Pages

Jumat, 06 Maret 2015

cinta pertama


 



KARYA : INDRI SUMIYATI


A.       HAKIKAT CINTA

Tuhan, aku cinta padamu

Aku lemas tapi berdaya
Aku tidak sambat rasa sakit atau gatal
Aku pengin makan tajin
Aku tidak pernah sesak nafas
Tapi tubuhku tidak memuaskan
Untuk punya posisi yang ideal dan wajar
Aku pengin membersihkan tubuhku
Dari racun kimiawi
Aku pengin kembali pada jalan alam
Aku ingin meningkatkan pengabdian kepada Allah
Tuhan, aku cinta padamu
                                           (W.S Rendra)

Kata “cinta”  memang sudah tak asing lagi di telinga kita, seperti sudah tergurat dalam memori otak kita. Namun, bila ada seseorang yang bertanya kepada kita, tentang apa arti atau definisi cinta itu, kita selalu bingung dibuatnya. Padahal dalam otak kita sudah tersedia jawabannya, namun begitu sulit untuk diucapkan. Karena yang timbul di otak bukanlah kata-kata , namun berupa ingatan mengenai suatu hal kejadian atau pengalaman cinta.
Banyak orang di bumi ini yang mengutarakan rasa cintanya, baik itu pada sesamanya, pada hewan kesayangan, dan yang paling utama adalah kepada Tuhannya. Dan banyak orang yang salah mengartikan kata cinta, mereka selalu meluruskan kata cinta dengan hawa nafsu, dengan kemaksiatan, dan dengan perbuatan yang menyimpang dari norma-norma agama Islam. Ataupun dengan teori-teori filosofis yang sudah diracuni oleh asas-asas pemikiran nasrani dan yahudi, sehingga membuat kekeliruan pemahaman didalam otak kita.
Cinta adalah suatu fitrah suci yang dianugerahkan Allah kepada manusia, cinta adalah suatu perasaan indah yang muncul pada hati manusia. Cinta adalah suatu motivasi terbesar dalam diri manusia, dan Allah hanya menganugerahkannya pada manusia. Tentu ini adalah suatu karunia yang besar dari Allah Swt dan patut kita syukuri. Dan cinta merupakan perpaduan antara rasa kasih dan rasa sayang, yang menyelimuti hati manusia, untuk mendampingi akal dan hawa nafsu manusia.
Allah Swt begitu mengistimewakan manusia, dimulai dari penciptaan bentuknya yang paling baik (Qs.Al-Mu’minuun ayat 12-13 dan At-Tagabun ayat 3) dan diciptakannya bumi beserta isinya, dll. Malaikat tidak  memiliki hawa nafsu, dan iblis tidak memiliki rasa cinta kepada Allah, mereka sebagai makhluk-Nya yang ditugasi berbeda untuk manusia. Cermati, sebagai contoh, malaikat Jibril diperintahkan oleh Allah untuk menjaga dan menolong Nabi Muhammad Saw, sedangkan Iblis sudah ditakdirkan untuk menggoda dan mencelakakan Nabi Muhammad Saw. Jadi menurut anda, pemeran utama dalam contoh ini siapa? Lihat Qs. Ali Imran ayat 139. Namun ingat, ada pepatah yang berkata “sebaik-baik manusia bisa melebihi malaikat, dan seburuk-buruk manusia bisa melebihi iblis”. Dan semua itu kembali lagi kepada kita sebagai pemeran utama dalam drama hidup ini! Setiap manusia diberikan kesempatan yang sama dalam pilihan hidupnya, hanya orang yang beriman dan beramal shalehlah yang akan menang dan selamat.
Ciri dari orang yang beriman adalah orang yang tidak akan merasa takut dan tidak pula merasa susah, seperti yang telah dijanjikan oleh Allah Swt dalam Qs. Al-Baqarah ayat 38. Dan bisa juga sahabat membacanya didalam Qs. Al-Maidah ayat 3, Qs. Al-Bayyinah ayat 7, Qs. Al-Anfal ayat 2-4, Qs. Al-Anfal ayat 74, Qs. Al-Bayyinah ayat 165, Qs. Al-Hajj ayat 78 dan masih banyak sekali firman Allah tentang orang yang beriman.
Berikut adalah ciri orang yang beriman didalam sebuah hadist, “Engkau akan menemukan seorang mukmin itu bersungguh-sungguh pada apa yang mampu dilakukannya dan bersedih atas apa yang tidak mampu dilakukannya” (HR. Ahmad). Juga terdapat pada hadist berikut “Setiap anak adam mempunyai kesalahan. Dan sebaik-baik orang yang mempunyai kesalahan adalah bertaubat” (HR. Turmudzi), dan hadist ini juga langsung berhubungan dengan firman Allah Swt didalam Qs. Al-Hijr ayat 49 yang berbunyi, “Kabarkanlah kepada hamba-hamba-Ku bahwa Akulah Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang”.
Tentunya kita semua sudah dapat mengambil esensi dan nilai yang terkandung didalamnya. Namun sahabat, ada firman Allah yang berbunyi berikut, “Dan kebanyakan manusia tidak akan beriman walaupun engkau sangat menginginkannya” (Qs. Yusuf ayat 103). Ayat ini harus menjadi renungan bagi kita semua umat Rasulullah Saw.
Marilah kita ibda’ binnafsi terlebih dahulu, bercermin pada hati kita! Apakah kita sudah termasuk orang yang beriman? Tidak cukup hanya dengan iman, karena harus dibarengi dengan ikhsan dan amal shaleh. Memang tidak mudah untuk melakukannya, tapi kita harus yakin inilah jalan keselamatan untuk kita sebagai manusia yang beragama dan berakal.
Dahulu saat aku masih dalam kejahiliyahanku, sering pertanyaan sederhana yang mampu menundukkan kepala dan bingung dibuatnya. Pertanyaan itu adalah, apakah kita mencintai Allah Swt? Memang bibir ini berucap “ya! Aku mencintai Allah!” tapi di hati ini rasanya aku sudah menjadi seorang penjahat yang luar biasa dosanya. Ucapan itu seperti tidak ada ruhnya, mungkin karena aku jarang berdzikir untuk mengingat Allah, tidak khusyuk dalam shalatnya, jarang meminta maaf kepada kedua orang tuaku dan masih banyak lagi perbuatan dosa yang semakin hari semakin menjauhkan aku dari Engkau ya Allah!
Inilah yang telah menginspirasiku untuk membuat catatan kecil ini, walau didalamnya bukanlah kata-kata mutiara yang mampu membuat hati terpana karena silau akan keindahannya, walau bukan puisi dari pujangga cinta yang mampu menyihir benci jadi cinta dan dapat merangkaikan kata demi kata hidup dan mempunyai dunianya sendiri. Ataupun yang dapat melukiskan warna kehidupan yang begitu kontras dan tak begitu mudah dimengerti.
Aku hanyalah hamba Allah yang mendapat ilmu yang sangat sedikit untuk dibagikan. Sebagai seseorang yang berusaha untuk membangunkan anda ditengah dunia sekulerisme ini. Agama bukanlah sekedar aturan belaka, yang dipandang sebagian orang dapat mengekang atau dogma yang tidak beralasan. Apapun zamannya, agama itu harus tetap hidup karena agama itu adalah ISLAM. Sekarang agama hanya dipandang sebagai adat atau budaya lama, ya hanya seperti itu yang biasanya dilakukan oleh kita sehari-hari. Apakah itu tidak membuat kita mencari tahu ruh yang ada didalamnya?
Agama ISLAM ini dapat tumbuh dan bangun lagi seperti pada zaman Rasulullah Saw dengan izin Allah walaupun tanpa kita! Tapi, siapa kita tanpa agama Allah ini? Apakah kita tidak malu kepada diri sendiri minimalnya? Kita hanya tahu bahwa kita beragama ISLAM, tanpa mengetahui identitas agama ISLAM, kisah besar agama ISLAM yang mengukir sejarah manusia.
Aku sangat malu, sungguh malu sekali. Kita sebagai manusia sering mengungkapkan cinta kepada sesama manusia, dan pandai membuat puisi cinta agar orang yang kita cintai bahagia. Tapi, sudahkah atau seringkah kita mengucapkannya kepada Allah? Walaupun kita beribu kali mengucapkannya, hati ini masih sangat malu karena tidak sesuai dengan yang sering dilakukan ragawinya, sungguh aku sangat malu ya Allah.....!
Mencintai Allah...mencintai Allah Yang Maha Kuasa takkan membuatmu terluka, mencintai Allah Yang Maha Penyayang akan membuatmu bahagia. Tiada rasa cemas didada dan tiada ku rasa kehilangan, apapun yang ku cinta semua hanyalah di dunia fana yang seharusnya Allah yang teramat ku cinta. Semakin keras ku langkahkan kakiku, semakin keras ku didera. Namun percayalah tiada yang percuma, Allah tahu segalanya.
Kita belum dapat menyadari cinta yang sebenarnya ada untuk kita, kita bahkan terlalu jenius bila berkata tentang cinta. Cinta bukan hanya tentang senyum dan kebahagiaan, yang dapat menghipnotis manusia untuk berpikiran serba instan dalam mencapai tujuan cinta kelabu. Jarang orang yang mau tahu bahwa cinta itu hanyalah ujian dari Allah yang diciptakan dalam permainan perasaan manusia, ada yang maslahat dan ada juga yang madharat.
Sebenarnya kata cinta ini akan lahir dari pengabdian yang tulus dan pengorbanan yang ikhlas, disini kita berbicara cinta sejati, sejati itu adalah kekal dan yang sebenarnya, sebenarnya ini adalah fitrah manusia menuju Allah, Allah Yang Maha Sempurna dengan Asmaul-Husna-Nya. Namun dengan seiringnya waktu yang membuat kita semakin tua dengan keadaan, itu mampu menjadikan kita rapuh dan lemah dalam kemampuan manusia untuk terus beribadah.
Bagaimana kita akan menuju Allah, jika diri kita belum bersih dari najis dan penyakit hati. Kita tidak akan peka terhadap cinta Allah kepada kita, kita juga tidak akan sadar terhadap cinta Rasul kepada kita! Karena hati kita beku bahkan mati! Diantaranya penyebab hati yang mati adalah mencintai Allah tapi tidak menta’atinya, mencintai Rasul tapi tidak melaksanakan sunahnya, mendapat nikmat tapi tidak bersyukur, membaca Al-Qur’an tapi tidak mengamalkannya, mengantar orang yang meninggal tapi tidak mengambil ibrah darinya, menyebut kesalahan orang lain daripada diri sendiri, dll.
Kita tidak akan mudah menyadari kesalahan-kesalhan kita sahabat, karena Allah Swt berfirman didalam Qs.At-Taubah (09) ayat 37 yang artinya “.....(Oleh setan) dijadikan terasa indah bagi mereka perbuatan-perbuatan buruk mereka. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir”. Dan kebanyakan manusia teryata tidak tahu berterima kasih atas nikmat Allah Swt  dan pengkhianat untuk semua kasih sayang Allah kepada umat manusia seperti yang terdapat didalam Qs. Luqman (31) ayat 32.
B.      CINTA PERTAMA

      Awalnya aku tak ingin merasakan jatuh cinta...
Karena pasti hanya permainan dan senda gurau
Dan akan hanya mengikis luka dan air mata.......
Aku hanya ingin mencintai sang Ilahi
Allahu robby yang kekal dan abadi,,,,,,,,
Inilah aku sang kembang yang mekar
Yang jalani harinya tanpa sinar mentari
Mengapa...? bukankah menyalahi kodratnya
Tanpa ada pancaran cinta yang mengiringi hidupmu
Seindah apapun hidupmu tak akan bermakna
Sampai air langit basuh tanya dalam hati
Dan genangan senyum yang tersisa tuk hari nanti
Hingga akhirnya Ilahi robby memperkenankan
Sang kembang dapat seberkas pancaran sinar mentari
       Sampai tertuntun kupu-kupu pandang kembang
       Metamorfosa yang harmonis di tiap pancaran cinta
Kupu-kupu yang ajarkan hidup baru
Dan berikan pengalaman berharga
       Yang takan pernah terlupa di hati
       Sebagai CINTA PERTAMA.........

Kata “cinta pertama” memang agak sedikit sensitif di telinga kita, respon yang diberikan setiap individu berbeda-beda. Ada yang tersenyum, sedih, marah, atau malah diam? Dan apa reaksi anda ketika mendengarnya?
Dan pertanyaannya adalah siapa cinta pertama anda? mungkin jawabannya a, b, c dan seterusnya, intinya cinta pertama anda itu adalah manusia. Memang menurut anda apa definisi dari cinta pertama? Mungkin beberapa pengertiannya adalah suatu perasaan suka (cinta) yang pertama kalinya dalam hidup kita kepada seseorang. Atau definisi lainnya, adalah seseorang lelaki yang pertama kali mengenalkan dan mengajarkan cinta kepada kita. Dan masih banyak lagi definisi lainnya, dan semua pernyataan berikut adalah benar.
Mari kita jawab bersama, siapa cinta pertama kita? Karena saya yakin benar, bahwa cinta pertama kita semua adalah sama, yakni ALLAH SWT. Coba kita teliti bersama, analisis, renungi, sadari, dan yakini. Apakah pernyataan saya benar? Atau mungkin ada jawaban yang lain lagi? Sungguh keterlaluan jika ada jawaban yang lain, terkecuali anda tidak mentafakurkan diri anda secara benar.
Cermati kembali kata-kata saya, karena ini merupakan sebuah pernyataan yang tidak hanya sekedar spekulasi biasa, namun disertai dengan dalil Al-Qur’an dan riwayat hadits. Bukti yang pertama yakni, pada saat di alam ruh, ketika semua ruh manusia selesai diciptakan oleh Allah azza wa jalla, Allah berfirman dalam surah Al-A’raf ayat 172. “Alastu birabbikum? Qooluu balaa syahidnaayang artinya “bukankah aku ini Tuhanmu? Betul, Engkau Tuhan kami, kami bersaksi”.
Di dalam ayat ini, semua ruh manusia yang diciptakan oleh Allah Swt, mereka semua bersaksi dan bertauhid hanya kepada Allah Swt. Semua ruh mengabdi sebagai tanda ta’at dan kecintaannya kepada Tuhannya. Semua ruh ini yang telah bersaksi, lalu Allah menurunkan ruh ini ke dunia, dengan takdir agama yang berbeda. Ruh ini ada yang ditakdirkan sebagai manusia yang beragama Islam, ada ruh yang ditakdirkan sebagai manusia yang beragama Kristen, Hindu, Budha, Konghucu, dan lain-lain (Qs. At-Tagabun ayat 02). Maka bersyukurlah kita yang ditakdirkan Allah, sebagai manusia yang beragama Islam, sungguh karunia yang mahal harganya. Setiap manusia mempunyai takdir yang berbeda, tentu anda akan paham tentang ini dengan saya. Takdir manusia seperti sebuah paket, yang didalamnya terdapat umur yang sudah ditentukan, rezeki yang akan diberikan, siapa jodoh yang akan dipasangkan dengan kita, dan kapan kematian akan menjemput kita semua.
Secara deskriptif, manusia di dunia ini bagaikan air sungai. Mengapa demikian? Apakah anda sudah mengetahui jawabannya? Jawabannya adalah air sungai adalah jernih, dan air sungai tersebut selalu menuju ke dataran yang paling rendah, dan air sungai itu akan mengikuti jalan dan kelokkan bentuk tanah, dan pada akhirnya semua air sungai akan bermuara di lautan. Ada yang arahnya lurus, tentu akan semakin mudah jalannya dan akan semakin cepat air tersebut sampai di lautan. Dan ada juga yang arahnya berkelok-kelok, tentu akan semakin sulit jalannya dan akan semakin lama air tersebut sampai di lautan. Gambaran air yang lurus ini adalah orang muslim yang beriman, sedangkan gambaran air yang berkelok-kelok adalah orang kafir atau orang muslim yang tidak beriman.
Gambaran hidup di dunia ini, bagaikan setetes air. Dan gambaran hidup di akhirat, bagaikan samudera yang begitu luas. Menurut anda bagaimana bandingannya, antara setetes air tadi dengan samudera yang begitu luas? Harus berapa kali lipat kah? Lalu apakah sekarang kita masih membangga-banggakan diri hidup di dunia yang begitu singkat ini? Terkadang kita semua sering lupa bahwa setiap perbuatan ada balasannya, dan Allah Maha Teliti atas apa ang kita kerjakan. Janji Allah itu ada dan nyata, begitu pun siksa-Nya. Berapa kali Allah berfirman didalam ayat suci Al-Qur an, “innallaha ‘adzabun adzhiim” bahwasanya azab Allah benar sangatlah pedih bagi manusia. Dan Allah sekali-kali tidak pernah mendzalimi hamba-Nya, semua perkara yang buruk adalah dari perbuatan kita semua.
Dan jangan pernah kita menyalahkan Allah Swt dalam setiap duka yang berombakkan musibah dalam hidup kita, jangan sampai bila kita mendapat kebahagiaan, kita berpikir semua itu adalah karena usaha kita sendiri, dan apabila kemalangan menimpa, kita marah dan bertanya kepada Allah Swt. Allah Swt didalam Al-Qur’annya berfirman bahwasanya jika seseorang menyatakan beriman kepada Allah, pastilah orang tersebut akan diberikan ujian yang brmacam-macam untuk sebagai bukti bahwa orang tersebut memang benar beriman atau tidak kepada Allah! (Qs. Al-Ankabut ayat 7 dan Az-Zumar ayat 35). Semua urusan orang beriman itu adalah baik, karena jika mereka mendapat musibah maka mereka akan sabar dan sholat, dan jika mereka mendapat kebahagiaan maka mereka akan bersyukur dan berbagi. Menjadi orang yang beriman memanglah tidak mudah, namun hal tersebut bukan pula suatu kemustahilan yang bisa dicapai seorang muslim. Bersikap khusnudzan baik secara keilmuan dalam kesehatan.
Ada satu surah didalam Al-Qur’an yang menjelaskan banyak nikmat Allah kepada manusia, namun manusia selalu mendustakannya, dan hanya sebagian kecil saja yang bertafakur dan bersyukur. Setiap yang Allah ciptakan pasti ada ilmu didalamnya, baik ilmu secara biologi yang meneliti sampai kehidupan sel dan bagiannya. Bagaimana didalam sel yaitu komponen terkecil didalam tubuh makhluk hidup bekerja secara spesifik dan beraturan juga kontinue. Maupun ilmu secara kias dan pencitraan dari bentuk, warna dan kekhasan tersendiri dari makhluk hidup itu. Semua itu adalah ciri dan tanda kebesaran Allah bagi kaum yang berpikir dan berakal sehat.
Sahabat, bacalah arti dari Qs. Ar-rahman (55) ayat 1-78! Pahami dan bayangkan betapa Allah sangat mencintai kita hamba-Nya. Ingatlah sahabat bahwa kita makhluk ciptaan Allah yang tentunya akan mengikuti rumus dunia ini, yang awalnya kita tidak ada lalu kita ada, dan akan menjadi tiada pada akhirnya. Hanya Allah lah Yang Maha Mencabut Nyawa manusia (Qs. Ali Imran (3) ayat 145) dan Allah tidak akan pernah menunda waktu kematian kita (Qs. Al-Munafiqun (63) ayat 11), jangan sampai kita menyesal di akhir nanti bahkan yang menjadi saksi adalah anggota badan kita sendiri.
C.       BELAJAR MENCINTAI

Tentunya semua orang pernah merasakan rasanya bagaimana jatuh cinta, karena semua manusia dibekali perasaan oleh Allah Swt. Setiap lika-liku kehidupan manusia selalu dibumbui dengan masalah. Sesuatu yang tidak sejalan dengan kehendak kita semua, sebuah keadaan yang tidak kita inginkan, atau malah itu adalah suatu mimpi buruk bagi sebagian orang! Tapi apa artinya kita tanpa sebuah masalah? Dan masalah yang paling sensitif adalah masalah cinta. Terkadang kita harus belajar dengan sesuatu yang tidak kita harapkan, yang belum terbiasa dengan hal itu, atau karena alasannya ya memang sulit untuk dilakukan. Karena seperti yang kita ketahui bersama, masalah cinta adalah masalah hati, masalah perasaan yang bersangkut paut dengan keyakinan, harapan, kebahagiaan dan yang lainnya. Namun ada satu hal yang sangat sering kita lupakan, yaitu belajar untuk mencintai Tuhan kita sendiri yakni Allah Swt!
Rasa cinta hamba terhadap Tuhannya memang sudah ada tertanam didalam sanubari yang paling dalam, namun seperti halnya sebuah tanaman, rasa cinta itu juga harus benar-benar dihidupkan, dengan perawatan yang baik, adanya kasih sayang yang istiqomah dapat menjalin sebuah kedekatan batin kita. Harus selalu dipupuk dengan keimanan dan ketaqwaan yang senantiasa bertambah lebih baik dan lebih banyak lagi, bersabar dalam menemani perjalanan tumbuh dan kembangnya, selalu berprasangka baik akan segala macam gangguan yang akan diterima nanti.
Kita sering lupa kepada Allah Swt, kita terlalu sombong untuk memuji asma-Nya, selalu bersyukur atas semua nikmat dan keselamatan yang selalu dilimpahkan kepada kita, walaupun kita tidak meminta dan mengucapkan terimakasih untuk setiap kebaikan-Nya. Tapi Allah tidak pernah marah, bosan, jengkel kepada kita hamba-Nya. Kita semakin jauh dari Allah, memisahkan Allah dari kehidupan kita, hanya menyebut nama-Nya pada saat shalat saja.
Tanamkan didalam hati bahwa kita itu mencintai Allah, kita lihat betapa luar biasanya cinta Allah kepada hamba-Nya yakni Nabi Muhammad Saw, Rasulullah Saw sangat mencintai Allah melebihi segalanya yang ada di bumi dan di langit. Ingin tahu siapa diantara hamba-Nya yang mendapat cinta-Nya? Lihat Qs. Ali Imran ayat 134 dan ayat 146. Beliau tidak pernah berhenti memuji asma-Nya, sebagai tanda ingat kepada Allah, dari kata ingat tersebut adalah suatu kecintaan Rasul kepada Allah Swt. Rasulullah benar-benar akan suri tauladannya (Qs. Al-Ahzab ayat 21), tidak pernah putus asa dalam menggapai ridha Allah! Ketahuilah bahwa ridha Allah melebihi langit dan bumi, jika Allah sudah ridha, maka dia akan mendapatkan lebih dari surga Allah Swt (Qs. At-Taubah ayat 72) .
Dalam tahapannya kita akan mencintai Allah, tentu kita harus mengenal Allah lebih jauhnya, lebih banyak lagi untuk belajar ilmu agama-Nya. Mengenal sifat-sifat Allah, memahami dan menghafalnya yakni Asma’ul Husna (nama-nama Allah yang baik), semakin rajin lagi dalam ibadahnya, dan semakin khusyuk lagi dalam shalatnya. Terutama didalam shalat, kita sedang berkomunikasi langsung kepada Allah Swt! Kita menghadap langsung kepada Allah, bertemu dengan Allah, dan berbicara dengan Allah Swt.
Seringlah untuk berdzikir, mengucapkan kalimat-kalimat talbiyah wa thayyibah, dan selalu beramar ma’ruf nahyil munkar, agar ridha Allah selalu menyertai kita. Allah tidak pernah meninggalkan kita (Qs. Ad-Dukhan ayat 03), dalam keadaan apapun. Allah senantiasa bersama kita hamba-Nya, dalam keadaan suka dan duka, tawa dan tangis, dalam keadaan kita ingat Allah ataupun tidak, Allah selalu bersama kita. Allah tidak pernah pandang bulu dalam Ar-Rahmaan yakni dalam berkasih, Yang Maha Pengasih, Allah adalah Dzat Yang Maha Pemberi Rezeki, tidak hanya kepada manusia, tapi juga kepada semua makhluk-Nya.
Kenali diri lebih dalam, apa yang selalu kita cari sebagai manusia? Kita hanya bermain saja di bumi ini, mencari kesenangan dan kebahagiaan dan pujian orang dalam pengakuannya sebagai manusia yang sukses dan bermartabat. Tanpa kita ingat apa yang salah dan hilang dalam target hidup kita, seringlah berintrospeksi diri dikala malam tenang dalam qiyamul lail.
Rasa cinta juga tumbuh akibat seringnya intensitas waktu yang lama akan kebersamaan, disana akan adanya saling mengenal, saling memahami, saling mendengar, dan lebih dari sekedar melihat (membaca), disana akan ada rasa yang tumbuh secara sendirinya, dan merasa sedih bila jauh dari-Nya. Allah Swt akan tetap selalu ada di hati kita semua, hanya diri kita saja yang jarang sekali memahaminya bahkan menyadarinya. Kita terlalu sibuk untuk mencari kebahagiaan dan surga diluar sana, tapi sudahkah kita menengok kedalam diri kita? Adakah rasa sedih ketika kita jauh dari Allah? Adakah rasa sesal yang beranginkan rasa malu kepada Allah? Dan sudah munculkah rasa rindu kepada Allah Swt dan ingin kembali kepada-Nya? Rasa cinta (mahabbah) yang sejatinya tumbuh hanya untuk sang Ilahi, dan akan terus tumbuh seiringnya waktu dan pengalaman dalam sekelumit masalah yang menerjang dan membelit diri dengan erat.
Seringlah kita untuk bertafakur dalam keadaan sunyi yang tenang, saat ruh kita rindu kepada penciptanya, yang menjaganya dan hanya kepada-Nya ruh kita akan kembali. Sebagai contoh, perhatikan hal yang sederhana dan ada didalam tubuh kita, seperti tangan yang tiada hentinya bekerja. Tanyalah pada hati kita, apa yang sering dia lakukan? Apa yang sering dia pegang? Apakah Al-Qur’an atau handphone atau apa lagi?
Dalam surah Yaasin Allah berfirman bahwasanya di akhirat nanti mulut kita dikunci, tangan kita yang akan berbicara, dan kaki kita yang akan bersaksi terhadap apa yang telah kita perbuat selama didunia ini. Di akhirat nanti tidak ada lagi penolong manusia selain Allah ta’ala, saat itu ada wajah yang muram sedih dan ada wajah yang berseri-seri bahagia karena akan menghadap Tuhannya. Bahkan ada ulama yang mengatakan bahwa puncak nikmat dari syurga, bukanlah tinggal di syurga dengan segala kenikmatan yang ada.
Sebenarnya siapakah kita ini? Yang terlalu sombong untuk bersujud kepada Allah, yang merasa egois dengan aturan Islam, yang pandai membuat berjuta alasan untuk membela dirinya sendiri. Para nabi, khulafaur-rasyidin, syuhada, tabi’in tabi’at, mujahid mujahidah, syeikh, para ilmuwan Islam, waliyullah, kyai besar, ustad ustadzah dan semua yang sangat berjasa dalam tumbuh kembangnya agama Islam banyak tercatat didalam buku sejarah. Kita semua bisa membaca bagaimana mereka semua hidup sebagai hamba Allah Swt.
Mereka adalah tokoh idola sejati kita, setiap pahlawan Islam mempunyai andil masing-masing dalam perjuangan dan pengorbanannya untuk agama Allah ini. Walau kini mereka jarang sekali dikenal dan diketahui oleh generasinya sendiri, tapi nama dan amal mereka tetap kekal pada kitab ‘Iliyyin, juga oleh Allah Swt. Mereka jarang dikenang untuk dikenal, mereka jarang dicari sejarahnya untuk dicontoh, mereka hamba-hamba Allah yang beriman dan tinggi ilmu dunia akhiratnya saja, sudah mulai terlupakan, apalagi kita yang bukan siapa-siapa! Apa yang patut disombongkan oleh kita?
Pertanyaannya adalah apakah kita akan dikenang? Dan sebagai apa kita akan dikenang? Semua orang mudah terlupakan ketika pergi, tapi ada Allah yang tidak pernah lupa dan tidak pernah tidur. Allah selalu bersama kita dalam tingkatan dunia, saat kita di alam ruh, saat kita berada di dunia fana (rusak) ini, saat kita terkurung penyesalan dan menanti di alam kubur dan saat kita menempuh finish di akhirat.
Saat kita nanti berada di akhirat, kita akan merasakan hidup di dunia bagaikan tinggal saat di siang hari saja (Qs. Al-Ahqaf (46) ayat 35). Kita lupa tujuan kita,  ingat latar belakang Nabi Adam As dan Siti Hawa ditirunkan ke bumi ini, manusia diturunkan ke bumi ini untuk beribadah kepada Allah Swt.
D.      UNTUK MEMAHAMI

Untuk belajar mencintai Allah memang tidak mudah, tapi dalam setiap jiwa individu pasti mempunyai modal yang sama, tinggal bagaimana seseorang tersebut untuk memupuknya tumbuh subur dan berbunga lalu berbuah selamanya. Setiap jiwa pada suatu waktu pasti ada kalanya pernah mengalami waktu saat jiwanya rapuh karena merindukan Allah Swt, teringat semua dosa yang kita lakukan dahulu, dosa yang membuat air mata orang tua kita mengalir, atau sampai membuat seseorang dendam kepada kita, dan hal-hal lainnya yang dapat membuat kita jauh dari Allah Swt.
Namun, dalam setiap kesalahan yang telah kita lakukan, yakinlah bahwa semua itu adalah rencana tersirat yang telah Allah gariskan untuk kita, semua itu untuk dipelajari, untuk dipahami suatu ilmu yang secara tidak langsung Allah tuturkan kepada kita. Allah sangat mengerti isi hati setiap hamba-Nya, Allah yang paling mengerti sifat ataupun karakter hamba-Nya. Saat Allah Swt sedang menguji kita atau menurunkan musibah kepada kita, berarti Allah sedang merindukan kita. Allah rindu akan sholat yang selalu khusyuk akan indahnya kepada Allah. Yang didalamnya kita berbicara kepada Allah secara lembut dan berpasrah diri kepada Allah Swt, juga rukuk dan sujud tanda kerendahan diri kita kepada Allah, menundukkan semua kesombongan kita, membawa semua dosa dan taubat kita kepada Allah Swt, karena hanya kepada Allah lah kita semua kembali.
Allah Swt bukan hendak merendahkan kita hamba-Nya, Allah juga bukan ingin menyakiti kita, Allah tidak pernah mendzalimi hamba-Nya. Semua musibah yang buruk adalah ujian untuk kita menjadi orang yang lebih baik lagi, menjadi orang yang kuat, pandai bersabar dan bersyukur, dan sadarilah saat kita semua dirundung masalah sedemikian rupa, hingga kita sadar bahwa hanya Allah lah yang segala-galanya, Dia-lah tempat kita bergantung dan tempat kembali, tempat kita beribadah dan memohon pertolongan.
Ingatlah akan kematian kita semua, kita akan sendiri! Tidak ada keluarga, kerabat, saudara, ataupun teman yang menemani atau bahkan menolong di alam kubur. Hanya kita sendiri, dan amal kita yang mengiringi kita sekalian. Dalam suasana yang gelap gulita, menemui malaikat yang kasar dan kejam terkecuali kepada hamba-hamba Allah yang beriman. Kita bukanlah apa-apa, kita makhluk yang terlalu sombong akan kelebihan kita, dan sikap riya yang hampir tidak kita sadari selalu membumbui hari-hari kita, padahal hal tersebut sangat ditakutkan oleh Rasulullah Saw.
Suatu kepahaman akan terjadi dan mengalir begitu saja saat diri kita dalam keadaan sadar, juga fokus terhadap apa yang kita targetkan, kita mendengar dan menyimak dengan sungguh-sungguh dalam setiap kejadian hidup kita, kita juga perlu meluangkan waktu untuk berpikir mengenai apa, kenapa, bagaimana dan pertanyaan lainnya sebagai responsi dari apa yang kita ketahui. Segala macam perasaan dan pengalaman yang terindah adalah saat jiwa kita merasa dekat dengan penciptanya.
Kasih sayang Allah kepada kita sangatlah berlimpah, dan semua nikmat-Nya yang sangat banyak (Al-Kautsar). Kita tidak akan pernah sanggup untuk menghitung semua nikmat itu, sedangkan coba hitung berapa banyak kita bersyukur kapada Allah Swt atas semua nikmat-Nya? Allah selalu memberikan yang terbaik untuk kita, walaupun menurut pandangan manusia itu adalah buruk! Namun Allah lebih mengetahui segala sesuatu dari pada kita! Untuk itu janganlah kita mengatur Allah untuk semua yang kita inginkan, dan marah kepada Allah ketika tidak sesuai dengan apa yang kita harapkan. Mintalah kepada Allah agar hanya Allah lah yang Maha Kuasa untuk mengatur dan mempunyai banyak rencana indah untuk kita, agar kita senantiasa mendapat ridha dan ampunan Allah Swt.
Berpikirlah, sesungguhnya engkau adalah seorang yang diciptakan untuk berpikir...kita manusia adalah makhluk Allah yang diciptakan dengan sempurna dibandingkan dengan makhluk yang lainnya. Kita dianugerahi akal untuk mempunyai kemampuan membedakan mana yang hanya sekedar baik atau benar dan mana yang salah. Allah tidak pernah menyuruh kita untuk mencari solusi ataupun jalan keluar dalam menghadapi suatu masalah, namun Allah hanya menyuruh kita untuk senantiasa sabar dan istiqomah dalam shalatnya. “Kuatkanlah harapanmu dalam meraih apa-apa yang bermanfaat bagimu” (HR. Muslimin). Kita hanya membulatkan tekad yang kuat dan berani dalam bertindak dalam lingkup kebenaran yang hakiki, dan berpegang teguh pada Al-Qur’an dan Hadits. Allah tidak pernah meninggalkan kita dalam keadaan apapun, Allah akan selalu tetap ada di hati kita.
Jangan pernah bosan dan kapok menjadi orang baik, bila kita mendapat hinaan, makian, umpatan, atau bahkan fitnahan, jangan pernah mudah menyerah dalam mengarungi lautan yang biru akan kejamnya. Dengan adanya masalah seperti itu, kita akan menyadari bahwa kebaikan itu tumbuh dari suatu masalah, dan tolak ukurnya adalah kejahatan. Jika kita sudah menemukan inti ataupun nilai yang terkandung dalam suatu masalah, kita akan menangis dan tersenyum karena rasa terimakasih yang indah kepada Allah Swt, dan sadar bahwa dia rela membeli sujudnya kepada Allah Swt walau harus dengan tangisan, rasa sakit, hinaan, lahir dan bathin.
Seringlah membaca terjemahan dari Al-Qur’an, ataupun buku-buku islam lainnya yang dapat membuka wawasan kita tentang agama Islam. Ingatlah bahwa dalam salah satu riwayat hadist Rasulullah Saw, ini harus menjadi renungan kita sebagai umatnya yang akhir zaman, bahwasanya Islam lahir dalam keadaan asing dan akan hilang saat dalam keadaan asing bagi pemeluknya, dan mari kita analisis bersama sekarang, apakah Islam sudah menjadi asing bagi pemeluknya?
Dalam salah satu tokoh tasawuf aliran mahabbah, ada seorang wanita bernama Rabi’ah Al Adawiyah. Beliau sangat terkenal pada masanya, dan mengenalkan filosofi baru dalam konteks rumusan masalah siapa cinta pertama kita? Bagaimana cara kita untuk mencintai Allah Swt? Apa yang harus dilakukan bila kita mencintai Allah Swt? Dan banyak lagi yang lainnya sebagai bahan untuk kita pikirkan dan bertanya kepada sesama muslim.
Memahami arti cinta yang sebenarnya memang tidak semudah merasakannya, apalagi mengucapkannya, tapi kalau itu untuk Allah? Allah selalu mengajarkan manusia berkasih sayang dan mencintai sesuai kadarnya masing-masing. Cinta kepada Allah Swt, cinta kepada Rasulullah Saw, cinta kepada orang tua, dan cinta kepada sesama muslim wal muslimat lainnya.
Cinta bagai bunga yang terbang di musim gugur yang mengikuti arah semilirnya angin liar, walau entah kemana perginya bunga itu kita tak tahu! Namun tanya bumi pada angin yang lalu, akankah sang bunga tiba di tempat yang biru airnya kembali? Cinta kan selalu mencoba untuk tumbuh cantik nan indah walau beribu musim kan datang mematahkannya lagi, namun cinta kan bertahan! Sampai hujan kan kukuhkan cinta berulang lepas.
Dan pada saatnya nanti cinta akan lagi bersinar bergabung bersama mentari, semakin lama semakin dewasa dan semakin memberi senyuman yang berarti. Dan menunduk tanda syukur kepada Allah Swt. Sampai tiba waktu cinta nanti memberi manfaat kepada sekitarnya dan menyebarkan benih-benih ilmu Allah, agar menjadi bibit unggul meraih panen syurga.
Sahabat, kita harus bisa menjadi generasi yang rabbani , yakni generasi Islam terbaik. Perlu kita ketahui bersama bahwasanya pahala yang diberikan Allah Swt kepada anak remaja dalam amal shalehnya dibandingkan dengan orang tua dalam amal shalehnya lebih besar pahala untuk anak remaja. Mengapa demikian? Karena anak remaja dalam berbagai pengertiannya, anak remaja adalah masa pubertas, masa labil dan dalam keadaan besar-besarnya hawa nafsu. Anak remaja cenderung lebih mendengarkan temannya daripada orang tuanya, keras kepala, selalu ingin diperhatikan orang lain, dll. Sangat berbahaya jika tidak terkontrol oleh rasa keimanan.
Kata paham pengertiannya lebih dari sekedar kata tahu, mungkin pemahaman tentang bagaimana menimbulkan rasa cinta kepada Allah Swt. Salah satu wujud dari rasa cinta kita kepada Allah Swt adalah dengan mendirikan shalat. Shalat bukanlah hanya sekedar rutinitas kewajiban umat muslim saja, bila kita semua mengetahui ternyata berjuta ilmu dan ikhtibar dapat kita ambil didalamnya.
Mari kita mulai dengan mengetahui makna dari gerakan shalat, berawal dari makna gerakan mengangkat tangan. Maknanya adalah tanda hormat dan memuliakan Allah Swt yang ada di hadapannya, kemudian menyerahkan segenap hidupnya kepada Allah Swt. Lalu makna dari do’a iftitah adalah penyerahan diri secara total kepada Allah. Suatu syahadah atau penetapan misi dan prinsip hidup seseorang baik didalam berpikir ataupun bertingkah laku.
Selanjutnya makna dari gerakan rukuk adalah simbol penyerahan diri kepada Allah, dengan menundukkan kepala tanda kepatuhan dan keta’atan yang tanpa batas ke hadapan Allah dengan membaca tasbih. Lalu makna dari gerakan i’tidal adalah simbol ketenangan batin setelah penyerahan diri dan tunduk kepada Allah secara total, ketenangan akan menghilangkan rasa takut terhadap kehidupan dengan berdiri tegak.
Adapun makna dari gerakan sujud adalah menunjukkan kemuliaan manusia tidak ada artinya di hadapan Allah Yang Maha Mulia. Sebagai bukti bahwa ia hina dan segenap hidupnya diserahkannya kepada Allah Swt. Selanjutnya ada makna dari duduk diantara dua sujud adalah menyadari kesombongan diri yang telah dilakukannya kemudian berbisik kepada Allah untuk meminta ampunan, rahmat, rizki dan kesehatan. Untuk berdo’a seraya meminta pengampunan dan kasih sayang.
Lalu makna dari takbir pada setiap pergantian gerakan shalat adalah penguatan terus-menerus suara hati sehingga suara itu terus hidup dan mencerdaskan emosi juga spiritual sekaligus memelihara kepekaan jiwa. Selanjutnya yang terakhir adalah makna dari gerakan salam adalah hubungan horizontal atau hubungan dengan sesama, membawa misi akhir untuk memberikan keselamatan dan kedamaian kepada sesama makhluk. Karena itu orang yang shalat akan membawa misi perdamaian dan keselamatan kepada sesama manusia dan makhluk lainnya, ternyata perintah shalat berbeda dengan perintah ibadah wajib lainnya.
Perintah shalat merupakan mikrajnya orang yang mukmin. Perintah menegakkan shalat ini mempunyai nilai yang sangat berkah, yakni terdapat nilai yang terus bertambah kebaikannya jika kita mentafakurinya. Tidak hanya sebatas gerakan dan ucapan semata, shalat dibangun oleh tiga aspek yakni : kauniyah, fi’liyah dan qolbiyah. Tentu sahabat sudah mengerti akan arti dan maknanya.
Jika kita mencintai Allah Swt, pastinya kita tidak akan pernah meningalkan shalat dan melalaikannya. Karena shalat merupakan amalan yang pertama di hisab di akhirat nanti, yang juga bergantung pada amalan ibadah yang lainnya. Hal ini sesuai dengan firman Allah Swt fi kitabihil kariim Qs. Ali ‘Imran ayat 31, “Katakanlah (Muhammad), “Jika kamu mencintai Allah, ikutlah aku, niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu”. Dan Allah tidak akan pernah menyia-nyiakan orang yang beriman diantara manusia, seperti firman Allah Swt yang telah termaktub didalam Qs. Al-Kahfi ayat 30.
Adakalanya sahabat yang paling mengerti kita sekalipun pergi meninggalkan kita, tak peduli dan mencoba mengerti keadaan sulit kita! Tapi ada yang lebih memahami dan mendengarkan hati kecil kita, yaitu Allah Swt. Tidak selalu ada bahu yang siap untuk dijadikan sandaran kala kita bersedih dan menangis, namun akan selalu ada lantai bumi yang sengaja Allah ciptakan untuk kita bersujud.
Tak pernah ku lihat tanpa ku mendengar, dapat ku rasakan selalu ku rasakan. Betapa besarnya kuasa-Mu! Ya Allah...aku percaya Engkau pasti telah merencanakan yang terbaik untuk diriku, agar ku tak jatuh dan selalu ada di jalan-Mu. Itu adalah lirik lagu religi yang dapat menyentuh hatiku, tidakkah itu juga dapat menyentuh hati para sahabat? Bukankah kita semua adalah para musafir cinta? (Qs. Al-Insyiqaq ayat 06) Manusia yang sedang menempuh perjalanan yang sebenarnya sangatlah pendek, namun perjuangannya yang besar untuk dapat mencintai Tuhannya sepenuh jiwa raga, dengan iman dan taqwa dihidupnya. Dunia ini adalah tempat perjalanan manusia menuju Tuhannya!
Cinta kepada Allah adalah landasan dan dasar yang paling utama dan pertama, dan itu adalah sumber untuk segala dan semua cinta yang ada di bumi dan di langit. Coba sahabat lihat Qs. Al-Baqarah ayat 186, itu dapat membuat hati kita bergetar dan menunduk khauf kepada Allah Swt. Dan berdoa semoga kita semua termasuk hamba Allah Swt yang beriman dan senantiasa beramal shaleh yang mempunyai cinta untuk Allah dihatinya.
E.      DAN MENYADARI AKAN CINTA SEJATI

Terlalu banyak mulut kita untuk berkata cinta, seakan kita mengetahui apa arti cinta itu. Kita bersikap taklid, dan hal tersebut adalah dilarang dalam agama Islam, karena hal tersebut tidak ada didalam Al-Qur’an dan Sunah Rasulullah Saw. Cinta itu datang secara tiba-tiba, tak pernah disangka pertemuannya, tapi itu kadar manusia. Kita begitu sulit untuk menjabarkan arti cinta, semuanya ada didalam pikiran kita namun saat kita akan mengucapkannya rasanya terbelenggu akan ketidakmampuan. Dalam mencintai kita akan dibutuhkan sebuah pengorbanan, semua agar terasa indahnya cinta itu. Cinta yang sempurna adalah cinta Allah Swt kepada hamba-Nya, cinta yang tulus dan rela memberi tanpa diminta oleh kita. Cinta yang didalamnya kita menemukan sebuah benih kesabaran, dan keikhlasan. Yang tiada hentinya Allah memberikan nikmat kepada kita, memberikan keselamatan kepada kita, dan sebuah keberuntungan didalam hidup yang besar.
 Kita terlalu lemah untuk membalas cinta Allah, namun kita terlalu sombong dan sok tahu dalam menjalani kata cinta itu sendiri. Rasulullah Saw memusatkan dan menjadikan Allah Swt sebagai Cinta Sejatinya, Cinta yang terbesar didalam hidupnya. Allah tidak akan pernah lapuk oleh waktu, dan tidak akan pernah tumpul dengan usia, tidak seperti manusia. Ada kalanya kita mencintai manusia teramat sangat besar sampai mengorbankan jiwanya sekalipun, bahkan ada orang yang bilang aku hanya hidup untukmu, jika tidak diiringi dengan keimanan yang kuat kepada Allah Swt hal tersebut bisa memabukkan kita. Sudah merupakan hukum dunia, yang ada menjadi tiada maupun sebaliknya, kita manusia lemah dalam hatinya (perasaanya), kita mendewakan cinta secara berlebihan. Anda akan mengetahui bagaimana luar biasa indahnya saat seorang hamba mampu mencintai Allah dengan sepenuh hatinya, dan berserah diri atas semua  qada dan qadar-Nya. Apakah anda pernah menangis bersujud karena bertaubat kepada Allah Swt? Dan selalu mengingat nama-Nya dimanapun anda berada, dengan berdzikir didalam setiap langkah dalam menyusuru bumi Allah Swt?
Cinta datang dalam kesunyian, dalam kegelapan, dalam kepedihan, dalam kebodohan, dalam kebutaan, karena cinta adalah memberi, melakukan, berkorban, dan berbagi. Cinta sejati kita adalah Allah Swt, hanya kepada-Nya lah kita semua beribadah, hanya kepada Dia-lah kita mohon pertolongan dan As-Shamad (tempat bergantung). Kita ini sungguh rapuh, kita ini benar akan kelemahan, sungguh banyak teori dan filsafat tentang duniawi yang menghiasi pikiran kita. Semua itu bagai memperbudak bila tanpa keimanan, kita bagai jenuh dengan dunia ini bila tak sesuai dengan yang kita harapkan. Kita tidak ingat, bahwa Allah selalu bersama kita, disaat semua orang tidak memahami atau bahkan menjauhi, dan sampai orang terdekat kita yang kita anggap selalu bersama kita, ternytata ada kalanya mereka bagai bunga dihanyut arus sungai.
Dan hanya Allah lah Yang Maha Mengetahui atas keadaan hamba-Nya sampai isi hati dari hamba-Nya (Qs. Ali ‘iran ayat 119), Dia tidak pernah meninggalkan hamba-Nya dalam keadaan apapun. Untuk itu mengadulah kepada Allah sebelum kepada yang lain, mintalah kepada Allah ampunan dan solusi yang harus diambil. Kita sungguh terlalu berdosa kepada Allah, kita terjebak paham sekulerisme, dan hedonisme. Dan faktor itulah yang menjadi faktor dominan hancurnya khilafah Islam, jauhnya kita dari kebenaran dan kebaikan. Saat nanti mata kita terbelalak, kita akan mengetahui indahnya cinta Allah kepada hamba-Nya yang beriman. Allah berjanji akan membeli keimanan dan ketaqwaan hamba-Nya yang beriman dengan surga yang mengalir dibawahnya sungai-sungai, dan semua itu hanya kiasan, karena sesungguhnya surga yang sebenarnya tidak dapat dibayangkan dan dikira oleh mata, jiwa, dan pikiran kita sebagai manusia. Sadarilah, kita hidup punya tujuan, kita dilahirkan ke dunia tidak semata-mata tanpa alasan. Seharusnya semakin tinggi ilmu yang kita dapat, maka semakin berpikir secara rasionalitas yang berpangku pada Al-Quran dan  Hadits. Cintailah Allah sepenuh hati kita, rasakan Allah yang dekat dengan kita melebihi urat nadi kita, Allah lebih memilih diam di hati kita untuk mencintai kita hamba-Nya.
Cinta, cinta disini sendiri memandang langit biru, seakan menanti turunnya air hujan yang menghujam masuk kedalam tanah...berharap sebuah keajaiban datang menjemput dan menghidupkan hati yang mati. Cinta haus akan kasih, dan lapar akan sayang. Nada indah mengalir memanggil ruh yang menatap wajah Tuhannya. Berdiri tertatih, pincang akan keimanan yang tumbuh disanubari...terlalu lama hamba hidup menunduk kerana burung tak tahu akan arah pulangnya. Menundukkan kepala bukan hanya ketidakmampuan diri, namun sadar akan posisi diri atas nikmat dari Tuhannya Yang Maha Sempurna. Bantu cinta, untuk bangun! Bangun untuk berlari menyusul aliran sungai surga yang berada dibawah kuasa-Nya. Yang disana mengalir rasa kasih dan sayang yang sempurna dari Allah, kepada siapa saja hamba-Nya yang berhak mendapatkannya. Walau raga ini berbatas didunia, akan tetapi tidak akan pernah lekang selalu tergurat cinta yang terukir dihati sampai cinta ini bertemu dengan Sang Maha Cinta pemilik cinta yang sempurna dan kekal abadi selamanya. Ajari musafir ini Ya Allah untuk selalu mencintai-Mu dalam kesadaran akan ketenangan yang dingin berembunkan keikhlasan.
Ada yang menyatakan bahwa cinta itu adalah energi, titik pusat dari manusia itu sendiri. Puncak kenikmatan cinta adalah saat kita benar merasakan cinta kita kepada Allah Swt. Tidak ada cinta yang abadi, tidak ada cinta yang sempurna, tidak ada pula cinta yang mampu hidup selamanya! Terkecuali cinta Allah kepada hamba-Nya dan cinta seorang hamba kepada Tuhannya. Walau raga ini nanti akan mati kaku tak berdaya, walau kita akan hidup di dunia yang lain menunggu janji yang telah Allah tetapkan untuk manusia, sampai nanti kita akan dihidupkan kembali dan bangkit dari kubur kita. Ini bukan hanya sekedar cerita atau dongeng belaka! Ini adalah janji Allah Swt kepada hamba-Nya.
Ada seorang murid yang bertanya kepada gurunya dengan sombong juga penasaran yang sangat mengganjal dihatinya. Dia bertanya bahwa apakah benar bahwa Allah itu ada? Lalu bagaimana wujudnya? Lantas bagaimana adanya takdir dan bagaimana prosesnya? Dan dikatakan bahwa syaitan kelak akan dimasukkan kedalam api neraka, bukankah syaitan juga terbuat dari api, apakah bisa syaitan merasakan dibakar oleh api?
Gurunya spontan langsung menampar muridnya  yang berkata demikian. Muridnya kaget dan bertanya mengapa gurunya menamparnya? Dan bukan jawaban yang didapatnya? Dan gurunya menjawab bahwa tamparan itu adalah jawaban dari ketiga pertanyaan muridnya itu. Muridnya terkaget kembali dengan pertanyaan besar yang memenuhi hatinya.
Tadi kau bertanya bahwa apakah Allah itu ada dan bagaimana wujudnya? Sekarang aku kembali bertanya kepadamu, apakah kau merasakan sakit dari tamparan itu, lalu jika kau merasakan sakitnya bagaimanakah wujud ataupun bentuk dari rasa sakit itu? Tunjukkanlah padaku, bukankah tidak berbentuk sakitnya? Dan kau bertanya apakah ada takdir dan bagaimana kejadiannya, coba terangkanlah padaku! Apakah  kemarin kau tahu jika hari ini kau akan ku tampar, bukankah ini tidak diketahui akan terjadi? Dan yang terakhir kau bertanya tentang bagaimana bisa syaitan yang terbuat dari apinya Allah merasakan siksa api nerakanya Allah? Lalu apakah kau merasakan sakit dari tamparanku? Bukankah itu terjadi karena kulit dengan kulit? Rasa sakit itu ada bukan, apalagi api?
Jadi sahabat jangan pernah ragu dan bimbang mengenai Allah Swt, karena sebenarnya Allah itu menerangkan segalanya yang haq kepada kita, temuilah Allah didalam Al-Qur’anil Karim, setiap lembarnya kan mengantarkan kita pada shalat yang khusyuk lagi tawadhu’. Semuanya kan membuat kita sadar bahwa hidup ini memanglah proses manusia untuk benar mengenal Tuhannya, bagaimana cara untuk benar mencintai Allah.
F.       BERUSAHA BERLARI UNTUK MENGEJARNYA

Terkadang sesuatu yang mencintai kita selalu terlambat untuk kita sadari, dan karena cinta tersebut tulus, sunyi, diam, dan tanpa mengharap sebuah balasan bahkan sanjungan indah dalam prasangkanya. Cinta Alloh selalu ada untuk setiap hamba-Nya yang beriman, dan selalu terbuka lebar untuk semua hamba-Nya yang mau berkemauan keras untuk belajar kembali pada jalan-Nya. Sebesar apa pun engkau mencintai seorang manusia, sebahagia apa pun perasaan itu yang engkau rasa, bagaikan harimu setiap hari diselimuti pelangi dan sinar mentari. Rasa bahagia dalam cinta terhadap sesama manusia berbeda rasanya saat kita mempunyai rasa cinta terhadap Allah Swt. Tak dapat saya jelaskan secara benar dan lengkap, namun dalam setiap diri ataupun individu akan mempunyai kesempatan untuk mencintai Allah Swt. Memang hanya pengalamanlah yang paling berharga dalam kehidupan, lebih dari sekedar guru, namun merupakan sebuah pasir waktu yang mengingatkanmu untuk tidak melakukan kesalahan yang sama. Pengalaman cinta memang paling berkesan dalam kehidupan manusia, karena cinta adalah buah dalam rasa bahagia manusia.
Setiap orang pasti pernah mencintai dan dicintai, baik disadari ataupun tidak. Cinta pada zaman yang sekarang bukan cinta yang murni dimaksudkan oleh Allah Swt! Cinta pada zaman sekarang seperti dalam lumpur, semua kata cinta yang berteorikan seribu janji kebaikan dan kebahagiaan ternyata hanya bagai susu yang beracun. Ingatkah kita akan janji Allah terhadap seorang mujahid wa mujahidah? Seorang yang berjihad di jalan Allah tidak hanya bersyaratkan harus meninggal untuk membela atau mensyiarkan agama Allah Swt, mengorbankan harta, jiwa dan raga untuk mempertahankan yang haq. Akan tetapi yang berjihad dijalan Allah juga seorang ikhwan wa akhwat yang menahan hawa nafsunya atau rasa hasrat cintanya untuk suaminya (Qs. An-Nazi’at (79) ayat 40-41). Dia tetap istiqomah dalam shirothol mustaqim! Menjaga kehormatannya, menjalin ukhuwah islamiyah yang baik, dan tidak memuaskan hawa nafsunya yang dapat mencelakakan dirinya sendiri maupun orang lain.
Bila seorang hamba sudah mampu mencintai Allah Swt dihatinya, dan selalu mengucapkan rasa cintanya melalui dzikir, do’a, ucapan yang sopan santun nan lemah lembut, maka insayaalloh melalui matanya pun hamba tersebut senantiasa melihat dalam setiap fatamorgana lensa alam selalu ada kebesaran Allah Swt dimanapun ia berada. Dalam sebuah hadist, Rasulullah Saw bersabda : “Beribadahlah seperti engkau melihat Allah, bila engkau tidak mampu melihat-Nya, maka yakinlah bahwa Allah melihatmu”.
Ya Allah, aku ingin melihat-Mu! Namun apakah mata ini pantas melihat keagungan dan keindahan-Mu. Mataku terlalu kotor, terlalu banyak debu yang menghalanginya. Namun aku selalu berusaha untuk membersihkan mata ini dengan air suci dalam taubat hamba. Dalam Qs. Al-Baqarah ayat 222, yang artinya “Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang taubat dan orang-orang suci”. Disini terdapat suatu dua kategori hamba yang dicintai oleh Allah Swt, yaitu pertama : orang-orang yang taubat. Artinya, adalah orang-orang yang selalu kembali kepada jalan yang benar, jalan yang diridhai oleh Allah Swt. Orang-orang yang sadar akan dosanya, menyesali semua kesalahannya, dan bersujud memohon ampunan Allah dan berjanji tidak akan mengulang kebodohannya dengan diiringi amal sholeh dan ibadah lainnya.
Sedangkan untuk kategori yang kedua : orang-orang yang suci adalah orang-orang yang senantiasa membersihkan dirinya dalam arti yang sebenarnya maupun dalam arti kiasan. Orang yang selalu berusaha menjaga kesucian dirinya dengan membersihkan jiwa dan raganya dari penyakit indera dan penyakit hati. Orang yang senantiasa meminimalisir segala kesalahan dan dosa, selalu menjaga air wudhunya akan pembersihan dosa dan mengharap ampunan Allah Swt.
Dalam Qs. Al-Baqarah ayat 38 yang artinya, “Barangsiapa yang mengikuti petunjuk-Ku, niscaya ia tidak akan merasa takut dan tidak pula merasa susah”. Itulah salah satu ciri dari banyaknya tanda orang yang dicintai oleh Allah Swt. Dirinya akan selalu dalam keadaan sabar dan syukur, semua urusannya adalah baik, demi menggapai ridha Allah Swt.
Sekarang pantaslah kita untuk menunduk, menangis, memohon ampun kepada Allah Swt! Dari Allah meniupkan ruh kepada rahim ibu kita saat berusia 4 bulan didalam kandungan, menjaga dan melindungi kita dalam tahap tumbuh kita selama 9 bulan, lalu Allah menyelamatkan ibu dan memberikan kesempatan kita hidup di bumi Allah ini dengan tangis karena cinta kepada Allah Swt. Mengapa saat kita dilahirkan, kita dalam keadaan menangis?
Menurut keilmuan dalam disiplin ilmunya, bayi menangis karena dalam keadaan kaget. Kaget dalam artian memasuki dunia baru, yang tadinya di alam rahim sekarang berada di alam dunia, juga untuk memfungsikan alat pernafasannya. Sedangkan menurut kacamata agama Islam, kita menangis karena kita sedih telah berpisah dengan Allah Swt yang telah menjaga dan menemani kita selama didalam kandungan. Semua itu muncul karena rasa cinta kita kepada Allah Swt. Jadi siapa yang lebih tepatnya disebut cinta pertama kita? Tentu jawabannya sama Allah Swt.
G.      TIBALAH SAATNYA UNTUK MENYATAKAN CINTA

Ya Allah, aku tidak tahu ajalku sampai dimana? Hanya Engkau Yang Maha Mengetahui atas segala sesuatu. Apakah aku akan dikenang? Dan sebagai apa aku akan dikenang? Ya Allah, aku bukan siapa-siapa di bumi ini tanpa perkenan-Mu! Ampuni aku ya Allah! Ampuni semua dosaku, semua kesalahan, kealfaan dan kebodohanku. Sungguh, aku hanya manusia yang hina, aku malu pada-Mu ya Allah! Bantu hamba dalam setiap langkah hamba. Hamba takut, apabila hamba mengecewakan-Mu. Hamba berlumur dosa, bermandikan kesalahan-kesalahan.
Astagfirullahal ‘adziim ya Allah! Tangan ini, mata ini, telinga ini, kaki ini, hati ini, seluruh raga ini, ruh ini, benar memohon ampun kepada-Mu. Terimakasih untuk semua nikmat-Mu, maafkan aku apabila banyak nikmat yang jarang atau bahkan tidak hamba syukuri. Alhamdulillah, hamba mencintai-Mu ya Allah, sangat mencintai-Mu. Robbanaa taqobbal minna, wagfirlanaa, innaka antas sami’id du’a.
Aku, aku disini sendiri memandang langit biru. Seakan menanti turunnya air hujan yang menghujam masuk kedalam tanah, berharap sebuah kehidupan baru datang menjemput dan merangkul hati yang terjatuh. Aku haus akan kasih, dan lapar akan cinta. Nada indah mengalir memanggil ruh yang menatap wajah Tuhannya. Berdiri tertatih, pincang akan keimanan yang tumbuh di sanubari. Terlalu lama hamba hidup menunduk karena burung tak tahu akan arah pulangnya. Tolong hamba untuk bangun! Bangun untuk berlari menyusul yang jauh disana, disana aliran sungai yang mengarah pada syurga dibawah kuasa-Nya.
Ya Allah, hamba mencintai Engkau ya Allah! Tapi hamba sungguh malu untuk menyampaikannya kepada-Mu! Hamba sungguh malu bila dibandingkan dengan rasa cinta para hamba-Mu yang lain! Para hamba-Mu yang terlukis didalam kitab suci-Mu. Yang abadi selalu dihati para kaum muslimin. Cinta mereka kepada Engkau sungguh luar biasa bagi kami, namun hamba yakin jikalau rasa cinta kepada Engkau pasti akan selalu bergelora semangat fii sabilillah!
Apapun dan bagaimanapun resikonya, mereka rela mengorbankan harta, jiwa dan raganya, bahkan rela maut memisahkan! Ada yang disiksa sampai meninggal, dipotong kemaluannya, sampai diambil hatinya, dipotong telinganya, diikat di padang pasir yang sangat panas dengan dibebani batu besar, dll. Ya Allah, hamba ingin sekali menjadi orang yang selalu Engkau ridhoi, dan menjadi yang Engkau cintai dan sayangi, amiin! Peluklah hamba dalam kasih sayang-Mu. Nikmat iman dan islam mengalir di darah ini selalu, senantiasa hidup selama waktu yang telah digariskan oleh sang khaliq.
 Rasa cinta kepada Allah Swt harus berada di tingkatan yang paling atas, karena akar dari semua rasa cinta yang ada adalah cinta kepada Allah Swt. Karena banyak yang telah kita ketahui didalam kitab suci Al-Qur’an, jika kita sebagai hamba Allah yang mencintai-Nya, maka kita semua harus sami’na wa ato’na. Kita harus memenuhi semua perintah-Nya dan menjauhi semua larangannya,dan salah satunya adalah birrul walidain (Qs. Al-Ankabut ayat 08). Tentunya dalam berbuat baik pada kedua orang tua, didalamnya termasuk mencintai dan menyayangi mereka.
Seorang hamba yang sangat mencintai Allah Swt, adalah orang yang senang berkasih sayang, dan senantiasa berdzikir. Contohnya adalah Rasulullah Saw, sang kekasih Allah! Tahukah engkau sahabat? Ada seseorang yang sangat mencintai kita, jauh sekali saat kita dilahirkan ke bumi allah ini, beliau selalu galau untuk kita, selalu ada nama kita didalam setiap do’anya, bahkan dalam saat sakaratul mautnya datang beliau mengucapkan nama kita tiga kali. Sahabat, beliau adalah Nabi Muhammad Saw! Rasul kita semua, seorang uswatun hasanah untuk kita.
Bila engkau membaca terjemah Al-Qur’an secara tertib, pastilah engkau akan mengetahui kisah-kisah umat yang terdahulu. Karena dua per tiga dari Al-Qur’an adalah sejarah umat-umat yang terdahulu, yang mengandung pelajaran yang sangat berharga bagi kita umat yang akhir zaman. Bila menurut sebagian orang sejarah tidak akan pernah terulang kembali, namun ternyata ceritanya dapat terulang kembali dan tentunya kita akan dapat mengambil ibrah sebagai hamba Allah yang berakal.
Didalam Kalamullah terdapat banyak riwayat para nabi, yang diantaranya adalah Nabi Adam As, Nabi Ibrahim As, Nabi Musa As, Nabi Harun As, dan masih banyak yang lainnya. Dan tentunya Nabi muhammad Saw, banyak yang saya pelajari dalam ilmu agama Islam, dan yang membuat saya sadar adalah seberapa tawadhu’nya Rasulullah itu. Diantara semua nabi, Rasul memang yang ingin dikenang dan dikenal oleh umatnya sebagai orang yang sangat sabar, pemaaf, manusiawi dan banyak akhlaqul kariimah lainnya.
Banyak nabi yang hampir putus asa dengan umatnya yang durhaka, dan meminta Allah untuk menunjukkan peringatan bagi umatnya. Tapi Rasulullah Saw tidak pernah putus asa terhadap umatnya, walau harus disakiti umatnya dengan dilempari batu sampai berdarah, dihina, diludahi, difitnah, diancam dan masih banyak lagi, namun Rasulullah Saw selalu sabar tidak pernah mengeluh, atau meminta Allah Swt untuk menurunkan peringatan atau teguran untuk umatnya agar percaya kepada rasul-Nya.
Padahal malaikat Jibril menawari beliau, apapun akan dilakukan untuk kekasih Allah. Namun Rasulullah Saw hanya tersenyum dan berdo’a “Allahummahdii qaumii fainnahum laa ya’lamuun sungguh sangat luar biasa. Rasulullah Saw tidak ingin pantang menyerah, beliau memahami mengapa umatnya sampai mendzaliminya, karena sesungguhnya mereka tidak mengetahui, maka berilah umatku petunjuk-Mu.
Bahkan dalam setiap perjalanan dakwahnya, Rasulullah  sangat manusiawi. Beliau tidak ingin menunjukkan kelebihannya sebagai kekasih Allah sehingga harus mendapatkan semua yang beliau inginkan, atau mungkin harus diperlakukan sebagai raja.  Rasulullah hanya ingin seperti manusia biasa, bahkan tahukah engkau sahabat kisah Rasulullah Saw dengan orang buta yahudi? Bila engkau mengetahuinya, pastilah engkau akan bersedih karena rasa haru yang mendalam, tentulah kita akan menangis akan rasa kasih sayangnya. Cari tahu kisahnya ya sahabat di internet!
Manfaatkan internet untuk memperdalam ilmu kita dalam meraih ilmu Allah! Sekarang banyak sekali informasi untuk menggali Al-Qur’an, hadits, juga kitab-kitab para kyai besar atau ulama dan umara. Di youtube dapat kita jumpai video kebesaran Allah, atau bahkan banyak lagi video para nabi, dan banyak lagi video renungan untuk menyadari betapa luasnya ilmu Allah Swt.
Perbanyaklah menonton film Islam, atau membaca riwayat para nabi Allah Swt. Karena kita akan banyak mengetahui bahwa dahulu Islam sangatlah berjaya bahkan sempat menguasai dua per tiga belahan bumi Allah. Kerajaan Islam yang memiliki ideologi Al-Quran yang tidak ada cacatnya, hadits yang menduduki kursi konstitusi negara. Semuanya mencakupi syarat menjadi negara baldatun thayyibatun wa rabbun ghafuur.
Namun sekarang Islam tengah tertidur pulas, karena para hamba Allah dan umat Rasulullahnya pun malas-malasan! Seolah kita tahu kapan kita akan dipanggil oleh Allah, atau kita mengetahui kapan jadwal kiamat akan terjadi! Sekarang sudah banyak ciri-ciri kiamat kubro yang terjadi, diantaranya : banyak terjadi pembunuhan, perempuan menyerupai laki-laki dan begitupun sebaliknya, berlomba-lomba dalam membangun dan memegahkan mesjid namun kosong jama’ahnya, banyak orang tua yang menjadi pembantu bagi anaknya, dan masih banyak yang lainnya.
Bersikap pekalah terhadap sekitar kita, Iqra’ haulaka!. Jangan menuju pola pikir manusia yang tidak bertuhan dan berpri kemanusiaan yang menunjukkan bahwa kita manusia berbeda jauh dengan binatang liar.
H.      MENEMUI SANG KEKASIH

Dalam sebuah hadits Qudsi,Allah Swt berfirman  “Wahai anak Adam, Aku telah ciptakan kamu, maka kamu jangan bermain-main, dan Aku jamin rezekimu, maka kamu jangan merasa capai. Wahai anak Adam, carilah Aku, maka engkau akan menemuiku. Dan jika engkau menemukan Aku, engkau akan dapat sesuatu, sedang Aku mencintaimu, lebih dari segalanya”.
Sahabat, bagaimana perasaanmu setelah membaca hadits Qudsi tadi? Saat mendengar kata-kata indah Allah kepada kita hamba-Nya! Bergetarkah hatimu saat mengetahui bahwa Allah sangat mencintai kita lebih dari segalanya, buktinya Allah menciptakan langit, bumi beserta isinya. Lihatlah di sekitarmu, sejauh mata memandang semuanya adalah bukti cinta Allah kepada hamba-Nya. Allah selalu memelihara semua tumbuhan agar tetap menghasilkan udara yang segar juga menghasilkan makanan untuk manusia, bahkan Allah juga memelihara keturunan banyak hewan agar terus bermanfaat bagi manusia.
Rasulullah Saw sangat mencintai Allah, karena Rasul sangat memahami unsur kehidupan ini. Tentang tiga rumusan masalah kehidupan manusia : dari mana kita berasal, untuk apa kita hidup dan kemana kita akan kembali? Semuanya bermuara kepada Allah jualah, sebagai salah satu contoh kecintaan Rasul yaitu shalat. Dalam setiap shalat Rasul, Rasul senantiasa membaca surah panjang seusai membaca surah Al-Fatihah. Terkadang dalam satu shalat yang terdiri dua, tiga atau empat, Rasul selalu membaca surah sebanyak kurang lebih enam juz.
Senantiasa melakukan shalat sunnah baik shalat sunnah tahajjud, dhuha, rawathib, dan yang lainnya. Rasulullah benar-benar memanfaatkan waktu hidupnya didunia ini dengan sangat baik! Rasulullah Saw jarang melamun, galaulah atau apapun! Kalau memang galau, Rasul galau memikirkan kita umatnya nanti! Rasul bersikeras untuk menyebarkan agama Allah, menjaganya dari racun ideologi manusia yang musyrik.
Dalam Qs. Al-Baqarah ayat 186, Allah Swt berfirman “Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku kabulkan permohonan orang yang berdo’a kepada-Ku. Hendaklah mereka itu memenuhi (perintah)-Ku dan beriman kepada-Ku, agar mereka memperoleh kebenaran”. Bagaimana sahabat, indah bukan kalam Allah untuk kita? Pasti cukup untuk menjawab tanya hati kita tentang Allah, ya tentu kita semua sudah dewasa untuk memahami firman Allah Swt tersebut.
Sahabat, bergantunglah hanya kepada Allah semata karena Allah adalah Ash-shamad, selalu  berdzikir kala luang maupun dalam keadaan yang sangat penat sekalipun! Karena Allah selalu ada untuk kita dalam setiap alam yang kita jalani. Dalam setiap kebahagiaan dalam hidup kita pasti ada suatu titik jenuh. Orang yang sering galau adalah salah satu ciri orang yang jarang berdzikir kepada Allah! Karena sesungguhnya orang yang selalu berdzikir kepada Allah Swt akan selalu tenang pikirannya, dan damai selalu hatinya.
Orang yang galau adalah orang yang membuka aibnya sendiri, orang yang berputus asa dalam masalah yang dihadapi. Dalam arti yang sempit, galau hampir sama pengertiannya dengan kata bimbang, bingung, putus asa, resah. Tentu hal tersebut bukan ciri dari orang yang beriman, karena orang yang beriman adalah orang yang sabar dan kuat, jua senyum menjadi pengantarnya.   
Kebanyakan dari kita para remaja selalu ingin tidak ketinggalan zaman, karena takut mendapat cap gaptek, kuno, cupu, kamseupay. Banyak dari kita yang ingin merasa dikenal orang dalam bergaul juga dihargai atau ingin mendapat pengakuan anak gaul dari teman yang lainnya dengan cara kita harus satu jalan hidup dengan mereka. Bahkan tidak jarang kita harus menggadaikan pemahaman kita, dan menggantinya dengan paham liberalis dan paham sekuler yang menyesatkan.
Aku bukan hendak melawan arus ini karena ku tahu aku hidup didalam arus ini, aku juga tak ingin menjadi tawanan arus ini yang semakin lama semakin membuat ku terperdaya dan hanya mengikuti hawa nafsu. Aku tak peduli bila siripku nanti patah karena berusaha keras memotong arus dan jauh, jauh dari segala kesenangan dan kemewahan.
Aku hanya ingin hidup didalam air kolam (birkatun-berkah) yang tenang dan bersih, dimana aku bisa melihat Tuhanku. Perlahan sisik ini mengelupas, dan jatuh diantara ribuan batu lumpur hitam. Disini, setidaknya aku bisa merasakan jiwa yang bahagia setelah melewati luasnya samudera kehidupan.
Aku memang kecil dan lemah, dan mungkin aku juga tidak berpengaruh! Namun aku bisa berada diantara dua biru istana cinta-Nya. Aku akan bertahan ya Allah, memang tak mudah hidup terasing. Asalkan aku benar hidup dalam agama-Mu, dalam ridha-Mu dan dalam cinta-Mu. Sudah cukup dan puas rasanya aku punya Engkau dihatiku, karena Engkau sang Maha Cinta.
Sebagai analogi yang jelas, kita semua bagai ikan yang berada di aliran sungai yang sangat deras! Tanpa kita tahu arah aliran itu akan berakhir kemana. Arus globalisasi yang menciptakan dan mengenalkan kita pada berbagai paham sekuler dan liberal yang menyimpang perlahan tapi pasti mulai mengakar pada pikiran kita.
Janganlah bersikap taklid, yaitu menuruti orang lain dalam bertingkah laku, tata ucap, dan pemahaman tanpa tahu kebenarannya dari Al-Qur’an dan hadits. Yang sah adalah sikap ittiba’, yaitu menuruti atau mencontoh yang ada pada Rasulullah Saw yang pasti sesuai dengan Al-Qur’an dan hadits, dan salah satu sikap yang harus kita contoh adalah mencintai Allah Swt sebagai cinta pertama dan cinta yang sejati.
Ada sebuah puisi cinta dari Kahlil Gibran, dan sahabat pahamilah kata cinta dari puisi ini diganti dengan kata Allah.
Jika cinta memanggilmu, maka ikutilah! Walaupun jalan terjal nan berliku akan kau lewati
Jika cinta merengkuhmu, maka pasrahlah! Walaupun pedang yang tersembunyi akan menusukmu
Jika cinta berbicara, maka percayalah! Walaupun ucapannya akan membuyarkan semua mimpi-mimpimu
Karena cinta, telah cukup untuk cinta
Dari sini kita akan lebih memahami perjuangan musafir cinta, pengorbanan sang hamba Ilahi. Ingatkah kita kepada semua pejuang Allah Swt? Mereka yang meinggal di medan perang melawan pasukan Quraisy dan Nasrani! Pahamilah Qs. Al-Baqarah ayat 154. Walaupun mereka tidak melihat Allah, namun mereka yakin bahwa Allah itu ada! Mereka adalah orang yang beriman, percaya kepada yang ghaib dalam Qs. Al-Baqarah ayat 03. Mengapa demikian sahabat? Karena Allah adalah ghaib, para malaikat gahib, dan masih banyak yang lainnya.
Marilah mulai dari prinsip Aa Gym, yakni mulailah dari hal yang kecil, mulailah dari diri sendiri dan mulailah dari sekarang juga! Semoga  kita semua termasuk hamba Allah yang selalu dicintai-Nya karena kita mencintai-Nya lebih dari segala-galanya yang ada di hati kita sahabat.
Tentunya kita telah belajar mengenai ilmu kalam! Bila sahabat mempunyai pertanyaan besar mengenai sesuatu yang sangat sulit dipecahkan, apalagi hal itu mengenai dzat Allah Swt, maka bertanyalah kepada ustad atau ustadzah sahabat. Karena sepintar apapun manusia, sehebat apapun manusia sudah pasti ada batasnya dan itu memang sudah sewajarnya karena kita hanya manusia yang memiliki ilmu yang sedikit dari ilmu Allah yang Maha Luasnya.
Saat menemui Allah Swt didalam shalat kita, untuk orang yang merasakan nikmatnya cinta kepada Allah, semua yang berada diluar shalat tidak terasa. Seperti akhir hidup dari khalifah Umar bin Khattab, bagaimana indah perjalanan akhir hidupnya, namun betapa tragis dan memilukan hati yang membayangkannya. Tahukah sahabat bagaimana khalifah Umar bin Khattab ditusuk sampai dadanya robek?
              Beliau ditusuk ketika dalam keadaan shalat dan menjadi imam bagi jama’ahnya. Beliau ditusuk pedang berulang kali dari belakang dan depan. Lalu putranya datang dan menahan darah yang ada didadanya, namun tangannya masuk kedalam dada sang ayah, berarti luka itu sangat dalam dan besar karena robek.
Semua orang bingung bagaimana caranya untuk memastikan bahwa beliau masih hidup atau sudah wafat! Akhirnya ada yang berkata bahwa bisikkanlah kata shalat atau kalimat thayyibah kepadanya. Dari keadaan yang sangat lemah dan tidak bergerak sedikitpun, tiba-tiba beliau bangkit segera dengan tanpa kesakitan walau rasa sakitnya yang luar biasa.
Inilah salah satu contoh orang yang sudah merasakan bagaimana nikmatnya cinta kepada Allah dan khusyuknya dalam shalat. Semua itu berawal dari rasa cinta seorang hamba kepada Tuhannya yang sempurna.