Setelah beberapa
minggu kak Nisa sudah lama tidak datang kesini, akhirnya kemarin kak Nisa
datang untuk bersilaturahmi dan menyampaikan amanat dari sahabat lamaku,
Belinda dan Raisa. Aku memang belum sempat bertemu langsung dengan kakak karena
aku tengah di sekolah. Kakak menitipkan surat undangan kepada umi. Ternyata
surat undangan itu adalah surat undangan pesta peringatan hari ulang tahunnya
Belinda. Kenapa ada keraguan ya didalam hatiku? Kenapa aku serasa tidak mau
menghadirinya. Terlebih aku ada acara lain pda hari itu, juga aku merasa risih.
Aku bukannya malu dengan aku yang sekarang, atau penampilan yang sekarang!
Hanya aku merasa sakit dan pedih lagi jika mengingat sahabatku dulu, merekalah
sahabatku dulu saat masih menjadi Marsha. Tapi, apapun yang terjadi, mereka tetap
sahabatku.Terlepas dari apakah mereka berhijab atau tidak, aku hanya tidak mau
merusak acaranya dengan kedataganku dengan nama dan penampilan yang baru,
yang... dia benci.
Jujur, dari dulu
aku sudah mempersiapkan kado untuknya. Siapapun dan bagaimanapun dia, aku tidak
mudah dan mungkin tidak bisa melupakannya dengan mudah walau aku membuang
namaku yang dulu. Mungkin kedengarannya terlalu kejam jika disebut “membuang”,
namun itu semua bukan karena tidak menerima nama dari mama. Tapi karena gaya
hidup, kebiasaan, akhlaknya dan semua tentang Marsha membuatku seolah trauma!
Aku dilema dengan diriku sendiri... aku bingung sekarang. Apa lebih baik aku
menitipkan kado ini kepada kakak ya? Tapi ini tidak sopan! Aku kan sudah
sengaja diundang dan Belinda pasti sangat mengharapkan kedatanganku di moment
specialnya. Ya Allah... hamba benar-benar bingung dengan ini, bantu hamba ya
Allah. Apa yang harus hamba lakukan?
Akhirnya setelah
melakukan shalat istikharah dan konsultasi dengan umi, aku memutuskan untuk
datang ke Jakarta untuk memenuhi undangannya Belinda. Karena permintaanku, umi
juga insyaallah akan ikut agar umi tahu dimana rumah kami yang sekarang dan
dengan niat bersilaturahmi dengan bi Asiyah. Kebetulan hari uang tahun Belinda tepat
pada awal liburan, akhirnya aku mengajak Haura untuk ikut ke Jakarta. Awalnya
Haura menolak, namun setelahmendapat izin ibunya, akhirnya Haura ikut.
Alhamdulillah, senangnya hati! Aku bisa kembali ke Jakarta dengan pribadi yang
baru dengan sahabatku yang ku sayang!
Lalu pada ba’da
isya aku dan Haura diantar oleh kakak menuju rumahnya Belinda. Haura tampak
cemas dan gugup!
Ana : “Tenang ra! Mereka baik kok!”kataku.
Haura : “Iya na, aku cuma gak enak
aja! Aku kan bukan siapa-siapa mereka.”
Ana : “Oh gitu...! Kata siapa kamu bukan
siapa-siapa mereka? Kamu ingat? Kita semua adalah saudara. Karena kita adalah
sahabat, maka sahabat aku juga sahabat kamu ra ”(aku tersenyum dan memegang
tangannya yang dingin).
Haura : “Iya syukran Ana!” sembari membalas senyumanku.
Akhirnya kami
sampai diteras rumah sahabatku Belinda. Dan semua orang yang sama-sama masuk
bersama kami begitu heran dan bertanya-tanya siapa kami. Seperti dugaanku
sebelumnya! Semua berpakaian pendek dan seksi dengan bergandengan tangan bersama
pacarnya. Terserah apa pikiran mereka terhadap kami! Terserah mereka menyebut
ini baju jubah atau apapun. Aku juga mungkin takan lama disini. Aku tidak
terlalu betah dan nyaman untuk lama tinggal disini. Dan lebih tak ku duga lagi,
ternyata acara ini bukan hanya tentang hari ulang tahun Belinda. Tapi aku melihat tulisan besar di spanduk,
“Selamat Datang Marsha”... Masyaallah! Ya Allah ini benar-benar diluar
dugaanku. Jadi secara tidak langsung, acara ini juga dibuat untukku! Jadi dari
tadi mereka menungguku... Saat aku dan Haura tiba didekat kerumunan orang,
serentak semua pandangan mereka pada kami. Aku melihat sahabatku disana! Marsha
dengan gaun merahnya dan Raisa dengan gaun berwarna hijau. Sungguh mereka
sangat cantik.... astagfirullahalal’adzim! Ya Allah ampuni hamba, ini bukan sebuah
yang patut dipuji olehku jika dilihat semua orang. Bahkan ada hadist yang
mengatakan bahwa sesama wanita pun tidak boleh saling melihat auratnya! Sahabatku,
andai kamu tahu bahwa ini semua tidak benar. Aku ingin sekali merangkulmu pada
fitrah kita yang sebenarnya...
Aku ingin sekali
menghampiri kalian disana. Tapi kamu segera beranjak pergi menuju ke atas
panggung.
Belinda : “Mohon perhatian! Selamat malam semuanya...
terimakasih ya atas kehadiran kalian semua disini. Saya minta maaf karena acara
ini belum bisa dimulai, karena seperti yang kita ketahui bahwa kita semua ingin
menyambut Marsha teman kita. Namun karena Marsha belum terlihat, maka mohon
bersabarlah kembali... untuk kita bersama-sama menunggu Marsha”.
Lalu terlihat Raisa dan Belinda
memegang handphonenya, dia tampak cemas dan berusaha beberapa kali seperti
tampak menghubungi seseorang. Dan samar-samar aku dengar kamu menyebut kak
Nisa. Mungkin kalian berusaha menghubungi kak Nisa untuk mengetahui
keberadaanku sekarang ada dimana. Sahabat, aku ada disini! Aku ada diantara
kerumunan banyak orang. Apa kalian tidak melihatku, tidak mengenali wajahku
sama sekali?
Haura : “Ana, kamu
baik-baik aja kan? Aku lihat wajahmu begitu sedih! Ayo majulah... mereka semua
sedang menunggu kamu. Kamu tidak mau
kan, mengecewakan mereka semua?”
Wajah ceria itu lagi yang mampu
membangkitkan keberanianku. Tangannya yang hangat menggenggam tangan ini. Saat
aku akan maju lagi menemui mereka berdua, Raisa maju lagi ke panggung dan
seperti akan menyampaikan informasi kembali.
Raisa : “Hai guys! Ada kabar baik nih tentang
Marsha... kata kakaknya, Marsha sudah ada disini. Jadi dimanapun kamu sekarang
Marsha... ayo maju ke atas panggung ini! Ayo semuanya sama-sama memanggil
Marsha, Marsha Marsha Marsha...” teriak mereka dengan bertepuk tangan.
Bagaimana ini, jadi
sekarang aku harus maju ke atas panggung? Tapi ketika aku melihat wajah
sahabatku Belinda yang sedih dan terus menatap ke arah sekeliling untuk
mencariku, aku pun melangkahkan kaki. Haura membisikkan kata bismillah padaku. Ya
bismillahirrahmaanirrahiim! Setiap orang yang aku lewati serentak memandangiku
dengan wajah tanda tanya mereka. Akhirnya hampir semua orang melihatku
sekarang. Dan wajah Belinda dengan ekspresinya yang seolah berkata “Siapa dia?
Mau apa dia mendekat ke arahku sekarang?” terlihat jelas olehku.
Sekarang aku ada
dihadapannya! Ekspresi wajah kami begitu berlawanan! Dia dengan mempertahankan
wajah yang anehnya, dan aku tersenyum padanya dan mengucapkan salam. Wajahnya
yang tegang berubah tersenyum kambali sembari membalas senyumanku. “Selamat
ulang tahun Bel... happy birthday boneka unyu-ku... ”. Lalu aku memeluknya, dia
terlihat tidak mau lama-lama dipeluk olehku. Aku pun mengerti dengan sikapnya
yang seperti itu. Lalu dia menatapku dan menggeleng-gelengkan kepala.
Belinda : “Kamu... engggak enggak!
Kamu siapa?” tanyanya.
Ana : “Siapa aku?
Sepertinya kamu sudah mengetahui jawabannya! Namun kamu menyangkalnya kan?”
Belinda : “Apa? Tapi, kamu gak mungkin... orang yang aku maksud!
Kamu gak mungkin...” bibirnya bergetar dan wajahnya seolah “Jawab aku!”.
Ana : “Ya kamu
benar! Aku adalah orang kamu tunggu, aku adalah Masha”.
Aku tingalkan dia dengan wajah tak
percayanya. Dan aku naik ke atas panggung untuk memberitahukan siapa diriku.
Setelah Raisa tersenyum padaku dan memelukku, aku bertanya padanya.
Ana : “Kamu tidak kaget dengan penampilanku
ca?”
Raisa : “Kenapa harus
kaget? Kamu kan tetap manusia! Ayo cepat berbicara pada semua orang!”.
Tangannya segera memberikan mike padaku.
Ana : “Assalamu’alaikum
warahmatullahi wabaraktuh!”...
Semuanya menjawab salam, dan sempat
terdengar olehku beberapa perkataan mereka. Ada yang berkata, “Kok ada ceramah
sih?” dan “Hei mbak ustadzah! Disini bukan tempatnya untuk ceramah!” katanya
dengan mentertawakanku.
Ana : “Iya memang
benar! Tapi, apakah untuk beribadah dan menjalankan perintah Allah hanya
berbatas di mesjid?”. Dia hanya terdiam dan melanjutkan meminum minumannya.
“Baik, bagi teman-teman semua yang belum mengenali saya, maka perkenalkan nama
saya Marsha.”
Jujur... saat memperkenalkan diri
sebagai Marsha. Namun sebagai nama inilah mereka mengenalku dulu! Semua orang
disana tampak terkejut dan tidak percaya!
Ana : “Marsha Dewi Rantika. Saya berterimakasih
atas semua perhatian dan segala yang kalian lakukan untuk menyambut kedatangan
saya disini. Dan ada satu hal lagi yang ingin saya sampaikan kepada kalian. Saya
ingin meminta maaf kepada siapapun yang pernah tersakiti oleh saya dulu.
Mungkin kalian semua kaget dan tidak percaya bahwa yang ada didepan kalian
adalah Marsha yang biasa kalian kenal. Tapi ini bukanlah sandiwara yang saya
jalankan, dimulai dari penampilan, bahasa dan lainnya. Terimakasih, dan untuk
sahabat saya Belinda, selamat ulang tahun Bel, wish you all the best... Terimakasih
atas perhatian dari semuanya, silahkan nikmati lagi pestanya. Assalamu’alaikum
warahmatullahi wabarakatuh”.
Semuanya hening, dan aku perlahan
turun dan tersenyum kepada semuanya.
Segera Belinda
menemuiku dan menatapku dengan air mata dipipinya.
Raisa : “Bel, lihat ini
Marsha! Cantik banget ya dengan gaun panjang ungu dan jilbabnya!” tuturnya.
Belinda : “Ca, apa kamu percaya dengan dia yang mengaku sebagai
sahabat kita Marsha?” tanyanya dengan amarah.
Tanpa ku sadari Haura ada disampingku. Dan mengalihkan perhatian
kami.
Haura : “Hai Belinda! Selamat ulang tahun ya... ini
ada kado kecil dari kami...”
Namun tatapan mata Belinda tidak
memperdulikan siapa yang sekarang sedang ingin menjabat tangannya. Dan segera
Raisa menjabat tangannya dengan wajahnya yang dapat mencairkan suasana yang
tegang ini. Memang dari dulu, yang paling polos, baik, dan ramah senyum.
Raisa : “Hm,
hai! Namaku Raisa, kamu bisa panggil aku ica. Nama kamu siapa? Kamu kesini sama
Marsha ya?”.
Haura : “Oh iya, nama
saya Haura. Benar, saya kesini bersama Ana, emh maaf maksud saya Marsha”.
Belinda : “Kamu dengarkan ca, namanya Ana... bukan Marsha!”
tegasnya.
Suasananya kembali menegang. Baiklah, aku harus menyelesaikan
semuanya.
Ana : “Aku
benar-benar Marsha, Bel! Kamu perlu bukti apa agar kamu percaya bahwa aku
adalah Marsha?”
Belinda : “Jika kamu benar Marsha, maka buka kerudung kamu!”.
Kami semua terkejut mendengarnya! “Kenapa? Gak berani, kan? Karena memang kenyataannya
kamu bukanlah sahabat kami Marsha. Terlebih lagi dia membawa seseorang yang
sama dengan dia...” ungkapnya.
Ana : “Baiklah...
(tanganku memegang jilbabku)”.
Secara spontan Haura dan Raisa
berkata “Jangan!”. Mereka berdua mencegahku!
Haura : “Apa yang akan
kamu lakukan? Bagaimana mungkin kamu akan melepas hijab kamu? Apa kamu lebih
memilih patuh kepada manusia dari pada patuh kepada Allah?” bentaknya padaku.
Ana : “Kamu tenang aja Ra! Aku bukanlah typical
orang yang menggadaikan aqidahku hanya untuk mendapat pengakuan atau
penghormatan dari manusia. Jadi mana mungkin aku akan melepaskan jilbabku. Aku
hanya ingin menunjukkan kepadanya, arti sahabat sejati... Sahabat bukan kata
yang mudah untuk menjadi pengakuan bagi seseorang. Sahabat yang baik adalah
orang yang senantiasa hadir disaat kita senang ataupun susah. Tapi sahabat
sejati tidak hanya hadir disaat kita bahagia ataupun ketika duka menimpa!
Mereka itu adalah orang yang senantiasa mengingatkan kita ketika kita jauh
dari-Nya dan senantiasa mengajak kita untuk senantiasa terus berjuang di
jalan-Nya.” kataku dengan terus menatap mata Belinda.
Haura :
“Ana...” matanya berkunang.
Belinda : “Oh gitu! Jadi
menurut kamu aku bukan sahabat yang baik? Kamu dengarkan ca... apa yang sudah
dia katakan? Kita ini tidak penting lagi buatnya... Jadi lebih baik, ayo kita
pergi dari sini!”
Raisa : “Aduh Bel...!
Kamu kenapa marah-marah sih sama Marsha? Padahal dia kan sudah jauh-jauh datang
kesini untuk menghadiri pesta kamu!”.
Belinda : “Karena dia
sudah melupakan kita. Dia bukan Marsha yang kita kenal... Dia bahkan berbicara
seperti baru mengenal kita... ini semua gara-gara dia kan?” (dengan menunjuk
wajah Haura).
Ana : “Enggak
Bel... aku gak bermaksud kayak gitu...”.
Wajahnya berpaling dariku, dan dia melangkahkan kaki...
Raisa : “Kamu mau
kemana Bel?”...
Dia terus melangkah tanpa menjawab
pertanyaan ica... Lalu Haura mengejarnya dan memegang tangannya. Belinda
melepaskan tangannya.
Haura :
“Tolong kamu jangan pergi! Jika saya salah satu orang yang membuat kamu seperti
ini, lebih baik saya yang pergi!”.
Belinda : “Baguslah
kalau kamu sadar dengan posisi kamu!”.
Haura :
“Tapi sebelum itu, tolong kamu terima kado dari kami...”.
Belinda langsung menerima kado itu,
dan segera dia menjatuhkan kado itu. Sungguh hatiku sakit menyaksikannya. Terlebih lagi, kejadian itu dilihat dan
diterima langsung oleh Haura... Aku langsung menghampiri mereka berdua dan
melihat wajah Haura.
Ana :
“Astagfirullahal’adzim! Ya Allah Bel... kamu keterlaluan! Ya udah kalau kamu
memang tidak mau kami ada disini. Maaf mengganggu, Assalamu’alaikum
warahmatullahi wabarakatuh”.
Aku mengambil kedua kado itu dan
memberikannya pada Raisa. Aku memegang tangan Haura yang begitu dingin. Dan
kami berlalu dengan hati yang sedih dan kecewa. Memang awalnya, aku ada
perasaan gak enak untuk pergi ke acara ini. Aku merasa canggung disini. Setiap
mata memandang aurat semua, aku tak tenang. Jika bukan karena menghormati dan
menghadiri undangan adalah kewajiban seorang muslim, dan untuk sahabatku,
mungkin aku akan mempertimbangkan lagi untuk datang kesini. Aku tetap menatap wajah Haura! Aku meminta
maaf kepadanya atas apa yang telah dilakukan oleh Belinda. Dia tersenyum dan
memeluk tanganku yang sebelah kanan,dan berkata “Tidak. Aku yang meminta maaf
karena aku, sahabat kamu jadi salah paham”.
Setelah kejadian itu...
beberapa hari selanjutnya, mamanya Belinda menemuinya di kamar dengan membawa
kado dariku dan Haura. Beliau duduk tenang disampingnya. Belinda yang melihat
kado itu dibawa mamanya, segera membalikkan badan.
Belinda : “Untuk apa mama membawa kado itu?” dengan
wajahnya yang kesal.
Ibu Nina : “Loh kok kamu bilang kayak gitu sayang?
Bukannya kado ini punya kamu, ya?” dengan nada yang menyindir.
Belinda : “Enggak ma!
Belinda gak suka sama kado itu... buang aja! Atau kalau mama mau, ya udah buat
mama aja!”.
Ibu Nina : “Ya udah... buat mama aja yah! Makasih ya
sayang, pasti kado dari Marsha dan sahabat barunya bagus banget, karena mereka
sengaja jauh-jauh buat ketemu sama kamu dan memberikan ini... coba mama buka
ya?”
Lalu mamanya membuka kado
itu... mata Belinda pun sedikit melirik.
Ibu Nina : “Wah ada
boneka lucu banget, pakai hijab bonekanya! Dan ditangannya ada bunga mawar
merah... lucu banget!”
Ketika itu surat dariku
terjatuh. Dan mamanya memberikannya kepada Belinda. Cukup lama Belinda yang hanya
memandang surat itu dan membiarkan surat itu.
Lalu Belinda pun membuka
surat berwarna merah muda itu dan membacanya...
Assalamu’alaikum
warahmatullahi wabarakatuh!
Dear Belinda,
Hai apa kabar Bel?
Mudah-mudahan Allah selalu menjaga dan melindungi kamu. Maaf, selama ini aku
jarang menghubungimu. Seiring waktu, kita semakin dewasa. Dan mungkin kamu
menunggu aku mengucapkannya padamu, “Selamat ulang tahun” Belinda-ku! Semoga
sehat selalu lagi bersyukur , dan umur yang berkah lagi diridhai oleh Allah
Swt...
Aku yakin kamu tumbuh
menjadi seorang gadis yang baik, cantik, cerdas dan tetap menjadi sahabat yang
selalu aku sayangi. Bel, mungkin jika kamu bertemu aku, kamu akan menemukan
sesuatu yang berbeda dari biasanya. Tidak ada kata loe gue, pakaian modis dan
terbuka, sikapku yang manja dan pemarah. Kita tidak akan persis sama seperti dulu.
Namun itu semua bukan karena aku mendapat sahabat baru. Namun itu semua karena
imamku! Namun semua perubahanku tidak akan mengubah sedikit pun perasaan sayang
dan kangen ini untukmu. Bel... kado ini aku sudah siapkan satu bulan
sebelumnya. Tolong kamu jaga ya! Dan anggap boneka itu adalah aku. Karena aku
ingin selalu ada disampingmu...! I love you sahabatku, tetaplah jadi sahabatku
yang termanis...
Air mata sayang terjatuh di
atas surat itu. Dia menangis dan memeluk mamanya.
Belinda : “Ma... Belinda
juga sayang sama Marsha. Tapi dengan Marsha yang sekarang, aku merasa asing
terhadapnya. Dia bukan Marsha yang aku kenal, dia berubah!”.
Ibu Nina : “Tapi jika dia berubah untuk yang lebih baik? Dia
juga bersikap lebih baik jika menurut mama, dia juga sangat lebih kewanitaan
dan sopan santun”.
Belinda : “Jadi menurut mama dia dulu gimana?”
Ibu Nina : “Ya... dia juga baik. Cuma dia dulu belum berhijab.
Dan sekarang dia berhijab, tambah ayu, anggun dan mulia”.
Belinda : “Mulia?”
Ibu Nina : “Iya... karena dia berhijrah menuju orang yang lebih
baik lagi. Mama sadar... mama juga belum berhijab! Dan mungkin kamu melihat
mama seperti apa, jadi kamu belum tahu masalah berhjab karena mama. Mama salut
sama Marsha, dia masih remaja tapi sudah bisa berhijab seperti itu”.
Belinda memegang Al-Qur’an
terjemahan dan boneka dariku. Dia memeluk boneka itu. Belinda hanya terdiam dan
perlahan membuka kado dari Haura. Dan ternyata kadonya itu adalah buku fiksi
berjudul “Bidadari Ada di Bumi”. Dia terkesima membaca judul buku itu. Lalu dia
kembali memegang boneka itu, dan tidak sengaja menekan tombol suara dari boneka
itu. Dan berbunyi “Selamat ulang tahun,
aku sayang kamu...!” dengan tangannya bergerak naik turun memegang bunga mawar
merah, seolah ingin memberikannya pada Belinda. Dia melihat bros bunga pada
boneka itu rusak dan jatuh. Dia terkejut dan segera mengambilnya dan sadar
bahwa itu semua diakibatkan saat dia menjatuhkan kadonya dengan keras. Dan dia
ingat juga! Bahwa berarti Al-Qur’an dariku juga telah dijatuhkannya. Dia
menangis dan memeluk Al-Qur’an itu dengan penuh kehangatan dari air matanya
yang jatuh.
Hari berlalu begitu cepat.
Tak ku rasa sudah hampir seminggu aku dan Haura ada di Jakarta. Akhirnya kami
pulang bersama kak Nisa menuju rumah umi di Bandung. Rasanya jadi ingin
cepat-cepat sekolah! Kangen sama temen-temen aliyah, khususnya temen sekelas.
Tapi jadi deg-degan juga... karena sebentar lagi mau kelas sembilan, UN yang
paling mendebarkan. Seperti biasa aku menjalani hariku dengan umi. Setiap hari
umi selalu memberikan ilmu dan pengalaman yang berharga bagiku. Aku belajar
memasak, dan cara dakwah dan hal yang lainnya. Dan aku sering juga berdiskusi
masalah Islam dengan umi.
Umi : “Ana sayang... coba menurut kamu bagaimana
bila mendengar pernyataan bahwa Allah menciptakan agama Yahudi, Nasrani dan
Islam, apa benar? Lalu dengan sekarang keefektifan para ulama atau ustadz yang
banyak jadi artis bagaimana menurut kamu?” tanya umi.
Ana : “Untuk masalah
yang pertama umi... ana tidak setuju. Ya walaupun didalam Al-Qur’an kaum Yahudi
dan Nasrani disebutkan sebagai sebuah agama dari umat terdahulu. Karena menurut
firman Allah bahwa hanya agama Islam lah agama yang ada disisi Allah, agama
yang diridhai (Ali ‘Imran ayat 19). Bila diteliti lebih dalam juga, dari aspek
historis maupun teleologinya, maka semua agama tidaklah sama! Hanya Islam yang
terbukti agama yang benar dan unggul (At-Taubah ayat 33). Segala agama disini
dipandang dari sisi manusia. Jadi agama yahudi Dan Nasrani itu hanya agama
buatan manusia. Agama yang diciptakan Allah hanya agama Islam umi. Dan masalah
ustadz atau para ulama yang sekarang banyak berkecimpung didunia entertainer,
itu sah-sah saja. Karena itu adalahsalah satu siasah syar’iyah mereka terhadap
dakwah Islam. Karena kenyataannya pada zaman sekarang para jama’ah lebih banyak
melihat Tv dari pada di mesjid. Dan Tv dianggap sebagai salah satu media yang
efektif untuk dakwah dan yang fleksibel. Jadi, ceramah tidak dianggap kaku dan
tertutup! Dan jama’ah pun bertambah banyak dan disamping itu juga bisa
membuktikan bahwa umat Islam tidak terbelakang dan tidak berbakat! Justru ini
salah satu bentuk kepedulian mereka umi, terhadap umat Islam.”
Umi pun tersenyum. “Ya...
jawabannya bisa umi pahami. Ya udah untuk sekarang sampai disini dulu. Lain
kali umi mau ngetes kamu lagi. Buka mata dan telinga untuk memahami sekeliling,
namun jangan tinggalkan hati untuk memahami arti kebenaran yang sesungguhnya”.
Disana di perantara yang
jauh, sahabatku Belinda memandangi tangan boneka kado dariku. Dia tersenyum
sendiri saat melihat wajah boneka itu. Dan dia berkata pada boneka itu, “Kamu
tahu boneka mawar, aku akan memberi nama untuk kamu... Marsha, ya Marsha.
Sekarang kamu punya nama!”. Lalu dia menarik bunga mawar yang ada ditangan
boneka itu. Dan dia tersadar bahwa itu sama saja dengan dia menerima bunga
mawar itu dariku. Tangannya pun menjabat tangan boneka itu dan berkata, “Aku
minta maaf ya Marsha...!”.
Persahabatan kami bermula
saat kami menjadi teman satu sekolah di SD. Dia adalah typical orang yang
oeriang dan modis. Bisa dibilang semua tentang dia adalah bermodis! Dimulai
dari pakaian, bahasa, tas, rambut dan hal yang kecil lainnya. Dia paling nggak
suka sama orang yang nggak bermodis. Tapi aslinya, jika kita sudah mengenalnya
dengan lama... Sebenarnya dia dulu adalah seorang kutu buku yang cantik ketika
SD. Dia selalu mendapatkan nilai yang tertinggi. Namun disatu sisi dia harus
rela tidak mempunyai teman dan selalu dikucilkan oleh temannya yang lain. Hingga
dia pernah menangis dan tidak mau sekolah lagi karena dia dihina dan didorong
sampai jatuh oleh teman sekelasnya. Dan katanya, Belinda sangat menyukainya.
Dia... mempunyai kenangan masa lalu yang buruk baginya... ya mungkin sebuah
trauma baginya. Buktinya, dia setelah pindah ke SD yang lainnya, dia benar-benar berubah total. Apalagi setelah
masuk SMP. Namun aneh, dia bersikapbaik padaku. Padahal aku bisa dibilang
lumayan kuper dulu, tapi dia selalu menghiburku kala aku sedih dan membelaku
saat dijaili oleh teman yang dulu waktu SD. Dengan tangannya, dia mengulurkan
bantuan dan mengangkatku dari sepinya seorang teman yang rindu akan seorang
sahabat dan kasih sayang orang tua. Dia selalu mengajak ku ke rumahnya untuk
sekedar bermain atau menginap di rumahnya. Aku jadi semakin dekat dan dianggap
sebagai anaknya sendiri oleh orang tua Belinda. Impiannya adalah menjadi
seorang model terkenal... itu yang aku tahu.
Dan Raisa adalah sahabatku
yang sangat menggemaskan. Dia sangat manja dan polos diantara kami. Tapi dia
bagai alarm untuk kami! Dia selalu mengingatkan kami jika besok ada PR. Dia
memang yang paling rajin diantara kami. Dia memang sangat dimanja oleh kedua
orang tuanya. Jujur, dia memiliki riwayat kesehatan yang kurang baik. Dia
sering pingsan jika terlalu kecapaian. Makanya, orang tuanya menitipkan dia
pada kami. Bahkan dia yang selalu mengajari kami belajar dan bagaimana menjadi
seorang wanita yang anggun. Namun dia selalu membawa makanan untuk sarapan kami.
Dari dulu sampai sekarang dia tetap begitu. Disaat dia membutuhkan teman yang
selalu menjaganya... itulah kami, aku dan Belinda. Ica adalah panggilan khusus
untuknya. Dia pandai dalam bidang IPA. Ica selalu mempelajari ilmu kesehatan,
ya dia ingin menjadi seorang dokter yang hebat. Dia selalu mengatakannya dengan
tersenyum padaku! Dia ingin mengobati banyak orang tanpa harus melihat siapa
mereka. Dia sangat berjiwa besar, dia ingin mengobati banyak masyarakat di
sekitarnya. Katanya memalukan jika jadi seorang dokter tapi masih banyak yang
sakit di sekitarnya. Sedangkan aku... tidak tahu nanti ingin jadi apa. Aku
bingung... mempunyai dua sahabat yang sangat berbeda sifatnya.
Aku masih terbawa ombak
kesana kemari. Aku belum memahami sepenuhnya siapa diriku dan apa yang aku inginkan?
“Siapa yang mengenal dirinya sendiri, maka dia mengenal Tuhannya”, aku sadar
dengan kalimat itu. Bagaimana aku akan mengenal Allah, mengenal diri sendiri
saja belum bisa. Aku belum memahami hakikat diriku sendiri, khususnya sebagai
seorang muslimah. Rasanya sangat capek hidup hanya untuk mendengarkan apa kata
orang. Secara materi, memang aku mendapatkan semuanya. Tapi... hatiku kosong,
tak ada isinya! Aku hanya merasakan bahagia dalam tawaku hanya semu dan
sementara. Setelah tawa itu hilang, maka sudahlah kata bahagia itu. Aku seperti
manusia yang tidak berguna! Hidupku terlalu enak, jadi manusia yang serba
instant ternyata tidak selalu mengenakkan. Aku jadi kurang peka terhadap kata
syukur dan sabar. Aku hanya seorang yang merugi yang setiap harinya yang
semakin jauh dari Tuhannya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar