Panggil aku
kupu-kupu! Karena aku telah bermetamorfosa dari sebuah stadium telur yang lemah
dan belum berharga lalu seiring dengan waktu dan fitrahnya menjadi sebuah ulat
(larva) yang belajar bergerak dan memahami dunia ini dan siapa dirinya. Lalu
berubah kembali menjadi kepompong (pupa) yang tersingkap tanpa cahaya
dihidupnya dan menjalani hidup sebagai Marsha. Dan sekarang aku sedang
mempersiapkan diriku sendiri menjadi seorang wanita dewasa dan wanita yang
shalihah, itulah kupu-kupu dewasa (imago). Memang sebuah perjalanan dan
perjuangan hidup yang panjang juga melelahkan. Namun aku akan menjalani hidupku
yang baru sebagai Ana Lathifa Maryam. Secara keilmuan memang termasuk
metamorfosis yang sempurna. Namun aku bukanlah wanita yang sempurna, tapi
disisi lain aku adalah makhluk Allah yang sempurna.
Aku berniat
mengubah namaku menjadi Ana Lathifa Maryam. Dulu ketika aku masih belum
mengenal siapa sebenarnya nama Marya didalam Al-Qur’an aku tidak menyukai nama
itu. Karena saat itu ukuran nama yang bagus menurutku adalah nama yang sedang
populer atau dari negara bagian barat. Tapi saat aku membaca Al-Qur’an
terjemahan tepatnya di Qs. Ali ‘Imran ayat 35-52. Aku begitu terpukau dan ingin
menjadi sosok bunda Maryam. Dan aku telah bertanya dan meminta persetujuan dari
bu Hana juga kak Nisa. Alhamdulillah semuanya setuju dan terus memotivasi. Ya
walaupun awalnya mereka terkejut dan tidak percaya, tapi aku mencoba
menjelaskan niat baikku. Dan tak apa walaupun didalam ijazah namaku Marsha Dewi
Rantika, tapi ketika semua orang memanggilku Ana atau Maryam, hatiku sejuk
mendengarnya. Terlebih kala mendengar nama itu aku selalu termotivasi untuk
bertanggungjawab atas namaku. Jujur, bathinku terlalu sakit jika aku mengngat
diriku sendiri sebagai Marsha. Aku syukuri nama itu! Namun aku hanya ingin
memulai dari awal. Aku memulainya dengan titik tolak sebuah nama. Apalagi saat
aku tahu bahwa sebenarnya ibu kandungku sendiri telah menyiapkan nama itu
untukku. Beliau bercerita mempunyai seorang anak perempuan yang hilang ketika
bayi, dan namanya adalah Ana Maryam. Aku tahu bu, sebenarnya ituadalah nama
yang akan ibu berikan padaku dulu. Namun karena suatu masalah, akhirnya mama
memberiku nama Marsha Dewi Rantika.
Alhamdulillah, tahun ini
aku dipercayakan sebagai pengurus IRMA. Aku menjadi anggota dari bidang
Tarbiyah, terfokus pada bagian kalighrafi. Aku senang bisa mengaktualisasikan
diriku pada kebaikan dan bermanfaat bagi sesama. Kegiatan ini juga bisa
mengembangkan potensi dan memfasilitasi citaku atau agendaku yang dulu. Tanpa
terasa aku sudah hampir dua tahun di MAN ini. Aku begitu betah disini...aku
juga alhamdulillah mempunyai beberapa prestasi di sekolah. Sebentar lagi ujian
akhir semester dan sku akan naik menjadi kelas XII IPA. Ya Allah... begitu singkatnya
hamba berada disini. Hamba harus memberikan yang terbaik pada UAS kali ini... hamba
harus bisa mengalahkan Haura. Kami memang selalu selisih satu angka dalam
masalah ranking. Kalau dia ranking satu, aku yang jadi ranking kedua.
Mudah-mudahan kali ini aku bisa mendapatkan ranking satu.
Memang apa yang dikatakan
oleh Umi itu benar. Aku benar nyaman dan berubah lebih baik di aliyah ini.
Sekarang aku tahu kenapa jilbabnya harus besar dan panjang, kenapa tidak dengan
kerudung paris? Dan baju kemejanya yang dikeluarkan dan harus menutup bagian
pinggang dan lekukan tubuh lainnya. Dan memang alangkah baiknya memakai rok
yang rempel, karena tidak terlalu membentuk tubuh bagian bawah, juga menurutku
jadi terlihat lebih anggun. Masyaallah! Cantiknya... kecantikan mereka dilabel
dengan kata “halal”. Bila berjumpa para akhwat disini, mereka pasti
menganggukkan kepala dan tersenyum juga salam, karena mereka dibiasakan saat
menjadi siswa-siswi baru disini.
Peraturan 5S (senyum, salam, sapa, sopan, santun) menjadi syarat mereka
dalam menjalani hari-harinya.
Kami dibiasakan shalat
berjamaah dan tepat waktu. Melaksanakan shalat sunat dan memperbaiki akhlak
kami. Karena selain mencetak generasi rabbani, disini kami benar-benar dibentuk
dalam karakternya. Rasanya sangat sejuk memandang mereka. Dengan memandang
mereka, aku jadi selalu teringat kepada Allah, aku bersyukur bisa berkumpul
dengan para wanita shalihah.
Rasanya aku merasa menjadi manusia yang
baru. Aku ingin menjadi wanita yang shalihah. Tapi sebenarnya apa wanita
shalihah itu? Dan bagaimana cara agar aku menjadi wanita shalihah? Dan
alhamdulillah di perpustakaan madrasah ada. Biasanya kalau ada Haura di
perpustakaan, pasti kami saling berebut untuk baca buku bernuansa wanita
shalihah. Tapi mungkin sekarang dia sedang sibuk menjadi wakil ketua IRMA,
dalam acara rapat LPJ setiap sekbid. Aku sangat bukunya, berwarna merah muda
dan banyak bingkai bunga berwarna perak. Tanpa aku baca muqadimahnya, aku
langsung saja membaca pada bagian pembahasan wanita shalihah. Siti Maryam
adalah salah satu idola, inspirasi dan sosok yang ingin aku capai. Ya walaupun
aku tahu, catatan amalku benar-benar kotor. Aku tak ingin kembali ke masa lalu.
Aku ingin menjadi seseorang yang memang seharusnya. Aku ingin menjadi seorang gadis yang mencintai
Tuhannya, Rasulnya, dan orangtuanya. Aku tak peduli dengan apa yang aku
lakukan. Memang ada kala, disaat aku bertafakur masa lalu... apakah Allah akan
mengampuniku? Tapi Allah seolah membisikkan sebuah kata yang kuat didalam
hatiku. Allah tentu akan mengampuni semua hamba-Nya selain dari apa yang telah
kita ketahui.
Alhamdulillah aku selalu mendapat keyakinan yang Allah berikan. Sekilas aku teringat masa lalu Abu Bakar, Umar r.a., Hindun dan masih banyak lagi. Mereka semua pernah melakukan dosa atau berbuat salah, namun mereka bertaubat dan berhijrah menuju jalan dan tempat yang sebenarnya Allah ridhai yakni Islam. Dengan terus berpikiran seperti itu, akhirnya dengan menunggu lembar demi lembar aku menemukan jawabannya. Ternyata terdapat pengertian wanita shalihah. Bismillah, semangat ini begitu menggelora ingin segera membaca dan mengamalkannya. Semoga hamba bisa istiqamah dan meningkatkan segala amal ibadah hamba ya Allah...
Menurut
Syaikh Abdul Halim mengatakan bahwa wanita-wanita shalehah adalah “ Qonitaat” (
orang yang taat ) dan “Hafizhaat” ( orang yang menjaga diri ) saat suami tidak ada.
Dalam pembahasan ini akan diterangkan mengenai beberapa dari sifat-sifat
tersebut, dan yang lainnya akan diterangkan dalam bagian yang lain. Sifat-sifat
atau ciri-ciri wanita shalehah tersebut adalah sebagai berikut:
MENJAGA SHALAT 5 WAKTU
Shalat adalah salah satu kewajiban umum yang telah Allah perintahkan kepada Umat Islam baik lelaki maupun perempuan. Nabi saw bersabda,” Shalat adalah tiang agama. Barangsiapa mendirikannya, berarti ia telah mendirikan agama, dan barangsiapa meninggalkannya, berarti ia telah menghancurkan agama.” ( Hadit Riwayat Baihaqi). Seorang wanita shalehah meyakini bahwa shalat adalah ibadah yang sangat istimewa, sehingga tidak mungkin ia melalaikan shalatnya.Ia bukan hanya beristiqomah dalam menjalankannya, tetapi juga menjaga segala hal yang berhubungan dengannya. Ibnu Abbas r.a. berkata tentang maksud Surat Maryam: 59, atau Surah Al Maa’uun:4-5, bahwa melalaikan shalat bukan hanya meninggalkan shalat begitu saja, tetapi termasuk juga melalaikan waktunya, atau mengakhirkan waktunya dari waktu yang tepat. Jika maksudnya memang demikian, maka melalaikan waktu shalat juga termasuk kategori melalaikan shalat. Maka orang yang melalaikan waktu shalat ( tidak menjaga/ suka mengakhirkan waktu shalat) pun akan mendapatkan balasan berupa "ghayya" ataupun neraka Wail. Allah telah memberi kemudahan bagi kaum wanita muslimah dalam menunaikan shalat, yang tidak disamakan seperti kaum lelaki. Bagi wanita, hanya ada dua aturan dalam melaksanakannya. Lebih ringan dan mudah, tetapi mempunyai ganjaran dan pahala yang sama besarnya dengan kaum lelaki. Ini adalah karena rasa kasih-Nya terhadap kaum wanita, demi terjaganya wanita dari segala fitnah. Kedua aturan itu adalah:
- Lebih utama dilaksanakan di rumah.
Sekali lagi, bahkan meskipun
dilaksanakan di rumah dan hanya bersendirian, tetapi ia tetap akan mendapatkan
pahala yang sama dengan kaum lelaki yang melaksanakan shalat berjamaah di
masjid.
- Dilaksanakan pada awal waktu.
Nabi saw bersabda,”
Amalan yang paling utama adalah shalat tepat pada waktunya.” Hadits ini
ditujukan kepada kaum muslimin baik laki-laki maupun perempuan. Melalaikan
waktu shalat dengan sengaja, berarti mengundang murka Allah atas dirinya. Nabi
saw bersabda,” Tiga orang yang shalatnya tidak akan diterima oleh Allah swt
yaitu: Orang yang tidak shalat kecuali setelah lewat waktunya ( dengan sengaja
), Imam yang tidak disukai oleh makmumnya, Orang yang memperbudak orang
merdeka.” ( Hadits Ibnu Majah ). Menjaga shalat pada waktunya menghasilkan
keuntungan duniawi maupun ukhrawi. Dalam urusan duniawi, di antaranya;
dijauhkan dari kesulitan rezeqi ketika di dunia. Empat keuntungan ukhrawi
adalah: Dihindarkan dari siksa kubur, diberikan buku catatan amalnya melalui
tangan kanan, melewati jembatan shirat secepat kilat, dan masuk surga tanpa
hisab. Rasulullah saw bersabda,” Jika seorang hamba shalat pada awal waktunya,
maka naiklah shalat itu ke langit dengan diliputi nur hingga sampai ke Arsy,
lalu ( nur ) itu memohonkan ampunan bagi orang yang shalat seperti itu sampai
hari Kiamat, dan ia berkata,” Semoga Allah memeliharamu sebagaimana kamu
memeliharaku.” Dan jika seorang hamba mengerjakan shalat tidak tepat pada
waktunya, maka naiklah shalat itu ke langit dengan diliputi kegelapan. Dan
ketika sampai di langit, shalat itu terlipat bagaikan baju yang rusak, kemudian
dilemparkan kembali ke muka orang yang mengerjakannya.” ( Hadits Adz Dzahabi ).
Orang-orang shaleh pada jaman dahulu-seperti para shahabat sangat memperhatikan
shalat pada awal waktu dengan sungguh-sungguh. Mereka akan sangat bersedih jika
mereka tertinggal shalat pada awal waktu atau karena tertinggal shalat
berjamaah. Az Zuhri rah.a bercerita,” Pada suatu ketika, aku masuk ke tempat
Anas bin Malik r.a. di Damsyik dan kujumpai ia sedang menangis. Aku bertanya,’
Mengapa engkau menangis?’ Beliau menjawab,’ Aku tidak mengetahui sesuatu yang
telah kudapatkan, kecuali shalat ini. Tetapi ternyata kini orang-orang telah
mengabaikannya.’Al Kannany rah.a. menerangkan bahwa mengabaikan shalat yang
dimaksud di sini adalah mengakhirkan waktunya, bukan meninggalkannya sama
sekali. ( Bukhari )
SENANG BERPUASA
Allah swt berfirman,“ Hai orang-orang yang beriman, telah diwajibkan kepada kalian puasa sebagaimana yang telah diwajibkan ke atas orang-orang sebelum kalian, agar kalian bertaqwa.” ( Al Baqarah: 183 ) Rasulullah saw bersabda, ”Segala kebaikan anak Adam dilipatgandakan pahalanya sepuluh hingga tujuh ratus kali lipat. Allah swt berfirman,’ Kecuali puasa. Puasa adalah untuk-Ku dan Aku memberikan pahala kepadanya karena ia telah meninggalkan syahwat dan makan minumnya lantaran Aku.’” ( HR Muslim ). Dalam hadits lain, beliau bersabda, ” Puasa itu Junnah ( perisai ). Karena itu jika kamu sedang berpuasa, janganlah mengucapkan kata-kata yang buruk, keji dan yang membangkitkan syahwat. Dan janganlah ia mendatangkan hiruk pikuk, hangar bingar.”Diriwayatkan bahwa puasa dan Al Qur’an akan memohon syafa’at bagi pelakunya kepada Allah, dengan berkata,” Ya Allah, aku telah menghalanginya dari makan dan memenuhi syahwat pada siang hari, maka perkenankanlah aku memberikan syafa’at baginya.” Maka syafaat keduanya diterima oleh Allah swt. (Hadits Riwayat Ahmad). Wanita shalihah selalu menunaikan shaum Ramadhan dan puasa-puasa lainnya selama tidak dalam keadaan berhalangan. Puasa-puasa sunnah lainnya adalah; Puasa Arafah, Puasa ‘Asyura dan Tasu’a, Puasa 6 hari pada bulan Syawwal, Puasa Senin Kamis dan lain-lain.Imam Al Ghazali rah.a. menuliskan ada 3 tingkatan manusia dalam mengerjakan puasa:
a. Hanya memenuhi syari’at, meninggalkan
makan minum dan syahwat.
b. Selain menahan dari makan dan minum dan syahwat, juga menahan lidah, pandangan dan anggota badan lainnya.
c. Selain melakukan hal-hal di atas, hatinya juga betul-betul bertawajuh/ fokus hanya kepada Allah dan memeliharanya dari selain Allah. ( Ihya Ulumuddin ) Dengan berpuasa akan mendidik kepada ketaqwaan, yaitu dengan belajar menahan hawa nafsu dan mentaati sepenuhnya hukum agama.
b. Selain menahan dari makan dan minum dan syahwat, juga menahan lidah, pandangan dan anggota badan lainnya.
c. Selain melakukan hal-hal di atas, hatinya juga betul-betul bertawajuh/ fokus hanya kepada Allah dan memeliharanya dari selain Allah. ( Ihya Ulumuddin ) Dengan berpuasa akan mendidik kepada ketaqwaan, yaitu dengan belajar menahan hawa nafsu dan mentaati sepenuhnya hukum agama.
ISTRI SHALEHAH BAGI SUAMINYA
Ciri-ciri wanita yang terakhir adalah menjadi istri shalehah bagi suaminya, Imam Nawawi rah.a. dalam Kitab Syarah Uqudul Lujain, mengutip sabda Rasulullah saw tentang wanita penghuni surga. Beliau bersabda, ” Empat wanita yang berada di surga, yaitu: Wanita yang memelihara dirinya, taat kepada Allah dan suami, serta sabar, Menerima apa yang ada walaupun sedikit bersama suaminya dan bersifat pemalu (malu auratnya kelihatan). Jika suaminya pergi, maka ia menjaga dirinya dan harta suaminya. Jika suaminya berada di rumah maka ia menjaga lisannya dari menyakiti suami. Wanita yang ditinggal mati suaminya, sedangkan ia mempunyai anak yang masih kecil-kecil lalu ia menahan dirinya, memelihara dan mendidik anak-anaknya, serta berbuat baik kepada mereka dan tidak menikah lagi karena takut menyia-nyiakan mereka.”
Adapun 4 wanita yang
berada di neraka adalah: Wanita yang jelek lisannya kepada suaminya. Jika
suaminya pergi, ia tidak menjaga dirinya. Jika suaminya berada di rumah, ia
menyakiti suaminya dengan ucapannya. Wanita yang membebani suaminya dengan
bermacam-macam tuntutan, yang suami tidak mampu melakukannya. Wanita yang tidak
menutupi dirinya dari laki-laki. Wanita yang sama sekali tidak mempunyai
keinginan kecuali makan, minum dan tidur. Ia tidak memiliki gairah untuk
mengerjakan shalat, untuk mentaati Allah, mentaati Rasul dan suaminya. Maka
jika ada wanita memiliki sifat-sifat seperti ini, ia adalah wanita yang
terlaknat dan ahli neraka, kecuali jika ia bertaubat. Demikianlah beberapa
ciri-ciri utama wanita shalehah, sekaligus sebagai keistimewaan mereka dari
Allah swt. Seandainya hal ini dipahami dengan benar, maka dengan sedikit
bersusah payah dalam mentaati agama, seorang wanita shalehah dapat mendahului laki-laki
shaleh untuk memasuki surganya Allah swt.
Hatiku belum merasa puas
dengan materi yang aku dapatkan di acara keputrian tadi. Akhirnya aku meminjam
buku milik ibu pembina IRMA. Alhamdulillah senangnya... ternyata bu Rahma
memberiku sebuah buku “HIJAB”. Jadi gak sabar cepet-cepet ingin segera
membacanya!
Seperti yang telah kita
ketahui bersama, salah satu perintah berjilbab terdapat pada Qs. Al-Ahzab ayat
59. Sesungguhnya pada ayat tersebut terdapat kata jalaabiib, bentuk plural dari
mufradnya (kata tunggalnya) yaitu jilbab, yang memiliki makna yaitu :
1. Kerudung besar yang menutupi seluruh anggota badan, sebagaimana
penjelasan Imam Al-Qurthubi (Tafsir Al-Qurthubi 14/232).
2. Pakaian yang menutupi seluruh anggota badan wanita, sebagaimana
yang dituturkan oleh Ibnu Mas’ud, Ubaidah, Qatadah, Hasan Basri, Said bin
Jubair, Ibrahim An-Nakhai dan Atho’al-Khurasani. (Lihat tafsir Ibnu Katsir
6/424, Al-Muhalla 3/219).
3. Selimut yang menutupi wajah wanita dan semua anggota badannya
tatkala akan keluar, sebagaimana yng dituturkan Ibnu Sirin. (Lihat tafsir
Ad-Durul Mansur 6/657, Tafsir Al-Baidhawy 4/284, Tafsir An-Nasafi 3/453, 581,
Fathul Qadir 4/304, Ibnu Katsir 4/424 ).
Inilah salah satu rujukan berjilbab dari sumber hukum Islam,
yakni As-Sunah. Dan masih banyak lagi sumber rujukan yang lain yang bersanad
shahih maupun hasan. Berdasarkan keterangan tersebut, maka dapat diambil
kesimpulan bahwasanya jilbab itu bukanlah secarik kain yang melingkari lehermu,
bukan pula kerudung yang melingkari wajahmu dengan seadanya dan memperlihatkan
helai rambutmu. Atau bukan pula selendang kecil yang engkau tempatkan
dipundakmu seumpama engkau tengah bepergian perihal urusan dunia.
Perihal hukum berjilbab sudah barang tentu adalah WAJIB, dan
bila tidak dilakukan maka hukumnya adalah dosa. Berdasarkan Al-Qur’an dan
As-Sunah. Jilbab bukan hanya pakaian yang kita pakai yang hanya bisa dipakai
lalu dilepas. Bukan hanya kata “menutup” dan ”membuka”. Maka sekali-kali, janganlah
seorang juapun diantara kita memperlihatkan perhiasan kita. Berhias terhadap
orang yang bukan mahram kita, serta memperlihatkan keelokan rupa kita yang
hanya penghias akan jasad kita belaka. Dan ketahuilah olehmu! Bahwasanya di
negeri akhirat kelak , seorang muslim lagi muslimah yang dengan rupa seadanya
di dunia, sedang mereka adalah orang-orang yang sahalih lagi shalihah niscaya
akan Allah Ta’ala baikkan rupa mereka dengan sebaik-baik rupa. Sedang kiranya
dengan orang-orang yang elok rupanya di dunia, sedang amalannya sedikit dan
tiada pula mencukupinya serta dosa lagi maksiat adalah terlebih banyak atas apa
yang telah ia usahakan, niscaya AllahTa’ala akanmemburukkan rupanya dengan
seburuk-buruk rupa, sedang neraka adalah tempat yang layak baginya. Tiadakah
engkau memikirkan? Dan sesungguhnya bukti dari kebenaran perkataan A-Qur’an itu
adalah setelah kamu mati.
Subhanallah ya Allah!
Begitu indah peraturan dan ketetapan-Mu. Aku pun melanjutkan membaca buku yang
aku pegang kukuh! Memang engkau Sang Maha Adil. Inilah salah satu ibrah dari
adanya perbedaan kulit, bahasa, dan lain-lain (Qs. Ar-Rum ayat 22). Bila
permasalahan ini ditinjau lebih jauh, maka akan didapat sebuah kebenaran dari
segi keilmuan agama. Ternyata bisa dibuktikan dari keilmuan biologi dan sejarah
maupun antropologi. Mungkin untuk hipotesa sementara, bahwa Al-Qur’an adalah
kitab yang teoritik. Ternyata dibalik kata-kata yang belum kita ketahui, bagai
layar besar yang mementaskan banyak cerita yang meninggalkan ilmu yang tersurat
dan tersirat.
Suatu hadist yang mengancam wanita yang tiada berkenan
berjilbab, maka surga bukanlah tempat yang layak baginya. Rasulullah saw.
bersabda, “Ada dua kelompok termasuk ahli neraka, aku belum pernah melihatnya :
Suatu kaum yang memiliki cambuk seperti ekor sapi, mereka memukul manusia
dengan cambuknya, dan manusia yang kasiyat (berpakaian tapi telanjang baik
karena tipis atau pendek yang tidak menutup semua auratnya), mailat mumilat
(bergaya ketika berjalan, ingin diperhatikan semua orang), kepala mereka
seperti punuk unta yang berpunuk dua. Mereka tidak masuk surga dan tidak
mendapatkan baunya padahal bau surga itu akan didapati dari sekian dan sekian
(perjalanan 500 tahun). (HR. Muslim 3971, Ahmad 8311 dan Imam Malik 1421)”.
Hingga Syaikh Bakr bin Abdullah Abu Zaid berkata : “Hadist ini menunjukkan
bahwa tabarruj (bersoleknya kaum wanita) termasuk dosa besar”.
Wanita adalah aurat, dia wajib berjilbab. Rasulullah saw.
bersabda, “Wanita itu adalah aurat. Sedang apabila dia keluar akan dibuat indah
oleh syaitan”. (Shahih. HR. Tirmidzi 1039, Ibnu Hibban dan At-Tabrani dalam
kitab Mu’jmu Al-Kabir. Lihat Al-Irwa’: 273). Ummu Salamah berkata, “Wahai Rasulullah,
bagaimana wanita berbuat dengan pakaiannya yang menjulur ke bawah?”. Beliau
bersabda, “Hendaklah mereka memanjangkan satu jengkal”, lalu ia bertanya lagi,
“Bagaimana bila masih terbuka kakinya?”. Beliau menjawab “Hendaknya menambah
satu hasta, dan tidak boleh lebih”. (HR. Tirmidzi 653 dan berkata : “Hadist
hasan shahih”).
Maka saudariku... ambillah olehmu agama selain daripada Islam
sedang engkau bersuka ria daripada keingkaran yang engkau jadikan. Namun...
ingatlah saudariku! Bahwasannya hanya Islam yang menyanjung-nyanjung
kesucianmu, ia demikian menjagaimu dari kemaksiatan. Ia begitu cinta dan
teramat sayang kepadamu. Maka sekali-kali janganlah engkau berpaling, karena
sesungguhnya Islam adalah agama yang hidup serta memiliki ruh yang bercahaya
dan menerangi langit dan bumi beserta segala apa-apa yang berada diantara
keduanya... sedang engkau tiada sadar.
Astagfirullahal’adzim... ya Allah! Tanpa sadar hamba telah
melakukan semuanya! Kenapa aku menjadi membenci diriku sendiri saat aku menjadi
seorang Marsha? Semua itu karena kebodohanku. Hingga sekarang pun, aku pikir
setelah berhijab selesailah sudah. Ternyata masih banyak yang harus aku benahi
untuk benar-benar memenuhi adanya berhijab sesuai syari’ah. Buku ini
benar-benar mendikteku, aku sadar dibuatnya. Hatiku mengakui semua yang telah
aku lakukan dahulu. Sekarang dihatiku tengah bergejolak menyesali diri sendiri.
Ya Allah, hamba ingin sekali semua wanita muslimah tahu tentang ini, agar kami
bisa menjadi hamba-Mu yang taat dan umat Rasul yang taat pula...
Memang godaannya berhijab itu sangat berat! Dan itu berasal dari
lingkungan sendiri! Aku memiliki pengalaman yang takan pernah ku lupa. Saat aku
tengah berjalan setelah belanja di warung pada ba’da dzuhur, ada ibu-ibu yang
berkumpul di sebuah rumah. Ketika aku tersenyum dan mengucapkan salam, mereka memang
membalas salamku... tapi saat aku melanjutkan kembali perjalananku, aku sempat
mendengar perkataan salah satu dari mereka, “Panas-panas gini pake jilbab!
Memangnya gak gerah ya?”. Aku hanya bisa bersabar dan semoga Allah memberikan
mereka semua hidayah. Dan... ada lagi kisah lainnya! Sempat saat aku tengah
naik angkot, aku duduk disebelah ibu-ibu, beliau memang tersenyum dan ramah...
tapi ucapannya itu! “Neng, kok pakai kaos kaki? Memangnya panuan ya?” tanya
beliau. Ya Allah... benar-benar menguji kesabaranku. Belum lagi ke acara-acara
lainnya. Beberapa orang ada yang memanggilku “ibu”.
Tapi tak apa! Aku sekarang sudah sadar. Aku teringat kisah umar
bin Khattab r.a., bahwa khalifah Umar pernah diundang untuk datang ke tanah
Kan’an (Palestina). Beliau hanya memiliki dua pakaian, satu untuk musim panas
dan satu lagi untuk musim dingin. Ketika itu beliau memakai pakaian yang sangat
sederhana dan mengendarai seekor unta dengan ditemani oleh pembantunya. Beliau
dikenal begitu adil dan bijaksana, maka beliau membuat sebuah keputusan. Karena
perjalanannya sangat jauh, maka khalifah Umar bergantian dengan pembantunya
untuk menunggangi unta itu. Jika khaligah Unar yang naik unta itu, maka
pembantunya yang menuntun unta itu, dan begitu pun sebaliknya dalam beberapa
jauh perjalanan. Dan saat hampir mendekati Palestina, sudah terlihat banyak
penduduk disepanjang jalan yang ingin menyambut dan bersalaman dengan sang
khalifah.
Namun saat itu, yang menjadi penuntun adalah khalifah sendiri,
dan yang naik adalah pembantunya! Dan beliau tidak ribut segera ingin
bergantian posisi, karena memang waktu itu masih giliran pembantunya! Akhirnya
penduduk yang belum mengenal wajah khalifah Umar langsung bersalaman dengan
orang yang naik pada unta itu. Sahabat khalifah yang mengetahui hal itu sangat
kecewa terhadap sang khalifah, dia bertanya mengapa khalifahberlaku seperti itu?
Dia menganggap bahwa khalifah Umar tidak bersikap atau berpenampilan seperti
khalifah (pemimpin, saat itu setara dengan presiden), dan malah berpenampilan
seperti itu! Akhirnya reaksi yang diberikan oleh khalifah Umar adalah
bersedih... “Sungguh, aku tidak berniat sedikit pun untuk mencari posisi dan
penghormatan dari manusia. Aku hanya ingin mencari kedudukan disisi Allah”.
Kata singkatnya ini membuat hati sahabatnya luluh dan mengerti arti kata itu
dengan dalam...
Yah...! Jadi, terserah apa
kata mereka! Aku tidak peduli lagi dengan pikiran-pikiran negatif yang selalu
menghantuiku! Apakah mereka akan memanggilku “ibu-ibu, kuno, kuper, kampungan,
teroris” atau apa pun! Inilah aku, inilah identitasku sebagai seorang muslimah!
Dan jika mereka adalah orang yang beriman, maka mereka tahu apa yang aku pakai.
Ini bukan hanya sekedar pakaian, tapi hijab
adalah tolak ukur atas tiap-tiap kepribadian muslimah, hijab itu adalah
ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya. Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang
mukmin dan perempuan yang mukminah, apabila Allah dan Rasul-Nya telah
menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang
urusan mereka. Dan hendaklah kamu tetap dirumahmu, dan janganlah kamu berhias
dan bertingkah laku seperti orang-orang jahiliyah. (Qs. Al-Ahzab: 33).
Hijab adalah ‘iffah (suatu kemuliaan), hijab adalah kesucian, hijab adalah
pelindung, hijab adalah taqwa, hijab adalah iman, hijab adalah haya’ (rasa
malu).
Sekarang aku sadar
bahwa seluruh tubuhku adalah aurat. Aurat diambil dari bahasa Arab, yang
berarti “keaiban”. Manakala dalam istilah, aurat diartikan sebagai bagian tubuh
badan seseorang yang wajib ditutup atau dilindungi dari pandangan. Sekarang aku
juga berusaha untuk tidak memakai minyak wangi, aku akan secara perlahan
berubah step by step. Walaupun semua yang baru aku pelajari dari Islam benar
berbeda dengan apa yang sering aku lakukan, namun jika ini perintah Allah, maka
ini yang terbaik. Karena aku teringat sabda Rasulullah saw., “Mana-mana
wanita yang memakai bau-bauan (bersolek-solek) kemudian melintas khalayak
ramai, dengan tujuan dihirup bau yang dipakainya, maka dia dikira seperti
berzina (pelacur)”. (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi).
Astagfirullahal’adzim...
ampuni hamba ya Allah... innallaha ghafururrohiim! Ya Allah... hamba mengakui
semua kesalahan hamba! Sebagai seorang wanita, hamba belum sepenuhnya menjadi
wanita yang shalihah! Apalagi dimasa lalu, hamba begitu jauh dari Engkau. Hamba
telah dibutakan oleh kesenangan dan keindahan hawa nafsu hamba. Maafkan hamba
ya Allah, ampuni hamba atas semua dosa hamba!. Engkau selalu menjelaskannya
kepada kami hamba-Mu, agar kami tidak pernah putus asa dan berburuk sangka
terhadap-Mu. Bahkan Engkau mengatakan
bahwa jika kami berputus asa dari rahmat dan ampunan-Mu, maka kami adalah
kafir. Sungguh indah motivasi yang telah Engkau berikan. Engkau mengabarkan
bahwa Engkaulah Sang Maha Pengampun dan Penerima Taubat hamba-Nya. Ya Allah, ridhailah
hamba, rahmatilah hamba, dan ampunilah hamba. Juga ampuni kedua orang tua hamba
ya Allah, jaga mereka dan kasihilah mereka ya Allah, sebagaimana mereka begitu
mengasihi hamba...
Hamba belum bisa
menjamin bahwa setiap hari hamba adalah
semakin baik dimata-Mu ya Allah. Dengan kata “istiqamah” saja hamba tidak tahu.
Ya Allah, hamba meyakini bahwa saat di alam rahim saat hamba hanya bisa
tertidur, hamba merasa sangat dekat dengan Engkau. Dan saat hamba menangis kata
“oa-oa” adalah “Allah-Allah”. Hamba dulu di alam rahim begitu tidak ingin
berpisah dengan Engkau. Namun saat hamba di dunia, malah diri hamba sendiri yang
menjauhkan diri dari Engkau. Ya Allah, Engkau memang Maha Adil... seorang
hamba-Mu yang masuk surga bukan dari amalannya, ibadahnya, namun karena rahmat
dan ampunan dari-Mu yang terbingkai dalam kata “mardhatillah”. Subhanallah,
sungguh indah semua aturan-Mu ya Allah. Sungguh banyak sekali ilmu yang dapat
mengantar kami pada-Mu. Namun akal ini terselimuti hawa nafsu yang gelap dan
kotor, sehingga tidak bisa menggunakan fungsinya untuk mendukung sang hati.
Bukakanlah mata hati kami ya Allah, sehingga kami ikhlas dan sadar menerima
semua kebenaran dari-Mu...!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar