Pages

Jumat, 06 Maret 2015

sahabat part 6 (tangan boneka)


Setelah beberapa minggu kak Nisa sudah lama tidak datang kesini, akhirnya kemarin kak Nisa datang untuk bersilaturahmi dan menyampaikan amanat dari sahabat lamaku, Belinda dan Raisa. Aku memang belum sempat bertemu langsung dengan kakak karena aku tengah di sekolah. Kakak menitipkan surat undangan kepada umi. Ternyata surat undangan itu adalah surat undangan pesta peringatan hari ulang tahunnya Belinda. Kenapa ada keraguan ya didalam hatiku? Kenapa aku serasa tidak mau menghadirinya. Terlebih aku ada acara lain pda hari itu, juga aku merasa risih. Aku bukannya malu dengan aku yang sekarang, atau penampilan yang sekarang! Hanya aku merasa sakit dan pedih lagi jika mengingat sahabatku dulu, merekalah sahabatku dulu saat masih menjadi Marsha.  Tapi, apapun yang terjadi, mereka tetap sahabatku.Terlepas dari apakah mereka berhijab atau tidak, aku hanya tidak mau merusak acaranya dengan kedataganku dengan nama dan penampilan yang baru, yang... dia benci.
Jujur, dari dulu aku sudah mempersiapkan kado untuknya. Siapapun dan bagaimanapun dia, aku tidak mudah dan mungkin tidak bisa melupakannya dengan mudah walau aku membuang namaku yang dulu. Mungkin kedengarannya terlalu kejam jika disebut “membuang”, namun itu semua bukan karena tidak menerima nama dari mama. Tapi karena gaya hidup, kebiasaan, akhlaknya dan semua tentang Marsha membuatku seolah trauma! Aku dilema dengan diriku sendiri... aku bingung sekarang. Apa lebih baik aku menitipkan kado ini kepada kakak ya? Tapi ini tidak sopan! Aku kan sudah sengaja diundang dan Belinda pasti sangat mengharapkan kedatanganku di moment specialnya. Ya Allah... hamba benar-benar bingung dengan ini, bantu hamba ya Allah. Apa yang harus hamba lakukan?
Akhirnya setelah melakukan shalat istikharah dan konsultasi dengan umi, aku memutuskan untuk datang ke Jakarta untuk memenuhi undangannya Belinda. Karena permintaanku, umi juga insyaallah akan ikut agar umi tahu dimana rumah kami yang sekarang dan dengan niat bersilaturahmi dengan bi Asiyah. Kebetulan hari uang tahun Belinda tepat pada awal liburan, akhirnya aku mengajak Haura untuk ikut ke Jakarta. Awalnya Haura menolak, namun setelahmendapat izin ibunya, akhirnya Haura ikut. Alhamdulillah, senangnya hati! Aku bisa kembali ke Jakarta dengan pribadi yang baru dengan sahabatku yang ku sayang!
Lalu pada ba’da isya aku dan Haura diantar oleh kakak menuju rumahnya Belinda. Haura tampak cemas dan gugup!
Ana    : “Tenang ra! Mereka baik kok!”kataku.
Haura : “Iya na, aku cuma gak enak aja! Aku kan bukan siapa-siapa mereka.”
Ana     : “Oh gitu...! Kata siapa kamu bukan siapa-siapa mereka? Kamu ingat? Kita semua adalah saudara. Karena kita adalah sahabat, maka sahabat aku juga sahabat kamu ra ”(aku tersenyum dan memegang tangannya yang dingin).
Haura : “Iya syukran Ana!” sembari membalas senyumanku.
Akhirnya kami sampai diteras rumah sahabatku Belinda. Dan semua orang yang sama-sama masuk bersama kami begitu heran dan bertanya-tanya siapa kami. Seperti dugaanku sebelumnya! Semua berpakaian pendek dan seksi dengan bergandengan tangan bersama pacarnya. Terserah apa pikiran mereka terhadap kami! Terserah mereka menyebut ini baju jubah atau apapun. Aku juga mungkin takan lama disini. Aku tidak terlalu betah dan nyaman untuk lama tinggal disini. Dan lebih tak ku duga lagi, ternyata acara ini bukan hanya tentang hari ulang tahun Belinda.  Tapi aku melihat tulisan besar di spanduk, “Selamat Datang Marsha”... Masyaallah! Ya Allah ini benar-benar diluar dugaanku. Jadi secara tidak langsung, acara ini juga dibuat untukku! Jadi dari tadi mereka menungguku... Saat aku dan Haura tiba didekat kerumunan orang, serentak semua pandangan mereka pada kami. Aku melihat sahabatku disana! Marsha dengan gaun merahnya dan Raisa dengan gaun berwarna hijau. Sungguh mereka sangat cantik.... astagfirullahalal’adzim! Ya Allah ampuni hamba, ini bukan sebuah yang patut dipuji olehku jika dilihat semua orang. Bahkan ada hadist yang mengatakan bahwa sesama wanita pun tidak boleh saling melihat auratnya! Sahabatku, andai kamu tahu bahwa ini semua tidak benar. Aku ingin sekali merangkulmu pada fitrah kita yang sebenarnya...
Aku ingin sekali menghampiri kalian disana. Tapi kamu segera beranjak pergi menuju ke atas panggung.
Belinda : “Mohon perhatian! Selamat malam semuanya... terimakasih ya atas kehadiran kalian semua disini. Saya minta maaf karena acara ini belum bisa dimulai, karena seperti yang kita ketahui bahwa kita semua ingin menyambut Marsha teman kita. Namun karena Marsha belum terlihat, maka mohon bersabarlah kembali... untuk kita bersama-sama menunggu Marsha”.
Lalu terlihat Raisa dan Belinda memegang handphonenya, dia tampak cemas dan berusaha beberapa kali seperti tampak menghubungi seseorang. Dan samar-samar aku dengar kamu menyebut kak Nisa. Mungkin kalian berusaha menghubungi kak Nisa untuk mengetahui keberadaanku sekarang ada dimana. Sahabat, aku ada disini! Aku ada diantara kerumunan banyak orang. Apa kalian tidak melihatku, tidak mengenali wajahku sama sekali?
Haura      : “Ana, kamu baik-baik aja kan? Aku lihat wajahmu begitu sedih! Ayo majulah... mereka semua sedang menunggu kamu.  Kamu tidak mau kan, mengecewakan mereka semua?”
Wajah ceria itu lagi yang mampu membangkitkan keberanianku. Tangannya yang hangat menggenggam tangan ini. Saat aku akan maju lagi menemui mereka berdua, Raisa maju lagi ke panggung dan seperti akan menyampaikan informasi kembali.
Raisa      : “Hai guys! Ada kabar baik nih tentang Marsha... kata kakaknya, Marsha sudah ada disini. Jadi dimanapun kamu sekarang Marsha... ayo maju ke atas panggung ini! Ayo semuanya sama-sama memanggil Marsha, Marsha Marsha Marsha...” teriak mereka dengan bertepuk tangan.
Bagaimana ini, jadi sekarang aku harus maju ke atas panggung? Tapi ketika aku melihat wajah sahabatku Belinda yang sedih dan terus menatap ke arah sekeliling untuk mencariku, aku pun melangkahkan kaki. Haura membisikkan kata bismillah padaku. Ya bismillahirrahmaanirrahiim! Setiap orang yang aku lewati serentak memandangiku dengan wajah tanda tanya mereka. Akhirnya hampir semua orang melihatku sekarang. Dan wajah Belinda dengan ekspresinya yang seolah berkata “Siapa dia? Mau apa dia mendekat ke arahku sekarang?” terlihat jelas olehku.
Sekarang aku ada dihadapannya! Ekspresi wajah kami begitu berlawanan! Dia dengan mempertahankan wajah yang anehnya, dan aku tersenyum padanya dan mengucapkan salam. Wajahnya yang tegang berubah tersenyum kambali sembari membalas senyumanku. “Selamat ulang tahun Bel... happy birthday boneka unyu-ku... ”. Lalu aku memeluknya, dia terlihat tidak mau lama-lama dipeluk olehku. Aku pun mengerti dengan sikapnya yang seperti itu. Lalu dia menatapku dan menggeleng-gelengkan kepala.
Belinda : “Kamu... engggak enggak! Kamu siapa?” tanyanya.
Ana       : “Siapa aku? Sepertinya kamu sudah mengetahui jawabannya! Namun kamu menyangkalnya kan?”
Belinda : “Apa? Tapi, kamu gak mungkin... orang yang aku maksud! Kamu gak mungkin...” bibirnya bergetar dan wajahnya seolah “Jawab aku!”.
Ana       : “Ya kamu benar! Aku adalah orang kamu tunggu, aku adalah Masha”.
Aku tingalkan dia dengan wajah tak percayanya. Dan aku naik ke atas panggung untuk memberitahukan siapa diriku. Setelah Raisa tersenyum padaku dan memelukku, aku bertanya padanya.
Ana       : “Kamu tidak kaget dengan penampilanku ca?”
Raisa    : “Kenapa harus kaget? Kamu kan tetap manusia! Ayo cepat berbicara pada semua orang!”. Tangannya segera memberikan mike padaku.
Ana       : “Assalamu’alaikum warahmatullahi wabaraktuh!”...
Semuanya menjawab salam, dan sempat terdengar olehku beberapa perkataan mereka. Ada yang berkata, “Kok ada ceramah sih?” dan “Hei mbak ustadzah! Disini bukan tempatnya untuk ceramah!” katanya dengan mentertawakanku.
Ana       : “Iya memang benar! Tapi, apakah untuk beribadah dan menjalankan perintah Allah hanya berbatas di mesjid?”. Dia hanya terdiam dan melanjutkan meminum minumannya. “Baik, bagi teman-teman semua yang belum mengenali saya, maka perkenalkan nama saya Marsha.”
Jujur... saat memperkenalkan diri sebagai Marsha. Namun sebagai nama inilah mereka mengenalku dulu! Semua orang disana tampak terkejut dan tidak percaya!
Ana       : “Marsha Dewi Rantika. Saya berterimakasih atas semua perhatian dan segala yang kalian lakukan untuk menyambut kedatangan saya disini. Dan ada satu hal lagi yang ingin saya sampaikan kepada kalian. Saya ingin meminta maaf kepada siapapun yang pernah tersakiti oleh saya dulu. Mungkin kalian semua kaget dan tidak percaya bahwa yang ada didepan kalian adalah Marsha yang biasa kalian kenal. Tapi ini bukanlah sandiwara yang saya jalankan, dimulai dari penampilan, bahasa dan lainnya. Terimakasih, dan untuk sahabat saya Belinda, selamat ulang tahun Bel, wish you all the best... Terimakasih atas perhatian dari semuanya, silahkan nikmati lagi pestanya. Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh”.
Semuanya hening, dan aku perlahan turun dan tersenyum kepada semuanya.
Segera Belinda menemuiku dan menatapku dengan air mata dipipinya.
Raisa    : “Bel, lihat ini Marsha! Cantik banget ya dengan gaun panjang ungu dan jilbabnya!” tuturnya.
Belinda : “Ca, apa kamu percaya dengan dia yang mengaku sebagai sahabat kita Marsha?” tanyanya dengan amarah.
Tanpa ku sadari Haura ada disampingku. Dan mengalihkan perhatian kami.
Haura    : “Hai Belinda! Selamat ulang tahun ya... ini ada kado kecil dari kami...”
Namun tatapan mata Belinda tidak memperdulikan siapa yang sekarang sedang ingin menjabat tangannya. Dan segera Raisa menjabat tangannya dengan wajahnya yang dapat mencairkan suasana yang tegang ini. Memang dari dulu, yang paling polos, baik, dan ramah senyum.
Raisa    : “Hm, hai! Namaku Raisa, kamu bisa panggil aku ica. Nama kamu siapa? Kamu kesini sama Marsha ya?”.
Haura   : “Oh iya, nama saya Haura. Benar, saya kesini bersama Ana, emh maaf maksud saya Marsha”.
Belinda : “Kamu dengarkan ca, namanya Ana... bukan Marsha!” tegasnya.
Suasananya kembali menegang. Baiklah, aku harus menyelesaikan semuanya.
Ana       : “Aku benar-benar Marsha, Bel! Kamu perlu bukti apa agar kamu percaya bahwa aku adalah Marsha?”   
Belinda : “Jika kamu benar Marsha, maka buka kerudung kamu!”. Kami semua terkejut mendengarnya! “Kenapa? Gak berani, kan? Karena memang kenyataannya kamu bukanlah sahabat kami Marsha. Terlebih lagi dia membawa seseorang yang sama dengan dia...” ungkapnya.
Ana       : “Baiklah... (tanganku memegang jilbabku)”.
Secara spontan Haura dan Raisa berkata “Jangan!”. Mereka berdua mencegahku!
Haura   : “Apa yang akan kamu lakukan? Bagaimana mungkin kamu akan melepas hijab kamu? Apa kamu lebih memilih patuh kepada manusia dari pada patuh kepada Allah?” bentaknya padaku.
Ana      : “Kamu tenang aja Ra! Aku bukanlah typical orang yang menggadaikan aqidahku hanya untuk mendapat pengakuan atau penghormatan dari manusia. Jadi mana mungkin aku akan melepaskan jilbabku. Aku hanya ingin menunjukkan kepadanya, arti sahabat sejati... Sahabat bukan kata yang mudah untuk menjadi pengakuan bagi seseorang. Sahabat yang baik adalah orang yang senantiasa hadir disaat kita senang ataupun susah. Tapi sahabat sejati tidak hanya hadir disaat kita bahagia ataupun ketika duka menimpa! Mereka itu adalah orang yang senantiasa mengingatkan kita ketika kita jauh dari-Nya dan senantiasa mengajak kita untuk senantiasa terus berjuang di jalan-Nya.” kataku dengan terus menatap mata Belinda.
Haura      : “Ana...” matanya berkunang.
Belinda  : “Oh gitu! Jadi menurut kamu aku bukan sahabat yang baik? Kamu dengarkan ca... apa yang sudah dia katakan? Kita ini tidak penting lagi buatnya... Jadi lebih baik, ayo kita pergi dari sini!”
Raisa      : “Aduh Bel...! Kamu kenapa marah-marah sih sama Marsha? Padahal dia kan sudah jauh-jauh datang kesini untuk menghadiri pesta kamu!”.
Belinda  : “Karena dia sudah melupakan kita. Dia bukan Marsha yang kita kenal... Dia bahkan berbicara seperti baru mengenal kita... ini semua gara-gara dia kan?” (dengan menunjuk wajah Haura).
Ana        : “Enggak Bel... aku gak bermaksud kayak gitu...”.
Wajahnya berpaling dariku, dan dia melangkahkan kaki...
Raisa      : “Kamu mau kemana Bel?”...
Dia terus melangkah tanpa menjawab pertanyaan ica... Lalu Haura mengejarnya dan memegang tangannya. Belinda melepaskan tangannya.
Haura      : “Tolong kamu jangan pergi! Jika saya salah satu orang yang membuat kamu seperti ini, lebih baik saya yang pergi!”.
Belinda   : “Baguslah kalau kamu sadar dengan posisi kamu!”.
Haura     : “Tapi sebelum itu, tolong kamu terima kado dari kami...”.
Belinda langsung menerima kado itu, dan segera dia menjatuhkan kado itu. Sungguh hatiku sakit menyaksikannya.  Terlebih lagi, kejadian itu dilihat dan diterima langsung oleh Haura... Aku langsung menghampiri mereka berdua dan melihat wajah Haura.
Ana       : “Astagfirullahal’adzim! Ya Allah Bel... kamu keterlaluan! Ya udah kalau kamu memang tidak mau kami ada disini. Maaf mengganggu, Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh”.
Aku mengambil kedua kado itu dan memberikannya pada Raisa. Aku memegang tangan Haura yang begitu dingin. Dan kami berlalu dengan hati yang sedih dan kecewa. Memang awalnya, aku ada perasaan gak enak untuk pergi ke acara ini. Aku merasa canggung disini. Setiap mata memandang aurat semua, aku tak tenang. Jika bukan karena menghormati dan menghadiri undangan adalah kewajiban seorang muslim, dan untuk sahabatku, mungkin aku akan mempertimbangkan lagi untuk datang kesini.  Aku tetap menatap wajah Haura! Aku meminta maaf kepadanya atas apa yang telah dilakukan oleh Belinda. Dia tersenyum dan memeluk tanganku yang sebelah kanan,dan berkata “Tidak. Aku yang meminta maaf karena aku, sahabat kamu jadi salah paham”.
Setelah kejadian itu... beberapa hari selanjutnya, mamanya Belinda menemuinya di kamar dengan membawa kado dariku dan Haura. Beliau duduk tenang disampingnya. Belinda yang melihat kado itu dibawa mamanya, segera membalikkan badan.
Belinda     : “Untuk apa mama membawa kado itu?” dengan wajahnya yang kesal.
Ibu Nina   : “Loh kok kamu bilang kayak gitu sayang? Bukannya kado ini punya kamu, ya?” dengan nada yang menyindir.
Belinda     : “Enggak ma! Belinda gak suka sama kado itu... buang aja! Atau kalau mama mau, ya udah buat mama aja!”.
Ibu Nina     : “Ya udah... buat mama aja yah! Makasih ya sayang, pasti kado dari Marsha dan sahabat barunya bagus banget, karena mereka sengaja jauh-jauh buat ketemu sama kamu dan memberikan ini... coba mama buka ya?”
Lalu mamanya membuka kado itu... mata Belinda pun sedikit melirik.
Ibu Nina  : “Wah ada boneka lucu banget, pakai hijab bonekanya! Dan ditangannya ada bunga mawar merah... lucu banget!”
Ketika itu surat dariku terjatuh. Dan mamanya memberikannya kepada Belinda. Cukup lama Belinda yang hanya memandang surat itu dan membiarkan surat itu.
Lalu Belinda pun membuka surat berwarna merah muda itu dan membacanya...
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh!
Dear Belinda,
Hai apa kabar Bel? Mudah-mudahan Allah selalu menjaga dan melindungi kamu. Maaf, selama ini aku jarang menghubungimu. Seiring waktu, kita semakin dewasa. Dan mungkin kamu menunggu aku mengucapkannya padamu, “Selamat ulang tahun” Belinda-ku! Semoga sehat selalu lagi bersyukur , dan umur yang berkah lagi diridhai oleh Allah Swt...
Aku yakin kamu tumbuh menjadi seorang gadis yang baik, cantik, cerdas dan tetap menjadi sahabat yang selalu aku sayangi. Bel, mungkin jika kamu bertemu aku, kamu akan menemukan sesuatu yang berbeda dari biasanya. Tidak ada kata loe gue, pakaian modis dan terbuka, sikapku yang manja dan pemarah. Kita tidak akan persis sama seperti dulu. Namun itu semua bukan karena aku mendapat sahabat baru. Namun itu semua karena imamku! Namun semua perubahanku tidak akan mengubah sedikit pun perasaan sayang dan kangen ini untukmu. Bel... kado ini aku sudah siapkan satu bulan sebelumnya. Tolong kamu jaga ya! Dan anggap boneka itu adalah aku. Karena aku ingin selalu ada disampingmu...! I love you sahabatku, tetaplah jadi sahabatku yang termanis...
Air mata sayang terjatuh di atas surat itu. Dia menangis dan memeluk mamanya.
Belinda  : “Ma... Belinda juga sayang sama Marsha. Tapi dengan Marsha yang sekarang, aku merasa asing terhadapnya. Dia bukan Marsha yang aku kenal, dia berubah!”.
Ibu Nina : “Tapi jika dia berubah untuk yang lebih baik? Dia juga bersikap lebih baik jika menurut mama, dia juga sangat lebih kewanitaan dan sopan santun”.
Belinda   : “Jadi menurut mama dia dulu gimana?”
Ibu Nina : “Ya... dia juga baik. Cuma dia dulu belum berhijab. Dan sekarang dia berhijab, tambah ayu, anggun dan mulia”.
Belinda  : “Mulia?”
Ibu Nina : “Iya... karena dia berhijrah menuju orang yang lebih baik lagi. Mama sadar... mama juga belum berhijab! Dan mungkin kamu melihat mama seperti apa, jadi kamu belum tahu masalah berhjab karena mama. Mama salut sama Marsha, dia masih remaja tapi sudah bisa berhijab seperti itu”.
Belinda memegang Al-Qur’an terjemahan dan boneka dariku. Dia memeluk boneka itu. Belinda hanya terdiam dan perlahan membuka kado dari Haura. Dan ternyata kadonya itu adalah buku fiksi berjudul “Bidadari Ada di Bumi”. Dia terkesima membaca judul buku itu. Lalu dia kembali memegang boneka itu, dan tidak sengaja menekan tombol suara dari boneka itu.  Dan berbunyi “Selamat ulang tahun, aku sayang kamu...!” dengan tangannya bergerak naik turun memegang bunga mawar merah, seolah ingin memberikannya pada Belinda. Dia melihat bros bunga pada boneka itu rusak dan jatuh. Dia terkejut dan segera mengambilnya dan sadar bahwa itu semua diakibatkan saat dia menjatuhkan kadonya dengan keras. Dan dia ingat juga! Bahwa berarti Al-Qur’an dariku juga telah dijatuhkannya. Dia menangis dan memeluk Al-Qur’an itu dengan penuh kehangatan dari air matanya yang jatuh.
Hari berlalu begitu cepat. Tak ku rasa sudah hampir seminggu aku dan Haura ada di Jakarta. Akhirnya kami pulang bersama kak Nisa menuju rumah umi di Bandung. Rasanya jadi ingin cepat-cepat sekolah! Kangen sama temen-temen aliyah, khususnya temen sekelas. Tapi jadi deg-degan juga... karena sebentar lagi mau kelas sembilan, UN yang paling mendebarkan. Seperti biasa aku menjalani hariku dengan umi. Setiap hari umi selalu memberikan ilmu dan pengalaman yang berharga bagiku. Aku belajar memasak, dan cara dakwah dan hal yang lainnya. Dan aku sering juga berdiskusi masalah Islam dengan umi.
Umi     : “Ana sayang... coba menurut kamu bagaimana bila mendengar pernyataan bahwa Allah menciptakan agama Yahudi, Nasrani dan Islam, apa benar? Lalu dengan sekarang keefektifan para ulama atau ustadz yang banyak jadi artis bagaimana menurut kamu?” tanya umi.
Ana    : “Untuk masalah yang pertama umi... ana tidak setuju. Ya walaupun didalam Al-Qur’an kaum Yahudi dan Nasrani disebutkan sebagai sebuah agama dari umat terdahulu. Karena menurut firman Allah bahwa hanya agama Islam lah agama yang ada disisi Allah, agama yang diridhai (Ali ‘Imran ayat 19). Bila diteliti lebih dalam juga, dari aspek historis maupun teleologinya, maka semua agama tidaklah sama! Hanya Islam yang terbukti agama yang benar dan unggul (At-Taubah ayat 33). Segala agama disini dipandang dari sisi manusia. Jadi agama yahudi Dan Nasrani itu hanya agama buatan manusia. Agama yang diciptakan Allah hanya agama Islam umi. Dan masalah ustadz atau para ulama yang sekarang banyak berkecimpung didunia entertainer, itu sah-sah saja. Karena itu adalahsalah satu siasah syar’iyah mereka terhadap dakwah Islam. Karena kenyataannya pada zaman sekarang para jama’ah lebih banyak melihat Tv dari pada di mesjid. Dan Tv dianggap sebagai salah satu media yang efektif untuk dakwah dan yang fleksibel. Jadi, ceramah tidak dianggap kaku dan tertutup! Dan jama’ah pun bertambah banyak dan disamping itu juga bisa membuktikan bahwa umat Islam tidak terbelakang dan tidak berbakat! Justru ini salah satu bentuk kepedulian mereka umi, terhadap umat Islam.”
Umi pun tersenyum. “Ya... jawabannya bisa umi pahami. Ya udah untuk sekarang sampai disini dulu. Lain kali umi mau ngetes kamu lagi. Buka mata dan telinga untuk memahami sekeliling, namun jangan tinggalkan hati untuk memahami arti kebenaran yang sesungguhnya”.
Disana di perantara yang jauh, sahabatku Belinda memandangi tangan boneka kado dariku. Dia tersenyum sendiri saat melihat wajah boneka itu. Dan dia berkata pada boneka itu, “Kamu tahu boneka mawar, aku akan memberi nama untuk kamu... Marsha, ya Marsha. Sekarang kamu punya nama!”. Lalu dia menarik bunga mawar yang ada ditangan boneka itu. Dan dia tersadar bahwa itu sama saja dengan dia menerima bunga mawar itu dariku. Tangannya pun menjabat tangan boneka itu dan berkata, “Aku minta maaf ya Marsha...!”.
Persahabatan kami bermula saat kami menjadi teman satu sekolah di SD. Dia adalah typical orang yang oeriang dan modis. Bisa dibilang semua tentang dia adalah bermodis! Dimulai dari pakaian, bahasa, tas, rambut dan hal yang kecil lainnya. Dia paling nggak suka sama orang yang nggak bermodis. Tapi aslinya, jika kita sudah mengenalnya dengan lama... Sebenarnya dia dulu adalah seorang kutu buku yang cantik ketika SD. Dia selalu mendapatkan nilai yang tertinggi. Namun disatu sisi dia harus rela tidak mempunyai teman dan selalu dikucilkan oleh temannya yang lain. Hingga dia pernah menangis dan tidak mau sekolah lagi karena dia dihina dan didorong sampai jatuh oleh teman sekelasnya. Dan katanya, Belinda sangat menyukainya. Dia... mempunyai kenangan masa lalu yang buruk baginya... ya mungkin sebuah trauma baginya. Buktinya, dia setelah pindah ke SD yang lainnya,  dia benar-benar berubah total. Apalagi setelah masuk SMP. Namun aneh, dia bersikapbaik padaku. Padahal aku bisa dibilang lumayan kuper dulu, tapi dia selalu menghiburku kala aku sedih dan membelaku saat dijaili oleh teman yang dulu waktu SD. Dengan tangannya, dia mengulurkan bantuan dan mengangkatku dari sepinya seorang teman yang rindu akan seorang sahabat dan kasih sayang orang tua. Dia selalu mengajak ku ke rumahnya untuk sekedar bermain atau menginap di rumahnya. Aku jadi semakin dekat dan dianggap sebagai anaknya sendiri oleh orang tua Belinda. Impiannya adalah menjadi seorang model terkenal... itu yang aku tahu.
Dan Raisa adalah sahabatku yang sangat menggemaskan. Dia sangat manja dan polos diantara kami. Tapi dia bagai alarm untuk kami! Dia selalu mengingatkan kami jika besok ada PR. Dia memang yang paling rajin diantara kami. Dia memang sangat dimanja oleh kedua orang tuanya. Jujur, dia memiliki riwayat kesehatan yang kurang baik. Dia sering pingsan jika terlalu kecapaian. Makanya, orang tuanya menitipkan dia pada kami. Bahkan dia yang selalu mengajari kami belajar dan bagaimana menjadi seorang wanita yang anggun. Namun dia selalu membawa makanan untuk sarapan kami. Dari dulu sampai sekarang dia tetap begitu. Disaat dia membutuhkan teman yang selalu menjaganya... itulah kami, aku dan Belinda. Ica adalah panggilan khusus untuknya. Dia pandai dalam bidang IPA. Ica selalu mempelajari ilmu kesehatan, ya dia ingin menjadi seorang dokter yang hebat. Dia selalu mengatakannya dengan tersenyum padaku! Dia ingin mengobati banyak orang tanpa harus melihat siapa mereka. Dia sangat berjiwa besar, dia ingin mengobati banyak masyarakat di sekitarnya. Katanya memalukan jika jadi seorang dokter tapi masih banyak yang sakit di sekitarnya. Sedangkan aku... tidak tahu nanti ingin jadi apa. Aku bingung... mempunyai dua sahabat yang sangat berbeda sifatnya.
Aku masih terbawa ombak kesana kemari. Aku belum memahami sepenuhnya siapa diriku dan apa yang aku inginkan? “Siapa yang mengenal dirinya sendiri, maka dia mengenal Tuhannya”, aku sadar dengan kalimat itu. Bagaimana aku akan mengenal Allah, mengenal diri sendiri saja belum bisa. Aku belum memahami hakikat diriku sendiri, khususnya sebagai seorang muslimah. Rasanya sangat capek hidup hanya untuk mendengarkan apa kata orang. Secara materi, memang aku mendapatkan semuanya. Tapi... hatiku kosong, tak ada isinya! Aku hanya merasakan bahagia dalam tawaku hanya semu dan sementara. Setelah tawa itu hilang, maka sudahlah kata bahagia itu. Aku seperti manusia yang tidak berguna! Hidupku terlalu enak, jadi manusia yang serba instant ternyata tidak selalu mengenakkan. Aku jadi kurang peka terhadap kata syukur dan sabar. Aku hanya seorang yang merugi yang setiap harinya yang semakin jauh dari Tuhannya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar