Pages

Jumat, 06 Maret 2015

sahabat part 4 (kupu-kupu)


Panggil aku kupu-kupu! Karena aku telah bermetamorfosa dari sebuah stadium telur yang lemah dan belum berharga lalu seiring dengan waktu dan fitrahnya menjadi sebuah ulat (larva) yang belajar bergerak dan memahami dunia ini dan siapa dirinya. Lalu berubah kembali menjadi kepompong (pupa) yang tersingkap tanpa cahaya dihidupnya dan menjalani hidup sebagai Marsha. Dan sekarang aku sedang mempersiapkan diriku sendiri menjadi seorang wanita dewasa dan wanita yang shalihah, itulah kupu-kupu dewasa (imago). Memang sebuah perjalanan dan perjuangan hidup yang panjang juga melelahkan. Namun aku akan menjalani hidupku yang baru sebagai Ana Lathifa Maryam. Secara keilmuan memang termasuk metamorfosis yang sempurna. Namun aku bukanlah wanita yang sempurna, tapi disisi lain aku adalah makhluk Allah yang sempurna.
Aku berniat mengubah namaku menjadi Ana Lathifa Maryam. Dulu ketika aku masih belum mengenal siapa sebenarnya nama Marya didalam Al-Qur’an aku tidak menyukai nama itu. Karena saat itu ukuran nama yang bagus menurutku adalah nama yang sedang populer atau dari negara bagian barat. Tapi saat aku membaca Al-Qur’an terjemahan tepatnya di Qs. Ali ‘Imran ayat 35-52. Aku begitu terpukau dan ingin menjadi sosok bunda Maryam. Dan aku telah bertanya dan meminta persetujuan dari bu Hana juga kak Nisa. Alhamdulillah semuanya setuju dan terus memotivasi. Ya walaupun awalnya mereka terkejut dan tidak percaya, tapi aku mencoba menjelaskan niat baikku. Dan tak apa walaupun didalam ijazah namaku Marsha Dewi Rantika, tapi ketika semua orang memanggilku Ana atau Maryam, hatiku sejuk mendengarnya. Terlebih kala mendengar nama itu aku selalu termotivasi untuk bertanggungjawab atas namaku. Jujur, bathinku terlalu sakit jika aku mengngat diriku sendiri sebagai Marsha. Aku syukuri nama itu! Namun aku hanya ingin memulai dari awal. Aku memulainya dengan titik tolak sebuah nama. Apalagi saat aku tahu bahwa sebenarnya ibu kandungku sendiri telah menyiapkan nama itu untukku. Beliau bercerita mempunyai seorang anak perempuan yang hilang ketika bayi, dan namanya adalah Ana Maryam. Aku tahu bu, sebenarnya ituadalah nama yang akan ibu berikan padaku dulu. Namun karena suatu masalah, akhirnya mama memberiku nama Marsha Dewi Rantika.
Alhamdulillah, tahun ini aku dipercayakan sebagai pengurus IRMA. Aku menjadi anggota dari bidang Tarbiyah, terfokus pada bagian kalighrafi. Aku senang bisa mengaktualisasikan diriku pada kebaikan dan bermanfaat bagi sesama. Kegiatan ini juga bisa mengembangkan potensi dan memfasilitasi citaku atau agendaku yang dulu. Tanpa terasa aku sudah hampir dua tahun di MAN ini. Aku begitu betah disini...aku juga alhamdulillah mempunyai beberapa prestasi di sekolah. Sebentar lagi ujian akhir semester dan sku akan naik menjadi kelas XII IPA. Ya Allah... begitu singkatnya hamba berada disini. Hamba harus memberikan yang terbaik pada UAS kali ini... hamba harus bisa mengalahkan Haura. Kami memang selalu selisih satu angka dalam masalah ranking. Kalau dia ranking satu, aku yang jadi ranking kedua. Mudah-mudahan kali ini aku bisa mendapatkan ranking satu.
Memang apa yang dikatakan oleh Umi itu benar. Aku benar nyaman dan berubah lebih baik di aliyah ini. Sekarang aku tahu kenapa jilbabnya harus besar dan panjang, kenapa tidak dengan kerudung paris? Dan baju kemejanya yang dikeluarkan dan harus menutup bagian pinggang dan lekukan tubuh lainnya. Dan memang alangkah baiknya memakai rok yang rempel, karena tidak terlalu membentuk tubuh bagian bawah, juga menurutku jadi terlihat lebih anggun. Masyaallah! Cantiknya... kecantikan mereka dilabel dengan kata “halal”. Bila berjumpa para akhwat disini, mereka pasti menganggukkan kepala dan tersenyum juga salam, karena mereka dibiasakan saat menjadi siswa-siswi baru disini.  Peraturan 5S (senyum, salam, sapa, sopan, santun) menjadi syarat mereka dalam menjalani hari-harinya.
Kami dibiasakan shalat berjamaah dan tepat waktu. Melaksanakan shalat sunat dan memperbaiki akhlak kami. Karena selain mencetak generasi rabbani, disini kami benar-benar dibentuk dalam karakternya. Rasanya sangat sejuk memandang mereka. Dengan memandang mereka, aku jadi selalu teringat kepada Allah, aku bersyukur bisa berkumpul dengan para wanita shalihah.
Rasanya aku merasa menjadi manusia yang baru. Aku ingin menjadi wanita yang shalihah. Tapi sebenarnya apa wanita shalihah itu? Dan bagaimana cara agar aku menjadi wanita shalihah? Dan alhamdulillah di perpustakaan madrasah ada. Biasanya kalau ada Haura di perpustakaan, pasti kami saling berebut untuk baca buku bernuansa wanita shalihah. Tapi mungkin sekarang dia sedang sibuk menjadi wakil ketua IRMA, dalam acara rapat LPJ setiap sekbid. Aku sangat bukunya, berwarna merah muda dan banyak bingkai bunga berwarna perak. Tanpa aku baca muqadimahnya, aku langsung saja membaca pada bagian pembahasan wanita shalihah. Siti Maryam adalah salah satu idola, inspirasi dan sosok yang ingin aku capai. Ya walaupun aku tahu, catatan amalku benar-benar kotor. Aku tak ingin kembali ke masa lalu. Aku ingin menjadi seseorang yang memang seharusnya.  Aku ingin menjadi seorang gadis yang mencintai Tuhannya, Rasulnya, dan orangtuanya. Aku tak peduli dengan apa yang aku lakukan. Memang ada kala, disaat aku bertafakur masa lalu... apakah Allah akan mengampuniku? Tapi Allah seolah membisikkan sebuah kata yang kuat didalam hatiku. Allah tentu akan mengampuni semua hamba-Nya selain dari apa yang telah kita ketahui.

               Alhamdulillah aku selalu mendapat keyakinan yang Allah berikan. Sekilas aku teringat masa lalu Abu Bakar, Umar r.a., Hindun dan masih banyak lagi. Mereka semua pernah melakukan dosa atau berbuat salah, namun mereka bertaubat dan berhijrah menuju jalan dan tempat yang sebenarnya Allah ridhai yakni Islam. Dengan terus berpikiran seperti itu, akhirnya dengan menunggu lembar demi lembar aku menemukan jawabannya. Ternyata terdapat pengertian wanita shalihah. Bismillah, semangat ini begitu menggelora ingin segera membaca dan mengamalkannya. Semoga hamba bisa istiqamah dan meningkatkan segala amal ibadah hamba ya Allah...
 Menurut Syaikh Abdul Halim mengatakan bahwa wanita-wanita shalehah adalah “ Qonitaat” ( orang yang taat ) dan “Hafizhaat” ( orang yang menjaga diri ) saat suami tidak ada. Dalam pembahasan ini akan diterangkan mengenai beberapa dari sifat-sifat tersebut, dan yang lainnya akan diterangkan dalam bagian yang lain. Sifat-sifat atau ciri-ciri wanita shalehah tersebut adalah sebagai berikut:

MENJAGA SHALAT 5 WAKTU

                Shalat adalah salah satu kewajiban umum yang telah Allah perintahkan kepada Umat Islam baik lelaki maupun perempuan. Nabi saw bersabda,” Shalat adalah tiang agama. Barangsiapa mendirikannya, berarti ia telah mendirikan agama, dan barangsiapa meninggalkannya, berarti ia telah menghancurkan agama.” ( Hadit Riwayat Baihaqi). Seorang wanita shalehah meyakini bahwa shalat adalah ibadah yang sangat istimewa, sehingga tidak mungkin ia melalaikan shalatnya.Ia bukan hanya beristiqomah dalam menjalankannya, tetapi juga menjaga segala hal yang berhubungan dengannya. Ibnu Abbas r.a. berkata tentang maksud Surat Maryam: 59, atau Surah Al Maa’uun:4-5, bahwa melalaikan shalat bukan hanya meninggalkan shalat begitu saja, tetapi termasuk juga melalaikan waktunya, atau mengakhirkan waktunya dari waktu yang tepat. Jika maksudnya memang demikian, maka melalaikan waktu shalat juga termasuk kategori melalaikan shalat. Maka orang yang melalaikan waktu shalat ( tidak menjaga/ suka mengakhirkan waktu shalat) pun akan mendapatkan balasan berupa "ghayya" ataupun neraka Wail. Allah telah memberi kemudahan bagi kaum wanita muslimah dalam menunaikan shalat, yang tidak disamakan seperti kaum lelaki. Bagi wanita, hanya ada dua aturan dalam melaksanakannya. Lebih ringan dan mudah, tetapi mempunyai ganjaran dan pahala yang sama besarnya dengan kaum lelaki. Ini adalah karena rasa kasih-Nya terhadap kaum wanita, demi terjaganya wanita dari segala fitnah. Kedua aturan itu adalah:
  • Lebih utama dilaksanakan di rumah.
Sekali lagi, bahkan meskipun dilaksanakan di rumah dan hanya bersendirian, tetapi ia tetap akan mendapatkan pahala yang sama dengan kaum lelaki yang melaksanakan shalat berjamaah di masjid.
  • Dilaksanakan pada awal waktu.
Nabi saw bersabda,” Amalan yang paling utama adalah shalat tepat pada waktunya.” Hadits ini ditujukan kepada kaum muslimin baik laki-laki maupun perempuan. Melalaikan waktu shalat dengan sengaja, berarti mengundang murka Allah atas dirinya. Nabi saw bersabda,” Tiga orang yang shalatnya tidak akan diterima oleh Allah swt yaitu: Orang yang tidak shalat kecuali setelah lewat waktunya ( dengan sengaja ), Imam yang tidak disukai oleh makmumnya, Orang yang memperbudak orang merdeka.” ( Hadits Ibnu Majah ). Menjaga shalat pada waktunya menghasilkan keuntungan duniawi maupun ukhrawi. Dalam urusan duniawi, di antaranya; dijauhkan dari kesulitan rezeqi ketika di dunia. Empat keuntungan ukhrawi adalah: Dihindarkan dari siksa kubur, diberikan buku catatan amalnya melalui tangan kanan, melewati jembatan shirat secepat kilat, dan masuk surga tanpa hisab. Rasulullah saw bersabda,” Jika seorang hamba shalat pada awal waktunya, maka naiklah shalat itu ke langit dengan diliputi nur hingga sampai ke Arsy, lalu ( nur ) itu memohonkan ampunan bagi orang yang shalat seperti itu sampai hari Kiamat, dan ia berkata,” Semoga Allah memeliharamu sebagaimana kamu memeliharaku.” Dan jika seorang hamba mengerjakan shalat tidak tepat pada waktunya, maka naiklah shalat itu ke langit dengan diliputi kegelapan. Dan ketika sampai di langit, shalat itu terlipat bagaikan baju yang rusak, kemudian dilemparkan kembali ke muka orang yang mengerjakannya.” ( Hadits Adz Dzahabi ). Orang-orang shaleh pada jaman dahulu-seperti para shahabat sangat memperhatikan shalat pada awal waktu dengan sungguh-sungguh. Mereka akan sangat bersedih jika mereka tertinggal shalat pada awal waktu atau karena tertinggal shalat berjamaah. Az Zuhri rah.a bercerita,” Pada suatu ketika, aku masuk ke tempat Anas bin Malik r.a. di Damsyik dan kujumpai ia sedang menangis. Aku bertanya,’ Mengapa engkau menangis?’ Beliau menjawab,’ Aku tidak mengetahui sesuatu yang telah kudapatkan, kecuali shalat ini. Tetapi ternyata kini orang-orang telah mengabaikannya.’Al Kannany rah.a. menerangkan bahwa mengabaikan shalat yang dimaksud di sini adalah mengakhirkan waktunya, bukan meninggalkannya sama sekali. ( Bukhari )

SENANG BERPUASA

Allah swt berfirman,“ Hai orang-orang yang beriman, telah diwajibkan kepada kalian puasa sebagaimana yang telah diwajibkan ke atas orang-orang sebelum kalian, agar kalian bertaqwa.” ( Al Baqarah: 183 ) Rasulullah saw bersabda, ”Segala kebaikan anak Adam dilipatgandakan pahalanya sepuluh hingga tujuh ratus kali lipat. Allah swt berfirman,’ Kecuali puasa. Puasa adalah untuk-Ku dan Aku memberikan pahala kepadanya karena ia telah meninggalkan syahwat dan makan minumnya lantaran Aku.’” ( HR Muslim ). Dalam hadits lain, beliau bersabda, ” Puasa itu Junnah ( perisai ). Karena itu jika kamu sedang berpuasa, janganlah mengucapkan kata-kata yang buruk, keji dan yang membangkitkan syahwat. Dan janganlah ia mendatangkan hiruk pikuk, hangar bingar.”Diriwayatkan bahwa puasa dan Al Qur’an akan memohon syafa’at bagi pelakunya kepada Allah, dengan berkata,” Ya Allah, aku telah menghalanginya dari makan dan memenuhi syahwat pada siang hari, maka perkenankanlah aku memberikan syafa’at baginya.” Maka syafaat keduanya diterima oleh Allah swt. (Hadits Riwayat Ahmad). Wanita shalihah selalu menunaikan shaum Ramadhan dan puasa-puasa lainnya selama tidak dalam keadaan berhalangan. Puasa-puasa sunnah lainnya adalah; Puasa Arafah, Puasa ‘Asyura dan Tasu’a, Puasa 6 hari pada bulan Syawwal, Puasa Senin Kamis dan lain-lain.Imam Al Ghazali rah.a. menuliskan ada 3 tingkatan manusia dalam mengerjakan puasa:
a. Hanya memenuhi syari’at, meninggalkan makan minum dan syahwat.
b. Selain menahan dari makan dan minum dan syahwat, juga menahan lidah,  pandangan dan anggota badan lainnya.
c. Selain melakukan hal-hal di atas, hatinya juga betul-betul bertawajuh/ fokus hanya kepada Allah dan memeliharanya dari selain Allah. ( Ihya Ulumuddin ) Dengan berpuasa akan mendidik kepada ketaqwaan, yaitu dengan belajar menahan hawa nafsu dan mentaati sepenuhnya hukum agama.
 
ISTRI SHALEHAH BAGI SUAMINYA

                Ciri-ciri wanita yang terakhir adalah menjadi istri shalehah bagi suaminya, Imam Nawawi rah.a. dalam Kitab Syarah Uqudul Lujain, mengutip sabda Rasulullah saw tentang wanita penghuni surga. Beliau bersabda, ” Empat wanita yang berada di surga, yaitu: Wanita yang memelihara dirinya, taat kepada Allah dan suami, serta sabar, Menerima apa yang ada walaupun sedikit bersama suaminya dan bersifat pemalu (malu auratnya kelihatan). Jika suaminya pergi, maka ia menjaga dirinya dan harta suaminya. Jika suaminya berada di rumah maka ia menjaga lisannya dari menyakiti suami. Wanita yang ditinggal mati suaminya, sedangkan ia mempunyai anak yang masih kecil-kecil lalu ia menahan dirinya, memelihara dan mendidik anak-anaknya, serta berbuat baik kepada mereka dan tidak menikah lagi karena takut menyia-nyiakan mereka.”
Adapun 4 wanita yang berada di neraka adalah: Wanita yang jelek lisannya kepada suaminya. Jika suaminya pergi, ia tidak menjaga dirinya. Jika suaminya berada di rumah, ia menyakiti suaminya dengan ucapannya. Wanita yang membebani suaminya dengan bermacam-macam tuntutan, yang suami tidak mampu melakukannya. Wanita yang tidak menutupi dirinya dari laki-laki. Wanita yang sama sekali tidak mempunyai keinginan kecuali makan, minum dan tidur. Ia tidak memiliki gairah untuk mengerjakan shalat, untuk mentaati Allah, mentaati Rasul dan suaminya. Maka jika ada wanita memiliki sifat-sifat seperti ini, ia adalah wanita yang terlaknat dan ahli neraka, kecuali jika ia bertaubat. Demikianlah beberapa ciri-ciri utama wanita shalehah, sekaligus sebagai keistimewaan mereka dari Allah swt. Seandainya hal ini dipahami dengan benar, maka dengan sedikit bersusah payah dalam mentaati agama, seorang wanita shalehah dapat mendahului laki-laki shaleh untuk memasuki surganya Allah swt.
Hatiku belum merasa puas dengan materi yang aku dapatkan di acara keputrian tadi. Akhirnya aku meminjam buku milik ibu pembina IRMA. Alhamdulillah senangnya... ternyata bu Rahma memberiku sebuah buku “HIJAB”. Jadi gak sabar cepet-cepet ingin segera membacanya! 
Seperti yang telah kita ketahui bersama, salah satu perintah berjilbab terdapat pada Qs. Al-Ahzab ayat 59. Sesungguhnya pada ayat tersebut terdapat kata jalaabiib, bentuk plural dari mufradnya (kata tunggalnya) yaitu jilbab, yang memiliki makna yaitu :
1.     Kerudung besar yang menutupi seluruh anggota badan, sebagaimana penjelasan Imam Al-Qurthubi (Tafsir Al-Qurthubi 14/232).
2.     Pakaian yang menutupi seluruh anggota badan wanita, sebagaimana yang dituturkan oleh Ibnu Mas’ud, Ubaidah, Qatadah, Hasan Basri, Said bin Jubair, Ibrahim An-Nakhai dan Atho’al-Khurasani. (Lihat tafsir Ibnu Katsir 6/424, Al-Muhalla 3/219).
3.     Selimut yang menutupi wajah wanita dan semua anggota badannya tatkala akan keluar, sebagaimana yng dituturkan Ibnu Sirin. (Lihat tafsir Ad-Durul Mansur 6/657, Tafsir Al-Baidhawy 4/284, Tafsir An-Nasafi 3/453, 581, Fathul Qadir 4/304, Ibnu Katsir 4/424 ).
Inilah salah satu rujukan berjilbab dari sumber hukum Islam, yakni As-Sunah. Dan masih banyak lagi sumber rujukan yang lain yang bersanad shahih maupun hasan. Berdasarkan keterangan tersebut, maka dapat diambil kesimpulan bahwasanya jilbab itu bukanlah secarik kain yang melingkari lehermu, bukan pula kerudung yang melingkari wajahmu dengan seadanya dan memperlihatkan helai rambutmu. Atau bukan pula selendang kecil yang engkau tempatkan dipundakmu seumpama engkau tengah bepergian perihal urusan dunia. 
Perihal hukum berjilbab sudah barang tentu adalah WAJIB, dan bila tidak dilakukan maka hukumnya adalah dosa. Berdasarkan Al-Qur’an dan As-Sunah. Jilbab bukan hanya pakaian yang kita pakai yang hanya bisa dipakai lalu dilepas. Bukan hanya kata “menutup” dan ”membuka”. Maka sekali-kali, janganlah seorang juapun diantara kita memperlihatkan perhiasan kita. Berhias terhadap orang yang bukan mahram kita, serta memperlihatkan keelokan rupa kita yang hanya penghias akan jasad kita belaka. Dan ketahuilah olehmu! Bahwasanya di negeri akhirat kelak , seorang muslim lagi muslimah yang dengan rupa seadanya di dunia, sedang mereka adalah orang-orang yang sahalih lagi shalihah niscaya akan Allah Ta’ala baikkan rupa mereka dengan sebaik-baik rupa. Sedang kiranya dengan orang-orang yang elok rupanya di dunia, sedang amalannya sedikit dan tiada pula mencukupinya serta dosa lagi maksiat adalah terlebih banyak atas apa yang telah ia usahakan, niscaya AllahTa’ala akanmemburukkan rupanya dengan seburuk-buruk rupa, sedang neraka adalah tempat yang layak baginya. Tiadakah engkau memikirkan? Dan sesungguhnya bukti dari kebenaran perkataan A-Qur’an itu adalah setelah kamu mati.
 Subhanallah ya Allah! Begitu indah peraturan dan ketetapan-Mu. Aku pun melanjutkan membaca buku yang aku pegang kukuh! Memang engkau Sang Maha Adil. Inilah salah satu ibrah dari adanya perbedaan kulit, bahasa, dan lain-lain (Qs. Ar-Rum ayat 22). Bila permasalahan ini ditinjau lebih jauh, maka akan didapat sebuah kebenaran dari segi keilmuan agama. Ternyata bisa dibuktikan dari keilmuan biologi dan sejarah maupun antropologi. Mungkin untuk hipotesa sementara, bahwa Al-Qur’an adalah kitab yang teoritik. Ternyata dibalik kata-kata yang belum kita ketahui, bagai layar besar yang mementaskan banyak cerita yang meninggalkan ilmu yang tersurat dan tersirat.    
Suatu hadist yang mengancam wanita yang tiada berkenan berjilbab, maka surga bukanlah tempat yang layak baginya. Rasulullah saw. bersabda, “Ada dua kelompok termasuk ahli neraka, aku belum pernah melihatnya : Suatu kaum yang memiliki cambuk seperti ekor sapi, mereka memukul manusia dengan cambuknya, dan manusia yang kasiyat (berpakaian tapi telanjang baik karena tipis atau pendek yang tidak menutup semua auratnya), mailat mumilat (bergaya ketika berjalan, ingin diperhatikan semua orang), kepala mereka seperti punuk unta yang berpunuk dua. Mereka tidak masuk surga dan tidak mendapatkan baunya padahal bau surga itu akan didapati dari sekian dan sekian (perjalanan 500 tahun). (HR. Muslim 3971, Ahmad 8311 dan Imam Malik 1421)”. Hingga Syaikh Bakr bin Abdullah Abu Zaid berkata : “Hadist ini menunjukkan bahwa tabarruj (bersoleknya kaum wanita) termasuk dosa besar”.
Wanita adalah aurat, dia wajib berjilbab. Rasulullah saw. bersabda, “Wanita itu adalah aurat. Sedang apabila dia keluar akan dibuat indah oleh syaitan”. (Shahih. HR. Tirmidzi 1039, Ibnu Hibban dan At-Tabrani dalam kitab Mu’jmu Al-Kabir. Lihat Al-Irwa’: 273). Ummu Salamah berkata, “Wahai Rasulullah, bagaimana wanita berbuat dengan pakaiannya yang menjulur ke bawah?”. Beliau bersabda, “Hendaklah mereka memanjangkan satu jengkal”, lalu ia bertanya lagi, “Bagaimana bila masih terbuka kakinya?”. Beliau menjawab “Hendaknya menambah satu hasta, dan tidak boleh lebih”. (HR. Tirmidzi 653 dan berkata : “Hadist hasan shahih”).
Maka saudariku... ambillah olehmu agama selain daripada Islam sedang engkau bersuka ria daripada keingkaran yang engkau jadikan. Namun... ingatlah saudariku! Bahwasannya hanya Islam yang menyanjung-nyanjung kesucianmu, ia demikian menjagaimu dari kemaksiatan. Ia begitu cinta dan teramat sayang kepadamu. Maka sekali-kali janganlah engkau berpaling, karena sesungguhnya Islam adalah agama yang hidup serta memiliki ruh yang bercahaya dan menerangi langit dan bumi beserta segala apa-apa yang berada diantara keduanya... sedang engkau tiada sadar.
Astagfirullahal’adzim... ya Allah! Tanpa sadar hamba telah melakukan semuanya! Kenapa aku menjadi membenci diriku sendiri saat aku menjadi seorang Marsha? Semua itu karena kebodohanku. Hingga sekarang pun, aku pikir setelah berhijab selesailah sudah. Ternyata masih banyak yang harus aku benahi untuk benar-benar memenuhi adanya berhijab sesuai syari’ah. Buku ini benar-benar mendikteku, aku sadar dibuatnya. Hatiku mengakui semua yang telah aku lakukan dahulu. Sekarang dihatiku tengah bergejolak menyesali diri sendiri. Ya Allah, hamba ingin sekali semua wanita muslimah tahu tentang ini, agar kami bisa menjadi hamba-Mu yang taat dan umat Rasul yang taat pula...
Memang godaannya berhijab itu sangat berat! Dan itu berasal dari lingkungan sendiri! Aku memiliki pengalaman yang takan pernah ku lupa. Saat aku tengah berjalan setelah belanja di warung pada ba’da dzuhur, ada ibu-ibu yang berkumpul di sebuah rumah. Ketika aku tersenyum dan mengucapkan salam, mereka memang membalas salamku... tapi saat aku melanjutkan kembali perjalananku, aku sempat mendengar perkataan salah satu dari mereka, “Panas-panas gini pake jilbab! Memangnya gak gerah ya?”. Aku hanya bisa bersabar dan semoga Allah memberikan mereka semua hidayah. Dan... ada lagi kisah lainnya! Sempat saat aku tengah naik angkot, aku duduk disebelah ibu-ibu, beliau memang tersenyum dan ramah... tapi ucapannya itu! “Neng, kok pakai kaos kaki? Memangnya panuan ya?” tanya beliau. Ya Allah... benar-benar menguji kesabaranku. Belum lagi ke acara-acara lainnya. Beberapa orang ada yang memanggilku “ibu”.
Tapi tak apa! Aku sekarang sudah sadar. Aku teringat kisah umar bin Khattab r.a., bahwa khalifah Umar pernah diundang untuk datang ke tanah Kan’an (Palestina). Beliau hanya memiliki dua pakaian, satu untuk musim panas dan satu lagi untuk musim dingin. Ketika itu beliau memakai pakaian yang sangat sederhana dan mengendarai seekor unta dengan ditemani oleh pembantunya. Beliau dikenal begitu adil dan bijaksana, maka beliau membuat sebuah keputusan. Karena perjalanannya sangat jauh, maka khalifah Umar bergantian dengan pembantunya untuk menunggangi unta itu. Jika khaligah Unar yang naik unta itu, maka pembantunya yang menuntun unta itu, dan begitu pun sebaliknya dalam beberapa jauh perjalanan. Dan saat hampir mendekati Palestina, sudah terlihat banyak penduduk disepanjang jalan yang ingin menyambut dan bersalaman dengan sang khalifah.
Namun saat itu, yang menjadi penuntun adalah khalifah sendiri, dan yang naik adalah pembantunya! Dan beliau tidak ribut segera ingin bergantian posisi, karena memang waktu itu masih giliran pembantunya! Akhirnya penduduk yang belum mengenal wajah khalifah Umar langsung bersalaman dengan orang yang naik pada unta itu. Sahabat khalifah yang mengetahui hal itu sangat kecewa terhadap sang khalifah, dia bertanya mengapa khalifahberlaku seperti itu? Dia menganggap bahwa khalifah Umar tidak bersikap atau berpenampilan seperti khalifah (pemimpin, saat itu setara dengan presiden), dan malah berpenampilan seperti itu! Akhirnya reaksi yang diberikan oleh khalifah Umar adalah bersedih... “Sungguh, aku tidak berniat sedikit pun untuk mencari posisi dan penghormatan dari manusia. Aku hanya ingin mencari kedudukan disisi Allah”. Kata singkatnya ini membuat hati sahabatnya luluh dan mengerti arti kata itu dengan dalam...
Yah...! Jadi, terserah apa kata mereka! Aku tidak peduli lagi dengan pikiran-pikiran negatif yang selalu menghantuiku! Apakah mereka akan memanggilku “ibu-ibu, kuno, kuper, kampungan, teroris” atau apa pun! Inilah aku, inilah identitasku sebagai seorang muslimah! Dan jika mereka adalah orang yang beriman, maka mereka tahu apa yang aku pakai. Ini bukan hanya sekedar pakaian, tapi hijab adalah tolak ukur atas tiap-tiap kepribadian muslimah, hijab itu adalah ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya. Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan perempuan yang mukminah, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan hendaklah kamu tetap dirumahmu, dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang jahiliyah. (Qs. Al-Ahzab: 33). Hijab adalah ‘iffah (suatu kemuliaan), hijab adalah kesucian, hijab adalah pelindung, hijab adalah taqwa, hijab adalah iman, hijab adalah haya’ (rasa malu).
Sekarang aku sadar bahwa seluruh tubuhku adalah aurat. Aurat diambil dari bahasa Arab, yang berarti “keaiban”. Manakala dalam istilah, aurat diartikan sebagai bagian tubuh badan seseorang yang wajib ditutup atau dilindungi dari pandangan. Sekarang aku juga berusaha untuk tidak memakai minyak wangi, aku akan secara perlahan berubah step by step. Walaupun semua yang baru aku pelajari dari Islam benar berbeda dengan apa yang sering aku lakukan, namun jika ini perintah Allah, maka ini yang terbaik. Karena aku teringat sabda Rasulullah saw., “Mana-mana wanita yang memakai bau-bauan (bersolek-solek) kemudian melintas khalayak ramai, dengan tujuan dihirup bau yang dipakainya, maka dia dikira seperti berzina (pelacur)”. (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi).
Astagfirullahal’adzim... ampuni hamba ya Allah... innallaha ghafururrohiim! Ya Allah... hamba mengakui semua kesalahan hamba! Sebagai seorang wanita, hamba belum sepenuhnya menjadi wanita yang shalihah! Apalagi dimasa lalu, hamba begitu jauh dari Engkau. Hamba telah dibutakan oleh kesenangan dan keindahan hawa nafsu hamba. Maafkan hamba ya Allah, ampuni hamba atas semua dosa hamba!. Engkau selalu menjelaskannya kepada kami hamba-Mu, agar kami tidak pernah putus asa dan berburuk sangka terhadap-Mu.  Bahkan Engkau mengatakan bahwa jika kami berputus asa dari rahmat dan ampunan-Mu, maka kami adalah kafir. Sungguh indah motivasi yang telah Engkau berikan. Engkau mengabarkan bahwa Engkaulah Sang Maha Pengampun dan Penerima Taubat hamba-Nya. Ya Allah, ridhailah hamba, rahmatilah hamba, dan ampunilah hamba. Juga ampuni kedua orang tua hamba ya Allah, jaga mereka dan kasihilah mereka ya Allah, sebagaimana mereka begitu mengasihi hamba...
Hamba belum bisa menjamin  bahwa setiap hari hamba adalah semakin baik dimata-Mu ya Allah. Dengan kata “istiqamah” saja hamba tidak tahu. Ya Allah, hamba meyakini bahwa saat di alam rahim saat hamba hanya bisa tertidur, hamba merasa sangat dekat dengan Engkau. Dan saat hamba menangis kata “oa-oa” adalah “Allah-Allah”. Hamba dulu di alam rahim begitu tidak ingin berpisah dengan Engkau. Namun saat hamba di dunia, malah diri hamba sendiri yang menjauhkan diri dari Engkau. Ya Allah, Engkau memang Maha Adil... seorang hamba-Mu yang masuk surga bukan dari amalannya, ibadahnya, namun karena rahmat dan ampunan dari-Mu yang terbingkai dalam kata “mardhatillah”. Subhanallah, sungguh indah semua aturan-Mu ya Allah. Sungguh banyak sekali ilmu yang dapat mengantar kami pada-Mu. Namun akal ini terselimuti hawa nafsu yang gelap dan kotor, sehingga tidak bisa menggunakan fungsinya untuk mendukung sang hati. Bukakanlah mata hati kami ya Allah, sehingga kami ikhlas dan sadar menerima semua kebenaran dari-Mu...!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar