Pages

Jumat, 06 Maret 2015

sahabat part 12 (mawar merah muda)


Haruskah pernikahan didasari rasa cinta?
“Namaku Mariani. Orang-orang biasa memanggilku Aryani. Ini adalah kisah perjalanan hidupku yang hingga hari ini masih belum lengkang dalam benakku. Sebuah kisah yang nyaris membuatku menyesal seumur hidup bila aku sendiri saat itu tidak berani mengambil sikap. Yah, sebuah perjalanan kisah yang sungguh aku sendiri takjub dibuatnya. Sebab aku sendiri menyangka bahwa didunia ini mungkin tak ada lagi orang seperti dia.
Tahun 2007 silam aku dipaksa orang tuaku menikah dengan seorang pria, kak Arfan namanya. Kak Arfan adalah seorang lelaki yang tinggal sekampung denganku, tapi dia seleting dengan kakakku saat sekolah dulu. Usia kami terpaut empat tahun. Yang aku tahu bahwa sejak kecilnya kak Arfan adalah anak yang taat kepada orang tuanya dan juga rajin ibadah. Tabiatnya yang seperti itu terbawa-bawa samapai ia dewasa. Aku merasa risih sendiri dengan kak Arfan bila berpapasan dijalan, sebab sopan santunnya terlalu berlebihan pada orang-orang. Geli aku menyaksikannya. Yah! Kampungan banget gelagatnya...
Setiap ada acara-acara ramai di kampung pun kak Arfan tak pernah kelihatan bergabung sama teman-teman seusianya. Yah kalau dicek ke rumahnya pun gak ada.Orang tuanya pasti menjawab “Kak Arfan di mesjid nak, menghadiri taklim”. Dan memang mudah sekali mencari kak Arfan, sejak lulus dari Pesantren Al-Khairat kota Gorontalo.
Kak Arfan sering menghabiskan waktunya membantu orang tuanya jualan, kadang terlihat bersama bapaknya di kebun atau di sawah. Meskipun kadang sebagian teman sebayanya menyayangkan potensi dan kelebihan-kelebihannya yang tidak tersalurkan. Secara fisik memang kak Arfan hampir tidak sepadan dengan ukuran ekonomi keluarganya yang pas-pasan. Sebab kadang gadis-gadis kampung suka menggodanya kalau kak Arfan dalam keadaan rapi mengahadiri acara-acara di desa.
Tapi bagiku sendiri, itu adalah hal yang biasa-biasa saja. Sebab aku sendiri merasa bahwa sosok kak Arfan adalah sosok yang tidak istimewa. Apa istimewanya menghadiri taklim? Kuper dan kampungan banget. Kadang hatiku sendiri bertanya, kok bisa yah ada orang yang sekolah di kota namun begitu kembali tak ada sedikit pun ciri-ciri kekotaan melekat pada dirinya, HP gak ada. Selain membantu orang tua, pasti kerjanya ngaji, shalat, taklim dan kembali ke kerja lagi. Seolah ruang lingkup hidupnya hanya monoton pada itu-itu saja. Ke bioskop kek, ngumpul bareng temen-temen kek, setiap malam minggunya di pertigaan kampung yang ramainya luar biasa setiap malam Minggu dan malam Kamisnya. Apalagi setiap malam Kamis dan Minggunya ada acara curhat kisah yang top banget disebuah station radio swasta di Gorontalo.Kalau tidak salah ingat nama acaranya Suara Hati, dan nama penyiarnya juga Satrio Herlambang.
Waktu terus bergulir dan seperti gadsi-gadis modern pada umumnya yang tidak lepas dari kata “pacaran” aku pun demikian. Aku sendiri memiliki kekasih yang begitu sangat aku cintai, namanya Boby. Msa-masa indah ku lewati bersama Boby. Indah ku rasakan dunia remajaku saat itu. Kedua orang tua Boby sangat menyayangi aku dan sepertinya memiliki sinyal-sinyal restunya atas hubungan kami. Hingga musibah itu tiba, aku dilamar oleh seorang pria yang sudah sangat aku kenal. Yah siapa lagi kalau bukan si kuper kakArfan lewat pamanku. Orang tuanya kak Arfan melamarkuuntuk anaknya yang kampungan itu.
Mendengar penuturan ibu saat memberi tahu padaku tentang lamaran itu. Ku rasakan dunia ini gelap, kepalaku peningdan aku berteriak sekencang-kencangnya menolak permintaan lamaran itu dengan tegas dan terbelit-belit. Aku sampaikan langsung pada orang tuaku bahwa aku menolak lamaran keluarganya kak Arfan. Dan dengan terang-terangan pula aku sampaikan pula bahwaaku memiliki kekasih pujaan hatiku, Bobby.
Mendengar semua itu, ibuku shock dan jatuh tersungkur ke lantai. Aku pun tak menduga kalau sikapku yang egoisitu akan membuat mama shock. Baru aku tahu bahwa yang menyebabkan mama shock itu karena beliau sudah menerima secara resmi lamaran dari orang tuanya kak Arfan. Hatiku sedih saat itu, ku rasakan dunia begitu kelabu. Aku seperti menelan buah simalakama, seperti orang yang paranoid, tidak tahu harus ikut kata orang tua atau lari bersamakekasih hatiku Boby.
Hatiku sedih saat itu. Dengan berat hati dan penuh kesedihan aku menerima lamaran kak Arfan untuk menjadi istrinya. Dan ku jadikan malam terakhir perjumpaanku dengan Boby di rumahku untuk meluapkan kesedihanku. Meskipun kami saling mencintai,tapi mau tidak mau Boby harus merelakan aku menikah dengan kak Arfan. Karena dia sendiri mengakui bahwa dia belum siap membina rumah tangga saat itu.
Tanggal 11 Agustus 2007 akhirnya pernikahanku pun digelar. Aku merasa bahwa pernikahan itu begitu menyesakkan dadaku. Air mataku tumpah dimalam resepsi pernikahan itu. Di tengah senyuman orag-orang yang hadir pada acara itu, mungkin akulah yang paling tersiksa. Karena harus melepaskan masa remajaku dan menikah dengan lelaki yang tidak pernah ku cintai. Dan yang paling membuatku tak bisa menahan air mataku, mantan kekasihku Boby hadir juga pada resepsi pernikahan tersebut. Ya Allah, mengapa semua ini harus terjadi padaku ya Allah? Mengapa aku yang harus jadi korban dari semua ini...?!
Waktu terus berputar dan malam pun semakin merayap. Hingga usailah acara resepsi pernikahan kami. Satu per satu tamu undangan pamit pulang hingga sepi lah rumah kami. Saat masuk ke dalam kamar, aku tidak mendapati suamiku kak Arfan didalamnya. Dan sebagai seorang istri yang hanya terpaksa menikah dengannya, maka aku pun membiarkannya dan langsung membaringkan tubuhku setelah sebelumnya menghapus make-up pengantinku dan melepaskan gaun pengantinku. Aku bahkan tak perduli kemana suamiku saat itu. Karena rasa capek dan diserang kantuk, aku pun akhirnya tertidur.
Tiba-tiba disepertiga malam, aku tersentak tatkala melihat ada sosok hitam yang berdiri disamping ranjang tidurku. Dadaku berdegup kencang! Aku hampir saja berteriak histeris, andai saja saat itu tak ku dengar surea takbir yang terucap lirih dari sosok yang berdiri itu. Perlahan ku perhatikan dengan seksama, ternyata sosok yang berada disampingku itu adalah kak Arfan, suamiku yang sedang tahajud. Perlahan aku baringkan tubuhku sambil membalikkan diriku membelakanginya yang saat itu sedang shalat tahajud. Ya Allah aku lupa bahwa sekarang aku telah menjadi istrinya kak Arfan. Tapi meskipun demikian, aku masih tak bisa menerima kehadirannya dalam hidupku. Saat itu karena aku masih dalam perasaan kantuk, aku pun kembali tertidur. Hingga pukul 04.00 dini hari, ku dapati suamiku sedang tertidur beralaskan sajadah dibawah ranjang pengantin kami.
Dadaku masih berdegup kencang kala mendapatinya. Aku masih belum percaya kalau aku telah bersuami. Tapi ada sebuah pertanyaan terbetik didalam benakku. Mengapa dia tidak tidur diranjang bersamaku? Kalaupun dia belum ingin menyentuhku, paling enggak dia tidur seranjang denganku. Itu kan logikanya, ada apa ini? ujarku didalam hati. Aku sendiri merasa bahwa mungkin malam itu kak Arfan kecapean sama sepertiku sehingga dia tidak mendatangiku dan menunaikan kewajibannya sebagai seorang suami. Tapi apa peduliku dengan itu semua, toah aku pun tidak menginginkannya? Gumamku dalam hati.
Hari-hari terus berlalu. Kami pun menjalani aktivitas kami masing-masing, kak Arfan bekerja mencari rezeki dengan pekerjaannya. Sedangkan aku dirumah berusaha semaksimal mungkin untuk memahami bahwa aku telah bersuami dan memiliki kewajiban untuk melayani suamiku. Yah minimal menyediakan makanannya, meskipun kenangan-kenangan bersama Boby belum hilang dari benakku, aku bahkan masih merindukannya.
Semula ku pikir bahwa perilaku kak Arfan yan tidak pernah menyentuhku dan menunaikan kewajibannya sebagai suami itu hanya terjadi dimalam pernikahan kami. Tapi ternyata yang terjadi  hampir setiap malam sejak malam pengantin itu, kak Arfan selalu tidur beralaskan permadani dibawah ranjang atau tidur diatas sofa dalam kamar kami. Dia tidak pernah menyentuhku walau hanya menjabat tanganku. Jujur segala kebutuhanku selalu dipenuhinya. Secara lahir dia selalu menafkahiku, bahkan nafkah lahir yang dia berikan lebih dari apa yang aku butuhkan. Tapi soal biologis, kak arfan sama sekali tidak pernah mengungkit-ungkitnya atau menuntutnya dariku. Bahkan yang tidak pernah ku pahami, pernah secara tidak sengaja kami bertabrakan didepan pintu kamar. Kak Arfan meminta maaf seolah merasa bersalah karena telah menyentuhku.
Ada apa dengan kak Arfan? Apakah dia lelaki normal? Kenapa dia begitu dingin padaku?! Apakah aku kurang dimatanya? Jujur, aku merasakan semua itu, membuat banyak pertanyaan berkecamuk dalam benakku. Ada apa dengan suamiku? Bukankah dia adalah pria yang beragama dan tahu bahwa meafkahi istri itu lahir dan bathin adalah kewajibannya? Padahal setiap hari dia mengisi acar-acara keagamaan di mesjid. Dia begitu santun pada orang-orang dan begitu patuh kepada orang tuanya. Bahkan terhadap aku pun hampir semua kewajibannya telah dia tunaikan dengan hikmah, tidak pernah sekali pun dia bersikap kasar padaku. Bahkan kak Arfan terlalu lembut bagiku.
Tapi satu yang belum dia tunaikan yaitu nafkah bathinku. Aku sendiri saat mendapat perlakuan darinya setiap hari yang begitu lembutnya mulai menumbuhkan rasa cintaku padanya. Dan membuatku perlahan-lahan melupakan masa laluku bersama Boby. Aku bahkan mulai merindukannya saat dia sedang tidak ada dirumah. Aku bahkan selalu berusaha menyenangkan hatinya dengan melakukan apa-apa yang dia anjurkan lewat ceramah-ceramahnya pada wanita-wanita muslimah, yakni mulai memakai busana muslimah yang syar’i.
Memang dua hari setelah pernikahan kami, kak Arfan memberi hadiah yang diisi dalam karton besar. Semula aku mengira bahwa hadiah itu adalah alat-alat rumah tangga. Tapi setelah ku buka, ternyata isinya lima potong jubah panjang berwarna gelap, lima buah jilbab panjang sampai selutut juga berwarna gelap, lima buah kaos kaki tebal panjang berwarna hitam dan lima pasang manset berwarna gelap pula. Jujur saat membukanya aku sedikit tersinggung, sebab yang ada dalam bayanganku bahwa inilah konsekuensi menikah dengan seorang ustadz. Aku mengira bahwa dia akan memaksa aku untuk menggunakannya. Ternyata dugaanku salah sama sekali! Sebab hadiah itu tidak pernah disentuhnya atau ditanyakannya.
Kini aku mulai menggunakannya tanpa paksaan siapapun. Ku kenakan busana itu agar dia tahu bahwa aku sudah menganggapnya spesial. Bahkan kebiasaanya sebelum tidur dalam mengaji pun sudah mulai aku ikuti. Kadang ceramah-ceramahnya di mesjid sering aku ikuti dan aku praktekan di rumah.
Tapi ada satu yang belum aku mengerti darinya. Entah kenapa hingga enam bulan pernikahan kami, dia tidak pernah menyentuhku. Setiap masuk kamar pasti sebelum tidur, dia selalu mengawali dengan mengaji. Lalu tidur diatas hamparan permadani dibawah ranjang hingga terjaga lagi disepertiga malam, lalu melaksanakan shalat tahajud. Hingga suatu saat kak Arfan jatuh sakit. Tubuhnya demam dan panasnya tinggi. Aku sendiri bingung bagaimana cara menanganinya?   Sebab kak Arfan sendiri tidak pernah menyentuhku. Aku khawatir dia akan menolakku bila aku menawarkan jasa membantunya. Ya Allah, apa yang harus aku lakukan saat ini? Aku ingin sekali meringankan sakitnya, tapi apa yang harus saya lakukan ya Allah?
Malam itu aku tidur dalam kegelisahan! Aku tak bisa tidur mendengar hembusan nafasnya yang seolah sesak. Ku dengar kak Arfan pun sering mengigau kecil.  Mungkin karena suhu panasnya yang tinggi sehingga ia selalu mengigau. Sementara malam begitu dingin, hujan sangat deras disertai angin yang bertiup kencang. Kasihan kak Arfan... pasti dia sangat kedinginan saat ini. Perlahan aku bangun dari pembaringan dan menatapnya yang sedang tertidur pulas. Ku pasangkan selimutnya yang sudah menjulur ke kakinya. Ingin sekali aku merebahkan diriku disampingnya atau sekedar mengompresnya. Tapi aku tak tahu bagaimana untuk memulainya. Hingga akhirnya aku tak kuasa untuk menahan keinginan hatiku untuk mendekatkan tanganku didahinya untuk meraba suhu panas tubuhnya.
Tapi baru beberapa detik tanganku menyentuh kulit dahinya, kak Arfan terbangun dan langsung duduk agak menjauh dariku. Sambil berujar, “Afwan dek, kau belum tidur? Kenapa ada dibawah, nanti kedinginan? Ayo naik lagi ke ranjangmu dan tidur lagi, nanti besok kau capek dan jatuh sakit” pinta kak Arfan padaku. Hatiku miris saat mendengar semua itu. Dadaku sesak, mengapa kak Arfan selalu dingin padaku. Apakah dia menganggap aku orang lain? Apakah dihatinya tak ada cinta sama sekali untukku? Tanpa ku sadari air mataku menetes sambil menahan isak yang ingin sekali ku lapkan dengan teriakkan. Hingga akhirnya gemuruh dihatiku tak bisa ku bendung juga.
“Afwan kak, kenapa sikapmu padaku begitu dingin? Kau bahkan tak pernah mau menyentuhku, walaupun hanya sekedar menjabat tanganku! Bukankah aku ini istrimu? Bukankah aku telah halal bagimu? Lalu mengapa kau jadikan aku sebagai patung perhiasan kamarmu? Apa artinya diriku bagimu kak? Apa artinya aku ini bagimu kak! Kalau kau tidak mencintaiku lantas mengapa kau menikahiku? Mengapa kak, mengapa?” ujarku disela isak tangis yang tak bisa ku tahan.
Tak ada reaksi apapun dari kak Arfan menanggapi galaunya hatiku dalam tangis yang tersedu itu. Yang nampak adalah dia memperbaiki posisi duduknya dan melirik jam yang menempel didinding kamar kami. Hingga akhirnya dia mendekatiku dan perlahan berujur padaku. “Dek, jangan kau pernah bertanya pada kakak tentang perasaan ini padamu. Karena sesunguhnya kakak begitu sangat mencintaimu! Tetapi tanyakanlah semua itu pada dirimu sendiri. Apakah saat ini telah ada cinta dihatimu untuk kakak? Kakak tahu dan kakak yakin pasti suatu saat kau akan bertanya mengapa sikap kakak selama ini begitu dingin padamu. Sebelumnya kakak minta maaf bila semuanya baru kakak kabarkan padamu malam ini. Kau mau tanyakan apa maksud kakak sebenarnya dengan semua ini? ujar kak Arfan dengan sedikit gugup.
“Iya tolong jelaskan pada saya kak! Mengapa kakak begitu tega melakukan ini pada saya? Tolong jelaskan kak!” ujarku menimpali tuturnya kak Arfan. “Hm, Dek kau tahu apa itu pelacur? Dan apa pekerjaan seorang pelacur? Afwan dek, dalam pemahaman kakak seorang pelacur itu adalah seorang wanita penghibur yang kerjanya melayani para lelaki hidung belang untuk mendapatkan materi tanpa peduli apakah dihatinya ada cinta untuk lelaki itu atau tidak. Bahkan seorang pelacur terkadang harus meneteskan air mata, manakala dia harus melayani nafsu lelaki yang tidak dicintainya. Bahkan dia sendiri tidak merasakan kesenangan dari apa yang sedang terjadi saat itu. Kakak tidak ingin hal itu terjadi padamu dek.
Kau istriku dek. Betapa bejatnya kakak ketika harus memaksamu melayani kakak dengan paksaan saat malam pertama pernikahan kita. Sedangkan dihatimu tidak ada cinta sama sekali buat kakak. Alangkah berdosanya kakak bila pada saat melampiaskan birahi kakak padamu malam itu, sementara yang ada dalam benakmu bukanlah kakak tetapi ada lelaki lain. Kau tahu dek, sehari sebelum pernikahan kita digelar, kakak sempat datang ke rumahmu untuk memenuhi undangan bapakmu. Tapi begitu kakak berada didepan pintu pagar rumahmu, kakak melihat dengan mata kepala kakak sendiri, kesedihanmu yang kau lampiaskan pada kekasihmu Boby. Kau ungkapkan pada Boby bahwa kau tidak mencintai kakak. Kau ungkapkan pada Boby bahwa kau hanya akan mencintainya selamanya. Saat itu kakak merasa bahwa kakak telah merampas kebahagiannmu.
Kakak yakin bahwa kau menerima pinangan kakak itu karena terpaksa. Kakak juga mempelajari sikapmu saat di pelaminan. Begitu sedihnya hatimu saat bersanding di pelaminan dengan kakak. Lantas haruskah kakak egois dengan mengabaikan apa yang kau rasakan saat itu. Sementara tanpa memperdulikan perasaanmu, kakak menunaikan kewajiban kakak sebagai suamimu dimalam pertama. Sementara kau sendiri akan mematung dengan deraian air mata karena terpaksa melayani kakak?
Kau istriku dek, sekali lagi kau istriku. Kau tahu, kakak sangat mencintaimu. Kakak akan menunaikan semua itu manakala dihatimu telah ada cinta untuk kakak. Agar kau tidak merasa diperkosa hak-hakmu. Agar kau bisa menikmati apa yang kita lakukan bersama. Alhamdulillah apabila hari ini kau telah mencintai kakak. Kakak juga merasa bersyukur bila kau telah melupakan mantan kekasihmu itu. Beberapa hari ini kakak perhatikan kau juag telah menggunakan busana muslimah yang syar’i. Pinta kakak padamu dek, luruskan niatmu. Kalau kemarin kau mengenakan busana itu untuk menyenangkan hati kakak semata, maka sekarang luruskan niatmu... semua itu untuk Allah Ta’ala selanjutnya untuk kakak!”.
Mendengar semua itu, aku memeluk suamiku. Aku merasa bahwa dia adalah lelaki terbaik yang pernah ku jumpai selama hidupku. Aku bahkan telah melupakan Boby. Aku merasa bahwa malam itu, aku adalah wanita yang paling bahagia di dunia. Sebab meskipun dalam keadaan sakit, untuk pertama kalinya kak Arfan mendatangiku sebagai seorang suami. Hari-hari kami lalui dengan bahagia. Kak Arfan begitu sangat kharismatik. Terkadang dia seperti seorang kakak buatku dan terkadang seperti orang tua. Darinya aku banyak belajar banyak hal. Perlahan aku mulai meluruskan niatku dengan menggunakan busana yang syar’i, semata-mata karena Allah Ta’ala dan untuk menyenangkan hati suamiku.
Sebulan setelah malam itu, dalam rahimku telah tumbuh benih-benih cinta kami berdua. Alhamdulillah, aku sangat bahagia bersuamikan dia! Darinya aku belajar banyak hal tentang agama. Hari demi hari kami lalui dengan kebahagiaan. Ternyata dia mencintaiku lebih dari apa yang aku bayangkan. Dulu aku hampir saja melakukan tindakan bodoh dengan menolak pinangannya. Aku pikir kebahagiaan itu akan berlangsung lama diantara kami, setelah lahir Abdurrahman...hasil cinta kami berdua.
Di akhir tahun 2008, kak Arfan mengalami kecelakaan  dan usianya tidak panjang. Sebab kakArfan meninggal dunia sehari setelah kecelakaan tersebut. Aku sangat kehilangannya. Aku seperti kehilangan penopang hidupku, aku kehilangan kekasihku, aku kehilangan murabbiku, aku kehilangan suamiku. Tidak pernah terbayangkan olehku bahwa kebahagiaan bersamaya begitu singkat. Yang tidak pernah aku lupakan di akhir kehidupannya kak Arfan, dia masih sempat menasehatkan sesuatu padaku.
“Dek...pertemuan dan perpisahan itu adalah fitrahnya kehidupan. Kalau ternyata kita berpisah besok atau lusa, kakak minta maaf padamu dek... jaga Abdurrahman dengan baik. Jadikan dia sebagai mujahid yang senantiasa membela agama, senantiasa menjadi yang terbaik untuk ummat. Didik dia denganbaik dek, jangan sia-siakan dia! Satu permintaan kakak... kalau suatu saat ada seorang pria yang datang melamarmu, maka pilihlah seorang pria yang tidak hanya mencintaimu. Tetapi juga mau menerima kehadiran anak kita. Maafkan kakak dek, bila selama bersamamu... ada kekurangan yang kakak perbuat untukmu. Senantiasalah berdoa, kalau kita berpisah di dunia ini...insyaallaah kita akan berjumpa kembali di akhirat kelak. Kalau Allah mentakdirkan kakak yang pergi lebih dahulu meninggalkanmu, insyaallah kakak akan senantiasa menantimu...”.
Demikianlah pesan terakhir kak Arfan sebelum keesokan harinya kak Arfan meninggalkan dunia ini. Hatiku sangat sedih saat itu. Aku merasa sangat kehilangan. Tetapi aku berusaha mewujudkan harapan terahirnya, mendidik dan menjaga Abdurrahman dengan baik. Selamat jalan kak Arfan...! Aku akan selalu mengenangmu dalam setiap doa-doaku, amiiin!
Aku terus menangis dan merasakan sesak didadaku ini. Lalu umi segera datang karena mendenar suara isak tangis dikamarku. Setelah menyalakan lampu lalu umi membangunkanku, “Ya Allah... Ana kenapa? Ana, Ana!”. Aku yang terhentak dan mengucapkan istigfar tiga kali. Aku tersenyum dalam deraian air mata. Ya Allah, ternyata tadi aku hanya bermimpi! Benar-benar bermimpi? Tapi aku merasa begitu nyata, seolah aku adalah Aryani. Dan... kak Arfan, adalah kak Arfan? Sungguh aku sangat pusing memikirkannya. Lalu suara umi memecah lamunanku, “Ya Allah, kamu kenapa tidur dibawah? Kenapa tidur diatas sajadah dengan masih dibalut mukena?” tanya umi dengan membelaiku. “Iya umi... tadi Ana selesai shalat lalu tiduran dengan berdzikir, dan ternyata malah tidur beneran...” ujarku dengan tersenyum untuk menenangkan hati umi.
Setelah umi membantuku bangun dan membereskan semuanya, aku kembali tidur. Aku masih bingung dengan apa telah aku alami tadi dalam mimpiku. Aku berusaha mengingat kembali mimpi itu, namun hanya sebagian yang aku ingat! Ada rasa senang dan sedihnya juga. Aku yakin ini semua karena aku tadi ketiduran dan belum sempat membaca doa sebelum tidur. Dan... mungkin karena sebelumnya aku memikirkan bagaimana jika kak Arfan tahu bahwa aku adalah Marsha. Aku berpikir seandainya aku tetap menjadi Marsha yang dia kenal, maka aku mungkin tidak akan menyukainya. Tapi sekarang aku adalah Ana, dan konsekunsinya dia tidak mengenalku. Mungkin Aryani dalam mimpi itu adalah aku yang dulu, Marsha? Ya Allah... hamba meminta yang terbaik dari-Mu ya Allah...
Hari-hariku sekarang kelabu. Karena biasanya selalu ada sahabat disisiku dalam keseharianku. Dan sekarang, aku harus lebih bahagia lagi! Karena sahabat yang aku sayangi, sekarang ada di tempat yang terbaik. Walaupun aku begitu menyayanginya, namun Allah juga sangat mencintainya. Terkadang aku merasa kebersamaanku yang singkat dengannya seperti mimpi. Ada dalam ingatanku namun tiada dalam kenyataannya. Namun mimpi ini sangat indah Haura! Sangat indah sahabatku. Walaupun kita tidak bisa bersama-sama melangkah menuju impian kita sampai final, tapi dengan semua pengalaman saat aku bersamamu, ilmu-ilmu yang kau sampaikan... juga dengan kalimat “La tahzan, innaallaha ma’anaa”  aku kembali kuat! Aku kembali bangkit dan tersenyum. Aku selalu merasakan tanganmu di pundakku. Aku tahu kau selalu mendukungku sahabat...!
Saat berjalan dari angkot menuju pasar, aku memakai tas gendong untuk membeli keperluan di pasar. Saat itu aku memilih menggunakan jalan gang, agar lebih cepat sampai ke sana. Setelah tiba di pertengahan jalan dalam gang, terlihat dari kejauhan ada dua orang pria yang bersandar pada tembok. Ya Allah, hatiku merasa cemas dan khawatir. Mereka menatapku dengan tatapan yang tajam. Akhirnya aku berpura-pura menerima pesan dari teman dan bermaksud berbalik arah. Namun saat aku berbalik arah, mereka mengejarku. Aku lihat suasana disini tampak sangat sepi. Aku pun terus berlari dan ketika akan sampai di ujung jalan, ternyata ada seorang pria dengan motornya. Penampilannya seperti preman dan tatapannya sangat mengintimidasi. Ya Allah, tolong hamba, hamba benar-benar dalam keadaan yang sangat darurat, hanya Engkaulah penolong hamba! Aku pun akhirnya memilih jalan yang tidak tahu arahnya kemana, aku terus berlari sekuat tenagaku. Aku rasanya ingin menangis dan meminta bantuan. Namun aku tak punya waktu banyak. Aku dengar ada suara motor yang mengikutiku. Aku sangat memohon kepada Allah, benar-benar berharap pertolongan Allah segera sampai. Hingga akhirnya aku terpojok di sebuah dinding. Aku bingung, harus kemana lagi aku setelahnya.
Saat aku berbalik badan ternyata mereka bertiga sudah ada di belakangku. Mereka berkata dengan celotehannya dan meminta uangku. Mereka berjanji bila aku memberikan dompetku, maka mereka akan pergi. Ya Allah, mendekati mereka saja aku sangat gemetar! Salah satu diantara mereka berbisik sangat mencurigakan. Aku mendengar kata “kesuciannya”. Aku menjadi lebih takut. Ya Allah, ya Allah... aku terus berdoa dengan jongkok dan menutup mata.
Ketika itu terdengar suara orang yang berkelahi dan kesakitan. Aku begitu takut untuk membuka mata! Akhirnya aku mengintip dan membuka telapak tangan yang menutupi mataku. Aku lihat didepanku preman tadi tertidur kesakitan. Dan ada seorang lelaki yang sedang berkelahi dengan dua preman yang lainnya. Saat aku lihat dari arah belakang punggungnya, itu seperti jurus atau tekhnik karate. Saat dia berbalik badan dan membuat kabur ketiga preman itu, dia tersenyum padaku dan berkata “Jangan takut dek! Saya bukan orang jahat!”. Ternyata itu kak Arfan! Alhamdulillah melalui kak Arfan, Allah menolongku. Aku langsung bersujud syukur disana. Ya Allah, terima kasih atas pertolongan-Mu.
Ana     : “Alhamdulillah, terimakasih kak Arfan! Jazakumullah khairan katsir...”
Arfan : “Iya afwan dek! Kamu tidak apa-apa kan?”
Ana    : “Iya saya tidak apa-apa!”
Arfan : “Adek ini... temannya Haura kan? Namanya Ana ya?”
Ana    : “Iya kak...! Tapi kenapa kakak tiba-tiba ada disini?”
Arfan  : “Oh, tadi saya melihat adek berlari dan setelah itu melihat ada tiga preman yang mengejar adek. Saat itu saya langsung mengikuti kemana preman itu. Ternyata mereka berniat merampok adek kan?”
Ana    : “Iya, terimakasih kak.”
Arfan : “Iya sama-sama. Kalau begitu sekarang adek mau kemana?”
Ana    : “Saya mau pulang kak!”
Arfan : “Pulang sama siapa?”
Ana    : “Sendiri. Mungkin nanti naik angkot!”
Arfan : “Bagaimana ya, kalau sendiri bahaya. Apalagi adek tidak bawa motor. Kalau begitu, boleh kakak antar pulang?”
Ana    : “(Berpikir terlebih dahulu) Iya kak boleh, kalau memang tidak merepotkan!”
Arfan : “Baik. Tidak merepotkan kok. Karena kakak juga mau pulang, selesai silaturahmi dari rumah teman di sekitar sini.”
Aku mengikuti kak Arfan untuk membawa motornya yang berada di rumah temannya kak Arfan. Akhirnya setelah kami berjalan berjauhan, lumayan jauh dari tempat tadi, sampailah di rumah temannya kak Arfan.
Randy: “Kak Arfan baru dari mana?”
Arfan : “Tadi baru olahraga (tersenyum bercanda).”
Alhamdulillah, akhirnya sampai juga, aku berada di belakang kak Arfan. Randy tampak shock dan heran. Begitu pun aku ketika melihatnya.
Randy: “Mar... Marsha?”
Kak Arfan heran dengan wajah Randy yang begitu mengejutkan. Dan tatapan Randy mengarah padaku. Kak Arfan pun melihat aku. Aku yang baru sampai merasa aneh dan terkejut juga saat melihat mantan pacarku dulu.
Arfan : “Marsha? Maksudnya apa? Dia bukan Marsha, tapi Ana.”
Randy: “Bukan kak! Dia Marsha...”
Dalam situasi yang genting ini, akhirnya aku harus berkata yang sebenarnya!
Ana    : “Sudah... kalian berdua sama-sama benar! Saya memang Marsha sekaligus Ana. Dan nama saya dulu adalah Marsha namun sekarang saya berganti nama manjadi Ana.”
Kak Arfan dan Randy terkejut. Terlebih kak Arfan yang mempunyai kenangan tersendiri dengan nama Marsha. Aku baru sadar... aku sudah membongkar rahasialu, aku sudah berkata pada kak Arfan bahwa aku adalah Marsha. Ya sudahlah tak apa!
Arfan : “Jadi... kamu adalah Marsha?”
Setelah peristiwa yang sangat melelahkan itu, akhirnya  aku diantar oleh kak Arfan ke rumahnya. Umi yang begitu panik dan khawatir akhirnya menyuruh kak Arfan masuk dan berterimakasih atas bantuannya. Ketika akan memasuki rumah, kak Arfan melihat sapu tangan yang ia kenali. Sapu tangan itu tengah dijemur disamping rumahku. Ketika tertebak semilir angin, terlihat jelaslah nama “Arfan” pada sapu tangan itu. Sekarang kak Arfan semakin yakin bahwa Ana adalah Marsha kecil yang dulu ia tolong. Kak Arfan tertawa kecil karena merasa lucu dengan kebenaran ini. Dan sekarang kembali terulang...   
Setelah aku lulus kuliah, akhirnya aku bekerja menjadi seorang guru agama di sebuah SMP IT di kota Bandung. Dan kak Arfan pun semakin hebat dalam mengembangkan dakwahnya dan menjadi guru agama. Dan dalam setiap minggunya kak Arfan selalu menjadi guru pada salah satu lembaga olahraga karate. Umi pun bertanya kapan aku akan menikah. Aku hanya diam dan tersenyum pada umi. Aku bilang bahwa bila sudah tepat waktunya, dan itu benar jodohnya maka akan segera datang. Memang sudah ada beberapa dari teman sepekerjaanku yang berniat mengkhitbahku, namun saat shalat istikharah, hatiku tidak memberi dan aku menolaknya. Entah mengapa, Allah belum memberi rasa itu terhadapnya. Memang dia pria yang baik, mapan dan santun. Tapi aku tidak memilihnya. Sampai ada  setangkai bunga mawar merah muda diatas sapu tangan milik kak Arfan di atas mejaku di kamar. Aku yang terheran dan kaget bertanya pada umi.
Ana    : “Umi, bunga ini punya siapa? Kok ada di kamar Ana ya?”
Umi    : “Oh... bunga itu ya? Itu punya kamu sayang...”
Ana    : “Punya Ana? Tapi ini bukan milik Ana, umi! ”
Umi    : “Iya, maksud umi itu dari seseorang untuk diberikan kepada Ana.”
Ana    : “Siapa umi? Dan kenapa?”
Umi    : “Dia pemilik sapu tangan putih itu! Dia tadi datang kesini menanyakan tentang kamu!”
Ana    : “A... pa? Bertanya kenapa?”
Umi    : “Masyaallah senangnya hati umi! Tadi nak Arfan datang kesini untuk berniat mengkhitbah kamu sayang...!”
Ana    : “Apa umi?”
Umi    : “Apa kamu mau menerimanya sayang”
Aku tersenyum dan berucap kata syukur kepada Allah. Umi memelukku dan menciumku. Umi bilang bahwa memang pada awalnya saat umi sedang bersekolah dengan uminya kak Arfan, mereka iseng bilang kalau mereka punya anak, maka mereka akan menjodohkannya. Dan aku bergetar saat mendengarnya! Ternyata dari sebelum kami lahir, Allah telah menjodohkan kami. Namun saat umi harus terpaksa berpisah dengan aku, umi melepaskan ikatan itu. Dan uminya kak Arfan akhirnya kemarin memilih Haura sebagai menantunya.
Alhamdulillah! Hatiku sangat senang sekali rasanya!Allah bukan hanya mengabulkan aku untuk bertemu dengan penolongku, namun juga menjodohkan kami berdua! Setelah acara khitbah diselenggarakan, aku begitu sibuk kesana-kesini ikhtiar menjadi seorang wanita yang shalihah. Mempelajari lebih dalam masalah fikih wanita, kewajiban dan hak-hak suami istri dan segala macam syarat sebagai wanita yang ideal bagi suaminya. Aku juga sering membaca riwayat-riwayat rumah tangga Rasulullah Saw. dan para sahabatnya. Sungguh indah pernikahan dalam Islam. Aku dibuat takjub dengan pengertian dan hikmahnya. 
Beberapa hari lagi menuju pernikahan aku dan kak Arfan. Rasanya sangat dag dig dug bin senang. Untuk menenangkan hati ini, aku selalu berdzikir dan bertawakkal kepada Allah. Jangan sampai aku melupakan Allah, dan melebihi cinta manusia dari cinta kepada Allah. Allah lah yang telah menciptakan aku, juga menciptakan dia. Allah lah yang telah menjadikan semua kebahagiaan dan nikmat ini padaku. Ya Allah, sebentar lagi hamba insyaallah akan menikah. Untuk melaksanakan perintah-Mu dan sunah Rasul-Mu. Dalam rangka ibadah kepada-Mu! Maka ridhailah kami ya Allah serta berikanlah berkah serta hidayah-Mu.
 Setelah shubuh ini... aku seperti mimpi bahwa hari ini aku akan menikah. Namun saat umi mendatangiku dan segera mempersiapkan semua keperluanku sebagai pengantin, maka aku semakin sadar. Ketika aku melihat cermin, sungguh indah ciptaan Allah. Hamba malu ya Allah, hamba memakai bedak ini dan memakai segala sesuatu yang serba indah dan cantik. Namun, apakah hamba sudah menjadi seorang yang cantik dihadapan Engkau wahai Allah? Air mata bahagia dan syukur ini mengalir. Sampai setelah ijab qabul, maka aku pun setelah lama menunggu akhirnya keluar. Saat mendengar kata “sah” dari semua orang, maka kata hamdallah menjadi pengiringnya. Saat aku keluar, aku lihat semua orang yang menyayangiku telah hadir dan tersenyum padaku. Aku pun tersenyum pada mereka, dan aku lihat ada seorang pria tampan ada didepanku. Dengan memakai jas warna putih dia tersenyum padaku. Dan mengulurkan tangannya padaku.
Akhirnya acara inti telah selesai. Semua teman dan sahabatku hadir kesini. Belinda dan Raisa pun datang kesini. Dan mereka berdua sudah paham ketika akan bersalaman dengan kak Arfan. Mereka tahu akan itu. Mereka juga sangat menikmati acara ini, dengan dibalut pakaian taqwa mereka sangat cantik. Para hadirin dan tamu juga disuguhkan dengan penampilan Qasidah dari sekolah aliyahku. Terlihat kak Arfan menatapku lembut nan mesra. Aku pun tersenyum simpul padanya lalu menunduk. Dan datanglah fotografer yang akan mempoto kami berdua. Semua orang yang hadir berucap masyaallah ketika malihat kami berpose ketika akan dipoto. Sungguh aku malu dibuatnya. Namun ucapan basmallah mengiringinya agar Allah senantiasa memberikan rahmat-Nya. Dan ketika suara adzan Dzuhur berkumandang, kami melaksanakan shalat Dzuhur pada waktunya dengan dijamak qashar dengan Ashar. Tentunya kami tidak ingin melalaikan shalat kepada sang Maha Cinta, dan kemana tujuan dari kegiatan kami.
Pada ba’da isya, kami gelarkan pengajian. Saat acaranya selesai, aku masuk kamar dan tak terlihat kak Arfan didalamnya. Tanpa tersadar aku langsung tertidur karena lelahnya. Dan ketika terbangun ada kak Arfan yang sedang shalat disampingku. Aku teringat mimpiku yang lalu. Tapi aku bukanlah Aryani! Aku adalah Ana. Maka aku pun segera bangun dan mengambil wudhu. Aku pun melaksanakan shalat Tahajud menyusul kak Arfan. Terlihat kak Arfan masih didepanku dan berdzikir lumayan lama. Aku pun menunggunya selesai berdzikir dan segera mencium tangannya. Setelah itu kak Arfan mengajakku membaca Al-Qur’an dan memberikanku isi kandungan dari ayat yang kami baca.
Arfan : “Dek... sekarang alhamdulillah kita sudah resmi menjadi seorang suami istri. Dan Allah telah menjadi saksinya. Apa adek bahagia?”
Ana    : “Iya kak, saya sangat bahagia. Bagaimana dengan kakak sendiri?”
Arfan : “Tentu kakak juga sangat bahagia. Kakak tidak bisa meluapkannya dengan kata-kata. Dan jika bisa, hanya kata “I Love You” yang bisa kakak katakan.”
Aku hanya tersenyum padanya dan menunduk. Ia kelihatan khawatir dan seperti menunggu jawaban dariku. Wajahnya begitu lucu saat memperhatikan wajahku.
Ana    : “Ini kak...”
Aku memberikan sapu tangannya. Ia kelihatan bingung lalu membuka sapu tangannya. Terlihat sulaman kata “I Love You” diatas kata Arfan pada sapu tangan itu. Kak Arfan tersenyum padaku. Setelah kami shalat sunat dua rakaat, kak Arfan mendatangiku sebagai suami. Ternyata itu kali pertamanya bagi kak Arfan mendatangi istriya untuk menunaikan kewajibannya sebagai suami. Aku tahu itu dari umi. Umi sebelum pernikahanku, bilang bahwa saat menikahi Haura, kak Arfan belum sempat menunaikan kewajibannya. Karena bagaimana bisa? Sementara Haura dalam keadaan sakit, dan tentu haram saat yang diketahui Haura bahwa kak Arfan itu adalah kakaknya. Pernikahan mereka berlangsung satu bulan. Selama itu kak Arfan menjadi seorang kakak dan suami bagi Haura.
Setiap waktu yang kami jalani sangat indah. Kami menjalankan kewajiban kami masing-masing sebagai seorang suami dan istri. Dan ia juga menunaikan hak-hakku dengan sangat baik. Aku pun berusaha sebaik mungkin memberikan hak-haknya dengan baik. Sampai suatu hari, ada pengajian di kota yang mengundang suamiku untuk menjadi mubalighnya. Ternyata disana banyak sekali remaja dan teman-temannya yang datang. Dalam beberapa bulan ini, kak Arfan membuat sebuah buku islami berjudul “Bidadariku. Mungkin tidak semua orang tahu bahwa kak Arfan sudah menikah. Sampai ada tiga wanita sebayaku yang memohon padaku untuk meminta tanda tangan di buku “Bidadariku” milik mereka. Mereka bilang mereka sangat kagum dan ngefans dengan kak Arfan. Ya aku akui, memang wajar wanita ini begitu menyukai kak Arfan. Aku lihat buku ini juga baru dibeli, mudah-mudahan mereka membelinya karena isinya, bukan karena pembuatnya.
Setelah selesai acara, aku mendatangi mereka. Mereka sangat berterima kasih dan menitip salam untuk kak Arfan. Saat itu, datanglah kak Arfan disampingku. Dan berkata “Assalamu’alaikum! Ayo sayang kita pulang...”. Setelah aku berpamitan dan salam, wanita itu hanya kaget dan terheran-heran dibuatnya. Mungkin awalnya mereka mengganggap aku sebagai adiknya kak Arfan. Aku tersenyum pada mereka. Mereka kelihatan bingung dan merasa malu. Tak apa, aku sudah memaafkan mereka. Aku malah bersyukur, berarti tanggapan masyarakat khususnya remaja pada buku itu adalah positif. Aku pun menyampaikan salam mereka untuk kak Arfan. Kak Arfan hanya terdiam dan tersenyum lalu membalas salamnya.
Saat di perjalanan kak Arfan mengajak aku untuk berhenti di sebuah taman. Dan aku hanya mengikutinya dari belakang. Lalu kak Arfan menoleh ke arahku dan tersenyum. Tangannya menggapai tanganku dan digenggamnya.
Arfan : “Ayo sayang!”
Ana    : “Kita mau kemana kak?”
Arfan : “Kakak mau pacaran sama adek!”
Ana    : “Pacaran?”
Kami pun duduk di sebuah bangku di taman. Kak Arfan membelikanku sebuah boneka yang memegang kata “Allah” ditangannya. Lalu ada seorang anak kecil yang mendatangi kami. Dia sangat cantik! Namanya Nabila.
Nabila : “Assalamu’alaikum kakak!”
Arfan  : “Wa’alaikumsalam adek manis...”
Nabila : “Kakak ini siapa? Ini wanita yang kakak ceritakan dulu ya?”
Kak Arfan hanya tersenyum dan mengangguk.
Ana    : “Hai adek cantik...”
 Kak Arfan nampak senang ketika melihat kami berdua bermain. Dan kak Arfan pun ikut bermain bersama kami. Aku melihat dari matanya, ia sangat mendambakan seorang anak dariku. Aku pun tersenyum padanya dan berdoa semoga Allah segera memberikan kami seorang anak yang shalih dan shalihah. Setelah beberapa minggu setelah hari itu, alhamdulillah aku mengandung anaknya kak Arfan. Kak Arfan sangat senang! Kak Arfan pun memelukku dan mencium keningku. Dia berucap terimakasih dan sayang kepadaku. Sampai ia mengangkatku dan berputar dengan memelukku. Ya Allah, sungguh indah nikmat yang Engkau berikan. Inilah kisahku yang terangkum dengan sederhana nan cantik yang dimulai dengan kata “sahabat”... sahabatku Haura. Bagaimana dengan kisahmu sahabat?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar