkan agama Allah Swt, mengorbankan harta, jiwa dan raga untuk
mempertahankan yang haq. Akan tetapi yang berjihad dijalan Allah juga seorang ikhwan wa akhwat yang menahan
hawa nafsunya atau rasa hasrat cintanya untuk suaminya (Qs. An-Nazi’at (79)
ayat 40-41). Dia tetap istiqomah dalam shirothol mustaqim! Menjaga
kehormatannya, menjalin ukhuwah islamiyah yang baik, dan tidak memuaskan hawa
nafsunya yang dapat mencelakakan dirinya sendiri maupun orang lain.
Bila seorang hamba sudah mampu mencintai Allah Swt dihatinya, dan selalu mengucapkan rasa
cintanya melalui dzikir, do’a, ucapan yang sopan santun nan lemah lembut, maka
insayaalloh melalui matanya pun hamba tersebut senantiasa melihat dalam setiap
fatamorgana lensa alam selalu ada kebesaran Allah
Swt dimanapun ia berada. Dalam sebuah hadist, Rasulullah Saw bersabda :
“Beribadahlah seperti engkau melihat Allah,
bila engkau tidak mampu melihat-Nya, maka
yakinlah bahwa Allah melihatmu”.
Ya Allah, aku ingin
melihat-Mu! Namun apakah mata ini pantas melihat keagungan dan keindahan-Mu.
Mataku terlalu kotor, terlalu banyak debu yang menghalanginya. Namun aku selalu
berusaha untuk membersihkan mata ini dengan air suci dalam taubat hamba. Dalam
Qs. Al-Baqarah ayat 222, yang artinya “Sesungguhnya Allah
mencintai orang-orang yang taubat dan orang-orang suci”. Disini terdapat
suatu dua kategori hamba yang dicintai oleh Allah
Swt, yaitu pertama : orang-orang yang taubat. Artinya, adalah
orang-orang yang selalu kembali kepada jalan yang benar, jalan yang diridhai
oleh Allah Swt. Orang-orang yang sadar akan
dosanya, menyesali semua kesalahannya, dan bersujud memohon ampunan Allah dan berjanji tidak akan mengulang
kebodohannya dengan diiringi amal sholeh dan ibadah lainnya.
Sedangkan untuk kategori yang kedua : orang-orang yang
suci adalah orang-orang yang senantiasa membersihkan dirinya dalam arti yang
sebenarnya maupun dalam arti kiasan. Orang yang selalu berusaha menjaga
kesucian dirinya dengan membersihkan jiwa dan raganya dari penyakit indera dan
penyakit hati. Orang yang senantiasa meminimalisir segala kesalahan dan dosa,
selalu menjaga air wudhunya akan pembersihan dosa dan mengharap ampunan Allah Swt.
Dalam Qs. Al-Baqarah ayat 38 yang artinya, “Barangsiapa
yang mengikuti petunjuk-Ku, niscaya ia tidak akan merasa takut dan tidak pula
merasa susah”. Itulah salah satu ciri dari banyaknya tanda orang yang dicintai
oleh Allah Swt. Dirinya akan selalu dalam
keadaan sabar dan syukur, semua urusannya adalah baik, demi menggapai ridha Allah Swt.
Sekarang pantaslah kita untuk menunduk, menangis,
memohon ampun kepada Allah Swt! Dari Allah meniupkan ruh kepada rahim ibu kita saat
berusia 4 bulan didalam kandungan, menjaga dan melindungi kita dalam tahap
tumbuh kita selama 9 bulan, lalu Allah
menyelamatkan ibu dan memberikan kesempatan kita hidup di bumi Allah ini dengan tangis karena cinta kepada Allah Swt. Mengapa saat kita dilahirkan, kita
dalam keadaan menangis?
Menurut keilmuan dalam disiplin ilmunya, bayi menangis
karena dalam keadaan kaget. Kaget dalam artian memasuki dunia baru, yang
tadinya di alam rahim sekarang berada di alam dunia, juga untuk memfungsikan
alat pernafasannya. Sedangkan menurut kacamata agama Islam, kita menangis
karena kita sedih telah berpisah dengan Allah Swt
yang telah menjaga dan menemani kita selama didalam kandungan. Semua itu muncul
karena rasa cinta kita kepada Allah Swt.
Jadi siapa yang lebih tepatnya disebut cinta pertama kita? Tentu jawabannya
sama Allah Swt.
G.
TIBALAH SAATNYA UNTUK MENYATAKAN CINTA
Ya Allah, aku tidak
tahu ajalku sampai dimana? Hanya Engkau Yang Maha Mengetahui atas segala
sesuatu. Apakah aku akan dikenang? Dan sebagai apa aku akan dikenang? Ya Allah, aku bukan siapa-siapa di bumi ini tanpa
perkenan-Mu! Ampuni aku ya Allah! Ampuni
semua dosaku, semua kesalahan, kealfaan dan kebodohanku. Sungguh, aku hanya
manusia yang hina, aku malu pada-Mu ya Allah!
Bantu hamba dalam setiap langkah hamba. Hamba takut, apabila hamba
mengecewakan-Mu. Hamba berlumur dosa, bermandikan kesalahan-kesalahan.
Astagfirullahal ‘adziim ya Allah!
Tangan ini, mata ini, telinga ini, kaki ini, hati ini, seluruh raga ini, ruh
ini, benar memohon ampun kepada-Mu. Terimakasih untuk semua nikmat-Mu, maafkan
aku apabila banyak nikmat yang jarang atau bahkan tidak hamba syukuri. Alhamdulillah,
hamba mencintai-Mu ya Allah, sangat
mencintai-Mu. Robbanaa taqobbal minna, wagfirlanaa, innaka antas sami’id du’a.
Aku, aku disini sendiri memandang langit biru. Seakan
menanti turunnya air hujan yang menghujam masuk kedalam tanah, berharap sebuah
kehidupan baru datang menjemput dan merangkul hati yang terjatuh. Aku haus akan
kasih, dan lapar akan cinta. Nada indah mengalir memanggil ruh yang menatap
wajah Tuhannya. Berdiri tertatih, pincang akan keimanan yang tumbuh di
sanubari. Terlalu lama hamba hidup menunduk karena burung tak tahu akan arah
pulangnya. Tolong hamba untuk bangun! Bangun untuk berlari menyusul yang jauh
disana, disana aliran sungai yang mengarah pada syurga dibawah kuasa-Nya.
Ya Allah, hamba
mencintai Engkau ya Allah! Tapi hamba
sungguh malu untuk menyampaikannya kepada-Mu! Hamba sungguh malu bila
dibandingkan dengan rasa cinta para hamba-Mu yang lain! Para hamba-Mu yang
terlukis didalam kitab suci-Mu. Yang abadi selalu dihati para kaum muslimin.
Cinta mereka kepada Engkau sungguh luar biasa bagi kami, namun hamba yakin
jikalau rasa cinta kepada Engkau pasti akan selalu bergelora semangat fii sabilillah!
Apapun dan bagaimanapun resikonya, mereka rela mengorbankan
harta, jiwa dan raganya, bahkan rela maut memisahkan! Ada yang disiksa sampai
meninggal, dipotong kemaluannya, sampai diambil hatinya, dipotong telinganya,
diikat di padang pasir yang sangat panas dengan dibebani batu besar, dll. Ya Allah, hamba ingin sekali menjadi orang yang
selalu Engkau ridhoi, dan menjadi yang Engkau cintai dan sayangi, amiin!
Peluklah hamba dalam kasih sayang-Mu. Nikmat iman dan islam mengalir di darah
ini selalu, senantiasa hidup selama waktu yang telah digariskan oleh sang
khaliq.
Rasa cinta
kepada Allah Swt harus berada di tingkatan
yang paling atas, karena akar dari semua rasa cinta yang ada adalah cinta
kepada Allah Swt. Karena banyak yang telah
kita ketahui didalam kitab suci Al-Qur’an, jika kita sebagai hamba Allah yang mencintai-Nya,
maka kita semua harus sami’na wa ato’na. Kita harus memenuhi semua
perintah-Nya dan menjauhi semua
larangannya,dan salah satunya adalah birrul walidain (Qs. Al-Ankabut
ayat 08). Tentunya dalam berbuat baik pada kedua orang tua, didalamnya termasuk
mencintai dan menyayangi mereka.
Seorang hamba yang sangat mencintai Allah Swt, adalah orang yang senang berkasih
sayang, dan senantiasa berdzikir. Contohnya adalah Rasulullah Saw, sang kekasih
Allah! Tahukah engkau sahabat? Ada seseorang
yang sangat mencintai kita, jauh sekali saat kita dilahirkan ke bumi allah ini,
beliau selalu galau untuk kita, selalu ada nama kita didalam setiap
do’anya, bahkan dalam saat sakaratul mautnya datang beliau mengucapkan nama
kita tiga kali. Sahabat, beliau adalah Nabi Muhammad Saw! Rasul kita semua,
seorang uswatun hasanah untuk kita.
Bila engkau membaca terjemah Al-Qur’an secara tertib,
pastilah engkau akan mengetahui kisah-kisah umat yang terdahulu. Karena dua per
tiga dari Al-Qur’an adalah sejarah umat-umat yang terdahulu, yang mengandung
pelajaran yang sangat berharga bagi kita umat yang akhir zaman. Bila menurut
sebagian orang sejarah tidak akan pernah terulang kembali, namun ternyata
ceritanya dapat terulang kembali dan tentunya kita akan dapat mengambil ibrah
sebagai hamba Allah yang berakal.
Didalam Kalamullah terdapat banyak riwayat para
nabi, yang diantaranya adalah Nabi Adam As, Nabi Ibrahim As, Nabi Musa As, Nabi
Harun As, dan masih banyak yang lainnya. Dan tentunya Nabi muhammad Saw, banyak
yang saya pelajari dalam ilmu agama Islam, dan yang membuat saya sadar adalah
seberapa tawadhu’nya Rasulullah itu. Diantara semua nabi, Rasul memang yang
ingin dikenang dan dikenal oleh umatnya sebagai orang yang sangat sabar,
pemaaf, manusiawi dan banyak akhlaqul kariimah lainnya.
Banyak nabi yang hampir putus asa dengan umatnya yang
durhaka, dan meminta Allah untuk menunjukkan
peringatan bagi umatnya. Tapi Rasulullah Saw tidak pernah putus asa terhadap
umatnya, walau harus disakiti umatnya dengan dilempari batu sampai berdarah,
dihina, diludahi, difitnah, diancam dan masih banyak lagi, namun Rasulullah Saw
selalu sabar tidak pernah mengeluh, atau meminta Allah
Swt untuk menurunkan peringatan atau teguran untuk umatnya agar percaya
kepada rasul-Nya.
Padahal malaikat Jibril menawari beliau, apapun akan
dilakukan untuk kekasih Allah. Namun Rasulullah
Saw hanya tersenyum dan berdo’a “Allahummahdii qaumii fainnahum laa
ya’lamuun” sungguh sangat luar biasa. Rasulullah Saw tidak ingin
pantang menyerah, beliau memahami mengapa umatnya sampai mendzaliminya, karena
sesungguhnya mereka tidak mengetahui, maka berilah umatku petunjuk-Mu.
Bahkan dalam setiap perjalanan dakwahnya,
Rasulullah sangat manusiawi. Beliau
tidak ingin menunjukkan kelebihannya sebagai kekasih Allah
sehingga harus mendapatkan semua yang beliau inginkan, atau mungkin
harus diperlakukan sebagai raja. Rasulullah
hanya ingin seperti manusia biasa, bahkan tahukah engkau sahabat kisah
Rasulullah Saw dengan orang buta yahudi? Bila engkau mengetahuinya, pastilah
engkau akan bersedih karena rasa haru yang mendalam, tentulah kita akan
menangis akan rasa kasih sayangnya. Cari tahu kisahnya ya sahabat di internet!
Manfaatkan internet untuk memperdalam ilmu kita dalam
meraih ilmu Allah! Sekarang banyak sekali
informasi untuk menggali Al-Qur’an, hadits, juga kitab-kitab para kyai besar
atau ulama dan umara. Di youtube dapat kita jumpai video kebesaran Allah, atau bahkan banyak lagi video para nabi,
dan banyak lagi video renungan untuk menyadari betapa luasnya ilmu Allah Swt.
Perbanyaklah menonton film Islam, atau membaca riwayat
para nabi Allah Swt. Karena kita akan banyak
mengetahui bahwa dahulu Islam sangatlah berjaya bahkan sempat menguasai dua per
tiga belahan bumi Allah. Kerajaan Islam yang
memiliki ideologi Al-Quran yang tidak ada cacatnya, hadits yang menduduki kursi
konstitusi negara. Semuanya mencakupi syarat menjadi negara baldatun
thayyibatun wa rabbun ghafuur.
Namun sekarang Islam tengah tertidur pulas, karena para
hamba Allah dan umat Rasulullahnya pun
malas-malasan! Seolah kita tahu kapan kita akan dipanggil oleh Allah, atau kita mengetahui kapan jadwal kiamat
akan terjadi! Sekarang sudah banyak ciri-ciri kiamat kubro yang terjadi,
diantaranya : banyak terjadi pembunuhan, perempuan menyerupai laki-laki dan
begitupun sebaliknya, berlomba-lomba dalam membangun dan memegahkan mesjid
namun kosong jama’ahnya, banyak orang tua yang menjadi pembantu bagi anaknya,
dan masih banyak yang lainnya.
Bersikap pekalah terhadap sekitar kita, Iqra’
haulaka!. Jangan menuju pola pikir manusia yang tidak bertuhan dan berpri
kemanusiaan yang menunjukkan bahwa kita manusia berbeda jauh dengan binatang
liar.
H.
MENEMUI SANG KEKASIH
Dalam sebuah hadits Qudsi,Allah
Swt berfirman “Wahai anak Adam, Aku telah ciptakan kamu, maka kamu jangan
bermain-main, dan Aku jamin rezekimu, maka
kamu jangan merasa capai. Wahai anak Adam, carilah Aku,
maka engkau akan menemuiku. Dan jika engkau menemukan Aku, engkau akan dapat
sesuatu, sedang Aku mencintaimu, lebih dari
segalanya”.
Sahabat, bagaimana perasaanmu setelah membaca hadits
Qudsi tadi? Saat mendengar kata-kata indah Allah
kepada kita hamba-Nya! Bergetarkah hatimu
saat mengetahui bahwa Allah sangat mencintai
kita lebih dari segalanya, buktinya Allah menciptakan
langit, bumi beserta isinya. Lihatlah di sekitarmu, sejauh mata memandang
semuanya adalah bukti cinta Allah kepada
hamba-Nya. Allah
selalu memelihara semua tumbuhan agar tetap menghasilkan udara yang
segar juga menghasilkan makanan untuk manusia, bahkan Allah
juga memelihara keturunan banyak hewan agar terus bermanfaat bagi
manusia.
Rasulullah Saw sangat mencintai Allah, karena Rasul sangat memahami unsur kehidupan ini.
Tentang tiga rumusan masalah kehidupan manusia : dari mana kita berasal, untuk
apa kita hidup dan kemana kita akan kembali? Semuanya bermuara kepada Allah jualah, sebagai salah satu contoh kecintaan
Rasul yaitu shalat. Dalam setiap shalat Rasul, Rasul senantiasa membaca surah
panjang seusai membaca surah Al-Fatihah. Terkadang dalam satu shalat yang
terdiri dua, tiga atau empat, Rasul selalu membaca surah sebanyak kurang lebih
enam juz.
Senantiasa melakukan shalat sunnah baik shalat sunnah
tahajjud, dhuha, rawathib, dan yang lainnya. Rasulullah benar-benar
memanfaatkan waktu hidupnya didunia ini dengan sangat baik! Rasulullah Saw
jarang melamun, galaulah atau apapun! Kalau memang galau, Rasul galau
memikirkan kita umatnya nanti! Rasul bersikeras untuk menyebarkan agama Allah,
menjaganya dari racun ideologi manusia yang musyrik.
Dalam Qs. Al-Baqarah ayat 186, Allah
Swt berfirman “Dan apabila hamba-hamba-Ku
bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Aku,
maka sesungguhnya Aku dekat. Aku kabulkan permohonan orang yang berdo’a kepada-Ku. Hendaklah mereka itu memenuhi (perintah)-Ku dan beriman kepada-Ku,
agar mereka memperoleh kebenaran”. Bagaimana sahabat, indah bukan kalam Allah untuk kita? Pasti cukup untuk menjawab tanya
hati kita tentang Allah, ya tentu kita semua
sudah dewasa untuk memahami firman Allah Swt
tersebut.
Sahabat, bergantunglah hanya kepada Allah semata karena Allah
adalah Ash-shamad, selalu berdzikir kala
luang maupun dalam keadaan yang sangat penat sekalipun! Karena Allah selalu ada untuk kita dalam setiap alam yang
kita jalani. Dalam setiap kebahagiaan dalam hidup kita pasti ada suatu titik
jenuh. Orang yang sering galau adalah salah satu ciri orang yang jarang berdzikir
kepada Allah! Karena sesungguhnya orang yang
selalu berdzikir kepada Allah Swt akan
selalu tenang pikirannya, dan damai selalu hatinya.
Orang yang galau adalah orang yang membuka aibnya
sendiri, orang yang berputus asa dalam masalah yang dihadapi. Dalam arti yang
sempit, galau hampir sama pengertiannya dengan kata bimbang, bingung, putus
asa, resah. Tentu hal tersebut bukan ciri dari orang yang beriman, karena orang
yang beriman adalah orang yang sabar dan kuat, jua senyum menjadi
pengantarnya.
Kebanyakan dari kita para remaja selalu ingin tidak
ketinggalan zaman, karena takut mendapat cap gaptek, kuno, cupu, kamseupay.
Banyak dari kita yang ingin merasa dikenal orang dalam bergaul juga dihargai
atau ingin mendapat pengakuan anak gaul dari teman yang lainnya dengan cara
kita harus satu jalan hidup dengan mereka. Bahkan tidak jarang kita harus
menggadaikan pemahaman kita, dan menggantinya dengan paham liberalis dan paham
sekuler yang menyesatkan.
Aku bukan hendak melawan arus ini karena ku tahu aku
hidup didalam arus ini, aku juga tak ingin menjadi tawanan arus ini yang
semakin lama semakin membuat ku terperdaya dan hanya mengikuti hawa nafsu. Aku
tak peduli bila siripku nanti patah karena berusaha keras memotong arus dan
jauh, jauh dari segala kesenangan dan kemewahan.
Aku hanya ingin hidup didalam air kolam (birkatun-berkah)
yang tenang dan bersih, dimana aku bisa melihat Tuhanku. Perlahan sisik ini
mengelupas, dan jatuh diantara ribuan batu lumpur hitam. Disini, setidaknya aku
bisa merasakan jiwa yang bahagia setelah melewati luasnya samudera kehidupan.
Aku memang kecil dan lemah, dan mungkin aku juga tidak
berpengaruh! Namun aku bisa berada diantara dua biru istana cinta-Nya. Aku akan bertahan ya Allah,
memang tak mudah hidup terasing. Asalkan aku benar hidup dalam agama-Mu, dalam
ridha-Mu dan dalam cinta-Mu. Sudah cukup dan puas rasanya aku punya Engkau
dihatiku, karena Engkau sang Maha Cinta.
Sebagai analogi yang jelas, kita semua bagai ikan yang berada
di aliran sungai yang sangat deras! Tanpa kita tahu arah aliran itu akan
berakhir kemana. Arus globalisasi yang menciptakan dan mengenalkan kita pada
berbagai paham sekuler dan liberal yang menyimpang perlahan tapi pasti mulai
mengakar pada pikiran kita.
Janganlah bersikap taklid, yaitu menuruti orang lain
dalam bertingkah laku, tata ucap, dan pemahaman tanpa tahu kebenarannya dari
Al-Qur’an dan hadits. Yang sah adalah sikap ittiba’, yaitu menuruti atau
mencontoh yang ada pada Rasulullah Saw yang pasti sesuai dengan Al-Qur’an dan
hadits, dan salah satu sikap yang harus kita contoh adalah mencintai Allah Swt sebagai cinta pertama dan cinta yang
sejati.
Ada sebuah puisi cinta dari Kahlil Gibran, dan sahabat
pahamilah kata cinta dari puisi ini diganti dengan kata Allah.
Jika
cinta memanggilmu, maka ikutilah! Walaupun jalan terjal nan berliku akan kau
lewati
Jika
cinta merengkuhmu, maka pasrahlah! Walaupun pedang yang tersembunyi akan
menusukmu
Jika
cinta berbicara, maka percayalah! Walaupun ucapannya akan membuyarkan semua
mimpi-mimpimu
Karena
cinta, telah cukup untuk cinta
Dari sini kita akan lebih memahami perjuangan musafir
cinta, pengorbanan sang hamba Ilahi. Ingatkah kita kepada semua pejuang Allah Swt? Mereka yang meinggal di medan perang
melawan pasukan Quraisy dan Nasrani! Pahamilah Qs. Al-Baqarah ayat 154.
Walaupun mereka tidak melihat Allah, namun
mereka yakin bahwa Allah itu ada! Mereka
adalah orang yang beriman, percaya kepada yang ghaib dalam Qs. Al-Baqarah ayat
03. Mengapa demikian sahabat? Karena Allah adalah
ghaib, para malaikat gahib, dan masih banyak yang lainnya.
Marilah mulai dari prinsip Aa Gym, yakni mulailah dari
hal yang kecil, mulailah dari diri sendiri dan mulailah dari sekarang juga!
Semoga kita semua termasuk hamba Allah yang selalu dicintai-Nya karena kita mencintai-Nya
lebih dari segala-galanya yang ada di hati kita sahabat.
Tentunya kita telah belajar mengenai ilmu kalam! Bila
sahabat mempunyai pertanyaan besar mengenai sesuatu yang sangat sulit
dipecahkan, apalagi hal itu mengenai dzat Allah Swt, maka bertanyalah kepada ustad atau
ustadzah sahabat. Karena sepintar apapun manusia, sehebat apapun manusia sudah
pasti ada batasnya dan itu memang sudah sewajarnya karena kita hanya manusia
yang memiliki ilmu yang sedikit dari ilmu Allah yang Maha Luasnya.
Saat menemui Allah Swt didalam shalat kita, untuk orang yang merasakan nikmatnya cinta kepada Allah, semua yang berada diluar shalat tidak terasa. Seperti akhir hidup dari
khalifah Umar bin Khattab, bagaimana indah perjalanan akhir hidupnya, namun
betapa tragis dan memilukan hati yang membayangkannya. Tahukah sahabat
bagaimana khalifah Umar bin Khattab ditusuk sampai dadanya robek?
Beliau ditusuk ketika dalam keadaan shalat dan menjadi imam bagi
jama’ahnya. Beliau ditusuk pedang berulang kali dari belakang dan depan. Lalu
putranya datang dan menahan darah yang ada didadanya, namun tangannya masuk
kedalam dada sang ayah, berarti luka itu sangat dalam dan besar karena robek.
Semua orang bingung
bagaimana caranya untuk memastikan bahwa beliau masih hidup atau sudah wafat!
Akhirnya ada yang berkata bahwa bisikkanlah kata shalat atau kalimat thayyibah
kepadanya. Dari keadaan yang sangat lemah dan tidak bergerak sedikitpun,
tiba-tiba beliau bangkit segera dengan tanpa kesakitan walau rasa sakitnya yang
luar biasa.
Inilah salah satu
contoh orang yang sudah merasakan bagaimana nikmatnya cinta kepada Allah dan khusyuknya dalam shalat. Semua itu berawal dari rasa cinta seorang
hamba kepada Tuhannya yang sempurna.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar